Refleksi Perjalanan Study of United States Institute

Posted: March 6th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: America, Life Lesson, Notes | No Comments »

Akhirnya perjalanan 5 minggu saya di negeri Paman Sam berakhir juga. Banyak hal yang saya dapatkan dan saya pelajari di sana. Semakin bertambah pula mimpi dan rencana yang ingin segera saya wujudukan. Satu persatu, semoga tewujud. Bukan hanya pelajaran di ruang kelas, atau kunjungan ke berbagai tempat historis yang membuka mata dan pikiran saya akan beragam isu, yang semakin membuat saya merasa kerdil, dan betapa ignorant nya saya selama ini. Tapi momen momen berinteraksi dan berdialog langsung dengan penduduk juga tak kalah pentingnya. Bukan hanya dengan satu aau dua orang, bukan hanya dengan golongan tertentu, tapi beragam. Mulai dari yang paling tradisional hingga yang paling moderat dan reformist. Menarik melihat dialog ini justru membuka ruang untuk menyelami apa yang ‘mereka’ pikirkan tentang ‘kita’,  atau sebaliknya, memberikan kesempatan untuk mengklarifikasi apa yang ‘kita’ pikirkan tentang ‘mreka’ selama ini. Menyadarakan saya bahwa selama ini saya masih hidup dalam berbagai asumsi dan prasangka yang menggiring saya kepada hipotesis yang belum tebukti kebenarannya.

Menyedihkan,

Menyadari betapa seringnya kita begitu cepat mengambil kesimpulan tentang sesuatu, hanya berdasarkan dari apa yang saya baca, apa yang saya tonton di tv, atau bahkan hanya dari apa kata orang.

Menyedihkan,

Betapa seringnya kita berkoar, menyelahkan hukum yang berpihak, dan para hakim yang tak adil, tanpa sadar bahwa selama ini kita sering kali menghakimi berdasarkan kebenaran yang Pasti. Kebenaran yang hanya besumber dari apa yang benar menurut mayoritas.

Menyedihkan,

Menyadari betapa selama ini kita menganggap kita atau golongan kita yang paling sempurna, paling tahu akan segala hal, dan mengkerdilkan yang lain. Padahal mungkin apa yang kita tahu, barulah selembar halaman, dari kumpulan ensiklopedi dengan halaman tanpa batas. Nobody knows everything about anything.

Menyedihkan,

Betapa kita hidup tapi tak bernyawa, karena bergerak dengan kontrol orang lain. Mengikuti semua kata orang, hingga kita kehilangan sikap dan jati diri. Memilih berdasarkan apa yang paling banyak dipilih, dan melangkah mengikuti kemana arah orang berjalan. Tanpa sadar, bahwa kita telah ‘menjual’ diri kita.

Tulisan ini hanyalah refleksi pribadi saya, yang (semoga) bisa jadi refleksi kita bersama. Saya masih belajar, dimulai dengan menuliskannya, dan mencoba menerapkannya. Saya percaya bahwa proses belajar dan mengenali itu tidak cukup hanya dengan 5 minggu, tetapi proses seumur hidup. Tapi setidaknya, kesempatan ini membuka ruang bagi saya untuk mengenal orang lain, dan mengenal diri saya sendiri. Sepertinya banyak hal yang menyedihkan? Tapi itu bukan akhir, mungkin masih banyak hal lain yang belum tertuang di sini, bisa saja semakin menyedihkan, atau justru mengobati luka. Tinggal kita mau memilih yang mana.

 

Post to Twitter



Leave a Reply