New York Trip: Behind the Scene

Posted: August 8th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: America, Events, Notes, World Experience | 13 Comments »

Tulisan ini merupakan cerita yang saya tulis dalam kapasitas personal saya, bukan mewakili kapasitas pemerintah Indonesia. Adapun hasil resmi dan follow up dari kegiatan sudah disampaikan pada pihak-pihak terkait.

 

2 Minggu Sebelum Keberangkatan

Bu Rieke: “Iman, udah tahu kalau ada High Level Meeting on Youth di New York akhir Juli ini?”

Iman: “udah bu. Kenapa bu?”

Bu Rieke: “kamu berangkat nggak? Biasanya kan kalo isu pemuda kamu diundang?”

Iman: “belum tahu Bu, tapi sepertinya tidak, kalau tidak ada yang support untuk biaya perjalanan”

Bu Rieke: “saya coba usulkan dulu ya. Kamu kan cukup concern di isu ini, harapannya bisa berbuat sesuatu kalau berada di sana”

Iman: “Terima kasih Bu”

Begitulah awal cerita perjalanan saya ke New York selama 2 minggu belakangan ini dimulai, memang ini bukan pertama kalinya saya berangkat ke New York, dan juga bukan New York nya yang menjadi sangat spesial. Bagi saya negara manapun yang dikunjungi, tetap menarik untuk diamati dan dinikmati. Hanya saja, momen-momen seperti High Level Meeting kesempatannya sangat jarang sekali terjadi. High Level Meeting atau Konferensi Tingkat Tinggi merupakan sidang yang biasanya mengundang High Level Figures, seperti Presiden, Menteri, atau focal point dalam isu tertentu. Isu pemuda jarang sekali dibicarakan dalam pertemuan tingkat tinggi, dan ini jadi momentum penting bagi upaya advokasi isu partisipasi pemuda di dunia. Momentum ini juga bertepatan dengan International Year of Youth yang dimulai dari tahun lalu, dan akan berakhir tahun ini.

Terlibat dalam forum seperti ini juga memang bukan hal yang baru bagi saya (dan juga tidak perlu dibanggakan), tapi yang membuat ini spesial adalah isu yang dibahas fokus pada upaya partisipasi pemuda, yang selama 9 tahun terakhir menjadi perhatian utama saya dalam melakukan gerakan. Biasanya isu pemuda, dibahas dengan digandeng dengan isu-isu lainnya, dan hanya dibahas sepintas. Artinya, ini kesempatan langka untuk bisa menyuarakan apa yang menjadi keprihatinan saya selama ini.

Alhasil, meskipun diinformasikan 2 minggu jelang keberangkatan, saya mencoba melalukan berbagai persiapan. Saya cuma mau make sure, bahwa kesempatan ini ga terlewatkan begitu saja, nggak sekedar jadi “ajang ketemu” dengan para pemuda lainnya, atau sekedar jadi pembicaraan di ruang sidang saja, tapi bisa ada follow up nya. Saya cuma mau make sure bahwa duit negara yang dipake untuk mengirim saya ke-sana benar-benar terpakai dengan semestinya, dan bisa benar-benar bermanfaat. Saya nggak mau memperpanjang “kisah delegasi Indonesia yang kalau keluar negeri cuma jadi jalan-jalan”. So, dalam 2 minggu sebelum berangkat, saya sering mondar-mandir KEMLU, ngomongin rencana poin bahasan selama sidang disana, research, menghubungi stakeholders terkait. Simple, tapi menjadi tidak mudah, karena dalam 2 minggu tersebut jadwal saya benar-benar hectic. Saya harus bolak-balik Jogja, Bali, Jakarta, Jogja, Padang, Jakarta – karena aktivitas-aktivitas di IFL. Tidak mudah untuk mengabaikan liburan bersama teman-teman ke Karimun Jawa. Tidak mudah juga karena jadwal keberangkatan ke New York ternyata bertepatan dengan 5 acara lainnya, yang terpaksa tidak dapat saya hadiri. Dan lebih tidak mudah lagi, karena sebenarnya jadwal berada di New York adalah jadwal saya mudik, dan bertemu dengan keluarga di Padang – yang terpaksa harus saya persempit waktunya dari pulang kampung 1 minggu, jadi Cuma 1 hari 1 malam – berasa mimpi.

Saya sadar, bahwa ada kalanya rencana yang sudah saya atur  sedemikian rupa tidak dapat berjalan sesuai kehendak saya. Ada kekuatan yang lebih besar dari saya yang menentukan segalanya. Ada saatnya saya harus melupakan kepentingan pribadi, untuk kepentingan yang lebih besar, negara!

Entah Apa Rencana Tuhan

Entah apa rencana Tuhan, 1 minggu sebelum berangkat saya menerima email dari Lauren (Vice President We Are Family Foundation – organisasi yang menganugerahi saya Global Teen Leader pada Maret lalu), singkatnya:

Lauren:  “Iman, do you have any plan to come to New York around August? We nominated you for an award here”

Iman: “Hi, yes I will come to New York at the end of July. But I am not sure for the beginning of August, whether I will be there or not. But if it is that important, I will check”

Lauren: “Iman! Congrats, you just selected as one of the awardees of Youth Achiever Recognition by Youth Assembly at the United Nations, and you know what? You are invited to deliver keynote speech at the closing program at the United Nations”

Saya sempat diam, bingung, nggak tahu ngomong apa. Bingung karena, kok bisa sebegitu kebetulannya dua hal yang ga saya duga-duga datang dalam waktu yang hampir bersamaan? Bingung juga karena, apa nggak salah nih yang ngasih award? Karena saya udah pernah dapat award yang sama dua tahun sebelumnya, dan setahu saya belum ada yang menerimanya 2x”

Akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan, saya putuskan untuk memperpanjang durasi stay saya selama 1 minggu. Saya minta izin ke KEMLU, apa boleh jadwal flight pulang saya ditunda 1 minggu. Saya jelaskan persoalannya, dan saya bilang for the rest of my stay, saya yang tanggung biayanya. Untungnya, KEMLU nggak keberatan, dan mendukung upaya saya.

So, berangkatlah saya ke New York dengan berbagai ekspektasi.

Saya diberangkatkan sendiri 1 hari lebih awal, dengan harapan saya bisa berkonsolidasi terlebih dahulu dengan tim di New York. Dan sesampai di sana, saya takjub dengan keramah-tamahan orang-orang di PTRI (Perwakilan Tetap RI untuk PBB) – saya diperlakukan sejajar seperti diplomat lainnya. Suara dan concern saya didengarkan dan dijadikan pertimbangkan. Bukan berarti kedutaan kita di negara lain nggak ramah loh, tapi jarang saja menemukan pihak pemerintah yang memperlakukan anak muda dengan sejajar.

Saat Sidang…

Momen menarik dan menjadi kejutan adalah saya benar-benar diberikan kesempatan untuk bertindak sepenuhnya selama sidang. Awalnya saya piker, posisi saya sebagai adviser dalam delegasi hanya akan memberikan masukan dan usulan-usulan pada diplomat senior. Ternyata, di luar dugaan pak Hasan Kleib (Ketua Delegasi, Wakil Tetap RI untuk PBB) bilang “ini kan acaranya kamu, kamu gantikan saya saja”.

Saya bukan main senangnya, karena saya bisa menyampaikan poin intervensi sepenuhnya dalam kapasitas saya sebagai pemuda, saya bisa menulis ulang poin intervensi yang semula sangat “diplomatis” dan “elitis” dengan bahasa saya sendiri sebagai pemuda. Saya diperbolehkan menyampaikan rekomendasi-rekomendasi untuk pemerintah, dll. Kesempatan yang saya syukuri, dan bagi saya hampir seperti mukjizat. Terlebih lagi, ketika poin intervensi yang saya sampaikan ternyata banyak diapresiasi oleh negara-negara lain. Dengan ID card “adviser” saya diperbolehkan masuk ke ruangan mana saja di gedung PBB, termasuk observing suasana sidang di UN Security Council.

 

 

Hari kedua sidang, setiap negara akan menyampaikan country’s statement nya yang menyebutkan pandangan negara mengenai isu yang dibahas, apa yang sudah dilakukan, serta komitmen ke depannya. Sejumlah negara diwakili oleh Presiden nya langsung, atau Menteri Pemuda. Saya sedikit kecewa, karena tidak ada “orang penting” dari negeri kita yang datang langsung. Tapi setidaknya saya masih bersyukur bahwa Indonesia masih bs mengirimkan delegasi pemuda (meskipun hanya saya sendiri) – jika dibandingkan negara-negara lain yang mayoritas tidak mengirimkan.

15 Menit sebelum giliran Indonesia, tiba-tiba pak Hasan (Ketua Delegasi – yang semula direncanakan menyampaikan pidato) bilang ke saya: “Kamu saja deh yang pidato di depan. Ini acara kamu, dan sudah sepantasnya anak muda yang maju. Saya sudah sering di depan, tapi kalo kamu? This is your chance! Mau kan?”

Saya diam dan agak shocked seusai mendengar pertanyaan pak Hasan, tapi nggak pake lama saya bilang. “Yes, I will Pak”. Padahal meskipun saya terlibat dalam memberikan masukan untuk konten pidato tersebut, saya belum pernah berlatih as if saya yang akan baca. Akhirnya, dengan waktu yang terbatas saya Cuma sempat latihan 1 kali sebelum maju, saya beranikan diri. Dalam benak saya, kalau nggak sekarang kapan lagi saya bisa bicara di podium itu? Podium yang jadi mimpi kebanyakan anak HI, podium yang biasanya jadi tempat Sekjen PBB, Kepala Negara, Duta Besar menyampaikan pandangannya. Bahkan menjadi diplomat, juga belum tentu bisa berada di sana. Dan sekarang saya dikasih kesempatan, tidak akan saya lewatkan. Yang saya tahu, yang akan saya sampaikan memang jadi pandangan saya, memang keprihatinan saya, dan saya harus menyampaikannya dengan passionate.

Selama High Level Meeting on Youth saya juga berkesempatan bertemu dengan wakil pemuda dari negara-negara lain, serta ikutan nimbrung di beberapa side events nya. Diskusi di side event jauh lebih seru sepertinya :0

 

Boston

Setelah sidang berakhir, praktis jadwal saya kosong selama 1 minggu. Mau keliling-keliling New York juga nggak terlalu bersemangat, karena hampir semua must visit nya sudah dikunjungi (sebenarnya mau ngehemat juga. Lol). Dan kesempatan ini lebih banyak saya manfaatkan untuk ketemu dengan teman-teman di AS, coach saya Jayme Illien yang kebetulan lagi di New York juga, dan juga mengunjungi beberapa NGO di sana. Lumayan bisa diskusi dan ketemu orang-orang

Yang menarik juga, akhirnya saya ke Boston! Singkat cerita.. Oh.. ternyata itu yang namanya Harvard.

3 Hari Yang Berakhir dengan Sempurna

Tiga hari terakhir menjelang pulang, praktis perhatian saya sepenuhnya berada di persiapan keynote speech di PBB. Memang saya hanya bicara 10 menit, tapi bagi saya 10 menit itu akan jadi salah satu bagian terpenting dalam cerita hidup saya. Apa yang akan saya sampaikan, bisa saja justru jadi lelucon seumur hidup, atau sebaliknya mungkin bisa menginspirasi orang-orang yang hadir untuk bergerak melakukan sesuatu untuk komunitasnya. Jauh lebih gampang jika seandainya saya disuruh membahas satu topik tertentu, dibandingkan ketika saya diminta untuk menjelaskan apa yang sudah saya lakukan, apa pandangan saya, dan apa legacy yang ingin saya tinggalkan pada peserta. Terima kasih buat semua yang sudah terlibat dan membantu saya menyiapkan ini semua, buat mas Ricky, Nancy Hunt, Ghian, yang sudah bantu untuk proofreading, buat teman-teman IFL, Kick Andy, Young on Top, dll (yg tdk bs saya sebutkan satu persatu) atau dukungannya. Dan buat keluarga saya pastinya :)

UN Youth Assembly diikuti oleh tak kurang dari 700 pemuda dari berbagai negara di dunia. Sungguh sebuah kehormatan bagi saya pribadi, dan juga Indonesia untuk menjadi orang terakhir yang menyampaikan pidato pada acara yang luar biasa ini. Sebelumnya, pembicara-pembicara kelas dunia seperti Ban Ki Moon, Ambassador Susan Rice, Direktur United Nations Information Center, dan berbagai social entrepreneur sertaworld youth activist juga menyampaikan pidatonya.

Kurang lebih begini isi pidato saya:

Akhirnya seperti yang mungkin teman-teman dengar, Alhamdulillah misinya berjalan sukses. Dan saya baru tahu, ternyata kenapa saya dikasih award lagi tahun ini. Ternyata tahun ini ada 2 kategori,:

The Youth Achievement Recognition are given in two categories:

  1. The Youth Assembly Recognition for Excellence honors the top outstanding students who have done great service to the global community through their leadership and innovation.
  2. The Youth Assembly Recognition for High Achievement recognizes those individuals for their dedication to humanitarian aims, which is apparent from the impact that they have had on their organizations, schools and communities.

Alhamdulillah saya terpilih untuk mendapatkan Recognition for Excellence bersama 3 pemuda dari AS, 1 dr Kanada, 1 dari Korsel, dan 1 dari India. Terima kasih sekali lagi untuk We Are Family Foundation yang sudah menominasikan saya.

Menutup cerita yang (cukup) panjang ini, saya hanya ingin menyampaikan terima kasih buat semuanya, terkhusus untuk KEMLU dan PTRI New York! Dan semoga sedikit yang bisa saya kontribusikan ini, bisa jadi pemacu buat yang lain juga untuk bergerak. Think Big, Make it Happened!

 


Post to Twitter


13 Comments on “New York Trip: Behind the Scene”

  1. 1 Arif Wibowo said at 5:21 am on August 8th, 2011:

    Wow….saudara Iman..kamu selalu membuat pemuda semakin bermimpi……

  2. 2 ririn said at 6:17 am on August 8th, 2011:

    ikut membaca…
    thanks for sharing! :]

  3. 3 kakak riri said at 8:51 am on August 8th, 2011:

    yes imaan.. Think Big, Make it Happened!!

  4. 4 Feri Rahmat Chandra Piliang said at 10:33 am on August 8th, 2011:

    Kereen . . . memotivasi dan berharap diri bisa berbuat lebih . . .

  5. 5 Krissa said at 1:16 pm on August 10th, 2011:

    Subhanallah :)
    Kakak gak pernah beerhenti memberikan motivasi pada oranglain. Maka Allah pun gak pernah berhenti memberi kejutan di setiap cerita hidup kakak. Tetap semangat!

  6. 6 harry wicaksana said at 11:39 am on August 13th, 2011:

    Wow well done Iman
    Very proud to have you as indonesian youth ambassador for ASEAN (DMAI)
    Pidato di UN ini terkait rangkaian kegiatan sbg DMAI ato gmn?

  7. 7 Muhamad Iman Usman said at 2:46 pm on August 19th, 2011:

    Terima kasih ya semuanya

    @Harry W: Yang untuk UN High Level Meeting bagian tugas DMAI mas, tapi kalo UN Youth Assembly bukan, dlm kapasitas personal

    Thanks

  8. 8 Indonesian Backpacker said at 1:28 pm on August 22nd, 2011:

    Mantap bos, maju terus pantang mundur

  9. 9 Mega Puspita Pertiwi said at 7:48 am on September 11th, 2011:

    cerita yg sangat menginspirasi…..
    sampai bikin nangis waktu baca speech nya…
    semoga kakak bisa selalu menginspirasi generasi muda di Indonesia dan akan selalu lahir Iman Usman yang lain…….
    Amien…
    Fighting
    that 10 years old boy is really amazing…

  10. 10 Bilkis Zulfatina said at 6:47 pm on September 14th, 2011:

    I love a quote from your lovely speech: “It’s not a dream, if it’s not big.” Really inspiring me to be a better person. :)

  11. 11 Ummu Mutiah said at 2:08 pm on September 24th, 2011:

    Iman, saya baru tau blog ini dari adik saya yang sedang berkuliah di FISIP UI juga. Saya salut sama kamu man! walaupun masih muda tapi kegiatan bermanfaat dan prestasinya udah segudang. Semoga bisa dicontoh oleh para anak-anak muda Indonesia lainnya. Tetap semangat!

  12. 12 kartika syofyan said at 8:53 pm on September 29th, 2011:

    wow,sngt trinspirasi,, smpe kluar air mta saya bgitu mmbacanya,sya brfikir apkah sya bisa mnjdi sprti kk iman usman? yg mmpunyai pemikiran yg cerdas,, sngt hebat :) u are the best leader for a young man,, :D
    oh y kk,,kpn ya IFL ngadain roadshow d pdang? tlong ksh tw ya kak..makasih :)

  13. 13 zykrazakiah said at 12:37 am on December 27th, 2011:

    wow cerdas!

    bg aq mw tanx,kaloo buat kemajuan pemuda di padangg sendiri apa yangg telah abg lakukan?


Leave a Reply