Follow Me!

I Dream, I Make It Happen

Posted: February 8th, 2012 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Events, Personal | Tags: , | 3 Comments »

All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them – Walt Disney

Saya adalah orang yang selalu percaya bahwa tidak ada yang namanya batas dalam bermimpi. Bahkan dulu ketika kecil, kita diajarkan “gantungkan mimpimu setinggi langit”. Tapi sekarang? Don’t say that limit is the sky, the human’s footprint is already there. Artinya sudah ada manusia yang berhasil menembus langit, jadi nggak ada yang nggak mungkin kan?

Sejak kecil, bisa dibilang saya orang yang nggak pernah puas dengan setiap raihan yang mampu saya capai. Bukan berarti saya tidak bersyukur loh. Tapi saya selalu percaya, bahwa selalu ada ruang untuk perbaikan dan ruang untuk inovasi. Saya boleh berbangga, tapi tidak menjadikannya sebagai sebuah capaian yang harus ditutup begitu saja. Saya sering menganalogikan, jikalau saya mencapai sesuatu, itu ibarat saya hanya berhenti di terminal, bukan tujuan akhir dari perjalanan saya. Saya harus berhenti di terminal, untuk menuju terminal lainnya. The final destination is death.

Dalam beberapa tulisan lainnya, saya pernah bercerita, kalau saya dulu sering dipandang sebelah mata, apakah itu karena usia saya, fisik saya, pilihan yang saya ambil, dan sebagainya (we can make a long list of it). Thank God, meskipun sulit pada awalnya untuk melewati itu semua (apalagi usia saya masih tergolong muda untuk menghadapi pressure semacam itu), tapi kini pengalaman-pengalaman masa lampau itu justru jadi sumber kekuatan bagi saya. That painful realities that made me stronger. Kita nggak pernah tahu rasanya bahagia kalau nggak pernah sedih, kita juga nggak pernah tahu rasanya manis kalau nggak tahu manis.

Meskipun kadang saya suka bingung dan merenung lama (bahkan sangat lama), kenapa ya kadang tujuan kita baik, tapi orang tidak selamanya menganggap itu baik. Kenapa ya kadang kita masih dicurigai, dipandang negatif, padahal di luar sana ada banyak orang yang (jelas-jelas) jahat, tapi orang tidak begitu ambil pusing. Kenapa ya? Kadang sempat itu membuat saya jenuh dan mungkin ingin menyerah melakukan apa yang saya lakukan. Saya sempat berpikir, mungkin hidup saya akan jauh lebih tenang jika saya hidup layaknya orang pada umumnya. Hanya menjalani rutinitas yang sama setiap harinya.

Namun saya sadar, bahwa mungkin hidup saya akan jauh lebih tidak tenang jika saya hanya bisa diam, dan melihat ketidakadilan dan ketimpangan terjadi. Di saat saya tahu apa yang seharusnya (atau idealnya) terjadi. Apa saya masih bisa tenang? Apa artinya hambatan-hambatan kecil ini dibandingkan apa yang ingin diperjuangkan? Dibandingkan mimpi yang saya terus rajut sedari kecil, melihat Indonesia yang lebih baik, lebih ramah bagi anak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. Bagaimana dengan mimpi saya melihat Indonesia yang damai dan sejahtera? Ini pilihan yang saya ambil.

Sudah lama sebetulnya saya kesal dan prihatin dengan situasi politik di negeri ini. Perebutan kepentingan antara yang berkuasa dan mencari kuasa tak pernah usai. Semua berlomba untuk membela, tapi tak pernah paham apa yang hendak dibela. Semua merasa paling pintar, dan bisa menyelesaikannya seorang diri, bak sang gladiator. Tak mau berkaca bahwa ada hal-hal yang tidak mampu kita selesaikan seorang diri. Negeri ini ibarat sebuah pertunjukan orkestra, yang butuh harmoni untuk membuatnya menjadi indah, meski alat yang dimainkan amat beragam. Tidak semua orang bisa jadi sang konduktor. Ada yang harus memainkan piano, flute, biola, cello, dan sebagainya. Untuk menjadikannya menjadi pertunjukan sempurna, juga butuh pencahayaan yang baik, tata suara, panggung yang ditata dengan apik, dll. Bahkan tidak semuanya berada di dalam gedung pertunjukan, ada yang membantu promosi, pemasaran, kemanan, dll.

Saya memilih untuk tidak bermain di dalam gedung pertunjukan, karena saya tahu bahwa kapasitas saya bukan di situ. Saya buta dengan nada, tidak paham mengenai musik. Mungkin saya bisa belajar, tapi yang terpenting di atas semua itu, hati saya tidak pernah berada di dalam gedung pertunjukan nan megah ini. Kalaupun saya bisa memainkan musiknya, tapi jiwa saya tidak terepresentasikan oleh musik yang dimainkan. Mungkin saya akan lebih mahir dalam mempromosikan pertunjukan ini.

Ketika saya dengar kabar bahwa pemain musiknya berantakan, apa saya bisa diam? Sebaik apapun saya melakukan promosi dan bagaimapun orang mau menonton pertunjukannya, namun ketika pertunjukan tidak memuaskan, apa saya bisa diam?

Begitulah ilustrasi ketika Ide Parlemen Muda terlintas dalam benak saya. Kurang lebih ide ini sudah terlintas bertahun-tahun silam, namun semakin menguat di tahun 2010. Saya tidak pernah berpikir (bahkan hingga saat ini) untuk menjadi politisi, meskipun orang banyak menduga saya ingin berlabuh ke sana (tapi sekali lagi orang memang hanya bisa menduga). Saya tidak pernah bisa paham (meskipun mencoba untuk selalu mengikuti) dengan apa yang terjadi sebenarnya dalam politik praktis negeri ini. Yang saya tahu, saya ingin suara pemuda bisa di dengar dalam pengambilan kebijakan di negeri ini. Saya paham dengan fakta bahwa pemuda tak sepenuhnya paham dengan “kebijakan yang terbaik” yang selayaknya diambil. Namun, saya ingin kita (pemuda) bisa diberikan kesempatan untuk belajar, mendengar, dan didengarkan. Ibaratnya seorang anak yang merengek minta diajak berlibur oleh orang tuanya, meskipun tak mampu, apakah kita akan menutup mulut si anak? Tidak bukan? Tapi sang anak dibiarkan dulu menyampaikan keinginannya, dan kemudian butuh penjelasan kenapa keinginannya diterima/ tidak diterima.

Saya hanya ingin hal sesederhana itu untuk terjadi. Kami ingin mencoba paham dan mengerti dengan kebijakan di negeri ini, karena sedikit banyak, kebijakan yang di ambil berpengaruh pada bagaimana kami hidup di negeri ini. Izinkan kami untuk memiliki ruang untuk belajar, berdiskusi, memahami apa yang terjadi di luar kaca rumah saya, dan mencoba sedikit membantu menyelesaikan masalah (jika memungkinkan).

Parlemen Muda didesain bukan untuk menjadi oposisi, atau jagoan, apalagi pahlawan kesiangan. Sederhana saja, ia dedesain menjadi ruang kelas bagi anak-anak muda yang dipilih oleh sebayanya, untuk belajar di sana. Belajar memahami masalah, mengkritisi, dan (yang terpenting) mencoba memberi gagasan solusi. Kami ingin pemuda tidak hanya bisa diam, atau mengkritik saja, tapi tanpa solusi. That was my dream.

Dalam perjalanannya untuk membawa mimpi ini menjadi kenyataan, ada banyak hal yang kami lalui. Cercaan sana sini, pandagan negatif, kesulitan mencari pendukung acara, dana, dll. Tapi juga ada yang mendukung, memberi ucapan semangat, dan itu yang membuat kami terus kuat. Di awal Januari 2011, saya putuskan untuk segera membentuk tim. Saya temui satu persatu sahabat-sahabat saya, yang saya anggap punya visa sejalan, dan kiranya bisa membantu, bersinergi bersama-sama mewujudkan ini. Dalam prosesnya, kondisi internal kami pun bisa dibilang rapuh. Orang silih pergi satu persatu.

Pertengahan tahun, saya putuskan untuk mulai bergerak, menyuarakan kegiatan ini ke seantero negeri. Tidak bisa diam dan menunggu lebih lagi, ini harus segera dimulai. Meskipun saat itu dana yang kami miliki tak ada sepeserpun. Saya putuskan untuk menggunakan uang pribadi, meminta kerelaan teman-teman yang lain jika berkenan mengganti liburannya dengan rangkaian promo kegiatan. Dan saya beruntung memiliki sahabat yang ternyata mau berkorban untuk ini semua!

Singkat cerita akhirnya proses terus berjalan, ratusan peserta dari berbagai daerah mulai mendaftar. Mereka yang terpilih mengikuti rangkaian kampanye dan pemilihan umum. Hingga saat itu, saya masih belum tahu, bagaimana saya bisa menggelar acara sebesar ini. Tapi mimpi tadi jadi penguat begitu luar biasa. Bahkan saya sempat bertekad, kalau ini gagal, i’d do on my own expenses. Tuhan memang baik, dan ada rencana luar biasa yang dimiliki-Nya. Hasil pemilu ternyata menggembirakan, sekitar 37.000 orang berpartisipasi dalam rangkaian kampanye dan pemilu di seluruh Indonesia. Ini semakin memudahkan kami untuk mencari dana, mengajak rekanan, media, dll. Dalam 1 bulan sebelum penyelenggaraan, semuanya dipersiapkan. Bahkan saat itu masih Ujian Akhir Semester. Tapi sekali lagi, mimpi tadi jadi penguat.

Magicly, I dream, I make it happen. Voila! Pada 28 Januari – 3 Maret, 33 delegasi terpilih berkumpul di Jakarta. Mereka tidak hanya bersidang mendikusikan rekomendasi kebijakan, namun juga mendapatkan pelatihan di berbagai bidang, bertemu dengan tokoh-tokoh luar biasa dalam meet the leaders, beraudiensi, belajar, berproses bersama. Dan ini semua tidak berhenti di sini, tidak berhenti hanya pada lembaran rekomendasi, tapi setelah ini setiap delegasi akan mengelola dan mengembangkan program sosial gagasan mereka, dengan bantuan mini grant dan mentorship dari Indonesian Future Leaders. Harapannya, mereka bisa menghasilkan dampak nyata di tengah masyarakat, dan menyebarkan inspirasi dan pengalaman mereka kepada pemuda lain di seantero negeri.

Thank God for everything! Terima kasih buat semua yang membantu kami mewujudkan mimpi kami, yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan apa yang terjadi persisnya selama kegiatan ini berlangsung, tapi lebih kepada menyampaikan satu pesan, bermimpilah, dan buat itu jadinya. Saya buktikan itu, I dream, I make it happen!

I am ready to make another dreams come true! Are you?

 

Post to Twitter


Pestanya Para Bloggers

Posted: December 14th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Events | Tags: , | 1 Comment »

Dear All,

Dari tanggal 2-4 Desember 2011 lalu saya berkesempatan untuk mengikuti rangkaian On|Off ID di Epicentrum Rasuna, Jakarta, yang merupakan transformasi dari Pesta Blogger yang sejak tahun 2007 digelar setiap tahunnya sebagai wujud eksistensi dan ngumpulnya komunitas Blogger se-Indonesia. Well, meskipun saya sudah nge-blog sejak awal tahun 2004 (hampir 8 tahun), tapi jujur saya belum pernah datang ke Pesta Blogger. Selalu saja ada halangannya, mulai dari saya masih tinggal di Padang, atau bahkan pas udah di Jakarta, selalu saja ke luar kota/ ke luar negeri pada waktu yang bersamaan. Makanya, cukup excited untuk tahu how it looks like. Karena dulu-dulu suka sebel sendiri nggak bisa ikutan, dan cuma baca betapa serunya timeline di twitter ataupun baca tulisan rekapnya, saat blogwalking.

Tahun ini, salah satu bagian acara dari On|Off ID adalah Southeast Asia Blogger Exchange, yang didukung oleh US Mission to ASEAN. Jadi panitia mengundang 10 Bloggers dan 10 negara ASEAN, dan kebetulan (surprisingly) saya diberi kehormatan untuk mewakili Indonesia. Sayangnya rekan blogger dari Myanmar tidak bisa hadir, karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditingalkan. Padahal saya cukup penasaran sebenarnya untuk mengetahui perkembangan blog dan internet secara umum, pasca upaya demokratisasi dan perkembangan informasi di negeri itu. Tapi hal itu, tidak mengurangi hip nya acaranya ini. Paling nggak saya sekarang jadi punya 8 teman baru dari 8 negara ASEAN, mereka blogger aktif yang bisa dibilang cukup makan asam garam dunia blog di negaranya masing-masing. Ketemu dengan mereka, berinteraksi dengan mereka, membuat pemahaman saya soal ASEAN dan masyarakatnya juga semakin berkembang.

Pengalaman pertama ini jadi sangat berkesan, karena ngasih kesempatan kepada saya untuk ketemu sama orang-orang yang selama ini cuma saya baca tulisannya, blog walking, ataupun juga para aktivis social media, yang sering lalu lalang di lini massa saya di twitter.

Back to the program, jadi acaranya cukup padat. On Off | ID sendiri terdiri dari berbagai macam acara sebagaimana yang bisa dilihat di sini. Mulai dari inspiring talks, breakout sessions dengan beragam topik, music performance, fashion show, stand up comedy, dll. Tak ketinggalan juga ada pameran komunitas di sini, beruntung Indonesian Future Leaders juga dapat kesempatan untuk “buka warung” dan mengenalkan program -program kita ke khalayak ramai.

Saya sendiri dan para ASEAN Bloggers dapat kehormatan untuk sharing di panggung utama (meskipun waktunya sangat singkat, cuma 2,5 menit per orang :D – kepake banget ilmu elevator pitch nya), dan di breakout session (di ruang kelas dengan jumlah penonton lebih terbatas). Kurang lebih presentasi saya macam ini (banyak kebantu banget ama datanya Saling Silang ;D). Lalu kita juga diundang makan malam di rumahnya Chief of Mission US to ASEAN. Dan terakhir sharing session di At America! Beruntung banget bisa dapat kesempatan macam ini, thanks sudah melibatkan saya!

Post to Twitter


Kompilasi Cerita Liburan

Posted: September 2nd, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Events, Notes, World Experience | 2 Comments »

Tinggal menghitung hari, masa perkuliahan akan kembali dimulai. Sudah lama rasanya tidak mengecap bangku kelas, duduk tenang (ataupun tidak) menyimak dosen yang mengajar. Jika tak salah, terakhir kali itu terjadi akhir bulan Mei silam, dan seiring berjalannya waktu, ternyata hampir 3,5 bulan saya libur! Woo! Bukan waktu yang singkat untuk “berlibur”, tapi juga bukan waktu yang cukup panjang untuk mencoba apa yang mau saya coba.

Well, seperti yang sering kali saya bilang, liburan itu adalah saat dimana kita bisa mengerjakan hal-hal yang tidak bisa kita lakukan di hari biasa (normal). Tidak musti harus jalan-jalan ke sebuah tempat wisata, as long as kita enjoy ngejalaninnya, why not? Makanya, typical liburan saya mungkin beda dengan si A, beda dengan si B, karena apa yang kita suka juga beda-beda kan?

Most likely, sebenarnya di 3,5 bulan terakhir aktivitas saya banyak yang sudah terencana jauh-jauh hari dan terlaksana dengan matang, khususnya aktivitas bersama Indonesian Future Leaders (saya senang, bahagia, bangga, bisa menghabiskan hari-hari bersama teman-teman semua), yang mungkin mendominasi rutinitas saya selama liburan. Tapi juga banyak agenda random yang tiba-tiba muncul, termasuk perjalanan ke New York bulan lalu :D – Kita Manusia hanya bisa berencana, tapi tak punya kuasa untuk menentukan segalanya kan?

(Pengen nge-upload smua foto dari semua jenis kegiatan, tapi apa daya internet saya agak lemot saudara-saudara), dan banyak juga yang nggak punya fotonya. lol

IFL Projects

Salah satu hal yang saya paling syukuri selama liburan ini adalah produktivitas super tinggi dari IFL, yang membuat gue benar-benar menikmati liburan kali ini. IFL juga mungkin yang bikin liburan jadi nggak kerasa, tiba-tiba udah mau kuliah lagi. Udah nggak keitung lagi, entah berapa meeting yang diikutin (mulai dr BPH, projects, pleno), perdebatan (apalagi pas masa-masa rekrutmen staf baru), camp, projects, dll. Terima kasih teman-teman IFL baik yang di pusat dan di cabang!

Speaking

Salah satu bentuk aktivitas berbagi yang saya senangi. Karena bisa berdiskusi langsung dengan banyak anak muda dari berbagai daerah, dari berbagai kalangan. Liburan kali ini juga jadi seru, karena saya banyak mengeksplorasi topik-topik baru (jadi ga melulu cuma ngomongin IFL aja :D )- dan terima kasih atas kesempatan-kesempatan yang diberikan kepada saya. Lewat tulisan ini, saya juga minta maaf jika ada beberapa tempat yang tidak bisa saya kunjungi/ penuhi undangannya, karena keterbatasan waktu dan fisik saya. Pengen banget bisa mampir ke daerah-daerah lain, ataupun lebih banyak sekolah lagi, dan berkegiatan bersama teman-teman :)

Conferences/ Meeting

Vacation

Ini pure bersenang-senang tanpa beban pikiran apapun :)

Most likely, inilah beberapa kegiatan yang paling sering saya habiskan. Tapi bukan berarti saya nggak main/ hang out  bareng teman-teman juga loh. Gilee aja.. Apalagi momentum ramadhan, membuka banyak kesempatan untuk ketemu dengan teman-teman lama, buka puasa bareng, kumpul-kumpul, dll. Plus, BACA BUKU!!! Akhirnya saya bisa baca buku-buku yang selama ini tergeletak rapi, atau bahkan belum terlepas dari sampulnya (ini parah), meski belum semuanya khatam. lol.

Bagaimana dengan liburan teman-teman? Semoga juga menyenangkan ya!

Post to Twitter


New York Trip: Behind the Scene

Posted: August 8th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: America, Events, Notes, World Experience | 13 Comments »

Tulisan ini merupakan cerita yang saya tulis dalam kapasitas personal saya, bukan mewakili kapasitas pemerintah Indonesia. Adapun hasil resmi dan follow up dari kegiatan sudah disampaikan pada pihak-pihak terkait.

 

2 Minggu Sebelum Keberangkatan

Bu Rieke: “Iman, udah tahu kalau ada High Level Meeting on Youth di New York akhir Juli ini?”

Iman: “udah bu. Kenapa bu?”

Bu Rieke: “kamu berangkat nggak? Biasanya kan kalo isu pemuda kamu diundang?”

Iman: “belum tahu Bu, tapi sepertinya tidak, kalau tidak ada yang support untuk biaya perjalanan”

Bu Rieke: “saya coba usulkan dulu ya. Kamu kan cukup concern di isu ini, harapannya bisa berbuat sesuatu kalau berada di sana”

Iman: “Terima kasih Bu”

Begitulah awal cerita perjalanan saya ke New York selama 2 minggu belakangan ini dimulai, memang ini bukan pertama kalinya saya berangkat ke New York, dan juga bukan New York nya yang menjadi sangat spesial. Bagi saya negara manapun yang dikunjungi, tetap menarik untuk diamati dan dinikmati. Hanya saja, momen-momen seperti High Level Meeting kesempatannya sangat jarang sekali terjadi. High Level Meeting atau Konferensi Tingkat Tinggi merupakan sidang yang biasanya mengundang High Level Figures, seperti Presiden, Menteri, atau focal point dalam isu tertentu. Isu pemuda jarang sekali dibicarakan dalam pertemuan tingkat tinggi, dan ini jadi momentum penting bagi upaya advokasi isu partisipasi pemuda di dunia. Momentum ini juga bertepatan dengan International Year of Youth yang dimulai dari tahun lalu, dan akan berakhir tahun ini.

Terlibat dalam forum seperti ini juga memang bukan hal yang baru bagi saya (dan juga tidak perlu dibanggakan), tapi yang membuat ini spesial adalah isu yang dibahas fokus pada upaya partisipasi pemuda, yang selama 9 tahun terakhir menjadi perhatian utama saya dalam melakukan gerakan. Biasanya isu pemuda, dibahas dengan digandeng dengan isu-isu lainnya, dan hanya dibahas sepintas. Artinya, ini kesempatan langka untuk bisa menyuarakan apa yang menjadi keprihatinan saya selama ini.

Alhasil, meskipun diinformasikan 2 minggu jelang keberangkatan, saya mencoba melalukan berbagai persiapan. Saya cuma mau make sure, bahwa kesempatan ini ga terlewatkan begitu saja, nggak sekedar jadi “ajang ketemu” dengan para pemuda lainnya, atau sekedar jadi pembicaraan di ruang sidang saja, tapi bisa ada follow up nya. Saya cuma mau make sure bahwa duit negara yang dipake untuk mengirim saya ke-sana benar-benar terpakai dengan semestinya, dan bisa benar-benar bermanfaat. Saya nggak mau memperpanjang “kisah delegasi Indonesia yang kalau keluar negeri cuma jadi jalan-jalan”. So, dalam 2 minggu sebelum berangkat, saya sering mondar-mandir KEMLU, ngomongin rencana poin bahasan selama sidang disana, research, menghubungi stakeholders terkait. Simple, tapi menjadi tidak mudah, karena dalam 2 minggu tersebut jadwal saya benar-benar hectic. Saya harus bolak-balik Jogja, Bali, Jakarta, Jogja, Padang, Jakarta – karena aktivitas-aktivitas di IFL. Tidak mudah untuk mengabaikan liburan bersama teman-teman ke Karimun Jawa. Tidak mudah juga karena jadwal keberangkatan ke New York ternyata bertepatan dengan 5 acara lainnya, yang terpaksa tidak dapat saya hadiri. Dan lebih tidak mudah lagi, karena sebenarnya jadwal berada di New York adalah jadwal saya mudik, dan bertemu dengan keluarga di Padang – yang terpaksa harus saya persempit waktunya dari pulang kampung 1 minggu, jadi Cuma 1 hari 1 malam – berasa mimpi.

Saya sadar, bahwa ada kalanya rencana yang sudah saya atur  sedemikian rupa tidak dapat berjalan sesuai kehendak saya. Ada kekuatan yang lebih besar dari saya yang menentukan segalanya. Ada saatnya saya harus melupakan kepentingan pribadi, untuk kepentingan yang lebih besar, negara!

Entah Apa Rencana Tuhan

Entah apa rencana Tuhan, 1 minggu sebelum berangkat saya menerima email dari Lauren (Vice President We Are Family Foundation – organisasi yang menganugerahi saya Global Teen Leader pada Maret lalu), singkatnya:

Lauren:  “Iman, do you have any plan to come to New York around August? We nominated you for an award here”

Iman: “Hi, yes I will come to New York at the end of July. But I am not sure for the beginning of August, whether I will be there or not. But if it is that important, I will check”

Lauren: “Iman! Congrats, you just selected as one of the awardees of Youth Achiever Recognition by Youth Assembly at the United Nations, and you know what? You are invited to deliver keynote speech at the closing program at the United Nations”

Saya sempat diam, bingung, nggak tahu ngomong apa. Bingung karena, kok bisa sebegitu kebetulannya dua hal yang ga saya duga-duga datang dalam waktu yang hampir bersamaan? Bingung juga karena, apa nggak salah nih yang ngasih award? Karena saya udah pernah dapat award yang sama dua tahun sebelumnya, dan setahu saya belum ada yang menerimanya 2x”

Akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan, saya putuskan untuk memperpanjang durasi stay saya selama 1 minggu. Saya minta izin ke KEMLU, apa boleh jadwal flight pulang saya ditunda 1 minggu. Saya jelaskan persoalannya, dan saya bilang for the rest of my stay, saya yang tanggung biayanya. Untungnya, KEMLU nggak keberatan, dan mendukung upaya saya.

So, berangkatlah saya ke New York dengan berbagai ekspektasi.

Saya diberangkatkan sendiri 1 hari lebih awal, dengan harapan saya bisa berkonsolidasi terlebih dahulu dengan tim di New York. Dan sesampai di sana, saya takjub dengan keramah-tamahan orang-orang di PTRI (Perwakilan Tetap RI untuk PBB) – saya diperlakukan sejajar seperti diplomat lainnya. Suara dan concern saya didengarkan dan dijadikan pertimbangkan. Bukan berarti kedutaan kita di negara lain nggak ramah loh, tapi jarang saja menemukan pihak pemerintah yang memperlakukan anak muda dengan sejajar.

Saat Sidang…

Momen menarik dan menjadi kejutan adalah saya benar-benar diberikan kesempatan untuk bertindak sepenuhnya selama sidang. Awalnya saya piker, posisi saya sebagai adviser dalam delegasi hanya akan memberikan masukan dan usulan-usulan pada diplomat senior. Ternyata, di luar dugaan pak Hasan Kleib (Ketua Delegasi, Wakil Tetap RI untuk PBB) bilang “ini kan acaranya kamu, kamu gantikan saya saja”.

Saya bukan main senangnya, karena saya bisa menyampaikan poin intervensi sepenuhnya dalam kapasitas saya sebagai pemuda, saya bisa menulis ulang poin intervensi yang semula sangat “diplomatis” dan “elitis” dengan bahasa saya sendiri sebagai pemuda. Saya diperbolehkan menyampaikan rekomendasi-rekomendasi untuk pemerintah, dll. Kesempatan yang saya syukuri, dan bagi saya hampir seperti mukjizat. Terlebih lagi, ketika poin intervensi yang saya sampaikan ternyata banyak diapresiasi oleh negara-negara lain. Dengan ID card “adviser” saya diperbolehkan masuk ke ruangan mana saja di gedung PBB, termasuk observing suasana sidang di UN Security Council.

 

 

Hari kedua sidang, setiap negara akan menyampaikan country’s statement nya yang menyebutkan pandangan negara mengenai isu yang dibahas, apa yang sudah dilakukan, serta komitmen ke depannya. Sejumlah negara diwakili oleh Presiden nya langsung, atau Menteri Pemuda. Saya sedikit kecewa, karena tidak ada “orang penting” dari negeri kita yang datang langsung. Tapi setidaknya saya masih bersyukur bahwa Indonesia masih bs mengirimkan delegasi pemuda (meskipun hanya saya sendiri) – jika dibandingkan negara-negara lain yang mayoritas tidak mengirimkan.

15 Menit sebelum giliran Indonesia, tiba-tiba pak Hasan (Ketua Delegasi – yang semula direncanakan menyampaikan pidato) bilang ke saya: “Kamu saja deh yang pidato di depan. Ini acara kamu, dan sudah sepantasnya anak muda yang maju. Saya sudah sering di depan, tapi kalo kamu? This is your chance! Mau kan?”

Saya diam dan agak shocked seusai mendengar pertanyaan pak Hasan, tapi nggak pake lama saya bilang. “Yes, I will Pak”. Padahal meskipun saya terlibat dalam memberikan masukan untuk konten pidato tersebut, saya belum pernah berlatih as if saya yang akan baca. Akhirnya, dengan waktu yang terbatas saya Cuma sempat latihan 1 kali sebelum maju, saya beranikan diri. Dalam benak saya, kalau nggak sekarang kapan lagi saya bisa bicara di podium itu? Podium yang jadi mimpi kebanyakan anak HI, podium yang biasanya jadi tempat Sekjen PBB, Kepala Negara, Duta Besar menyampaikan pandangannya. Bahkan menjadi diplomat, juga belum tentu bisa berada di sana. Dan sekarang saya dikasih kesempatan, tidak akan saya lewatkan. Yang saya tahu, yang akan saya sampaikan memang jadi pandangan saya, memang keprihatinan saya, dan saya harus menyampaikannya dengan passionate.

Selama High Level Meeting on Youth saya juga berkesempatan bertemu dengan wakil pemuda dari negara-negara lain, serta ikutan nimbrung di beberapa side events nya. Diskusi di side event jauh lebih seru sepertinya :0

 

Boston

Setelah sidang berakhir, praktis jadwal saya kosong selama 1 minggu. Mau keliling-keliling New York juga nggak terlalu bersemangat, karena hampir semua must visit nya sudah dikunjungi (sebenarnya mau ngehemat juga. Lol). Dan kesempatan ini lebih banyak saya manfaatkan untuk ketemu dengan teman-teman di AS, coach saya Jayme Illien yang kebetulan lagi di New York juga, dan juga mengunjungi beberapa NGO di sana. Lumayan bisa diskusi dan ketemu orang-orang

Yang menarik juga, akhirnya saya ke Boston! Singkat cerita.. Oh.. ternyata itu yang namanya Harvard.

3 Hari Yang Berakhir dengan Sempurna

Tiga hari terakhir menjelang pulang, praktis perhatian saya sepenuhnya berada di persiapan keynote speech di PBB. Memang saya hanya bicara 10 menit, tapi bagi saya 10 menit itu akan jadi salah satu bagian terpenting dalam cerita hidup saya. Apa yang akan saya sampaikan, bisa saja justru jadi lelucon seumur hidup, atau sebaliknya mungkin bisa menginspirasi orang-orang yang hadir untuk bergerak melakukan sesuatu untuk komunitasnya. Jauh lebih gampang jika seandainya saya disuruh membahas satu topik tertentu, dibandingkan ketika saya diminta untuk menjelaskan apa yang sudah saya lakukan, apa pandangan saya, dan apa legacy yang ingin saya tinggalkan pada peserta. Terima kasih buat semua yang sudah terlibat dan membantu saya menyiapkan ini semua, buat mas Ricky, Nancy Hunt, Ghian, yang sudah bantu untuk proofreading, buat teman-teman IFL, Kick Andy, Young on Top, dll (yg tdk bs saya sebutkan satu persatu) atau dukungannya. Dan buat keluarga saya pastinya :)

UN Youth Assembly diikuti oleh tak kurang dari 700 pemuda dari berbagai negara di dunia. Sungguh sebuah kehormatan bagi saya pribadi, dan juga Indonesia untuk menjadi orang terakhir yang menyampaikan pidato pada acara yang luar biasa ini. Sebelumnya, pembicara-pembicara kelas dunia seperti Ban Ki Moon, Ambassador Susan Rice, Direktur United Nations Information Center, dan berbagai social entrepreneur sertaworld youth activist juga menyampaikan pidatonya.

Kurang lebih begini isi pidato saya:

Akhirnya seperti yang mungkin teman-teman dengar, Alhamdulillah misinya berjalan sukses. Dan saya baru tahu, ternyata kenapa saya dikasih award lagi tahun ini. Ternyata tahun ini ada 2 kategori,:

The Youth Achievement Recognition are given in two categories:

  1. The Youth Assembly Recognition for Excellence honors the top outstanding students who have done great service to the global community through their leadership and innovation.
  2. The Youth Assembly Recognition for High Achievement recognizes those individuals for their dedication to humanitarian aims, which is apparent from the impact that they have had on their organizations, schools and communities.

Alhamdulillah saya terpilih untuk mendapatkan Recognition for Excellence bersama 3 pemuda dari AS, 1 dr Kanada, 1 dari Korsel, dan 1 dari India. Terima kasih sekali lagi untuk We Are Family Foundation yang sudah menominasikan saya.

Menutup cerita yang (cukup) panjang ini, saya hanya ingin menyampaikan terima kasih buat semuanya, terkhusus untuk KEMLU dan PTRI New York! Dan semoga sedikit yang bisa saya kontribusikan ini, bisa jadi pemacu buat yang lain juga untuk bergerak. Think Big, Make it Happened!

 


Post to Twitter


Sharing di AYC dan Pecha Kucha

Posted: April 28th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Events | Tags: , , , , | 3 Comments »

Sungguh kesempatan yang luar biasa dan juga kehormatan bagi saya dan IFL setiap kali mendapatkan kesempatan untuk berbagi di berbagai forum yang digagas oleh anak muda, seperti yang kami rasakan ketika berbagi di ASEAN Youth Congress 2011 (25/4) yang diselenggarakan oleh AIESEC Indonesia, dan juga Pecha Kucha Jakarta (26/4) yang diselenggarakan oleh Maverick.

Pada ASEAN Youth Congress, saya berkesempatan untuk berbagi panggung dengan Betti Alisjahbana, Alanda Kariza, Ana Karena, dan Erwin Chan. Talkshow selama 1,5 jam yang bertempat di Auditorim Universitas Bina Nusantara ini berlangsung cukup hidup dan ditonton oleh kuarang lebih +100 peserta. Pada talkshow tersebut, saya dan pembicara lainnya, bercerita mengenai kisah dibalik munculnya gagasan sosial yang dilakukan, serta tantangan yang dihadapi dan bagaimana solusi yang dikeluarkan untuk mengatasi persoalan tersebut.

Esoknya, dalam forum Pecha Kucha Jakarta, saya ditantang untuk memberikan presentasi hanya dengan 20 slides, dan 20 detik waktu untuk setiap slidenya. Sehingga, setiap pembicara mendapatkan slot waktu 6 menit 40 detik. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh saya untuk berbagi cerita mengenai aktivitas yang saya dan teman-teman di IFL, dan juga mengajak para  peserta yang berjumlah hampir 200 orang untuk ikut terlibat membangun negeri ini. Awalnya agak deg degan sih, takut nggak bisa ngomong dengan efektif selama 6 menit 40 detik, dimana setiap slidenya saya cuma punya 20 detik. Tapi akhirnya dengan mantra yang selalu saya gunakan “I am Good, I am well prepared” (padahal unprepared banget. lol) semua bisa dijalani dengan maksimal (insya Allah).

Teman-teman yang tidak hadir, dapat mengikuti slide presentasi Pecha Kucha di bawah ini (video akan kami upload menyusul):

Bagi teman-teman yang ingin mengundang IFL dapat menghubungi email indonesianfutureleaders@yahoo.com , Terima kasih


Post to Twitter


Class of 2011!

Posted: April 9th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Events, World Experience | 2 Comments »

Pictures tell more than words. Thank God for the opportunity given to me to be part of Global Teen Leaders – Class of 2011. New York seemed much better than ever!

 

 

 

Post to Twitter


First Impression

Posted: March 29th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: America, Events, Notes, World Experience | 1 Comment »

This post will feature my “first impression” on how i am feeling to be the part of Global Teen Leaders family. As I mentioned and also posted a week ago, I was luckily nominated and finally selected as one of Global Teen Leaders 2011, that had privilege to join Just Peace Summit 2011 in New York City this week. When I arrived at the hotel for the first time, I was welcomed warmly by the committee, and it brought me to the first impression that i would have such a great “family” here. Today is my fourth day in New York, and my comment is not changing. It always great to stay around of small number of committed young people around the world, who already did such a GREAT thing for their community and even the world. They all are totally awesome and fully inspire me! Can you imagine there is a 16 year old girl who already raised more than +10 millions USD for the good of the kids worldwide? or a 19 year old Yale student, well known as great violinist and composer who use his gifted talents for various philanthropy action that already raised +5 millions on health? or a teen filmmaker who uses his film to tell the world about various good causes? and I can mention other stories from other teen leaders to show how amazing they are.

Eventhough this is not my first impression to join conferences or trainings, but this summit seems to provide thousand spaces for me to learn about new things. We learn about something beyond plan of action or how to manage our projects. We are talking deeper on how to spread our words through various medias: like photos; films; social media, and so on. And the cool thing, we are not only learning, but also practicing! for example, we were trying to do photography assignments yesterday and then our photos were commented by experts. Such a valuable feedback.

We are not competing here, and we are not trying to see which one better or which one less. But we are here to learn each other, learn from best practices, and experts. We are here, because we believe that what we do (whatever they are) will contribute to world peace. Can’t wait to tell you more about this experience as soon as I am back.

Keep watching my blog!

Iman, NYC – March 27th 2010

Post to Twitter