This post will feature my “first impression” on how i am feeling to be the part of Global Teen Leaders family. As I mentioned and also posted a week ago, I was luckily nominated and finally selected as one of Global Teen Leaders 2011, that had privilege to join Just Peace Summit 2011 in New York City this week. When I arrived at the hotel for the first time, I was welcomed warmly by the committee, and it brought me to the first impression that i would have such a great “family” here. Today is my fourth day in New York, and my comment is not changing. It always great to stay around of small number of committed young people around the world, who already did such a GREAT thing for their community and even the world. They all are totally awesome and fully inspire me! Can you imagine there is a 16 year old girl who already raised more than +10 millions USD for the good of the kids worldwide? or a 19 year old Yale student, well known as great violinist and composer who use his gifted talents for various philanthropy action that already raised +5 millions on health? or a teen filmmaker who uses his film to tell the world about various good causes? and I can mention other stories from other teen leaders to show how amazing they are.
Eventhough this is not my first impression to join conferences or trainings, but this summit seems to provide thousand spaces for me to learn about new things. We learn about something beyond plan of action or how to manage our projects. We are talking deeper on how to spread our words through various medias: like photos; films; social media, and so on. And the cool thing, we are not only learning, but also practicing! for example, we were trying to do photography assignments yesterday and then our photos were commented by experts. Such a valuable feedback.
We are not competing here, and we are not trying to see which one better or which one less. But we are here to learn each other, learn from best practices, and experts. We are here, because we believe that what we do (whatever they are) will contribute to world peace. Can’t wait to tell you more about this experience as soon as I am back.
Apa kabar teman-teman semua? Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, pada saat saya mengikuti Global Changemakers Summit di Inggris beberapa waktu yang lalu, kami dibagi ke dalam beberapa kelompok, sesuai interest dan passion kami masing-masing. Saya memilih untuk bergabung pada kelompok yang peduli terhadap isu hak-hak anak. Terdiri dari 10 orang pemuda, yang berasal dari 9 negara, yaitu: Australia, Afghanistan, Argentina, Indonesia, Israel, Rusia, Kolombia, Republik Dominika, dan Sierra Leonne). Di kelompok ini, kami membahas beragam isu hak anak yang terjadi di negara masing-masing, maupun saling berbagi pengalaman tentang upaya yang kami lakukan untuk membantu perlindungan hak anak.
Kami sepakat, bahwa hak-hak anak (setidaknya ada 4 kelompok hak dasar anak, yaitu: hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan, dan hak partisipasi) .tidak dapat diabaikan dalam proses pembangunan, namun sayangnya pada kenyataannya, seringkali hak-hak anak terabaikan, baik oleh kebijakan pemerintah maupun dari kesadaran masyarakat sendiri. Kita sering melihat bahwa anak-anak seolah menjadi manusia kelas dua, dan seringkali diabaikan pendapatnya dalam proses pengambilan keputusan, jangankan dalam kebijakan di pemerintahan, bahkan di tingkatan keluarga pun sering kali terjadi.
Maka lahirlah ide untuk mengembangkan proyek yang bertajuk “Fireflies: Glowing Future” (saya akan membahas di lain waktu mengenai latar belakang nama dari proyek ini). Intinya, kami sepakat bahwa sekembali kami ke negara masing-masing, kami ingin melakukan sebuah program yang dapat mensosialisasikan hak-hak anak di berbagai sekolah di negara kami. Sehingga harapannya, anak-anak sadar akan haknya, dan dapat memperjuangkannya, tanpa mengabaikan kewajibannya. Selain itu, dalam sosialisasi ini juga akan dibahas mengenai aktivisme anak-anak di berbagai negara (khususnya di 9 negara ini) dalam berbagai isu sosial, sehingga diharapkan mereka dapat terinspirasi, dan juga mulai do something untuk lingkungannya masing-masing.
Kegiatan ini akan hadir di 9 negara tersebut, dimana setidaknya akan ada 1 workshop setiap bulannya yang dilakukan serentak di 9 negara. Proyek ini akan berlangsung setidaknya selama 6 bulan. Saya sendiri, di Indonesia insya Allah, akan mulai melakukan kunjungan di akhir Februari ini, sekembali saya dari Amerika Serikat. Terlihat simple, tapi tentunya proyek ini tetap membutuhkan tim kecil yang mengurus beberapa persiapan dan juga pelaksanaan kegiatan ini, termasuk juga follow up dari workshop ini. Setidaknya, saya membutuhkan sekitar 2-5 orang yang siap membantu saya dalam hal: social media (komunikasi), dokumentasi, akomodasi, dan acara. Jadi jika ada teman-teman di wilayah Jabodetabek yang mau ikut serta menjadi relawan, dan membantu untuk menyukseskan kegiatan ini, dapat mengirimkan biodatanya melalui email imanusman@gmail.com dengan subject “Fireflies”. Nanti setelah tanggal 15 Februari, saya akan hubungi teman-teman. Jika ada pertanyaan, juga dapat menghubungi email tersebut.
On January 17th, I and some Indonesian scholars got a chance to participate on Martin Luther King, Jr. Day of Service (MLK Day). This year is the 25th anniversary of the Rev. Dr. Martin Luther King, Jr. federal holiday. This milestone is a perfect opportunity for Americans to honor Dr. King’s legacy through service. The MLK Day of Service empowers individuals, strengthens communities, bridges barriers, creates solutions to social problems, and moves us closer to Dr. King’s vision of a beloved community.
It’s very special for me, because it’s my first time experience to volunteer in America. We did small thing, but hopefully it was meaningful for the people we served. We served breakfast for senior citizen, and played with local kids at a small church in South Philadelphia. Annually, MLK Day marked as a national holiday in America, where people are expected to serve to the community. Thus, i was wondering, how if Indonesia also have a special day that provide an opportunity for EVERYONE to serve and volunteer. What a great movement! more about MLK Day, click here
The day before, still to remember the struggle of Martin Luther King Jr, i attended an event at a church in Philadelphia, were an interfaith dialogue was conducted there. Many people were come, and it was also a great opportunity for muslim to be heard, since Daisy Khan, an inspiring muslim woman, who also the Director of American Society for Muslim Advancement, was honored an award for her contribution in interfaith dialogue. She presented a beuatiful and inspiring speech, that i will discussed later in another post. More about her, you can click here.
Halo teman-teman semuanya? Seperti yang pernah saya utarakan sebelumnya, sekembali saya dari Global Changemakers 2010, ada semangat yang begitu besar dalam diri saya untuk membuat perubahan, dan membuka peluang yang lebih besar bagi anak muda (rekan sebaya saya) di Indonesia untuk mengekspresikan suaranya dan menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar. Sejak lama saya membayangkan, kapan ya Indonesia bisa memberikan ruang bagi anak muda nya (khususnya usia 16-21) untuk terlibat dalam proses pengambilan kebijakan. Sehingga kebijakan yang diambil pemerintah tidak lagi sepihak, dan kita (para remaja) tidak lagi hanya sekedar jadi objek dari kebijakan, tetapi bisa jadi bagian dari proses pembuatan kebijakan itu.
Berkenalan dengan banyak pemuda dari seantero dunia, dengan berbagai inisiatifnya, banyak memberikan inspirasi dan motivasi bagi saya untuk bisa mengadaptasi inovasi-inovasi mereka, dan dituangkan ke dalam ranah publik Indonesia, tentunya dengan berbagai pendekatan-pendekatan yang harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi negeri ini. Saya juga sempat beberapa kali memfasilitasi berbagai forum pemuda di tingkat nasional dan daerah, yang membuat saya tahu bahwa ada desakan yang begitu kuat agar suara pemuda bisa didengarkan.
Langsung saja, saya dan sekelompok pemuda lainnya, punya rencana ingin menghadirkan konsep Parlemen Muda di negeri ini pada tahun 2011 – dan 2012. Parlemen Muda merupakan model parlemen yang dilaksanakan oleh anak muda Indonesia (usia 16 – 22 tahun), dari 33 provinsi di seluruh Indonesia, di mana mereka akan memainkan peran layaknya anggota Parlemen, dan membahas berbagai kebijakan, serta menghasilkan rekomendasi kepada pemerintah. Rekomendasi itu akan disampaikan serta di follow up secara continue kepada para pengambil kebijakan negeri ini.
Anggota parlemen akan dipilih berdasarkan serangkaian seleksi meliputi (berkas, interview, hingga pelaksanaan pemilihan umum via internet). Layaknya anggota parlemen yang dipilih oleh masyarakat, Parlemen Muda juga akan memiliki pemilihan umumnya sendiri, di mana masyarakat Indonesia bisa memilih siapa yang layak menjadi wakilnya. Sejumlah debat kandidat di 33 provinsi juga akan digelar, disertai dengan Parliaments Goes to School.
Lalu apa outputnya?
Kami berharap dari Parlemen Muda, akan lahir rekomendasi kebijakan dari 33 provinsi di Indonesia yang bukan hanya diwakili oleh para anggota parlemen muda ini saja, tetapi juga dari kaum muda di seluruh Indonesia, karena para anggota parlemen ini bertindak sebagai representasi provinsi masing-masing. Mereka dipilih oleh rekan-rekannya, mereka dipilih karena kualitas pemikiran mereka yang diadu selama masa kampanye dan pemilihan umum. Sehingga kehadiran mereka di Sidang Parlemen, diharapkan bisa menjadi representasi bagi kaum muda di daerahnya, atau setidaknya bagi konstituennya.
Kami ingin agar anak muda tidak apatis dengan politik di negeri ini, dan meghadirkan pendidikan politik yang demokratis, sehingga ketika tiba masanya nanti, anak-anak muda ini bisa menjadi pemimpin yang mereka idamkan.
Setelah sidang parlemen, mereka akan kembali ke daerah, dan membentuk Parlemen Muda di daerah masing-masing, sehingga bisa menambah elemen check and balances kebijakan-kebijakan di daerah. Mereka juga menuangkan gagasan mereka dalam berbagai aktivitas di daerah masing-masing, terkait dengan hasil rekomendasi yang akan dihasilkan dalam Sidang Parlemen.
Hanya itu?
Kegiatan ini akan melibatkan berbagai pihak: media massa, Kepala Negara, parlemen, menteri, publik figur, dll, guna memastikan bahwa suara mereka bisa betul-betul didengar. Momen ini juga akan dimanfaatkan untuk memberikan penghargaan (Young People Awards) kepada kaum muda Indonesia yang berhasil melakukan inovasi di bidang: kewirausahaan, pengabdian masyarakat, seni dan olahraga, dan teknologi.
Ini barulah konsep awal, yang butuh banyak observasi, komparasi, dan pemikiran lebih dalam. Banyak juga hal-hal teknis yang harus dipersiapkan, yang kami tidak bisa lakukan sendiri. Kami butuh kamu, rekan-rekan muda di seluruh Indonesia, untuk bergabung di tim inti kami! (Substansi, Acara, Kreatif, Komunikasi, Relawan Daerah, IT, Logistik, dll)
Nanti memang akan ada rekrutmen terbuka yang akan diumumkan dalam waktu dekat, tapi mengawali ini semua, tak ada salahnya bagi teman-teman yang berminat, bisa mengirimkan biodata/ pertanyaan lebih lanjut ke parlemenmuda@yahoo.com
Terima kasih
Dari kami: Iman Usman, Mahesh Dadlani, Ryan Abraham P, Pandu Satrio Nugroho, Jessica Angkasa, Jonathan, Mirellia Marcia, Aswin Prasetyo, Hanna Bastaman, Maulana Muhammad, Gerry Hartanto
Hi semuanya! Maaf sudah lama tidak menyapa, dan mengoceh di blog ini. Sejak kembalinya saya dari London, usai mengikuti Kegiatan Global Changemaker Summit, saya kembali ke kehidupan normal. Tidak ada lagi salju, tidak ada lagi 50-an anak muda dari berbagai negara yang inspiratif, dan selalu membuat 7×24 jam terasa tidak cukup untuk mendengarkan sepak terjang mereka dalam membuat perubahan di negara masing-masing. Tapi, bukan berarti kisah anak-anak muda pembawa perubahan tidak ada lagi.
Kembali ke Indonesia, saya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan perkuliahan yang semakin padat. Maklum, mau ujian akhir semester. Di jurusan saya, mungkin hanya separuh mata kuliah yang menerapkan sistem ujian seat in di kelas dan mengerjakan soal-soal selama 2 jam, layaknya ujian lainnya. Melainkan kami dituntut untuk menyelesaikan berbagai makalah akhir dan juga review terhadap jurnal-jurnal ilmiah. Well, hingga minggu depan saya punya 7 deadline 7 makalah dan 3 reviews. Mungkin menyebalkan, tapi sisi positifnya, saya jadi bisa lebih sering baca buku dan lebih updated dengan isu-isu internasional yang berkembang saat ini. Alhasil, perpustakaan, buku, dan jurnal jadi sahabat akrab saya hingga akhir bulan. Extra efforst result extra points. Amin! Sedikit berharap IP semester ini bisa naik dengan signifikan.
Selain aktivitas perkuliahan, 3 minggu belakangan juga cukup menyenangkan, karena saya kembali dapat kesempatan untuk menggali inspirasi dari rekan-rekan muda dari berbagai daerah di Indonesia (meskipun inspirasi bisa didapat dimana saja, setiap hari).
Indonesian Future Leaders menyelenggarakan Training of Trainer dan Capacity Building bagi para staf dan relawannya. Banyak ilmu yang didapat, dan pastinya bonding diantara staf dan relawan juga makin kokoh. Moga-moga ke depannya, program-programnya makin siip. Soalnya, tahun 2011 lumayan banyak rencana, dan gebrakan-gebrakan baru.
And yeah, Desember juga jadi meeting terakhir saya di struktur Youth Advisory Panel United Nations Population Fund Indonesia. Belum tahu apakah tahun depan akan coba apply lagi, dan bergabung di UNFPA. Many things to consider. Overall, teman-teman di YAP banyak menginspirasi dan membuat saya belajar, khususnya tentang perbedaan dan semangat.
Well, one of my favourite things di HI UI, adalah di mana kita ga cuma dicekoki dengan teori-teori aja. Tapi juga dikasih kesempatan untuk praktik, dan belajar langsung dari ahli-ahlinya. Belakangan banyak dosen-dosen tamu yang super gaul (meminjam istilahnya Darang). Salah satu keuntungan bergabung di HI UI. Termasuk di Kelas Modern Diplomacy, kita juga diminta untuk simulasi sidang (seperti MUN), dengan berbagai topik berbeda setiap minggunya. Di mana kita harus berperan sebagai diplomat yang memperjuangkan kepentingan nasional negara yang kita wakili. Minggu lalu di sidang African Union saya berkesempatan mewakili Gabon dalam kasus managing natural resources. Minggu ini saya mewakili Mexico dalam UNODC mengenai kasus narco-terrorism.
Minggu lalu saya dapat kesempatan untuk mengikuti workshop Ashoka Young Changemaker, dan juga diminta untuk mewaikili rekan rekan Ashoka YCM, untuk memberikan keynote speech di Asian Social Youthpreneuship Summit. Ini pengalaman pertama saya menyampaikan keynote speech di sebuah forum internasional (Nanti insya Allah, slide presentasinya akan saya share). Malamnya, alhamdulillah, dianugerahi sebagai salah satu penerima penghargaan Ashoka Young Changemaker Award 2010. Ini sebenarnya untuk teman-teman IFL yang selama 1,5 tahun bekerja luar biasa! Saya hanya mewakili mereka. Salut buat teman-teman semua!
Di hari yang sama, Alhamdulillah, saya dinominasikan di kategori Bintang FISIP dan Aktivis Terbaik dalam FISIP UI Awards 2010. Meksipun belum berhasil, tapi terima kasih atas apresiasi dari rekan-rekan FISIP. Semoga ini bisa memotivasi saya untuk bisa lebih baik, nggak cuma di aktivitas ekstrakurikuler, tapi juga di akademis. Thanks ya
Senang juga, dapat kesempatan untuk sedikit berbagi di kegiatan Youth Talk for Indonesia, sebagai salah satu pembicara. Acara ini diselenggarakan oleh BEM UI. Terima kasih buat teman-teman yang sudah menyempatkan hadir.
Last but not least, finally saya bergabung di Himpunan Mahasiswa HI UI. Hehe. After 1 year!
1 minggu bersama 60 Global Changemakers dari 37 negara? Saling berbagi pengalaman dan informasi? Bertemu dengan sejumlah tokoh inspirasional? Berdiskusi tentang apa yang dapat dilakukan bersama untuk dunia yang lebih baik? Dan sedikit mencicipi London saat bersuhu -3° C?
Itulah yang saya alami pada tanggal 21-26 November 2010 di London, Inggris saat diselenggarakannya event Global Youth Summit (GYS) 2010 oleh British Council.
Kenapa bisa ada di sana?
Beberapa bulan yang lalu, saya mendapatkan informasi tentang seleksi Global Changemaker angkatan 2010 oleh British Council di website www.global-changemakers.net. Saya ikuti proses seleksinya, meliputi: pengiriman aplikasi pendaftaran di mana saya harus menjawab sejumlah pertanyaan (khususnya mengenai aktivitas yang sudah saya lakukan selama ini), video profil, dan wawancara. Hingga akhirnya saya terpilih untuk mewakili Indonesia, bergabung bersama 59 anak muda lainnya, yang berasal dari 37 negara, dari 1600 pendaftar di seluruh dunia, dan berhak mengikuti Global Youth Summit yang dilaksanakan di London pada akhir November 2010.
Global Changemakers adalah sebuah komunitas aktivis muda, relawan dan social entrepreneur, yang menyatukan orang dari 100 negara, tempat untuk berbagi pengalaman, membangun keterampilan, serta menjadi gerbang berbagai kesempatan untuk mengembangkan potensi dan passion yang dimiliki oleh anggotanya. Para Global Changemakers berada di garis depan dalam menjalankan berbagai proyek inovatif di komunitas mereka, menjadi bagian dari solusi persoalan global, dan menjadi masa depan dunia ini.
Lalu ngapain aja di sana?
Selama kegiatan Global Youth Summit, saya belajar banyak hal khususnya bagaimana mengelola sebuah project. Tidak hanya dari sisi perancangan ide, dan pelaksanaannya saja, tetapi juga belajar bagaimana memasarkan ide dan menjadikannya sebagai sebuah produk yang menarik, hingga proses monitoring dan evaluasi. Saya juga belajar bagaimana mengembangkan kapasitas personal, seperti kemampuan negosiasi, public speaking, kepemimpinan, kewirausahaan sosial, dll. Kegiatan ini juga memberikan ruang bagi saya untuk mendapatkan inspirasi dan bertukar pikiran dengan sejumlah social entrepreneurs yang telah sukses dalam membawa perubahan bagi komunitasnya. Seperti: Caroline Casey (Pendiri dan CEO Karachi, dan O2 Ability Awards), Pamela Hartigan (Penulis The Power of Unreasonable People), World Bank Instititue, British Council, InterAct Interfaith Action, UK Youth Climate Champion, dll.
Kami juga dipersiapkan untuk menghasilkan berbagai proyek kolaboratif yang dilakukan secara global (internasional) untuk meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai isu-isu global yang menjadi tantangan kita saat ini, serta community action project yang menjadi aktivitas kita untuk mengembangkan komunitas dan aktivitas kita di tingkat lokal.
Itu Saja?
Tentu tidak, hal paling berharga yang saya temui dari kegiatan ini adalah kesempatan untuk bertukar pengalaman dan best practices diantara para Global Changemakers. Semangat, keingintahuan yang tinggi, kerja keras, dan capaian setiap Global Changemaker jelas menjadi inspirasi bagi saya pribadi.
Misalnya Ammie Wolf (Israel), peraih Volunteering Price Award di negaranya dengan mengembangkan berbagai kegiatan kreativitas bagi gadis Israel dan Palestina untuk mewujudkan perdamaian diantara kedua Negara. Hamish Mckenzie (Australia) yang baru saja kembali dari Nepal untuk melakukan kegiatan kerelawanan dan membantu masyarakat di sana. Jenneh (Sierra Leonne) yang melakukan kampanye mengenai hak-hak asasi manusia, dan mengambangkan potensi anak-anak dan perempuan di negaranya. Leo (China) yang menggunakan fashion sebagai upaya penggalangan dana dan meningkatkan kepedulian masyarakat Singapura untuk lingkungan hidup. Trevor (Amerika), seorang jurnalis muda, dimana berbagai laporannya telah ditayangkan oleh CNN International, dan akun nya di Youtube telah diakses jutaan orang.
Mereka adalah segelintir orang yang saya temui, yang melakukan berbagai perubahan sesuai dengan minatnya masing-masing. Mereka adalah anak muda biasa, sebaya kita. Terlahir bukan dari keluarga bangsawan, atau keluarga kepala Negara. Tapi masalah-masalah yang ada di sekitarnya, memanggil mereka untuk melakukan sesuatu. Mereka tidak langsung mencapai sukses dalam mengelola kegiatannya (atau bahkan belum sukses), mereka memulainya dari langkah pertama, dan telah menghadapi berbagai tantangan dan kegagalan. Mereka tidak takut untuk gagal, dan menjadikan setiap proses dalam hidupnya sebagai pijakan untuk melangkah ke pijakan yang lebih tinggi.
Saya juga mendapatkan kesempatan untuk sedikit mencicipi London, dan melhat rupa kota yang telah menjadi impian saya sejak kecil. Lagi-lagi, pengalaman mengunjungi Negara lain, membuat saya belajar (lagi) tentang betapa uniknya segala hal di dunia ini, khususnya tentang penduduk dan gaya hidupnya yang beragam.
Kesempatan ini tentu menjadi bekal berharga bagi saya dalam mengembangkan aktivitas sosial saya, dan juga meningkatkan kapasitas personal saya untuk lebih powerful dalam membawa perubahan di negeri ini. Tentu perubahan bukan hal yang bisa didapat dalam sekejap, tapi butuh waktu. Bahkan, seorang Marthin Luther yang menyampaikan pidato luar biasa mengenai mimpi dan perubahan pada tahun 1963, butuh waktu lebih dari 40 tahun hingga Obama dating (bahkan perubahan itu belum didapat sepenuhnya). Tapi perubahan tidak akan pernah datang jika tidak ada langkah pertama, dan itu yang kini sedang saya tempuh. Long way to go!
See some of videos here:
Note: Terkait dengan sejumlah aktivitas yang akan saya lakukan bersama Global Changemakers, saya ingin mengajak teman-teman untuk bergabung dalam gerakan yang akan saya lakukan, dan bersam-sama menjadi bagian dari perubahan. Jika tertarik, dapat menghubungi saya di www.imanusman.com atau imanusman@gmail.com (subject: GCM Project)
Penulis saat ini adalah mahasiswa semester 3 di Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Indonesia. Saat ini, penulis aktif sebagai Presiden organisasi Indonesian Future Leaders, Penasehat Muda United Nations Population Fund, Duta Muda ASEAN-Indonesia, dan Konsultan untuk sejumlah proyek.
Dokumentasi: Andrea (Global Changemaker: Korea), Iman
Well, sebenarnya ini udah basi banget. Tapi ya sudahlah, moga-moga ada sesuatu yang masih bisa dipetik oleh teman-teman yang baca. Cerita berawal saat bulan Juli lalu saya kedatangan sebuah email yang sempat mengejutkan saya. Tiba-tiba, saya mendapatkan undangan dari Asia Europe Foundation untuk mengikuti Connecting Civil Societies 4, yang merupakan bagian dari official side event ASEM Summit di Belgia awal Oktober 2010. Menjadi kejutan, karena saya merasa tidak pernah mendaftar. Memang, sejak sepulang dari Toronto dan Hanoi, saya berencana untuk tidak terlalu banyak ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan Internasional maupun lokal, yang memang cukup menyita waktu (setidaknya belajar dari pengalaman tahun pertama perkuliahan).
Selidik punya selidik, ternyata itu berasal dari rekomendasi teman, sekaligus my previous Boss di United Nations. Akhirnya, setelah melalui proses pengurusan visa yang cukup melelahkan, visa dan tiket pun di tangan. Saya cukup senang karena ternyata kegiatan akan dilaksanakan di akhir pekan, hingga saya hanya perlu izin kuliah 2 hari. Awalnya bahkan saya sempat berencana mau memanfaatkan kesempatan ini untuk mencicipi Eropa lebih dalam, mau backpacking 1 minggu di Eropa. Bahkan saya sudah hampir memesan hostel dan tiket kereta api ke Italia dan Perancis. Tapi, akhirnya saya putuskan untuk menunda rencana ini, setidaknya tahun depan. Apa daya seorang mahasiswa, jatah izin saya sudah penuh ternyata hingga akhir semester. Bisa-bisa saya nggak ikutan UAS nanti. Well, kuliah tetap paling penting!
Pada waktu yang ditetapkan, saya pun berangkat! Cukup excited dengan perjalanan 5 hari ini. Meskipun sebenarnya saya hanya akan tinggal 3 hari di sana (karena 2 hari dihabiskan untuk perjalanan). Naik Lufthansa, yang ternyata mnyebalkan! Bayangin, masa nggak ada hiburan di dalam pesawat. TV kecil yang biasanya memutar film film pada berbagai penerbangan jarak jauh, NGGAK ADA. Yang ada hanyalah siaran radio, yang bahkan lagu-lagunya saya nggak kenal. Mati gaya banget deh. Dan saya akan menggunakan maskapai yang sama saat pulangnya. Tapi ternyata situasi ini cukup membawa berkah bagi saya, yang saat itu sedang dibayang-bayangi oleh deadline tugas perkuliahan (derita jadi anak HI). Alhasil, selama di pesawat saya sibuk baca buku dan jurnal.
3 Hari di Belgia, meskipun singkat benar-benar pengalaman luar biasa bagi saya. Dari 150 praktisi, akademisi, media, dan pelajar yang diundang, ternyata (lagi-lagi) saya yang paling kecil. Most of them are 40+. Untungnya, apa yang saya bahas dalam working group untuk bahan rekomendasi kepada ASEM Leaders masih hal-hal yang selama ini menjadi konsentrasi saya, yaitu Pemuda. Bedanya, mungkin ini lebih banyak mengarah pada tataran kebijakan, dan kemitraan global antara Eropa-Asia, khususnya untuk isu Public Health. Sengang sekali mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini, karena saya bisa bertemu lagi dengan my previous Boss, Bastian yang saat ini kuliah lagi di Singapore. Senang juga karena saya bisa bertukar pikiran dengan para aktivis dan ahli dari berbagai bidang di kawasan Asia dan Eropa, dan tentunya berjejaring.
Meskipun 3 hari, dan juga kondisi kesehatan yang tidak terlalu fit, saya menyampatkan 5 jam untuk mengelili kota. Bagian yang paling menyenangkan menurut saya. Berjalan sendirian di dinginnya kota Brussel saat itu (mulai galau) dan menikmati sisa-sisa sejarah Eropa. Menikmati coklat Belgia yang memang lezat, atau mencicipi makanan (yang mana saya susah sekali beradaptasi untuk hal yang satu ini), dan tentunya berinteraksi dengan masyarkat lokal. Perjalanan seorang diri ini juga membuat saya jadi lebih sering berinteraksi dengan masyarakat lokal, dan membuat waktu saya lebih banyak untuk mengamati. Hal yang mungkin sulit untuk saya dapati dalam berbagai perjalanan yang pernah saya lakukan selama ini.
Eropa memang menakjubkan menurut saya, dan unik! Tapi, tetap saya lebih kangen dan cinta dengan Indonesia! Satu hal yang saya pegang (dan saya harap terus tetap miliki), adalah kepercayaan bahwa semua ini (proses pembelajaran) adalah bekal bagi saya untuk mengabdi dan membuat bangga Indonesia suatu saat nanti. Malam, semakin larut, dan saya kembali pandangi paspor saya. Senang akhirnya saya mendapatkan visa juga, dan mengetahui akan melihat bagian Eropa yang lain minggu depan. And that’s London! Kota yang selama bertahun-tahun hanya ada dalam angan saya. Semoga tidak ada halangan.