Implikasi Meningkatnya Kekuatan Cina Terhadap Dominasi Amerika
Posted: December 17th, 2010 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Hubungan Internasional | 1 Comment »
Summary dari bacaan Nye – The Future of American Power, Published by Foreign Affairs Edisi November/ Desember 2010 hal 2-12, dilengkapi dengan analisis personal penulis mengenai implikasi meningkatnya kekuatan Cina terhadap Dominasi Amerika dalam tatanan politik internasional
Tak dapat dipungkiri bahwa distribusi sumber power di dunia saat ini sangat tidak merata, dimana sumber-sumber tersebut didonimasi kepemilikannya oleh great powers. Bahkan Amerika Serikat dengan jumlah populasinya yang tergolong besar (5% dari total penduduk dunia), setidaknya menguasai seperempat ouput ekonomi dunia, dan pengeluaran keamanan dan militernya mendekati separuh dari kebutuhan dunia. Tetapi hal tersebut bukan berarti Amerika Serikat dapat lepas dari tantangan dan hambatan untuk mempertahankan dominasinya. Tantangan baik dari sisi domestik, maupun eksternal, yang ditunjukkan dengan munculnya emerging powers menjadi hambatan serius bagi Amerika untuk tetap mempertahankan dominasinya. Melalui tulisan ini, penulis akan mencoba menganalisa potensi dominasi kekuatan Amerika Serikat di masa mendatang, khususnya merespon kebangkitan Cina sebagai kekuatan baru dunia.
Krisis finansial global pada tahun 2008 yang menerapa negeri adidaya tersebut, yang berdampak pada kejatuhan berbagai sektor, seolah menjadi pertanda menurunnya power Amerika Serikat. Meskipun Amerika Serikat masih sangat unggul dan seolah unipolar dalam aspek kekuatan militer, tapi di sisi ekonomi, sistemnya sudah mulai multipolar, diindikasikan dengan bertambahnya major actors seperti Eropa, Jepang, dan Cina dalam kelompok elit pemimpin ekonomi dunia. Dalam politik antarbangsa, tak dapat dipungkiri, bangsa-bangsa Asia juga makin menunjukkan signifikansinya dalam panggung politik global.
Menurut Joseph S. Nye, meskipun Cina dipandang sebagai kekuatan baru, tapi secara statistik masih jauh untuk menyamai kekuatan yang dimiliki oleh Amerika saat ini, dan masih menghadapi sejumlah tantangan yang kompleks dalam pembangunan. Bahkan meskipun sejumlah pakar, seperti Goldman Sachs memproyeksikan bahwa di tahun 2027 Cina akan mampu melampaui GDP Amerika, tetapi Nye memandang kesamaan size tersebut tidak menjamin kesamaan komposisi. Karena Cina sendiri masih menghadapi berbagai masalah, khususnya demografi. Meskipun Cina sejauh ini sukses membuktikan bahwa sistem politiknya yang otoriter mampu membawa stabilitas di pemerintahan, tapi hal tersebut belum menjawab masalah tuntuan akan partisipasi politik yang lebih baik. Sehingga, ahli memperkirakan masih jauh bagi rakyat Cina untuk dapat menikmati satndar hidup yang cukup tinggi layaknya di Eropa atau Amerika Serikat.[1] Cina juga butuh kehati-hatian dalam mengambil sikap dalam merespon pesatnya perkembangan bangsa-bangsa lain di Asia, seperti India dan Jepang, yang dikenal cukup akrab hubungannya dengan Amerika.
Di sisi lain, Amerika sendiri menolak jika dinyatakan mengalami penurunan power yang signifikan, yang dianggap memiliki tendensi untuk diambil alih hegemoninya oleh emerging powers, khususnya Cina. Amerika memandang kalaupun ada masalah-masalah domestik yang dihadapinya, hal tersebut tidak akan begitu signifikan pengaruhnya terhadap power mereka. Pasca krisis, Amerika juga mulai berbenah dan kembali bangkit, dan meskipun pertumbuhan ekonominya menunjukkan penurunan, tapi hal tersebut masih dalam tataran aman.
Perekonomian Amerika masih dianggap kompetitif, dan bahkan memimpin dalam berbagai sektor baru, seperti teknologi informasi, bioteknologi, dan nanoteknologi. Keterbukaan Amerika terhadap globalisasi, dipandang oleh para ahli akan membawa dampak positif terhadap pertumbuhan produktivitas ekonominya. Dalam hal penelitian, kewirausahaan, investasi, dan pembangunan, Amerika hingga saat ini masih tetap menjadi pemimpin dunia, yang masih sulit untuk ditaklukkan, setidaknya dalam beberapa tahun ke depan. Pendidikan di Amerika juga dilihat masih yang terbaik, khususnya di tingkat perguruan tinggi, dan untuk tataran sekolah dasar dan menengah masih memenuhi standar global.
Tapi tak dapat dipungkiri bahwa Amerika sedikit mengalami kendala dalam mempertahanakan kepemimpinannya di Asia dengan munculnya Cina sebagai kekuatan dunia. Meskipun Amerika adalah Negara superpower, tapi jaraknya yang cukup jauh dari Asia, dan juga tidak memiliki teritori yang terdapat di sana, memunculkan ketidakpercayaan tersendiri terhadap Amerika.[2] Belum lagi, dominasi Cina di Asia dapat mempengaruhi negera-negara pendukung Amerika di Asia.
Pada akhirnya, penulis sepakat dengan Nye, bahwa power bukanlah mengenai baik atau buruk. Dimana jika memiliki lebih tidak selalu berarti lebih baik, karena pada akhirnya akan membuat suatu Negara menjadi sangat percaya diri, dan pada akhirnya menempatkan strategi-strategi yang kurang tepat. Penulis sepakat dengan para institusionalis yang melihat kenaikan Cina sebagai peluang setidaknya untuk mengembangkan kerjasama, dibandingkan mengedepankan potensi konflik.[3] Penulis meyakini bahwa penting bagi Amerika untuk dapat menyeimbangi kekuatan militernya dengan instrumen-instrumen soft power, dan peningkatan diplomasi di berbagai sektor. Apa yang Amerika lakukan dengan mengembangkan multitrack diplomacy dan menjadikan people to people sebagai pendekatannya sudah cukup baik, tapi politikantarbangsa yang dinamis, juga harus disikapi dengan kebijakan-kebijakan yang dinamis dan strategis, dan merespon perkembangan.
Kekuatan Cina yang meskipun kini belum mampu menandingi Amerika secara komposisi (bukan kuantitas), mungkin bisa memberikan sedikit angin segar bagi Amerika, tetapi tetap tak boleh dipandang sebelah mata. Amerika harus melancarkan sejumlah aksi, misalnya bagaimana mengupayakan perwujudan demokrasi dan kebebasan di Cina, sebagai bagian dari diplomasi public Amerika. Sehingga perlahan nilai-nilai demokratis bisa tumbuh di Cina. Dalam melakukan pendekatan-pendekatan, Amerika juga harus mengembangkan multitrack diplomacy, dengan mengedepankan peran masyarakat sipil dan non-state actors, sehingga pola interaksi yang terbangun tidak hanya government to government.
[1] Frida Ghitis, World Citizen: Will China Challenge U.S. as Global Superpower?. Diakses dari
[2] Robert G. Sutter, China’s Rise Implications for US Leadership in Asia. (Washington DC: East-West Center, 2006). Hal.64
[3] Avery Goldstein, Power Transitions, Institutions, and China’s Rise in East Asia: Theoretical
Expectations and Evidence. The Journal of Strategic Studies Vol. 30, No. 4–5, 639 – 682, August–October 2007.






