Mungkin kalo ada diantara teman-teman yang selama beberapa minggu belakangan melihat posting saya di twitter ataupun di facebook, untuk menghimbau dukungan untuk Tim UI dalam sebuah kompetisi, inilah sedikit ceritanya, sekaligus pertanggungjawaban atas dukungannya
Sekitar akhir Desember yang lalu, saya dan beberapa sahabat saya di UI memutuskan untuk mengikuti sebuah kompetisi kasus bisnis, namanya Hult Global Case Challenge. Awalnya begitu asing dengan nama kompetisi ini, at least dia ga sepopuler Trust Danone ataupun kompetisi bisnis lainnya yang biasa diikuti sama teman-teman di Fakultas Ekonomi. Baru setelah melihat lebih lanjut, ternyata kompetisi ini adalah Kompetisi Kasus Bisnis terbesar di dunia, dan memang sekolah-sekolah yang berpartisipasi bukan nama-nama yang asing lagi, mulai dari HBS, LSE, Oxford, Cambridghe, Hult, UC Berkeley, dll. Indonesia sendiri (setahu saya) sebelumnya belum pernah berpartisipasi dalam kompetisi ini.
Saya sendiri sejujurnya belum pernah mengikuti Kompetisi Kasus Bisnis. Bisa saja karena memang tidak tertarik, atau juga karena “belum mampu”. Tapi entah kenapa saya tertarik sekali dengan konsep kompetisi ini, yang benar-benar menguji kemampuan berpikir dan kreativitas, dan it’s not only about business, tapi kasus-kasus yang akan dibantu adalah kasus-kasus bisnis sosial dari organisasi-organisasi top di dunia. Jadi hadiah sebesar $ 1 juta yang akan diterima oleh pemenang, akan digunakan untuk membawa ide solusi bisnis tadi menjadi kenyataan, untuk menjawab tantangan yang diberikan. Saya pengen belajar banget dari kompetisi ini. Mencoba sesuatu yang belum pernah saya coba, di bidang yang mungkin tidak pernah saya sentuh sama sekali. Itu ekspektasi saya
Akhirnya setelah melalui seleksi tahap awal, dari 5000 peserta yang katanya berpartisipasi di tahun ini, kita berhasil masuk Top 200, dan masuk ke kelompok Housing Track dengan kasus dari Habitat for Humanity International (HFHI). HFHI adalah organisasi top yang selama ini menangani persoalan perumahan bagi masyarakat di dunia. Seperti yang kita ketahui, data menunjukkan dari 7 milyar orang yang tinggal di bumi ini, perumahan masih menjadi masalah genting bagi 1,6 milyar diantaranya. Dan kita dikasih tantangan dengan uang $ 1 juta tadi untuk menghasilkan gagasan yang bisa membuat HFHI bisa membangun 10 juta rumah dalam 10 tahun ke depan (yang artinya melayani 50 juta beneficiaries). Ini jelas bukan perkara mudah, pasalnya sejak HFHI berdiri 30 tahunan yang lalu, mereka aja baru berhasil membangun sekitar 2,5 juta rumah di seluruh dunia. Nah, sekarang kita dikasih tantangan melipatgandakan 4x lipat angka tersebut, hanya dalam waktu 10 tahun, dengan modal hanya $1 juta. Haha.
Saking pusingnya, ampe kita bikin joke, ini mah lebih berat daripada bangun 1000 candi dalam 1 malam. Roro jonggrang. Haha. Tapi ya disitu tantangannya.
Nah, kita diminta untuk persiapana selama 1 bulan, dan harus berangkat ke Dubai untuk mempresentasikan ide kita di kompetisi Final Regional. Perjalanan ke sini ga mudah, karena kita harus cari dana sendiri buat berangkat ke Dubai, dan harus hearing dengan berbagai stakeholders terkait (misalnya HFHI Indonesia, Kemenpera, experts, dll). Maklum, soalnya tidak ada satupun diantara tim kita yang punya background atau bahkan berurusan dengan yang namanya housing, selain menempatinya. Yang bikin lebih ribet, tim saya bisa dibilang anaknya aktif-aktif banget. Hehe. Kita berlima, nah dalam 1 bulan itu, saya harus mengorganisir kegiatan Parlemen Muda Indonesia, beberapa teman saya harus berangkat ke Amerika untuk kompetisi juga, ada yang harus magang, ribet lah pokoknya. Hehe. Dan, akhirnya kita nggak bisa fokus pada upaya pendanaan untuk berangkat ke Dubai. Jadi kita gagal bertarung di Regional Final.
Namun, untungnya sedikit harapan masih ada. Ada kompetisi online, yang mempertarungkan tim seluruh dunia, untuk memperebutkan 1 tiket ke Global Final. Dalam online track sendiri, kompetisi dibagi 2. Hanya 10 tim dengan suara terbanyak dari publik, yang bisa maju ke tahap berikutnya, yaitu penjurian dengan dewan juri. Saya paham sekali bahwa peluangnya sangat kecil sekali untuk bisa menang di sini. Tapi saya percaya bahwa ini harus kita tuntaskan sampai akhir. We are the ones who end what we start. Begitulah kira-kira prinsipnya.
Dengan persiapan terbatas dan minim, kita mempersiapkan sebuah video singkat yang menampilkan gagasan kita, untuk diperlombakan popularitasnya. Akhirnya lahirlah video ini, yang dibuat hanya dalam waktu semalam
Setelah kurang lebih 1 minggu bersaing, berkat dukungan teman-teman (thanks anyway), kita berhasil masuk Top 10. Senang banget rasanya. One step closer. Apalagi kita dapat komentar-komentar positif dari teman-teman yang menonton video ini. Tapi di luar dugaan, tanpa adanya pemberitahuan sebelumnya, kita hanya punya waktu 24 jam dari pengumuman untuk mengumpulkan presentasi dan juga supporting documents. Apalagi dengan perbedaan waktu antara Jakarta dan Amerika, jelas ini jadi tantangan bagi kita. Ditambah lagi ujian datang, ketika ada teman-teman di tim yang sakit dan harus ke luar kota. Tapi, semangat untuk menyelesaikan ini hingga tuntas masih membara. Kita nggak akan menyerah sampai titik akhir kemampuan kita.
Dan akhirnya, setelah berjibaku selama 12 jam, kita bisa mengirimkan dua dokumen ini:
Pengumumannya sudah disampaikan, dan sayang sekali kita belum berhasil membawa nama Indonesia ke pentas Global Final di New York April ini. Tapi saya sendiri paham, bahwa saya dan teman-teman di tim sudah memberikan kemampuan terbaik kami. Menang kalah urusan belakangan, yang penting kami sudah mencoba untuk mengalahkan segala halangan dari diri kami maupun eksternal. Kami menuntaskan apa yang kami mulai. Saya sendiri belajar banyak dari kompetisi ini dan juga dari teman-teman saya yang luar biasa. Terima kasih buat Bu Anna, coach terbaik dalam segala kompetisi yang pernah saya ikuti! Dedikasi dan dukungan Bu Anna buat kami luar biasa! Respect! Buat teman-teman saya yang luar biasa, Rainintha Siahaan, Aichiro Suryo Prabowo, Windy Natriavi, Akhmad Rahadian Hutomo, saya belajar banget dari kalian semua! Thank you guys!
Mohon maaf buat teman-teman yang sudah mendukung, kami belum bisa menjadi yang terbaik. Insya Allah di lain kesempatan, saya ataupun yang lain akan mengharumkan nama Indonesia dengan cara kami masing-masing
Hi semuanya! Maaf sudah lama tidak menyapa, dan mengoceh di blog ini. Sejak kembalinya saya dari London, usai mengikuti Kegiatan Global Changemaker Summit, saya kembali ke kehidupan normal. Tidak ada lagi salju, tidak ada lagi 50-an anak muda dari berbagai negara yang inspiratif, dan selalu membuat 7×24 jam terasa tidak cukup untuk mendengarkan sepak terjang mereka dalam membuat perubahan di negara masing-masing. Tapi, bukan berarti kisah anak-anak muda pembawa perubahan tidak ada lagi.
Kembali ke Indonesia, saya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan perkuliahan yang semakin padat. Maklum, mau ujian akhir semester. Di jurusan saya, mungkin hanya separuh mata kuliah yang menerapkan sistem ujian seat in di kelas dan mengerjakan soal-soal selama 2 jam, layaknya ujian lainnya. Melainkan kami dituntut untuk menyelesaikan berbagai makalah akhir dan juga review terhadap jurnal-jurnal ilmiah. Well, hingga minggu depan saya punya 7 deadline 7 makalah dan 3 reviews. Mungkin menyebalkan, tapi sisi positifnya, saya jadi bisa lebih sering baca buku dan lebih updated dengan isu-isu internasional yang berkembang saat ini. Alhasil, perpustakaan, buku, dan jurnal jadi sahabat akrab saya hingga akhir bulan. Extra efforst result extra points. Amin! Sedikit berharap IP semester ini bisa naik dengan signifikan.
Selain aktivitas perkuliahan, 3 minggu belakangan juga cukup menyenangkan, karena saya kembali dapat kesempatan untuk menggali inspirasi dari rekan-rekan muda dari berbagai daerah di Indonesia (meskipun inspirasi bisa didapat dimana saja, setiap hari).
Indonesian Future Leaders menyelenggarakan Training of Trainer dan Capacity Building bagi para staf dan relawannya. Banyak ilmu yang didapat, dan pastinya bonding diantara staf dan relawan juga makin kokoh. Moga-moga ke depannya, program-programnya makin siip. Soalnya, tahun 2011 lumayan banyak rencana, dan gebrakan-gebrakan baru.
And yeah, Desember juga jadi meeting terakhir saya di struktur Youth Advisory Panel United Nations Population Fund Indonesia. Belum tahu apakah tahun depan akan coba apply lagi, dan bergabung di UNFPA. Many things to consider. Overall, teman-teman di YAP banyak menginspirasi dan membuat saya belajar, khususnya tentang perbedaan dan semangat.
Well, one of my favourite things di HI UI, adalah di mana kita ga cuma dicekoki dengan teori-teori aja. Tapi juga dikasih kesempatan untuk praktik, dan belajar langsung dari ahli-ahlinya. Belakangan banyak dosen-dosen tamu yang super gaul (meminjam istilahnya Darang). Salah satu keuntungan bergabung di HI UI. Termasuk di Kelas Modern Diplomacy, kita juga diminta untuk simulasi sidang (seperti MUN), dengan berbagai topik berbeda setiap minggunya. Di mana kita harus berperan sebagai diplomat yang memperjuangkan kepentingan nasional negara yang kita wakili. Minggu lalu di sidang African Union saya berkesempatan mewakili Gabon dalam kasus managing natural resources. Minggu ini saya mewakili Mexico dalam UNODC mengenai kasus narco-terrorism.
Minggu lalu saya dapat kesempatan untuk mengikuti workshop Ashoka Young Changemaker, dan juga diminta untuk mewaikili rekan rekan Ashoka YCM, untuk memberikan keynote speech di Asian Social Youthpreneuship Summit. Ini pengalaman pertama saya menyampaikan keynote speech di sebuah forum internasional (Nanti insya Allah, slide presentasinya akan saya share). Malamnya, alhamdulillah, dianugerahi sebagai salah satu penerima penghargaan Ashoka Young Changemaker Award 2010. Ini sebenarnya untuk teman-teman IFL yang selama 1,5 tahun bekerja luar biasa! Saya hanya mewakili mereka. Salut buat teman-teman semua!
Di hari yang sama, Alhamdulillah, saya dinominasikan di kategori Bintang FISIP dan Aktivis Terbaik dalam FISIP UI Awards 2010. Meksipun belum berhasil, tapi terima kasih atas apresiasi dari rekan-rekan FISIP. Semoga ini bisa memotivasi saya untuk bisa lebih baik, nggak cuma di aktivitas ekstrakurikuler, tapi juga di akademis. Thanks ya
Senang juga, dapat kesempatan untuk sedikit berbagi di kegiatan Youth Talk for Indonesia, sebagai salah satu pembicara. Acara ini diselenggarakan oleh BEM UI. Terima kasih buat teman-teman yang sudah menyempatkan hadir.
Last but not least, finally saya bergabung di Himpunan Mahasiswa HI UI. Hehe. After 1 year!
Halo semuanya (semoga masih ada yang membaca). Maaf saya sudah lama tidak berceloteh di blog ini. Padahal sebenarnya ada banyak hal yang ingin diceritakan, dibagi, ataupun juga sekedar “curhat”. Haha. Belakangan memang tugas kuliah semakin menggila, dan menuntut perhatian penuh (hingga aktivitas non-kampus juga mulai dikurangi frekuensinya). Bahkan kadang saya merasa bingung sendiri (bukan berarti tidak senang), tiba tiba harus ada di perpustakaan dan duduk menatap laptop, baca jurnal-jurnal yang dulu bahkan nggak pernah disentuh. Atau ada saatnya juga ketika saya heran, dan sekedar nongkrong nggak jelas di kampus, saking nggak tau mau ngapainnya. Dari pagi sampai sore, duduk di kampus, ngobrol-ngobrol atau makan bolak balik Takor (nama kantin di FISIP UI).
Yups! Memang sih ini seperti efek snowball. Jadi ceritanya, semester ini mau “focus” sama kuliahan. Mencoba menebus dosa atas kuliahan yang sempat saya anak tirikan selama di Tahun 1. Sampe pernah izin 11 kali di salah satu mata kuliah selama 1 semester. Untung aja masih lulus dengan nilai yang diharapkan. Haha. Nggak ngerti juga deh ceritanya gimana.
Well, ngomongin tahun 1 kuliah, memang campur-campur rasanya. Masih ingat dulu pas baru diterima di UI, masuk jurusan HI, dan euphoria mahasiswa baru nya masih sangat kental. Hobi naik sepeda kuning (yang sekarang udah jarang banget), atau ngerjain tugas tugas ala mahasiswa baru, nge-hunting senior, menjalani segala macam masa bimbingan Maba (hingga akhirnya tetep aja saya nggak masuk HM. Haha. “curcol”). Ditambah lagi dengan tugas tugas mahasiswa, yang sangatlah berbeda dengan masa SMA. Dan masih banyak lagi. Well, Tahun 1 ditutup dengan hasil yang tidak buruk sih, bahkan bisa dibilang cukup baik, dan masih bisa dibanggakan. Sesuai dengan target lah. (bahkan melampaui target sih sebenernya).
Tapi memang, kerasa banget bahwa di Tahun 1 apa yang saya pelajari lenyap begitu aja. Paling yang emang nempel di kepala dikit banget. Nggak tau deh kenapa. Mungkin karena emang mata kuliah masih didominasi sama mata kuliah fakultas (yang emang nyebelin. Haha)
Makanya, pas di tahun kedua ini (di mana semua mata kuliahnya adalah mata kuliah HI), saya ceritanya pengen menebus kesalahan masa lalu. Haha (tapi susah juga sih bs pertahanin IP. Tapi harus naik! Semangat!). Cara belajar berubah, pola hidup makin berubah. Izin kuliah nggak bisa seenaknya aja kayak Tahun 1. Hampir semua mata kuliah, netapin batas maksimal 3x untuk nggak masuk (dengan alasan apapun). Ditambah lagi, dengan kesintingan saya ngambil 24 sks semester ini (ceritanya secdil, insecure, sama anak-anak yang pada ngambil Semester Pendek dengan IP gemilang). Alhasil, semua itu membuat saya jadi banyak reject segala macam kegiatan yang ditawarin. Banyak nolak undangan acara (inilah alasannya, kalo saya menolak undangan Bapak/ Ibu/ Sdra/ Sdri >>> ngomongnya pake efek zoom in, zoom out sinetron Indosiar).
Tugas juga gila-gilaan, dan sekarang saya baru ngerti kenapa orang bilang “Masuk HI UI itu susah, survive nya juga susah, lulus nya juga susah”. Review tiap minggu, bahkan setelah mid harus menghadapi makalah secara beruntun. Uff.. (dan ini aja katanya masih kalah jauh sama tugas anak Tahun 3.. zzz). Tapi memang sih, ini semua ngaruh banget terhadap cara gue berpikir, menilai persoalan, dll. Ini semua juga tak lepas dari dukungan keluarga besar HI, khususnya Batch 2009. Kenapa?
Saya merasa bersyukur, karena saya bisa dipertukan dengan anak-anak brilian, dengan berbagai karakter, bakat, keunikan, dll. Apalagi di angkatan saya yang Cuma 43 orang (dan mayoritas berasal dari berbagai daerah. Dengan kesetaraan gender 22 cowok dan 21 cewek..). Kalo dulu anggapannya anak HI biasanya ya udah anak-anak debat, jago ngomong, jago nulis. Well, ternyata masih banyak keunikan keunikan lain yang saya temui (termasuk dari mereka yang bertipe seperti itu)
Tugas banyak berdampak pada intensitas baca buku yang semakin meningkat
Tekanan dan ekspektasi dari orang orang di sekitar. Ya, jujur kita hidup memang under pressure banget. Pressurenya tinggi banget. Tuntutan akan tugas, maintaining good performance, ditambah lagi dari ekspektasi orang-orang di sekitar, emang jadi tekanan banget. Tapi, emang kita yang aneh, atau gimana.. Semakin besar pressure nya kayaknya makin oke oke aja.
Security dilemma. Ini sebenarnya salah satu istilah yang ada di Ilmu hubungan internasional. Intinya, Negara ngerasa nggak aman dengan kemajuan Negara lain. Karena bisa dianggap mengancam posisinya. Nah kalo di HI, ini mah emang terjadi dalam realita kehidupan kampus. Karena saking briliannya temen-temen gue, tiba2 kita jadi sering panikan. Misalnya si A udah kelar tugas duluan, dapet nilai A, wah panik mendadak. Tapi ini positif banget. Karena jadinya kita termotivasi banget. Kompetitif, tapi sehat banget! Ini yang gue cinta banget dari angkatan gue. Kita se berbagi itu satu sama lain. Belajar bareng2, gossip bareng2, ngapain rame2… udah susah bedain, mana yg maba ama senior (saking kita se MABA itu)
Dan masih banyak lagi hal-hal yang mau diomongin, kalo ngebahas soal kuliah dan HI.
Anyway, sekarang Junior (anak 2010) rame serame nya umat loh. 63 orang. Gila!!! Ampe SBAL (tempat nongkrongnya anak2 HI. Dekat gedung A FISIP), jadi penuh. Well, gue emang belum kenal sepenuhnya sih (maklum.. nggak di hunting, ehem). Tapi yups,, dibalik ke-ganggu-an mereka (yang mana emang nature nya anak HI begitu), mostly mereka menyenangkan. Haha
Dan, sepertinya sepak terjang mereka juga oke. 2009 jangan mau kalah!! Hahaha.
Demikianlah celotehan mahasiswa…
Maaf kalo se-nggak terstruktur itu tulisannya, dan seaneh itu untuk dibaca. Ini murni, gue pengen cerita aja, tanpa maksud apa apa. Se nggak ada kerjaan itu (pdahl Jum’at ngumpulin Take Home Test)
Pada tanggal 12 September 2009, 43 mahasiswa baru didampingi senior angkatan 2007 jurusan Ilmu Hubungan Internasional UI didampingi melakukan kunjungan NGO bekerjasama dengan HOPE Worldwide Indonesia ke Cilincing, Jakarta Utara. Kegiatan ini merupakan salah satu program yang wajib diikuti oleh setiap mahasiswa baru jurusan HI UI 2009, dalam rangkaian kegiatan Temu Keluarga Hubungan Internasional (TKHI) 2009.
Di Cilincing, setiap peserta melakukan kegiatan community service bersama warga sekitar, yang terbagi dalam 2 sesi. Pada sesi pertama, kami terlibat dalam kegiatan daur ulang kertas. Kami dijelaskan mengenai proses daur ulang kertas, dan juga mempraktekkannya langsung. Kemudian, kreatifitas kami diuji dalam kegiatan pemanfaatan kertas bekas menjadi barang-barang berguna. Misalnya, tempat pensil, celengan, dll.
Pada sesi kedua, kami terlibat dalam kegiatan “Saturday Academic”. Kegiatan ini merupakan program rutin yang dilakukan oleh Hope Worldwide Indonesia setiap Sabtu. Pada program ini, kami menjadi volunteers yang berperan sebagai pengajar anak-anak yang tinggal di sekitar daerah tersebut. Kami dibagi ke beberapa kelas, mulai dari TK A hingga kelas 6 SD. Saya sendiri bersama Dwinta dan Garry bertugas mengajar anak-anak kelas 4 SD. Karena keterbatasan tempat, kelas 4 digabung dengan kelas 5 dan 6. Sehingga beberapa teman saya yang semula mengajar di kelas 5 dan 6 juga berpartisipasi sebagai pengajar.
Pada kegiatan yang berlangsung selama 2 jam ini, proses belajar mengajar berlangsung cukup menarik. Anak-anak terlihat antusias dalam mengikuti setiap pelajaran yang kami ajarkan. Kegiatan dimulai dengan perkenalan, dan menyanyi bersama lagu “Twinkle-Twinkle Little Star”. Selanjutnya sejumlah topik juga diajarkan, seperti: tata krama, bahasa Inggris (introduction, jobs, greetings, dll). Selain itu juga ada quiz Bingo yang ditampilkan dalam format pengetahuan umum. Salah satu hal yang menarik dari kegiatan ini, kami juga berdiskusi mengenai cita cita. Setiap anak diminta untuk menggambarkan cita cita mereka di selembar kertas, kemudian beberapa anak diminta untuk bercerita mengenai cita-cita tersebut. Hal miris yang muncul pada kegiatan ini, ketika salah satu anak ditanya kenapa tidak mau menjadi presiden, anak tersebut menjawab “ketinggian kak, kalo jadi presiden”. Tak lupa kami juga memberika semangat kepada mereka untuk meraih cita-cita.
Di akhir kegiatan ini, kami membagikan selembar kertas, untuk menuliskan kesan dan pesan bagi kami para pengajar. Pada umumnya, testimonial dari mereka menunjukkan bahwa mereka senang dapat belajar bersama kami, dan mengharapkan agar kami dapat kembali mengajar di sana pada lain kesempatan.
Personal Note:
Well.. setelah cukup lama mengidamkan kembali berkegiatan dan bervolunteering, akhirnya kesampaian juga. Seru skali bisa ketemu sama anak-anak di sana. Panas terik, ditambah dengan hawa pantai yang panas, nggak jadi halangan buat berbagi dengan anak-anak di sana. Paling seru pas ngajar anak-anak. Yeah! Senang mendengarkan cita cita mereka yang segudang. Sekaligus miris, ketika sejumlah persoalan yang ada mengintervensi mereka untuk mengimpikan profesi tertentu. Misalnya, ga ada yang mau jadi presiden dengan alasan “ketinggian kak!”, atau ga ada yang mau jadi polisi dan tentara dengan alasan “takut salah tembak kak”. Yeah, jawaban jawaban polos mereka, membuat kita semua bersemangat bahwa dengan kerja keras, bisa dilakukan!
Terima kasih buat Panitia TKHI 2007 yang sudah bekerja keras untuk menghasilkan kegiatan seperti ini. HOPE Worldwide Indonesia, dan juga teman-teman HI UI 09 yang sudah bekerjasama dan menunjukkan komitmennya.
First of all, I’d like to say sorry for not updating this blog. Hehe. Actually, since I started the activities in my university (Yeah! Now, I’m not a student! But a university student!), I’ve been really busy with all orientation things. Like what other students did, they had orientation on university scale, faculty scale, and finished with major scale. I just finished the first two of them. I got many things; friends, spirit of life, life skills, etc. The most remarkable thing is I learn to be more respect with social.
On Faculty orientation, we divided into several groups. Each group consist of 10-12 people. But, unfortunately although, I have 12 people on the list, but just 7 people who actively involved. But, It’s okay! I enjoyed with them. We named this group with “Garuda 52″. Garuda like a symbol of spirit of nationalism. Then 52? that’s the lucky number that we got from the committee. One of the task that we had, was creating a social project. We only had 1 day for discussing the project, including preparing the proposal. Finally, after debating a bit.. we selected going to hospital on independence day.
Every 17th August, Indonesia celebrates it’s Independence day. Usually, many people, especially the children celebrate the day through held some events. Such as art festival, traditional games, etc. The children are really enjoy the day. But, we realize, not all the children in this country can do the things as the others do. One of them is the hospitalized children.
That’s why, we went to one of hospital in Depok, West Java. We shared the fun, gave them quiz, and of course, distributed the prize. Yeah. Maybe not more than 15 children who joined this event. But, we belive that, through being “act locally”, we did something!!!