Sejak saya memantapkan pengen jadi guru dan bikin sekolah suatu hari nanti, saya seneng banget tiap diminta datang ke sekolah-sekolah, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Ketemu dg anak2 dengan brbgai latar belakang dan model-model pendidikan yg beda. Banyak banget best practices yang ditemui, meskipun tetap selalu ada ruang untuk improvisasi. Salah satu sekolah yang bikin saya kagum banget adalah Sampoerna Academy. Minggu lalu, saya dapat kehormatan untuk berbagi tunggal di sesi inspiring talks yang diadakan di Sampoerna Academy Bogor. Kegiatan semacam ini memang rutin diadakan di sekolah-sekolah Sampoerna Academy. Ini aja udah jadi poin plus. Saya ingat jaman SMA, kayaknya jarang banget kegiatan-kegiatan semacam ini diinisiasi sama pihak sekolah. Jadinya, harus saya yang kreatif dan proaktif curi-curi waktu untuk nonton video dari internet, kalau mau dapat inspirasi lebih
Kalau ditotal mungkin saya sudah sharing atau mengisi sesi lebih dari 100x, tapi kunjungan kemarin ke Sampoerna Academy jd salah satu yang spesial. Ketika masuk ruangan, dan bertemu dengan 200-an anak-anak Sampoerna Academy, udah kerasa banget atmosfer yang beda. Keliatan banget anak-anak ini anak yang pintar, bersemangat, dan passionate sama apa yang mereka pelajari. Semuanya fokus dengerin saya, banyak yg sibuk mencatat, meski dalam suasana santai. Kaget juga pas sesi tanya jawab, hampir semuanya tunjuk tangan. Sampe saya kewalahan sendiri ngeladeninnya. Nggak kerasa juga 2 jam sesi sharing ini berjalan sangat cepat, bahkan harus ditambah
Hal ini bikin saya penasaran, dan pengen tahu banyak, gimana sih guru-guru di sekolah ini membina anak-anaknya. So, gak saya lewatkan kesmepatan buat ngobrol samapihak sekolah dan Yayasan, dan dpt info-info menarik soal program pendidikan yg udh jalan 3 thn di Indonesia ini. Anw, buat yang masih bingung, apa itu Sampoerna Academy? Simplenya, Sampoerna Academy itu sekolah/ program pendidikan yg dedesain Putera Sampoerna Foundation dg sistem asrama brstandar internasional.
So far mrk udh punya 989 siswa & mrk adalah siswa/i berprestasi, yg diseleksi dr seluruh prov di Indonesia, dr keluarga pra sejahtera. Pas denger visinya, langsung click bgt sama @ifutureleaders, sm2 pengen ngehasilin Indonesian Future Leaders, dg kompetensi global. Yg unik dr Sampoerna Academy & bs jd lesson learned, adalah mrk ga cm fokus sama pembangunan akademis yg didukung dg fasilitas komplit (layaknya sekolah-sekolah internasional lainnya), tapi mengembangkan program pendidikan dengan berlandaskan empat konsep yang mereka junjung: pathway to leadership, Lifelong learning, Media & IT skills, dan academic offering yg disertifikasi sama Cambridge.
Makanya, pas ditawarin untuk internship dan bantu-bantu untuk negmbangin konsep ini dalam program nyata, khususnya untuk pathway to leadership & life long learning nya, saya nggak pikir panjang. Langsung saya terima! Karena match banget sama future goal saya untuk bikin sekolah In short, di Sampoerna Academy, selain mereka belajar pelajaran-pelajaran utama dari guru2 terbaik (yg mostly juga masih muda), mereka juga diajarin tentang nilai-nilai kepemimpinan & kewirausahaan. Jadi mrk belajar project management, critical thinking, problem solving, pendidikan karakter, global citizenship, termasuk religious pluralism.
Ada juga program-program wajib community service, ngembangin wirausaha (bisnis), global citizenship, dll. Seru abis! Dan udah banyak kisah-kisah sukses dr program ini. Trus di tiap sekolah, mereka kan tinggal di asrama ya. Nah, asramanya dibagi-bagi ke kelompok-kelompok gitu, menggunakan nama-nama binatang. Tiap asrama ada Headboy & Headgirlnya. Kayak Harry Potter? Haha! Yups! Ala-ala prefect gitu klo di Harry Potter. Di Sampoerna Academy, para headboy dan headgirl ini dipilih sama siswa/i lainnya untuk memimpin mereka. Yah, namanya kalo tinggal di asrama, pasti seru lah ya. Banyak kegiatan-kegiatan asrama lainnya, dan pastinya siswa/i jd dekat mski beda latar belakangnya.
Pas dengerin konsepnya aja, saya langsung click bgt! Coba dulu jaman SMA bisa join di sekolah-sekolah kayak gini. Mereka nggak cuma fokus pembangunan akademis, tapi juga ekstrakurikuler. Seimbang. Hasilnya? Oke banget! Meski baru 3 tahun berdiri, tai prestasinya luar biasa! Jarang bgt sekolah baru bisa lgsung melejit gitu. Hasil ujian IGSE yg diikuti di seluruh dunia, ada 134 nilai A* (excellent) yg diraih anak2 Sampoerna Academy yang tersebar dalam sembilan mata pelajaran yang diujikan.
Prestasi internasional mereka juga didukung dan diapresiasi banget. Banyak yg menang kompetisi internasionak, ikut pertukaran pelajar ke eropa dan amerika, dll. Salah satu yang bikin kagum, namanya Yusman Ahmad & Annisa. Mereka adalah siswa Sampoerna Academy Malang yg jadi juara desain di Turki, lewat proyeknya yg bernama “Environmental Cycle”. Mereka memanfaatkn energi potensial pegas yg dapat menghemat tenaga pengendara sepeda hingga 680% atau 7x lebih hemat tenaga. Simplenya, kalo dengan sepeda biasa sepeda biasa, seseorang harus mengayuh hingga 160x untuk 1km. Namun dg teknologi yang mereka buat, cukip mengayuh 23x. Jd 1x kayuh, sepeda bisa bergerak sampe 23 meter. Mrk myisihkan 6150 peserta lain dr 43 negara di dunia. Dahsyat abis!Mereka dapat ide itu krn kegelisahan mereka melihat polusi yg disebabkan oleh kendaraan bermotor! Prinsipnya, mrk gabungin talent yang mereka miliki + kegelisahan mereka terhadap isu sosial, yang kemudian jadi potensi perubahan!
Waktu SMA saya pernah ikut kompetisi sejenis, tapi levelnya masih kalah jauh sm anak2 ini. Salut bgt! Siapa bilang anak Indonesia kalah saing sm siswa2 asing? Senang jg ktk ngelihat sekolah/ guru bs ngebantu mendukung & apresiasi prestasi siswa. In my experience, itu jd pndorong siswa u/ jd lebih baik lg!
Nah, kabar gembiranya, mulai tahun ini, Sampoerna Academy jg dibuka u/ umum. Jadi selain untuk yg pra sejahtera, u can apply too!Pendaftarannya sudah dibuka, tapi mau ditutup tgl 27 feb ini. Jadi kalau tertarik, yuk buruan apply! Lengkapnya langsung aja cek infonya di: http://bit.ly/xoPhvh
Semoga pendidikan di Indonesia makin maju ya! Termasuk juga sekolah negeri! Ayo sama2 bangun pendidikan di Indonesia!
All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them – Walt Disney
Saya adalah orang yang selalu percaya bahwa tidak ada yang namanya batas dalam bermimpi. Bahkan dulu ketika kecil, kita diajarkan “gantungkan mimpimu setinggi langit”. Tapi sekarang? Don’t say that limit is the sky, the human’s footprint is already there. Artinya sudah ada manusia yang berhasil menembus langit, jadi nggak ada yang nggak mungkin kan?
Sejak kecil, bisa dibilang saya orang yang nggak pernah puas dengan setiap raihan yang mampu saya capai. Bukan berarti saya tidak bersyukur loh. Tapi saya selalu percaya, bahwa selalu ada ruang untuk perbaikan dan ruang untuk inovasi. Saya boleh berbangga, tapi tidak menjadikannya sebagai sebuah capaian yang harus ditutup begitu saja. Saya sering menganalogikan, jikalau saya mencapai sesuatu, itu ibarat saya hanya berhenti di terminal, bukan tujuan akhir dari perjalanan saya. Saya harus berhenti di terminal, untuk menuju terminal lainnya. The final destination is death.
Dalam beberapa tulisan lainnya, saya pernah bercerita, kalau saya dulu sering dipandang sebelah mata, apakah itu karena usia saya, fisik saya, pilihan yang saya ambil, dan sebagainya (we can make a long list of it). Thank God, meskipun sulit pada awalnya untuk melewati itu semua (apalagi usia saya masih tergolong muda untuk menghadapi pressure semacam itu), tapi kini pengalaman-pengalaman masa lampau itu justru jadi sumber kekuatan bagi saya. That painful realities that made me stronger. Kita nggak pernah tahu rasanya bahagia kalau nggak pernah sedih, kita juga nggak pernah tahu rasanya manis kalau nggak tahu manis.
Meskipun kadang saya suka bingung dan merenung lama (bahkan sangat lama), kenapa ya kadang tujuan kita baik, tapi orang tidak selamanya menganggap itu baik. Kenapa ya kadang kita masih dicurigai, dipandang negatif, padahal di luar sana ada banyak orang yang (jelas-jelas) jahat, tapi orang tidak begitu ambil pusing. Kenapa ya? Kadang sempat itu membuat saya jenuh dan mungkin ingin menyerah melakukan apa yang saya lakukan. Saya sempat berpikir, mungkin hidup saya akan jauh lebih tenang jika saya hidup layaknya orang pada umumnya. Hanya menjalani rutinitas yang sama setiap harinya.
Namun saya sadar, bahwa mungkin hidup saya akan jauh lebih tidak tenang jika saya hanya bisa diam, dan melihat ketidakadilan dan ketimpangan terjadi. Di saat saya tahu apa yang seharusnya (atau idealnya) terjadi. Apa saya masih bisa tenang? Apa artinya hambatan-hambatan kecil ini dibandingkan apa yang ingin diperjuangkan? Dibandingkan mimpi yang saya terus rajut sedari kecil, melihat Indonesia yang lebih baik, lebih ramah bagi anak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. Bagaimana dengan mimpi saya melihat Indonesia yang damai dan sejahtera? Ini pilihan yang saya ambil.
—
Sudah lama sebetulnya saya kesal dan prihatin dengan situasi politik di negeri ini. Perebutan kepentingan antara yang berkuasa dan mencari kuasa tak pernah usai. Semua berlomba untuk membela, tapi tak pernah paham apa yang hendak dibela. Semua merasa paling pintar, dan bisa menyelesaikannya seorang diri, bak sang gladiator. Tak mau berkaca bahwa ada hal-hal yang tidak mampu kita selesaikan seorang diri. Negeri ini ibarat sebuah pertunjukan orkestra, yang butuh harmoni untuk membuatnya menjadi indah, meski alat yang dimainkan amat beragam. Tidak semua orang bisa jadi sang konduktor. Ada yang harus memainkan piano, flute, biola, cello, dan sebagainya. Untuk menjadikannya menjadi pertunjukan sempurna, juga butuh pencahayaan yang baik, tata suara, panggung yang ditata dengan apik, dll. Bahkan tidak semuanya berada di dalam gedung pertunjukan, ada yang membantu promosi, pemasaran, kemanan, dll.
Saya memilih untuk tidak bermain di dalam gedung pertunjukan, karena saya tahu bahwa kapasitas saya bukan di situ. Saya buta dengan nada, tidak paham mengenai musik. Mungkin saya bisa belajar, tapi yang terpenting di atas semua itu, hati saya tidak pernah berada di dalam gedung pertunjukan nan megah ini. Kalaupun saya bisa memainkan musiknya, tapi jiwa saya tidak terepresentasikan oleh musik yang dimainkan. Mungkin saya akan lebih mahir dalam mempromosikan pertunjukan ini.
Ketika saya dengar kabar bahwa pemain musiknya berantakan, apa saya bisa diam? Sebaik apapun saya melakukan promosi dan bagaimapun orang mau menonton pertunjukannya, namun ketika pertunjukan tidak memuaskan, apa saya bisa diam?
—
Begitulah ilustrasi ketika Ide Parlemen Muda terlintas dalam benak saya. Kurang lebih ide ini sudah terlintas bertahun-tahun silam, namun semakin menguat di tahun 2010. Saya tidak pernah berpikir (bahkan hingga saat ini) untuk menjadi politisi, meskipun orang banyak menduga saya ingin berlabuh ke sana (tapi sekali lagi orang memang hanya bisa menduga). Saya tidak pernah bisa paham (meskipun mencoba untuk selalu mengikuti) dengan apa yang terjadi sebenarnya dalam politik praktis negeri ini. Yang saya tahu, saya ingin suara pemuda bisa di dengar dalam pengambilan kebijakan di negeri ini. Saya paham dengan fakta bahwa pemuda tak sepenuhnya paham dengan “kebijakan yang terbaik” yang selayaknya diambil. Namun, saya ingin kita (pemuda) bisa diberikan kesempatan untuk belajar, mendengar, dan didengarkan. Ibaratnya seorang anak yang merengek minta diajak berlibur oleh orang tuanya, meskipun tak mampu, apakah kita akan menutup mulut si anak? Tidak bukan? Tapi sang anak dibiarkan dulu menyampaikan keinginannya, dan kemudian butuh penjelasan kenapa keinginannya diterima/ tidak diterima.
Saya hanya ingin hal sesederhana itu untuk terjadi. Kami ingin mencoba paham dan mengerti dengan kebijakan di negeri ini, karena sedikit banyak, kebijakan yang di ambil berpengaruh pada bagaimana kami hidup di negeri ini. Izinkan kami untuk memiliki ruang untuk belajar, berdiskusi, memahami apa yang terjadi di luar kaca rumah saya, dan mencoba sedikit membantu menyelesaikan masalah (jika memungkinkan).
Parlemen Muda didesain bukan untuk menjadi oposisi, atau jagoan, apalagi pahlawan kesiangan. Sederhana saja, ia dedesain menjadi ruang kelas bagi anak-anak muda yang dipilih oleh sebayanya, untuk belajar di sana. Belajar memahami masalah, mengkritisi, dan (yang terpenting) mencoba memberi gagasan solusi. Kami ingin pemuda tidak hanya bisa diam, atau mengkritik saja, tapi tanpa solusi. That was my dream.
Dalam perjalanannya untuk membawa mimpi ini menjadi kenyataan, ada banyak hal yang kami lalui. Cercaan sana sini, pandagan negatif, kesulitan mencari pendukung acara, dana, dll. Tapi juga ada yang mendukung, memberi ucapan semangat, dan itu yang membuat kami terus kuat. Di awal Januari 2011, saya putuskan untuk segera membentuk tim. Saya temui satu persatu sahabat-sahabat saya, yang saya anggap punya visa sejalan, dan kiranya bisa membantu, bersinergi bersama-sama mewujudkan ini. Dalam prosesnya, kondisi internal kami pun bisa dibilang rapuh. Orang silih pergi satu persatu.
Pertengahan tahun, saya putuskan untuk mulai bergerak, menyuarakan kegiatan ini ke seantero negeri. Tidak bisa diam dan menunggu lebih lagi, ini harus segera dimulai. Meskipun saat itu dana yang kami miliki tak ada sepeserpun. Saya putuskan untuk menggunakan uang pribadi, meminta kerelaan teman-teman yang lain jika berkenan mengganti liburannya dengan rangkaian promo kegiatan. Dan saya beruntung memiliki sahabat yang ternyata mau berkorban untuk ini semua!
Singkat cerita akhirnya proses terus berjalan, ratusan peserta dari berbagai daerah mulai mendaftar. Mereka yang terpilih mengikuti rangkaian kampanye dan pemilihan umum. Hingga saat itu, saya masih belum tahu, bagaimana saya bisa menggelar acara sebesar ini. Tapi mimpi tadi jadi penguat begitu luar biasa. Bahkan saya sempat bertekad, kalau ini gagal, i’d do on my own expenses. Tuhan memang baik, dan ada rencana luar biasa yang dimiliki-Nya. Hasil pemilu ternyata menggembirakan, sekitar 37.000 orang berpartisipasi dalam rangkaian kampanye dan pemilu di seluruh Indonesia. Ini semakin memudahkan kami untuk mencari dana, mengajak rekanan, media, dll. Dalam 1 bulan sebelum penyelenggaraan, semuanya dipersiapkan. Bahkan saat itu masih Ujian Akhir Semester. Tapi sekali lagi, mimpi tadi jadi penguat.
Magicly, I dream, I make it happen. Voila! Pada 28 Januari – 3 Maret, 33 delegasi terpilih berkumpul di Jakarta. Mereka tidak hanya bersidang mendikusikan rekomendasi kebijakan, namun juga mendapatkan pelatihan di berbagai bidang, bertemu dengan tokoh-tokoh luar biasa dalam meet the leaders, beraudiensi, belajar, berproses bersama. Dan ini semua tidak berhenti di sini, tidak berhenti hanya pada lembaran rekomendasi, tapi setelah ini setiap delegasi akan mengelola dan mengembangkan program sosial gagasan mereka, dengan bantuan mini grant dan mentorship dari Indonesian Future Leaders. Harapannya, mereka bisa menghasilkan dampak nyata di tengah masyarakat, dan menyebarkan inspirasi dan pengalaman mereka kepada pemuda lain di seantero negeri.
Thank God for everything! Terima kasih buat semua yang membantu kami mewujudkan mimpi kami, yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan apa yang terjadi persisnya selama kegiatan ini berlangsung, tapi lebih kepada menyampaikan satu pesan, bermimpilah, dan buat itu jadinya. Saya buktikan itu, I dream, I make it happen!
I am ready to make another dreams come true! Are you?
Mungkin tidak banyak yang bisa diungkapkan tentang 2011. Bukan karena tidak terjadi apa-apa, tapi justru karena ada banyak sekali hal yang terjadi. Tahun yang luar biasa, salah satu milestone penting pdalam hidup saya. Mungkin gambar-gambar ini bisa sedikit menggambarkan apa yang terjadi sepanjang tahun ini dengan saya.
Pertama kalinya menginjakkan kaki di Negeri Paman Sam, mendapatkan beasiswa penuh selama 5 minggu di Temple University untuk belajar mengenai Religious Pluralism and Democracy in USA, Januari-Februari 2011
Dipercaya kembali untuk memimpin Indonesian Future Leaders hingga 2013, dan perjalanan itu dimulai dengan IFL Youth Camp!
Merayakan ulang tahun IFL yang kedua! Terima kasih buat teman-teman yang slalu percaya pada kami dan mendukung kami. Semoga IFL bisa lebih berdampak lagi ke depannya!
Untuk kali pertama, saya harus berbicara di depan 5000 orang. Terima kasih untuk teman-teman Kick Andy atas kesempatan yang diberikan!
Siapa sangka, di bulan Maret saya kembali lagi ke New York, dinobatkan sebagai Global Teen Leader of We Are Family Foundation, dan bertemu dengan remaja-remaja terbaik dari seluruh dunia. Awal mula bergabung dengan GTL Family!
Dipercaya kembali untuk memimpin IFL hingga 2013, dan perjalan itu dimulai dengan IFL Camp bersama pengurus-pengurus baru!
Mimpi hampir setiap anak HI, berbicara di panggung UN General Assembly, di New York di depan para pemimpin dunia. (Juli 2011)
Dianugerahi UN Youth Assembly Recognition di UN Headquarter New York, dan dapat kesempatan menjadi pembicara penutup di depan 700 pemuda dari puluhan negara di dunia - Agustus 2011
Akhirnya bisa menginisiasikan mimpi yang sudah lama saya bayangkan sejak kecil, ketika Indonesia punya Parlemen Muda. Tahun 2012 akan jauh lebih menantang pastinya!
Di tahun 2011, saya dan Marshanda punya ide untuk memulai start up kami, Inspire-Cast.com untuk menyuarakan inspirasi bagi Indonesia! Kita lihat bagaimana sepak terjangnya di 2012!
Akhirnya kesampaian juga bikin seri 'AyoBerbagi' di Youtube dalam 6 episodes. Semoga bisa ngebantu teman-teman yang mau mulai bikin gerakan sosial, tapi nggak tahu caranya gimana. Alhamdulillah, coaching clinicnya sudah bisa diadakan di Jakarta, Padang, dan Bali selama 2011!
Nggak pernah kepikiran untuk bisa dapat penghargaan pemuda paling prestisius di Asia Tenggara, ASEAN Youth Award 2011. Tentunya, tanggungjawab yang diemban juga jauh lebih besar! Thank God!
Tentunya, ada banyak hal lain yang terjadi selama 2011. Thank God untuk semua anugerah-Mu. Banyak juga pelajaran kehidupan yang terjadi, yang sulit untuk digambarkan, dan mempengaruhi kehidupan saya. Semoga 2012 bisa jauh lebih luar biasa lagi, dan bisa lebih baik lagi! Amin! Happy New Year!
Terpikir untuk sedikit menulis tentang sekelumit sejarah di balik siapa saya sekarang. Terima kasih buat mas Bukik, dengan pertanyaan-pertanyaan pemicunya yang akhirnya membuat saya menuliskan ini. Semoga bermanfaat. Tulisan ini juga ditampilkan di Blognya Mas Bukik, dengan sedikit pengantar dari beliau
Tentang Nama
Saya terlahir dengan nama lengkap M. Iman Usman pada tanggal 21 Desember 1991 di Kota Padang. Inisial M di awal nama saya dimaksudkan untuk menyebutkan Muhammad (namun kesalahan pada penulisan paspor, kini saya menuliskannya Muhamad). Nama tipikal untuk anak yang tumbuh dari keluarga yang cukup religius. Sempat saya tanya pada Ayah dan Ibu (begitu saya memanggil kedua orangtua saya) soal arti dibalik nama saya. Jawaban mereka simple saja, tapi bagi saya nama itu menyiratkan beban tersendiri. Orang tua saya menginginkan saya tumbuh sebagai pemimpin besar dengan karakter yang begitu kuat seperti Nabi Muhammad, dermawan dan berempati seperti sahabat Nabi, Usman bin Affan, dan tetap menjaga keimanan (keyakinan) saya sebagai seorang Muslim hingga akhir hayat.
Sejak kecil saya akrab dipanggil dengan nama tengah saya, Iman. Kadang di keluarga inti, saya dipanggil komeng (plesetan dari nama Iman, yang saya sendiri tidak tahu artinya apa J ), atau sesekali dipanggil adik (karena saya bungsu dari 6 bersaudara). Seiring tumbuhnya saya, dan bergaul dengan berbagai kalangan, nama saya pun makin bermacam-macam, fatalnya sekarang teman-teman di kampus saya, kompak menyebut saya ‘alay’. Haha. Kalau ditanya kenapa? Baiknya tanyakan pada mereka seja. Haha (enggan menjawab).
Saat ini saya berkuliah di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia semester 5. Usia saya 20 tahun, dan di sela-sela aktivitas saya berkuliah, sedikit meluangkan waktu berkontribusi di masyarakat dengan memimpin sebuah organisasi non-profit yang bergerak di bidang pemberdayaan pemuda untuk perubahan sosial, Indonesian Future Leaders. Saya menyenangi mengajar dan berkomunikasi dengan orang banyak, yang kini saya salurkan dengan mendirikan, memproduseri, dan menjalankan platform Inspire-Cast. Berhasrat tinggi pada pembangunan masyarakat dan dunia pendidikan, serta bercita-cita menjadi seorang guru dan pembaharu sosial.
Tentang Ayah dan Ibu
Tumbuh dalam keluarga dengan latar religi yang begitu kuat, membuat saya dibesarkan dengan nilai-nilai keislaman. Masih ingat di benak saya setiap hari sepulang sekolah saya harus mengaji bersama Ayah, mempelajari hadist, dll. Tapi satu hal yang paling saya hargai adalah tentang bagaimana orangtua saya tetap memberikan pilihan-pilihan di tangan saya sendiri, bagaimana mereka tetap memberikan ruang bagi saya untuk menjadi muslim yang moderat, bebas mengekspresikan diri (meskipun ada batas-batasan tertentu yang tetap tidak boleh dilanggar), mengungkapkan pendapat, dll. Ruang macam inilah yang saya pandang memberikan kesempatan bagi saya untuk jadi seperti sekarang. Ayah dan Ibu tidak pernah memaksakan kehendaknya, tetapi selalu melibatkan saya dalam setiap keputusan yang terkait dengan saya secara langsung. Mereka tidak pernah memaksakan saya untuk menjadi juara kelas, harus les ini atau les itu, ikut kegiatan macam-macam, melarang bermain, dll. Sesekali memang mereka memberikan tuntunan, namun pada akhirnya pilihan ada di tangan saya.
Kebebasan dan demokrasi itu tidak membuat saya kemudian justru jadi “liar”, tapi sebaliknya, justru merasa bertanggungjawab atas setiap pilihan yang saya ambil. Ketika saya melakukan kesalahan, Ayah hanya bilang “kamu yang pilih itu kan?”.
Kedua orang tua saya memang tidak berlatar belakang pendidikan yang kuat. Ayah hanyalah lulusan Madrasah (setingkat SLTA), dan Ibu juga hanyalah lulusan SMA. Kami bukan keluarga yang hidup berlimpah ruah. Ayah hanya seorang pedagang yang mengandalkan perekonomian keluarga dengan menjual minyak tanah ke warung-warung, dan Ibu hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga. Tapi jangan salah, wawasan mereka bisa diadu dengan orang-orang yang katanya sarjana. Mereka mungkin tidak paham bahasa asing, tapi mereka ingin anaknya bisa bercakap dengan “bule” dengan mengesankan. Mereka mungkin tidak gemar berlama-lama dengan buku, tapi mereka ingin anaknya tidak pernah kekurangan buku untuk dibaca. Mereka mungkin tidak pernah mengecap bangku kuliah, tapi mereka ingin anaknya kuliah setinggi-tingginya. Begitulah Ayah dan Ibu.
Saya anak bungsu dari 6 bersaudara, dan satu-satunya anak laki-laki di keluarga. Meskipun mungkin mereka tidak pernah mengatakannya, namun saya yakin bahwa saya diharapkan jadi tumpuan di keluarga ini. Diantara saudara-saudara saya yang lain, hanya saya yang bisa mengenyam bangku sarjana, dan insya Allah segera menjadi sarjana pertama di keluarga inti saya. Dan saya masih ingin menjadi master pertama di keluarga saya, doktor pertama, orang yang bisa mengubah dan meningkatkan derajat keluarga kami, bukan hanya dengan pencapaian akademis saya, tapi juga karakter dan kontribusi saya untuk masyarakat.
Ketika ditanya, mana aktivitas yang paling menggetarkan. Sulit sekali menjawabnya. Entahlah, bagi saya setiap aktivitas yang mereka lakukan untuk saya, agar saya berhasil, begitu besar artinya. Sehingga sedih sekali ketika melihat keduanya menangis, karena kenakalan saya atau ketika saya justru mengecewakan mereka.
Milestone
Bagi saya, ada banyak momentum dalam hidup saya yang mengambil andil besar dalam membuat saya menjadi Iman yang sekarang. Tapi diantara itu semua, ada beberapa hal yang menjadi pijakan penting.
Pertama, ketika usia saya 10 tahun. Pertama kalinya saya akrab dengan aktivitas sosial (yang saat itu tak pernah saya sadari). Saya tak punya kedekatan personal dengan isu sosial tertentu, dan mungkin tidak menjadi korban langsung dari berbagai ketimpangan yang saat itu sudah ada di sekitar saya. Sehingga kadang, ketika orang bertanya bagaimana awal mulanya saya terlibat, agak sulit juga menjelaskannya. Namun, saya sering kali menyebutnya dengan “panggilan jiwa”. Saat itu saya melihat teman-teman sebaya saya, tetangga saya, tidak bisa memiliki buku selain buku pelajaran mereka di sekolah, fasilitas perpustakaan di sekolah juga tidak begitu mumpuni. Menyadari hal itu, saya tergerak membuka sebuah warung kecil, tidak cukup besar, luasnya hanya 2×3 meter, tapi cukuplah untuk menampung 100-an buku dan majalah saya waktu itu. Perlahan saya coba kumpulkan buku teman-teman yang lain, dan menjadikan warung itu sebagai pustaka bersama. Tetangga bisa meminjam buku di sana, dan mengembalikannya kembali jika usai membaca. Lalu, saya tergerak untuk mengajar dan membantu sekitar 5-7 orang tetangga saya yang tidak pernah punya akses untuk mengikuti kursus. Mengajarkan mereka sedikit mengenai bahasa Inggris yang sehari-hari saya dapatkan di kursus, membantu mereka mengerjakan PR matematika (ketika saat itu saya masih sangat menyenangi dan bisa dibilang mahir pada bidang ini), dll. Memang aksinya tidak berkelanjutan, dan hanya mampu bertahan sekitar 2 tahun. Namun itu jadi pijakan pertama saya, yang membuka mata saya bahwa masalah sosial itu nyata dan ada di sekitar kita. Siapapun kita, apapun latar belakang kita, kita bisa melakukan sesuatu, dari hal yang paling kecil.
Kedua, ketika saya SMP, saya mulai menyenangi dunia jurnalistik. Blog pribadi dan tabloid remaja menjadi wadah menyalurkan hasrat saya di bidang tulis menulis. Apapun saya tulis dan saya bagikan kepada teman-teman, sampai akhirnya hal ini menginspirasikan saya untuk mendirikan tabloid sekolah pertama di sekolah saya waktu itu. Masa SMP juga jadi sarana pengembangan diri dan eksplorasi bakat, dan minat. Kegilaan saya pada Harry Potter, membawa saya mulai mengelola sejumlah forum diskusi online pecinta Harry Potter, mengakrabkan saya dengan media jejaring sosial, hingga akhirnya menambah pundi-pundi di kantong saya, dengan membuka online shop. Masa ini juga jadi masa-masa awal saya merintis karir sebagai public speaker, mulai menjadi MC dan sharing di berbagai tempat. Mulai dari MC pernikahan adat, hingga acara-acara yang dihadiri pejabat daerah kala itu. Masa ini membawa saya kepada proses eksplorasi bakat dan minat, menyelami dunia yang berbeda, menikmati proses belajar.
Ketiga, ketika saya bergabung di Forum Anak Daerah Sumatera Barat, hingga akhirnya saya didaulat sebagai Sekretaris Umum. Sebuah forum yang terdiri atas anak-anak dari berbagai daerah di Sumatera Barat, yang berkomitmen untuk memperjuangkan dan mensosialisasikan hak-hak anak. Bertemu dengan aktivis anak, penggerak sosial, sedikit banyak menarik saya ke dalam dunia ini. Menggali empati saya untuk benar-benar total dalam apa yang kita cintai, dan apa yang ingin kita perjuangkan. Dari Forum Anak, saya juga mulai aktif mengembangkan komunitas sendiri, aktif di kegiatan-kegiatan pemuda, hingga akhirnya dianugerahi penghargaan Pemimpin Muda Indonesia 2008 oleh Bapak Presiden. Kala itu pula saya berkenalan dengan Bang Muharman (saya biasanya memanggil bang Imoe), orang yang saya anggap begitu besar peranannya dalam membawa dan membimbing saya dalam mengembangkan berbagai gerakan sosial. Orang yang selalu meyakinkan bahwa saya bisa, dan mengajarkan saya untuk berani bermimpi dan menjaga mimpi saya untuk terus hidup.
Keempat, ketika pertama kalinya kaki saya menginjakkan negeri yang sama sekali asing buat saya, mengikuti program pertukaran pelajar AFS ke Jepang. Tidak lama, bahkan cukup singkat, saya di sana. Tapi momen inilah yang membuka mata saya betapa pentingnya untuk keluar dari zona nyaman saya, membuka diri terhadap perbedaan, dan hal-hal baru dalam hidup. Jepang membuat saya semakin bersemangat untuk menjelajahi dunia, dan melihat peta dunia yang terpampang di dinding kamar, bukan sebagai teritori yang tak dapat ditembus, tapi justru untuk dijelajahi. Membuat saya bisa mengklarifiikasi pandangan dan sinisme orang terhadap Indonesia, menunjukkan kompetensi global pemuda Indonesia, dan melihat Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. Hal ini pula yang membuat saya mulai berani dan percaya diri untuk berjejaring dengan teman-teman dari berbagai negara, dan membawa saya kini menjelajah ke belasan negara. Langkah awal menuju impian masa kecil saya, mengelilingi dunia. Semakin banyak negara yang saya jelajahi, semakin besar kecintaan saya pada negeri ini. Kecintaan yang bukan hanya berlandaskan chauvinism belaka.
Kelima, saat saya mendirikan Indonesian Future Leaders bersama 6 teman saya di tahun 2009. Saat itu tak pernah terpikir IFL akan jadi seperti sekarang. Semuanya hanya berawal dari kegelisahan kolektif, yang memicu aksi kecil. Namun aksi kecil yang dilakukan oleh segelintir orang inilah yang kemudian memandu kami kepada aksi yang lebih besar, dengan dampak yang lebih besar. Entahlah, saya berharap IFL akan bisa bertahan sepanjang masa. Membangun Indonesia dengan sumberdaya manusianya, karena kekayaan terbesar yang dimiliki bangsa ini bukanlah minyak, bukanlah emas, bukanlah hutan berlimpah (seperti yang diajarkan pada kita sewaktu kecil), tapi sumberdaya terbesar adalah orang-orang Indonesia sendiri. Menjadikan sumberdaya Indonesia yang tangguh, kesitulah IFL bermuara.
Saya percaya perjalanan saya masih panjang, dan masih ada hal-hal lain yang menunggu saya, menambah pijakan saya hingga akhirnya sampai ke akhir perjalanan ini (kematian).
Yang Saya Hargai
Perjalanan hidup saya jalani sepanjang 20 tahun saya di dunia ini membawa saya pada titik dimana saya merasa bersyukur dengan segala hal yang diberikan Tuhan kepada saya.
Menghargai diri saya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan seorang Iman yang tidak pernah berhenti menyerah, bersemangat, dan mau belajar. Saya percaya bahwa saya dilahirkan ke dunia ini, dengan tujuan. Menjadi solusi, dan bukannya jadi masalah. Meninggalkan jejak pengamalan untuk anak, cucu, dan orang-orang di sekitar saya.
Menghargai keluarga saya atas dedikasi tanpa pamrih, komitmen tanpa putus, dan rasa cinta tak terbendung untuk menjadikan saya menjadi Iman yang sekarang. Tanpa kedua orang tua saya, saya tidak pernah hadir di dunia ini, tidak akan bisa mengecap pendidikan yang berkualitas, di saat perekonomian kami sendiri sedang sulit saat itu. Berkat keduanya, saya tumbuh dengan karakter yang tak mau menyerah, dan percaya bahwa selalu ada kemudahan di setiap kesulitan. Menghargai kakak-kakak saya, yang meskipun jarak usianya cukup jauh dengan saya, sehingga tak banyak waktu yang benar-benar saya habiskan dengan mereka semua, namun saya percaya bahwa kasih sayang mereka tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang. Mereka semua berkoban, berusaha secara kolektif, membentuk saya seperti sekarang.
Menghargai orang-orang di sekitar saya atas pelajaran hidup yang begitu luar biasa. Mengajarkan saya tentang berbagai hal, menunjukkan inspirasi yang menggugah saya untuk beraksi. Air mata kepedihan masyarakatlah yang menjadi pecut bagi saya untuk tidak pernah berhenti bergerak. Tawa dan senyuman lepas mereka yang jadi pengobat luka di saat-saat saya merasa letih dan lelah melakukan ini semua. Tak mampu saya menyebut orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupan saya, tak putus kata menguraikan nama dan pengabdian yang mereka lakukan. Hanya rasa terima kasih, terima kasih.
Menghargai Indonesia, negeri yang tidak pernah berubah rasa cinta saya kepadanya. Saat sulit maupun saat bahagia, rasa bangga menjadi orang Indonesia. Negeri yang selalu memacu saya untuk bergerak, menginspirasi dan mengabdi lewat karya nyata. Negeri dimana masa depan dan impian saya berlabuh, dan ditautkan kepadanya.
Menghargai kehidupan ini, entah bagaimana caranya, tapi.. terima kasih Tuhan untuk kehidupan yang saya jalani ini. Tak pernah terbesit pikiran untuk menyia-nyiakan anugerah ini.
Simbolisasi dan Imaji
Sulit sekali mencari simbolisasi diri saya, karena kompleksitas imaji akan diri saya sendiri. Tapi jika harus memilih, mungkin air adalah elemen bumi yang paling bisa menggambarkan saya. Hidup saya mengalir, tapi bukan berarti mengalir tanpa tujuan dan rencana, air kehidupan ini akan bermuara kepada mimpi besar dan tujuan saya berada di bumi ini. Air mengalir dari atas ke bawah, yang selalu mengingatkan saya untuk tetap melihat ke bawah meskipun posisi atau status sosial saya sedikit lebih tinggi. Air kadang bisa begitu menenangkan, tapi juga bisa menghanyutkan. Kadang semangat saya begitu menenangkan bagi orang-orang di sekeliling, tapi juga bisa menjadi meledak-ledak tak terbendung, utamanya ketika saya diremehkan, semakin besar keinginan untuk membuktikannya. Air yang menjadi pelepas dahaga, menyiratkan bagaimana saya ingin hidup menjadi berkah untuk orang lain. Tapi saya tidak pernah tahu hidup saya di masa depan akan seperti apa, entah menjadi air yang menyenangkan orang lain dengan segala kelebihannya, atau (mungkin saja) justru jadi cobaan bagi orang lain. Tapi selama saya bisa memilih dan berencana, saya ingin jadi air yang menyenangkan, menjadi berkah, bukan kutukan.
Imaji Untuk Indonesia
Saya selalu punya bayangan besar untuk Indonesia. Entahlah mungkin karena kecintaan berlebih saya pada negeri dimana saya lahir, dan negeri dimana saya ingin akhir perjalanan saya juga berakhir di sini. Bukan kecintaan semu, tapi kecintaan tanpa syarat. Bagi sebagian orang mungkin melihat mimpi-mimpi saya ini utopis. Tapi bagi saya yang seorang optimis, saya percaya bahwa suatu saat ini semua bisa tercapai.
Di tahun 2030, saya bayangkan tak ada lagi korupsi di Indonesia, tak ada lagi anak yang terlantar dan harus mengais di jalanan. Tak ada lagi anak Indonesia yang tak dapat bersekolah, hanya karena persoalan biaya. Anak-anak Indonesia bisa lahir, hidup, dan tumbuh kembang sebagaimana layaknya. Tak ada lagi anak Indonesia yang tak dapat bermain, karena harus mencari nafkah membantu orang tua.
Kita semua hidup damai, saling hormat menghormati. Tak ada lagi mendengar berita di bom nya gereja, perusakan mesjid, pelarangan ibadah, dan sejenisnya. Tak ada lagi kerusuhan membabi buta. Kita semua bersaudara, meskipun warna kulit, dan potongan rambut kita tetap beda. Logat bahasa kita tak berubah, amat kental dengan asal kedaerahan kita. Tarian, nyanyian, dan karya budaya leluhur masih amat terjaga. Tapi wawasan kita mulai mengglobal, kita bisa diadu secara intelektual dengan negara manapun.
Ketika saya perhatikan media massa, yang saya lihat dan saya dengar adalah deretan prestasi dan khabar baik tentang karya anak negeri. Pejabat-pejabat di pemerintahan berhasil menuntun rakyatnya kepada kemakmuran dan kedamaian. Masyarakat bahu membahu, bekerja kolektif memajukan bangsa. Pemuda/I nya berlomba untuk meraih prestasi untuk negeri, berkarya, menciptakan inovasi untuk kemajuan umat.
Utopiskah? Tidak!
Karena kini saya menyiapkannya. Saya siapkan diri saya sembari berkarya untuk negeri. Melalui Indonesian Future Leaders, kami mencoba untuk membangun kapasitas dan karakter kami, sembari menjadi katalis, mengajak anak-anak muda lain untuk bergerak, berkarya, dan berdampak positif bagi negeri. 2030 seperti hal di atas? Kenapa tidak?
“Saya mau kok ikutan proyek sosial, ikutan jadi relawan, ikutan berbagi untuk masyarakat yang membutuhkan”. Semangat positif ini belakangan makin sering terdengar di kuping saya, beriringan dengan sahut-sahut optimisme untuk negeri ini.
Dalam beberapa bulan terakhir, senang kali rasanya bisa mengunjungi berbagai tempat di negeri ini, dan juga sejumlah negara. Puluhan sekolah dan kampus sempat saya datangi, bertemu dengan ribuan anak muda dari berbagai macam latar belakang sosial, budaya, dan agama. Mendengarkan kisah tentang pengalaman dan mimpi-mimpi mereka yang tak terbendung. Ada yang mau jadi pilot, seniman, insinyur, pegawai negeri, guru, atau pengusaha. Ada yang ingin mengabdikan hidupnya untuk masyarakat, mendedikasikan waktunya untuk mengajar di pedalaman, menuangkan mimpi dan harapannya lewat musik, tarian, atau tulisan. Ada yang ingin jadi juara, yang ingin mengalahkan rasa takut terhadap dirinya sendiri. Ada pula yang ingin bangkit dari kegagalannya, menjadikan kelemahan jadi sumber utama kekuatannya. Mereka semua ingin terlibat, tak ingin hanya (bisa) jadi penonton, dan kemudian menangisi keadaan.
Gurat optimisme di wajah mereka membuat saya semakin yakin bahwa masih ada harapan untuk negeri ini.
Utopiskah? Tentu kadang masih ada yang skeptis dan pesimis dengan masa depan negeri ini, apalagi melihat problematika bangsa yang kian kompleks. Tak sedikit yang memilih diam, dan larut dalam dunianya sendiri, tak (mau) tahu dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Tapi apakah kita mau menyerah dengan itu semua? Buat apa terlalu pusing memikirkan masalah. Kenapa kita tidak fokus dengan kekuatan yang kita miliki? Kenapa kita tidak memaksimalkan passion yang kita miliki? Kenapa kita tidak mengakumulasikan energi positif yang (masih) kita miliki, dan jadikannya sebagai sumberdaya untuk membuat perubahan yang ingin kita lihat?
Energi positif itu pula yang membuat saya dan teman-teman di Indonesian Future Leaders terus berupaya menyalakan harapan kepada anak muda di negeri ini, mengajak semua berpartisipasi untuk menciptakan perubahan. Dulu kami pikir, jarak, waktu, tenaga, dana, bisa jadi kendala besar untuk melakukan ini semua. Tapi seiring waktu, kami belajar, dan saksikan, bahwa keteguhan hati bisa mengalahkan segalanya. Siapapun (tidak peduli siapa dan seperti apa dia), bisa melakukan sesuatu!
Jika saya bisa, kamu juga bisa! Jika mereka bisa, kita juga bisa!
Berbekal keteguhan hati dan pengetahuan secukupnya yang dimiliki, saya dan teman-teman berpikir untuk mengembangkan kampanye #AyoBerbagi, sebuah jawaban atas pertanyaan “Bagaimana cara kami memulai menginisiasikan aktivitas sosial di sekitar?”. Kata inisiasi menjadi kunci dari kampanye ini. Kami percaya bahwa konsep “berbagi” sebetulnya sangatlah luas spektrumnya, sangat membumi. Setiap orang bisa memiliki interpretasi yang berbeda-beda, dan dalam kesempatan ini kami ingin menginterpretasikan “berbagi” sebagai bentuk“inisiasi pemuda untuk perubahan sosial”. Kenapa inisiasi? Karena kami percaya sudah saatnya pemuda kita tampil jadi inisiator bagi lingkungannya, menggagas ide-ide cemerlang nan solutif, melihat tantangan sebagai peluang, dan memaksimalkan modal sosial yang ada.
Kami mencoba untuk merangkum materi-materi yang pernah kami dapatkan dari berbagai kegiatan yang pernah diikuti, mengingat kembali pengalaman pribadi ataupun best practices dari sekitar, dan kemudian mencoba untuk menyampaikan lewat video sederhana. Pada tahap awal kami merencanakan membuat video-video tutorial yang berisikan materi mengenai:
Selama 1 bulan Oktober – November, kami mengembangkan berbagai kegiatan yang fokus pada upaya mengajak anak muda untuk menginisiasikan aksi berbaginya. Sekilas mengenai kegiatan 1 bulan tersebut bisa dilihat di sini:
Apakah berhenti di situ? Tidak! Dalam perkembangannya, kini kami tak sabar ingin menyentuh topik-topik lain untuk membantu teman-teman muda mengembangkan proyek sosialnya dengan bahasan berbagai isu yang lebih praktikal. Tentu saja materi yang kami sampaikan tidak bisa dijadikan sebagai rujukan tunggal, karena kami sendiri juga masih belajar dan mungkin masih memiliki kekurangan di berbagai sisi. Tapi tentunya itu tak jadi hambatan untuk berbagi. Selama ada yang bisa dibagi, kenapa kita tidak berbagi? Kami berencana menerjemahkannya ke bahasa lain selain bahasa Indonesia, sehingga perlahan juga bisa membantu teman-teman di mancanegara yang juga terkendala pada akses informasi. Video-video dengan versi yang lebih lengkap dan lebih baik kualitasnya akan dijadikan CD kompilasi, yang bisa dibagi ke sekolah-sekolah dan komunitas yang tertarik.
Video-video ini masih amat sangat sederhana, dan jika ada pihak-pihak yang ingin membantu kami mengembangkannya, memperbaiki kualitasnya, kami akan dengan senang hati menerimanya! Harapannya lewat video-video ini, setidaknya bagi teman-teman yang belum bisa mengikuti workshop atau kegiatan kami, bisa sedikit terbantu. Bagi mereka yang terbatas akses informasinya, bisa jadi tahu . Tentunya workshop kreatif #AyoBerbagi dan coaching clinic di berbagai tempat akan terus diupayakan, tapi sembari menunggu, bisa dimulai dengan menonton videonya, dan memulai menginisiasikan aksi berbaginya. Jika ada sekolah/ kampus/ komunitasnya yang ingin didatangi juga bisa langsung menghubungi kami! Satu persatu akan kita coba bantu
Silahkan hubungi saya melalui email imanusman@gmail.com jika ada yang tertarik!
Berbagi bukan hanya soal mampu, tapi juga mau. Dan kami mau! Bagaimana dengan anda?
Pada saat peringatan Sumpah Pemuda kemarin gue sempat nge bikin 20 tweets di twitter dengan hashtag #beranimengubah. Mungkin ada yang ketinggalan, silahkan dibaca. Enjoy!
Dear tweeps, jelang momentum sumpah pemuda, gw mau share sdikit deh soal pentingnya kita (anak muda) u/ #beranimengubah DIRI & LING kt
Saya sering bilang: kenapa anak muda? Because we are BIG! Big in numbers, in ideas, innovation, and SPIRIT! #beranimengubah
Ketika orang tua banyak cerita ttg masa lalunya, anak muda akan cerita banyak ttg masa depan, mimpi2 nya #beranimengubah
Masalah2 yg dihadapi bangsa ini kompleks! Ga bs dserahin sama pmerintah doang, apalagi klo pmerintah nya kyk skrg (ups). Butuh kita! #beranimengubah
Kalo mau mngubah, ga prlu dr ssuatu yg “tampak” besar, tp dr yg kecil aja. Gunakn “what we have” u/ jd solusi “what we see” #beranimengubah
Aksi yg mau kita buat upayakan berbasis “What we have” (skills, passion, interest), shg “aksi perubahan” jd FUN & bkn jd beban #beranimengubah
Selain itu kalo berbasis “what we have” jg bs sustainable. Kt jd termotivasi u/ terus improve, dan mengembangkan aksi kt #beranimengubah
It’s our small action that lead us to the bigger action, with bigger impact. Yg penting konsisten melakukannya. #beranimengubah
Msh bingung gmn cara mulainya? Start by asking “WHY”! Saat saya & teman2 memulai @ifutureleaders, kt jg ask WHY? #beranimengubah
Seperti kata Jammie Allen, “If you want to be successful, ask Why? Why not? Why Not Me? Why Not Now?” #beranimengubah
Ask why (kenapa) ktk melihat brbg masalah di sekitar kt. Kenapa ada korupsi? Kenapa byk anak ga sekolah? Ask Why! #beranimengubah
Jangan Cuma bisa bilang “we have a lot of problems”, but we never know “why” the problems come. #beranimengubah
Ask Why Not (Kenapa tidak) ktk kita punya ide/ gagasan u/ menangani masalah tsb. Jgn ngerasa rendah diri ktk punya ide #beranimengubah
The person who doesn’t make mistakes is unlikely to make anything (Paul A). Edison perlu coba 200x agar lampunya benar2 bkerja #beranimengubah
Ide akan sekedar jd ide dan ga pernah berdampak kalo ga ada yg bring it into action. Ask: Why Not Me yg memulai? #beranimengubah
Byk yg bilang: gw akan mengabdi/ berbagi kalo udh umur 35,40,50. Klo udh kaya, udh lulus, dll. Kpn mau berbaginya? #beranimengubah
Memangnya yakin kt punya umur panjang? Memangnya yakin kalo values kt saat ini akan tetep sama? Kt ga pernah tahu #beranimengubah
Jd selama msh ada waktu, msh ada kesempatan, siapapun kita #AyoBerbagi, ayo #beranimengubah! Why not now?
Sekian ya kultwitnya, kalo ada yg punya cerita/ pengalamannya dalam #beranimengubah, yuk share! Cerita aja pglmn2 yg sederhana
Ayo berbagi sekarang! Bs dimulai dr tweets km ttg pengalaman #beranimengubah! Why not u? Why not now? Ditunggu ya
Thank you ya. The tweets above are dedicated to my beloved brothers and sisters in Indonesian Future Leaders. They are the ones who #beranimengubah!
Mungkin pendekatan S.M.A.R.T udah nggak asing lagi bagi teman-teman muda semuanya. Apalagi kalo yang udah biasa ngerjain proyek, apakah individu, di kampus, atau di komunitasnya. Ibaratnya ini adalah hal yang paling basic yang biasanya diajarin ke kita-kita. Saya sendiri pertama kali diajarin soal S.M.A.R.T pas SMP waktu ngelola proyek untuk massa banyak untuk pertama kalinya. Apa yang saya dapatin sewaktu SMP hingga sekarang juga beda-beda, meskipun masih dalam koridor yang sama. Definisi yang saya dapatkan juga semakin luas, dan cara-caranya juga semakin luas.
Belakangan banyak teman-teman yang nanya sama saya soal ini, dan terlintas untuk coba bikin slide nya yang saya rangkum dr berbagai sumber dan pengalaman pribadi saya. Kebetulan slide ini sempat saya presentasikan juga buat teman-teman di Aksi Kita Club Speak yang lagi mau bikin proyek sosial. Di dalam slide ini juga saya masukkan bagian soal “marketing youth venture” yang saya share beberapa waktu yang lalu di Indonesian Youth Netizen Day. Semoga bermanfaat