Sebuah Refleksi

Posted: December 19th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Life Lesson, Notes, Personal | 4 Comments »

Terpikir untuk sedikit menulis tentang sekelumit sejarah di balik siapa saya sekarang. Terima kasih buat mas Bukik, dengan pertanyaan-pertanyaan pemicunya yang akhirnya membuat saya menuliskan ini. Semoga bermanfaat. Tulisan ini juga ditampilkan di Blognya Mas Bukik, dengan sedikit pengantar dari beliau :)

 

Tentang Nama

Saya terlahir dengan nama lengkap M. Iman Usman pada tanggal 21 Desember 1991 di Kota Padang. Inisial M di awal nama saya dimaksudkan untuk menyebutkan Muhammad (namun kesalahan pada penulisan paspor, kini saya menuliskannya Muhamad). Nama tipikal untuk anak yang tumbuh dari keluarga yang cukup religius. Sempat saya tanya pada Ayah dan Ibu (begitu saya memanggil kedua orangtua saya) soal arti dibalik nama saya. Jawaban mereka simple saja, tapi bagi saya nama itu menyiratkan beban tersendiri. Orang tua saya menginginkan saya tumbuh sebagai pemimpin besar dengan karakter yang begitu kuat seperti Nabi Muhammad, dermawan dan berempati seperti sahabat Nabi, Usman bin Affan, dan tetap menjaga keimanan (keyakinan) saya sebagai seorang Muslim hingga akhir hayat.

Sejak kecil saya akrab dipanggil dengan nama tengah saya, Iman. Kadang di keluarga inti, saya dipanggil komeng (plesetan dari nama Iman, yang saya sendiri tidak tahu artinya apa J ), atau sesekali dipanggil adik (karena saya bungsu dari 6 bersaudara). Seiring tumbuhnya saya, dan bergaul dengan berbagai kalangan, nama saya pun makin bermacam-macam, fatalnya sekarang teman-teman di kampus saya, kompak menyebut saya ‘alay’. Haha. Kalau ditanya kenapa? Baiknya tanyakan pada mereka seja. Haha (enggan menjawab).

Saat ini saya berkuliah di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia semester 5. Usia saya 20 tahun, dan di sela-sela aktivitas saya berkuliah, sedikit meluangkan waktu berkontribusi di masyarakat dengan memimpin sebuah organisasi non-profit yang bergerak di bidang pemberdayaan pemuda untuk perubahan sosial, Indonesian Future Leaders. Saya menyenangi mengajar dan berkomunikasi dengan orang banyak, yang kini saya salurkan dengan mendirikan, memproduseri, dan menjalankan platform Inspire-Cast. Berhasrat tinggi pada pembangunan masyarakat dan dunia pendidikan, serta bercita-cita menjadi seorang guru dan pembaharu sosial.

 

Tentang Ayah dan Ibu

Tumbuh dalam keluarga dengan latar religi yang begitu kuat, membuat saya dibesarkan dengan nilai-nilai keislaman. Masih ingat di benak saya setiap hari sepulang sekolah saya harus mengaji bersama Ayah, mempelajari hadist, dll. Tapi satu hal yang paling saya hargai adalah tentang bagaimana orangtua saya tetap memberikan pilihan-pilihan di tangan saya sendiri, bagaimana mereka tetap memberikan ruang bagi saya untuk menjadi muslim yang moderat, bebas mengekspresikan diri (meskipun ada batas-batasan tertentu yang tetap tidak boleh dilanggar), mengungkapkan pendapat, dll. Ruang macam inilah yang saya pandang memberikan kesempatan bagi saya untuk jadi seperti sekarang. Ayah dan Ibu tidak pernah memaksakan kehendaknya, tetapi selalu melibatkan saya dalam setiap keputusan yang terkait dengan saya secara langsung. Mereka tidak pernah memaksakan saya untuk menjadi juara kelas, harus les ini atau les itu, ikut kegiatan macam-macam, melarang bermain, dll. Sesekali memang mereka memberikan tuntunan, namun pada akhirnya pilihan ada di tangan saya.

Kebebasan dan demokrasi itu tidak membuat saya kemudian justru jadi “liar”, tapi sebaliknya, justru merasa bertanggungjawab atas setiap pilihan yang saya ambil. Ketika saya melakukan kesalahan, Ayah hanya bilang “kamu yang pilih itu kan?”.

Kedua orang tua saya memang tidak berlatar belakang pendidikan yang kuat. Ayah hanyalah lulusan Madrasah (setingkat SLTA), dan Ibu juga hanyalah lulusan SMA. Kami bukan keluarga yang hidup berlimpah ruah. Ayah hanya seorang pedagang yang mengandalkan perekonomian keluarga dengan menjual minyak tanah ke warung-warung, dan Ibu hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga. Tapi jangan salah, wawasan mereka bisa diadu dengan orang-orang yang katanya sarjana. Mereka mungkin tidak paham bahasa asing, tapi mereka ingin anaknya bisa bercakap dengan “bule” dengan mengesankan. Mereka mungkin tidak gemar berlama-lama dengan buku, tapi mereka ingin anaknya tidak pernah kekurangan buku untuk dibaca. Mereka mungkin tidak pernah mengecap bangku kuliah, tapi mereka ingin anaknya kuliah setinggi-tingginya. Begitulah Ayah dan Ibu.

Saya anak bungsu dari 6 bersaudara, dan satu-satunya anak laki-laki di keluarga. Meskipun mungkin mereka tidak pernah mengatakannya, namun saya yakin bahwa saya diharapkan jadi tumpuan di keluarga ini. Diantara saudara-saudara saya yang lain, hanya saya yang bisa mengenyam bangku sarjana, dan insya Allah segera menjadi sarjana pertama di keluarga inti saya. Dan saya masih ingin menjadi master pertama di keluarga saya, doktor pertama, orang yang bisa mengubah dan meningkatkan derajat keluarga kami, bukan hanya dengan pencapaian akademis saya, tapi juga karakter dan kontribusi saya untuk masyarakat.

Ketika ditanya, mana aktivitas yang paling menggetarkan. Sulit sekali menjawabnya. Entahlah, bagi saya setiap aktivitas yang mereka lakukan untuk saya, agar saya berhasil, begitu besar artinya. Sehingga sedih sekali ketika melihat keduanya menangis, karena kenakalan saya atau ketika saya justru mengecewakan mereka.

 

Milestone

Bagi saya, ada banyak momentum dalam hidup saya yang mengambil andil besar dalam membuat saya menjadi Iman yang sekarang. Tapi diantara itu semua, ada beberapa hal yang menjadi pijakan penting.

Pertama, ketika usia saya 10 tahun. Pertama kalinya saya akrab dengan aktivitas sosial (yang saat itu tak pernah saya sadari). Saya tak punya kedekatan personal dengan isu sosial tertentu, dan mungkin tidak menjadi korban langsung dari berbagai ketimpangan yang saat itu sudah ada di sekitar saya. Sehingga kadang, ketika orang bertanya bagaimana awal mulanya saya terlibat, agak sulit juga menjelaskannya. Namun, saya sering kali menyebutnya dengan “panggilan jiwa”. Saat itu saya melihat teman-teman sebaya saya, tetangga saya, tidak bisa memiliki buku selain buku pelajaran mereka di sekolah, fasilitas perpustakaan di sekolah juga tidak begitu mumpuni. Menyadari hal itu, saya tergerak membuka sebuah warung kecil, tidak cukup besar, luasnya hanya 2×3 meter, tapi cukuplah untuk menampung 100-an buku dan majalah saya waktu itu. Perlahan saya coba kumpulkan buku teman-teman yang lain, dan menjadikan warung itu sebagai pustaka bersama. Tetangga bisa meminjam buku di sana, dan mengembalikannya kembali jika usai membaca. Lalu, saya tergerak untuk mengajar dan membantu sekitar 5-7 orang tetangga saya yang tidak pernah punya akses untuk mengikuti kursus. Mengajarkan mereka sedikit mengenai bahasa Inggris yang sehari-hari saya dapatkan di kursus, membantu mereka mengerjakan PR matematika (ketika saat itu saya masih sangat menyenangi dan bisa dibilang mahir pada bidang ini), dll. Memang aksinya tidak berkelanjutan, dan hanya mampu bertahan sekitar 2 tahun. Namun itu jadi pijakan pertama saya, yang membuka mata saya bahwa masalah sosial itu nyata dan ada di sekitar kita. Siapapun kita, apapun latar belakang kita, kita bisa melakukan sesuatu, dari hal yang paling kecil.

Kedua, ketika saya SMP, saya mulai menyenangi dunia jurnalistik. Blog pribadi dan tabloid remaja menjadi wadah menyalurkan hasrat saya di bidang tulis menulis. Apapun saya tulis dan saya bagikan kepada teman-teman, sampai akhirnya hal ini menginspirasikan saya untuk mendirikan tabloid sekolah pertama di sekolah saya waktu itu. Masa SMP juga jadi sarana pengembangan diri dan eksplorasi bakat, dan minat. Kegilaan saya pada Harry Potter, membawa saya mulai mengelola sejumlah forum diskusi online pecinta Harry Potter, mengakrabkan saya dengan media jejaring sosial, hingga akhirnya menambah pundi-pundi di kantong saya, dengan membuka online shop. Masa ini juga jadi masa-masa awal saya merintis karir sebagai public speaker, mulai menjadi MC dan sharing di berbagai tempat. Mulai dari MC pernikahan adat, hingga acara-acara yang dihadiri pejabat daerah kala itu. Masa ini membawa saya kepada proses eksplorasi bakat dan minat, menyelami dunia yang berbeda, menikmati proses belajar.

Ketiga, ketika saya bergabung di Forum Anak Daerah Sumatera Barat, hingga akhirnya saya didaulat sebagai Sekretaris Umum. Sebuah forum yang terdiri atas anak-anak dari berbagai daerah di Sumatera Barat, yang berkomitmen untuk memperjuangkan dan mensosialisasikan hak-hak anak. Bertemu dengan aktivis anak, penggerak sosial, sedikit banyak menarik saya ke dalam dunia ini. Menggali empati saya untuk benar-benar total dalam apa yang kita cintai, dan apa yang ingin kita perjuangkan. Dari Forum Anak, saya juga mulai aktif mengembangkan komunitas sendiri, aktif di kegiatan-kegiatan pemuda, hingga akhirnya dianugerahi penghargaan Pemimpin Muda Indonesia 2008 oleh Bapak Presiden. Kala itu pula saya berkenalan dengan Bang Muharman (saya biasanya memanggil bang Imoe), orang yang saya anggap begitu besar peranannya dalam membawa dan membimbing saya dalam mengembangkan berbagai gerakan sosial. Orang yang selalu meyakinkan bahwa saya bisa, dan mengajarkan saya untuk berani bermimpi dan menjaga mimpi saya untuk terus hidup.

Keempat, ketika pertama kalinya kaki saya menginjakkan negeri yang sama sekali asing buat saya, mengikuti program pertukaran pelajar AFS ke Jepang. Tidak lama, bahkan cukup singkat, saya di sana. Tapi momen inilah yang membuka mata saya betapa pentingnya untuk keluar dari zona nyaman saya, membuka diri terhadap perbedaan, dan hal-hal baru dalam hidup. Jepang membuat saya semakin bersemangat untuk menjelajahi dunia, dan melihat peta dunia yang terpampang di dinding kamar, bukan sebagai teritori yang tak dapat ditembus, tapi justru untuk dijelajahi. Membuat saya bisa mengklarifiikasi pandangan dan sinisme orang terhadap Indonesia, menunjukkan kompetensi global pemuda Indonesia, dan melihat Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. Hal ini pula yang membuat saya mulai berani dan percaya diri untuk berjejaring dengan teman-teman dari berbagai negara, dan membawa saya kini menjelajah ke belasan negara. Langkah awal menuju impian masa kecil saya, mengelilingi dunia. Semakin banyak negara yang saya jelajahi, semakin besar kecintaan saya pada negeri ini. Kecintaan yang bukan hanya berlandaskan chauvinism belaka.

Kelima, saat saya mendirikan Indonesian Future Leaders bersama 6 teman saya di tahun 2009. Saat itu tak pernah terpikir IFL akan jadi seperti sekarang. Semuanya hanya berawal dari kegelisahan kolektif, yang memicu aksi kecil. Namun aksi kecil yang dilakukan oleh segelintir orang inilah yang kemudian memandu kami kepada aksi yang lebih besar, dengan dampak yang lebih besar. Entahlah, saya berharap IFL akan bisa bertahan sepanjang masa. Membangun Indonesia dengan sumberdaya manusianya, karena kekayaan terbesar yang dimiliki bangsa ini bukanlah minyak, bukanlah emas, bukanlah hutan berlimpah (seperti yang diajarkan pada kita sewaktu kecil), tapi sumberdaya terbesar adalah orang-orang Indonesia sendiri. Menjadikan sumberdaya Indonesia yang tangguh, kesitulah IFL bermuara.

Saya percaya perjalanan saya masih panjang, dan masih ada hal-hal lain yang menunggu saya, menambah pijakan saya hingga akhirnya sampai ke akhir perjalanan ini (kematian).

 

Yang Saya Hargai

Perjalanan hidup saya jalani sepanjang 20 tahun saya di dunia ini membawa saya pada titik dimana saya merasa bersyukur dengan segala hal yang diberikan Tuhan kepada saya.

Menghargai diri saya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan seorang Iman yang tidak pernah berhenti menyerah, bersemangat, dan mau belajar. Saya percaya bahwa saya dilahirkan ke dunia ini, dengan tujuan. Menjadi solusi, dan bukannya jadi masalah. Meninggalkan jejak pengamalan untuk anak, cucu, dan orang-orang di sekitar saya.

Menghargai keluarga saya atas dedikasi tanpa pamrih, komitmen tanpa putus, dan rasa cinta tak terbendung untuk menjadikan saya menjadi Iman yang sekarang. Tanpa kedua orang tua saya, saya tidak pernah hadir di dunia ini, tidak akan bisa mengecap pendidikan yang berkualitas, di saat perekonomian kami sendiri sedang sulit saat itu. Berkat keduanya, saya tumbuh dengan karakter yang tak mau menyerah, dan percaya bahwa selalu ada kemudahan di setiap kesulitan. Menghargai kakak-kakak saya, yang meskipun jarak usianya cukup jauh dengan saya, sehingga tak banyak waktu yang benar-benar saya habiskan dengan mereka semua, namun saya percaya bahwa kasih sayang mereka tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang. Mereka semua berkoban, berusaha secara kolektif, membentuk saya seperti sekarang.

Menghargai orang-orang di sekitar saya atas pelajaran hidup yang begitu luar biasa. Mengajarkan saya tentang berbagai hal, menunjukkan inspirasi yang menggugah saya untuk beraksi. Air mata kepedihan masyarakatlah yang menjadi pecut bagi saya untuk tidak pernah berhenti bergerak. Tawa dan senyuman lepas mereka yang jadi pengobat luka di saat-saat saya merasa letih dan lelah melakukan ini semua. Tak mampu saya menyebut orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupan saya, tak putus kata menguraikan nama dan pengabdian yang mereka lakukan. Hanya rasa terima kasih, terima kasih.

Menghargai Indonesia, negeri yang tidak pernah berubah rasa cinta saya kepadanya. Saat sulit maupun saat bahagia, rasa bangga menjadi orang Indonesia. Negeri yang selalu memacu saya untuk bergerak, menginspirasi dan mengabdi lewat karya nyata. Negeri dimana masa depan dan impian saya berlabuh, dan ditautkan kepadanya.

Menghargai kehidupan ini, entah bagaimana caranya, tapi.. terima kasih Tuhan untuk kehidupan yang saya jalani ini. Tak pernah terbesit pikiran untuk menyia-nyiakan anugerah ini.

 

Simbolisasi dan Imaji

Sulit sekali mencari simbolisasi diri saya, karena kompleksitas imaji akan diri saya sendiri. Tapi jika harus memilih, mungkin air adalah elemen bumi yang paling bisa menggambarkan saya. Hidup saya mengalir, tapi bukan berarti mengalir tanpa tujuan dan rencana, air kehidupan ini akan bermuara kepada mimpi besar dan tujuan saya berada di bumi ini. Air mengalir dari atas ke bawah, yang selalu mengingatkan saya untuk tetap melihat ke bawah meskipun posisi atau status sosial saya sedikit lebih tinggi. Air kadang bisa begitu menenangkan, tapi juga bisa menghanyutkan. Kadang semangat saya begitu menenangkan bagi orang-orang di sekeliling, tapi juga bisa menjadi meledak-ledak tak terbendung, utamanya ketika saya diremehkan, semakin besar keinginan untuk membuktikannya. Air yang menjadi pelepas dahaga, menyiratkan bagaimana saya ingin hidup menjadi berkah untuk orang lain. Tapi saya tidak pernah tahu hidup saya di masa depan akan seperti apa, entah menjadi air yang menyenangkan orang lain dengan segala kelebihannya, atau (mungkin saja) justru jadi cobaan bagi orang lain. Tapi selama saya bisa memilih dan berencana, saya ingin jadi air yang menyenangkan, menjadi berkah, bukan kutukan.

 

Imaji Untuk Indonesia

Saya selalu punya bayangan besar untuk Indonesia. Entahlah mungkin karena kecintaan berlebih saya pada negeri dimana saya lahir, dan negeri dimana saya ingin akhir perjalanan saya juga berakhir di sini. Bukan kecintaan semu, tapi kecintaan tanpa syarat. Bagi sebagian orang mungkin melihat mimpi-mimpi saya ini utopis. Tapi bagi saya yang seorang optimis, saya percaya bahwa suatu saat ini semua bisa tercapai.

Di tahun 2030, saya bayangkan tak ada lagi korupsi di Indonesia, tak ada lagi anak yang terlantar dan harus mengais di jalanan. Tak ada lagi anak Indonesia yang tak dapat bersekolah, hanya karena persoalan biaya. Anak-anak Indonesia bisa lahir, hidup, dan tumbuh kembang sebagaimana layaknya. Tak ada lagi anak Indonesia yang tak dapat bermain, karena harus mencari nafkah membantu orang tua.

Kita semua hidup damai, saling hormat menghormati. Tak ada lagi mendengar berita di bom nya gereja, perusakan mesjid, pelarangan ibadah, dan sejenisnya. Tak ada lagi kerusuhan membabi buta. Kita semua bersaudara, meskipun warna kulit, dan potongan rambut kita tetap beda. Logat bahasa kita tak berubah, amat kental dengan asal kedaerahan kita. Tarian, nyanyian, dan karya budaya leluhur masih amat terjaga. Tapi wawasan kita mulai mengglobal, kita bisa diadu secara intelektual dengan negara manapun.

Ketika saya perhatikan media massa, yang saya lihat dan saya dengar adalah deretan prestasi dan khabar baik tentang karya anak negeri. Pejabat-pejabat di pemerintahan berhasil menuntun rakyatnya kepada kemakmuran dan kedamaian. Masyarakat bahu membahu, bekerja kolektif memajukan bangsa. Pemuda/I nya berlomba untuk meraih prestasi untuk negeri, berkarya, menciptakan inovasi untuk kemajuan umat.

Utopiskah? Tidak!

Karena kini saya menyiapkannya. Saya siapkan diri saya sembari berkarya untuk negeri. Melalui Indonesian Future Leaders, kami mencoba untuk membangun kapasitas dan karakter kami, sembari menjadi katalis, mengajak anak-anak muda lain untuk bergerak, berkarya, dan berdampak positif bagi negeri. 2030 seperti hal di atas? Kenapa tidak?

Post to Twitter


Why?

Posted: September 7th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Life Lesson, Notes | No Comments »

Ditulis juga di: Andy’s Friend – Kick Andy

Salah satu kata yang paling saya gemari  adalah “WHY” atau “Kenapa”. Banyak hal dalam kehidupan saya dimulai dari sebuah pertanyaan “Kenapa?”, dan itulah kemudian yang memandu saya untuk berbuat sesuatu. Jammie Allen bahkan pernah menuturkan If you want to be successful, ask Why? Why not? Why Not Me? Why Not Now?”. Ungkapan di atas bisa dibilang persis banget menggambarkan kenapa kemudian saya dan segelintir teman-teman lainnya memilih untuk melakukan kegiatan “yang nggak biasa” – yang jarang dipilih oleh banyak orang – dibandingkan aktivitas anak muda lainnya.

WHY?
Berbagai macam masalah sosial yang ada di sekitar kita saat ini, yang nggak ada habis-habisnya bikin kita jadi geregetan kan. Kita sering mengeluh, kenapa sih banyak sampah dimana-mana? Kenapa sih kok makin hari makin panas aja? Kenapa sih metode belajar di sekolah saya nggak menyenangkan? Kenapa sih pengangguran di Indonesia bukannya berkurang malah nambah terus? Dan masih banyak lagi (kita bisa list jutaan masalah kalo mau bahkan). Tapi nggak ada gunanya kalo kita cuma bisa melototin dan tetap mengeluh, tapi  do nothing.
Harusnya, dari masalah-masalah tersebut, kita bisa memunculkan pertanyaan “Kenapa” dan mencoba untuk mencari tahu jawabannya. Kenapa bisa begini? Kenapa bisa begitu?

WHY NOT?
Ketika kita udah tahu apa penyebabnya, kadang kita masih diam aja dan tidak terpikir untuk mulai bergerak. Sering kali kita takut atau ngerasa nggak pede dengan solusi versi kita. Kita ngerasa rendah diri dengan kapasitas dan kapabilitas kita, takut untuk gagal. Padahal kenapa tidak dicoba dulu? Kalo nggak dicoba, kita nggak akan pernah tahu kan? The person who doesn’t make mistakes is unlikely to make anything (Paul Arden). Thomas Edison perlu mencoba hingga 200x untuk membuat bola lampu kreasinya benar-benar bekerja. Benjamin Franklin juga pernah bilang “I haven’t failed, I have had 10.000 ideas that didn’t work”. Jadi kalau punya ide, kenapa tidak?

WHY NOT ME?
Sering kali kalaupun udah tahu dan udah punya semangat untuk melalukan perubahan atau memberikan solusi terhadap suatu masalah, semangatnya cuma disimpan aja, atau paling pol dibayang-bayangin aja sendiri. Padahal, kenapa nggak kita share sama teman kita yang lain yang punya visi serupa. Siapa tau justru banyak yang punya gagasan serupa, tapi selama ini karena diam aja, kita nggak tahu. Kalaupun misalnya masih belum pede untuk mulai gerakan yang gede, kenapa nggak kita mulai mencoba untuk menerapkan perubahan itu di diri kita? Siapa tahu banyak orang yang justru jadi terinspirasi dan termotivasi sama aksi individual kita? Kenapa bukan saya yang memulai?

WHY NOT NOW
Saya sering kali berjumpa dengan teman-teman seusia saya (belasan atau early 20ies) yang punya mimpi besar buat Indonesia. Punya cita-cita luhur pengen ngebangun bangsanya lewat jalur yang beda-beda. Ada yang bilang mau bikin sekolah, ada yang mau bikin organisasi sosial, ada yang mau bikin majalah, dan lain – lain. Tapi kebanyakan bilangnya “gue kerja dulu 20 tahun, ngumpulin uang, abis itu bisa mengabdi”. Well, nggak salah sih.. mungkin memang sudah punya perencanaan yang matang. Tapi yang kepikiran oleh saya, kalo memang bisa sekarang kenapa harus nunggu nanti? Misalnya, bercita-cita pengen bikin sekolah. Mungkin “sekolah ideal” yg ada di pikiran masih 20 tahun lagi, tapi bisa dimulai dengan “sekolah kecil”, menjadi relawan mengajar di berbagai program adik asuh, atau mulai peduli dengan isu-isu pendidikan. Mau bikin majalah? Mungkin bisa memulai dengan bikin newsletteratau bulletin online, mulai rajin menulis blog dengan konten-konten yang sesuai dengan passion nya. Intinya, kalo bisa sekarang kenapa harus nunggu nanti. Why not now?

Jadi, bagaimana? Siap memulai dengan KENAPA? KENAPA masih diam? Ayo bergerak!

Post to Twitter


Dream: A Pathway to Change

Posted: August 6th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Life Lesson, Notes, Personal | Tags: , , | No Comments »

Delivered by Iman Usman (19) from Indonesia at the 9th UN Youth Assembly in New York before receiving The Youth Assembly Recognition for Excellence

 

Good afternoon everyone, it is indeed an honor for me to be here with you all today. Thank you for the UN Youth Assembly for inviting me. I feel the excitement of passionate young leaders in this room, and it makes me more than excited.

I’d like to begin with a story of a kid, a 10 year-old boy, living in a small town in Indonesia. He was a normal kid, not a child prodigy, who found himself powerless and talentless. But the one thing he had – he had a dream.

Since he was child, he was the one who believed in dreams. For him, a life without dreams was just like driving without a destination. Dreams became the stepping stones and foundation of enjoying his life – making it valuable to the world. His dream was simple, but most people thought that it was too big, or even too idealistic. But he believed that there is no dream too big, because it is not a dream if it is not big.

He just wanted a better world, a better place for every single child in the world to live, to survive, and to develop. When he was a child, he was treated unjustly. His opinion was dismissed. His voice was deemed meaningless by society. He had nowhere to speak his ideas, and bring them to action.

He also saw that many kids felt the same as he did. He did not come from a wealthy or well-educated family. But, he believed these challenges should not be justifications to undermine or discriminate against him. That 10-year-old kid insisted, and reminds me every day: that no matter what your background is, no matter how old you are, you are a human being with rights and liberty.

The painful realities he endured led him to embark the journey in improving his own quality of life, and step-by-step, try to improve the quality of human beings around him. He believed that he couldn’t wait for someone to come and fix his life – he was the one to fix it. He was very passionate about the struggle to empower children, the future generation.

His story of movement began with a blackboard. When he was 10 he found that many kids in the neighborhood couldn’t access books and other sources of information.  So, he established a free course for underprivileged children. Later on, he established a small library in front of his house. It’s His hope that this small action would lead him to a larger action with a bigger impact. He became involved in various communities, journalism, entrepreneurship programs, and active in advocating for child rights issues when he was elected as Secretary General for a children’s forum in his province. He conducted various campaigns, initiated and coached various brands on social activism, particularly on the promotion of the achievement of the MDGs. Until he moved to the capital town for study, and the study could not stop his momentum of change as he thought that he need to do a bigger action.

Then, he founded a youth-led NGO concerning youth empowerment for social change. With his team, he went from school to school, campus to campus, to deliver capacity building and inspire youths to believe and achieve their dreams. He conducted various community development projects to achieve the MDGs, as well as advocacy on youth-related issues by mobilizing thousands members and more than 500 volunteers who impacted thousands lives.

The story of this kid is really meaningful and has a lot of correlation to myself. That kid is in front of you all right now, that’s the story of me.

I share this story not for the sake of mentioning my achievement. It is because I just want to tell you that when I started to “do something”, I was nothing compared to you all today but I know I holding the part of the bright future of my country.

I couldn’t speak any language beside my mother tongue but I know I can speak the word of change.

I couldn’t play any musical instrument, sing, dance, or anything else that I can be proud of but I listened to the tune in my heart.

I knew my dream and my past experiences that lead me to make a difference. I had the courage. Even today, I am still that 10 year-old boy, with a bigger vision, with a bigger dream to achieve, with more friends at my back for support.

People have told to me that “serving humanity is like giving life to the lifeless”, but for me, it is not only for the lifeless, but also for ourselves. We can make our life bigger than we can think.

People often say that volunteering and activism only waste time, energy, and even money. But what I learned is this: you will not lose anything by being a giver; instead you will received many things that you never expected.

It is in my wildest dream to be invited to various international forums and have the opportunity to speak on behalf young people. I never expected to earn trust as a consultant for various government projects and United Nation agencies at the age of 19. I never expected have a privilege of invitations by vice presidents, ministers, parliaments in my country due to what my team and I have done. And the most important thing, I never expected to see people smiling because of what I do. It is a blessing to make people feel blessed and happy as they are with you. And finally, I could do something.

Each one of us can do something.

In last 3 years, I had the opportunity to travel to dozens of countries, speak, share, and learn from one person to thousands. I am inspired by thousands of children’s dreams around the world and help them to realize their potential, to make the impossible possible, and the unexpected happen.

And one of them is We Are Family Foundation’s Three Dot Dash – Just Peace Summit. I have a priceless honor as one of 31 Global Teen Leader representing 12 different countries and five continents this past March. I meet bright minds with other 30 teen leaders at the Summit in New York. It was great to meet and be connected with these amazing youth, where we collaborate together to amplify our work and encourage millions of people to replicate our positive messages and get involved.

We share best practices, and support each other, even after the Summit has passed. With this global network, all Global Teen Leader alumni have already made a direct impact to more than 4 million people globally, and the numbers keep growing. It is interesting and enlightening to see the power of youths, and how their passion can impact mother earth. We connected because of our same hopes, compassion, courage, and passion.

We are so blessed to be part of Generation21, to be the generation who lives in 21st century, with all technology supports around us, that make it easier for us to do something collectively and globally.

A borderless world

But it also provides various challenges that we have to overcome. We can convert challenges into opportunities.

Being part of these movement brought me many surprises in life. I do believe that there are still more surprises ahead, but that’s not the point. The point is, the more people appreciate youth involvement, the better a sign it is for youth to be heard and get the opportunity to be a part of the solution. What I believe is that opportunity itself is not ascribed, it is not something that we have to wait for – we can create our own opportunities. Just keep your eyes open.

Once more, I would like to say, that this moment is very meaningful for me. Thank you to everyone who has supported me since the beginning. Thanks to my mom, my dad, my family, my coaches, and my friends who always believe in me. I would like to thank and receive this recognition on behalf of other undiscovered young people around the world who did something to change their life. You all are my greatest inspiration.

I enjoy my pathway to making a difference and this is the way I want to be remembered.  You may also have your own pathway, because there is no rigid template in change. Let’s start by dreaming, exploring our talents, doing something small, then trying to reach further, reach more people, and eventually it will be not only your movement, but also a social movement, a global movement. I do believe that any exploration of talent and passion can contribute to social changes. A small action that is conducted by a single individual will consistently make other people follow it, and then it has real impact. Never limit yourself. Never underestimate yourself because we are young. We can change the world.

If a 10 year-old boy with nothing attached to him could ignite something, why can’t you. He had a dream, and you have a dream. Think Big, Make it Happen! I will wait for another story from YOU! Thank you.

Post to Twitter


Berhakkah Kita Menghakimi?

Posted: March 6th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Life Lesson, Notes | 4 Comments »

Saya ingin sedikit berbagi dengan teman-teman, yang semoga juga bisa menjawab asumsi teman-teman terhadap saya, atau siapapun yang selama ini sering jadi korban dari praduga kita.

Kita sering kali melihat banyak orang yang mencoba melakukan perubahan. Perubahan apapun itu, apakah itu untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya, atau bahkan masyarakat luas. Caranya pun beragam, ada yang hendak menghijaukan kota dengan menanam pohon, ada yang membuat panti asuhan untuk menampung anak-anak yang sudah kehilangan orang tuanya, membagi-bagikan makanan kepada anak jalanan, dan masih banyak lagi. Tapi bukan itu yang hendak jadi fokus bahasan saya kali ini.

Mereka yang melakukan hal tersebut, sering kali mendapatkan pujian, dipandang sebagai ‘manusia baik berhati mulia’, tapi juga tak sedikit yang memberi cap jelek. Misalnya, selebritis yang aktif menyantuni anak yatim ketika bulan Ramadhan, dianggap melakukan hal tersebut untuk meningkatkan citranya. Atau seorang politikus yang menyumbang untuk mesjid atau gereja dianggap melakukannya supaya orang memilihnya dalam pemilu.

Contoh lain, beberapa bulan yang lalu, saya sempat hadir dalam roadshow Indonesia Mengajar, program pengiriman lulusan muda Indonesia untuk mengabdi mengajar anak-anak di pelosok Indonesia selama 1 tahun. Seorang peserta mengajukan pertanyaan kepada Anies Baswedan (pendiri dari Indonesia Mengajar): “mengapa anda melakukan ini? Apakah anda menggunakan ini untuk kepentingan politik? Saya melihat ada kepentingan tertentu di balik ini”.

Saya juga sempat membaca blog salah satu sahabat saya yang mengungkapkan betapa banyak orang di sekelilingnya yang melakukan aktivitas sosial untuk popularitas, dan sejenisnya.

Saya sendiri juga sering menerima komentar miring, baik secara langsung, atau kadang dari pihak ketiga. Ada yang menganggap saya melakukan aktivisme sosial untuk kepentingan pribadi, untuk mendapatkan penghargaan, atau untuk terlihat hebat, dan sejenisnya.

Pertanyaan saya, sebenarnya siapa kita sih? Sehingga berhak memberikan penghakiman tertentu terhadap sesuatu, yang mana yang tahu jawabannya hanyalah orang yang bersangkutan dan Tuhan. Kita juga bukan orang tuanya mungkin, yang hidup bertahun-tahun bersama, dan mengenal dengan persis karakter mereka. Bahkan sepasang suami istripun kadang masih tidak dapat memahami apa yang ada dalam hati pasangannya.

Kalaupun (seandainya) mereka punya niat tertentu di dalam hatinya, menurut saya itu urusan mereka dengan Tuhan. Kita di dunia, hanya dapat melihat, apa yang dilakukannya bermanfaat bagi orang lain. Kalaupun seorang Anies Baswedan menggagas Indonesia Mengajar, karena kepentingan tertentu, saya tidak terlalu peduli. Yang saya tahu, ada ribuan anak di pelosok negeri ini yang terbantu oleh para pengajar muda yang dikirim ke berbagai daerah. Yang saya tahu apa yang dilakukannya membuka ruang bagi para mahasiswa untuk memiliki pemahaman hingga ke grass root, dan siap jadi pemimpin berkualitas.

Terlepas dari apakah sang selebritis mau mendapatkan pamor atau tulus membantu, mungkin yang dilakukannya telah menyelamatkan anak jalanan yang hampir mati kelaparan atau kedinginan.

Bagi saya, apapun niat mereka, selama yang dilakukannya baik untuk orang lain, itu masih jauh lebih baik dari mereka yang hanya gemar memberi label dan berpraduga, tapi masih berdiam diri di rumah, dan tak melakukan apa-apa. Kalaupun pada akhirnya ada hal-hal yang bersifat materiil yang diterimanya, saya menganggap itu adalah balasan dari Tuhan atas apa yang diperbuatnya.

Saya sendiri berada pada titik tidak mau ambil pusing dengan apa kata orang tentang saya. Saya merasa berada pada jalan yang benar, dan masalah niat, itu urusan saya dengan Tuhan. Betapapun saya mencoba meyakinkan teman-teman juga tidak akan ada gunanya, karena itu persoalan niat, bagian dari hubungan saya dengan Tuhan.

Siapa kita sih?

Saya teringat dengan pesan dari Dino Patti Djalal sewaktu kunjungan saya ke Washington DC beberapa waktu silam, “Changemakers are never easy, people often give you labels, names. But the people who make difference are the peope who have courage. They give us labels because they do not have concept, and that is the way that they can do”

Jadi bagi teman-teman yang mau jadi bagian dari perubahan, ingin melakukan sesuatu yang baik, jangan gentar. Jadikan kritik sebagai .Be open minded, follow your hearts, build your future. The one who will win are those who love to explore and beyond borders.

 

Iman Usman

 

Post to Twitter


Refleksi Perjalanan Study of United States Institute

Posted: March 6th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: America, Life Lesson, Notes | No Comments »

Akhirnya perjalanan 5 minggu saya di negeri Paman Sam berakhir juga. Banyak hal yang saya dapatkan dan saya pelajari di sana. Semakin bertambah pula mimpi dan rencana yang ingin segera saya wujudukan. Satu persatu, semoga tewujud. Bukan hanya pelajaran di ruang kelas, atau kunjungan ke berbagai tempat historis yang membuka mata dan pikiran saya akan beragam isu, yang semakin membuat saya merasa kerdil, dan betapa ignorant nya saya selama ini. Tapi momen momen berinteraksi dan berdialog langsung dengan penduduk juga tak kalah pentingnya. Bukan hanya dengan satu aau dua orang, bukan hanya dengan golongan tertentu, tapi beragam. Mulai dari yang paling tradisional hingga yang paling moderat dan reformist. Menarik melihat dialog ini justru membuka ruang untuk menyelami apa yang ‘mereka’ pikirkan tentang ‘kita’,  atau sebaliknya, memberikan kesempatan untuk mengklarifikasi apa yang ‘kita’ pikirkan tentang ‘mreka’ selama ini. Menyadarakan saya bahwa selama ini saya masih hidup dalam berbagai asumsi dan prasangka yang menggiring saya kepada hipotesis yang belum tebukti kebenarannya.

Menyedihkan,

Menyadari betapa seringnya kita begitu cepat mengambil kesimpulan tentang sesuatu, hanya berdasarkan dari apa yang saya baca, apa yang saya tonton di tv, atau bahkan hanya dari apa kata orang.

Menyedihkan,

Betapa seringnya kita berkoar, menyelahkan hukum yang berpihak, dan para hakim yang tak adil, tanpa sadar bahwa selama ini kita sering kali menghakimi berdasarkan kebenaran yang Pasti. Kebenaran yang hanya besumber dari apa yang benar menurut mayoritas.

Menyedihkan,

Menyadari betapa selama ini kita menganggap kita atau golongan kita yang paling sempurna, paling tahu akan segala hal, dan mengkerdilkan yang lain. Padahal mungkin apa yang kita tahu, barulah selembar halaman, dari kumpulan ensiklopedi dengan halaman tanpa batas. Nobody knows everything about anything.

Menyedihkan,

Betapa kita hidup tapi tak bernyawa, karena bergerak dengan kontrol orang lain. Mengikuti semua kata orang, hingga kita kehilangan sikap dan jati diri. Memilih berdasarkan apa yang paling banyak dipilih, dan melangkah mengikuti kemana arah orang berjalan. Tanpa sadar, bahwa kita telah ‘menjual’ diri kita.

Tulisan ini hanyalah refleksi pribadi saya, yang (semoga) bisa jadi refleksi kita bersama. Saya masih belajar, dimulai dengan menuliskannya, dan mencoba menerapkannya. Saya percaya bahwa proses belajar dan mengenali itu tidak cukup hanya dengan 5 minggu, tetapi proses seumur hidup. Tapi setidaknya, kesempatan ini membuka ruang bagi saya untuk mengenal orang lain, dan mengenal diri saya sendiri. Sepertinya banyak hal yang menyedihkan? Tapi itu bukan akhir, mungkin masih banyak hal lain yang belum tertuang di sini, bisa saja semakin menyedihkan, atau justru mengobati luka. Tinggal kita mau memilih yang mana.

 

Post to Twitter