“Saya mau kok ikutan proyek sosial, ikutan jadi relawan, ikutan berbagi untuk masyarakat yang membutuhkan”. Semangat positif ini belakangan makin sering terdengar di kuping saya, beriringan dengan sahut-sahut optimisme untuk negeri ini.
Dalam beberapa bulan terakhir, senang kali rasanya bisa mengunjungi berbagai tempat di negeri ini, dan juga sejumlah negara. Puluhan sekolah dan kampus sempat saya datangi, bertemu dengan ribuan anak muda dari berbagai macam latar belakang sosial, budaya, dan agama. Mendengarkan kisah tentang pengalaman dan mimpi-mimpi mereka yang tak terbendung. Ada yang mau jadi pilot, seniman, insinyur, pegawai negeri, guru, atau pengusaha. Ada yang ingin mengabdikan hidupnya untuk masyarakat, mendedikasikan waktunya untuk mengajar di pedalaman, menuangkan mimpi dan harapannya lewat musik, tarian, atau tulisan. Ada yang ingin jadi juara, yang ingin mengalahkan rasa takut terhadap dirinya sendiri. Ada pula yang ingin bangkit dari kegagalannya, menjadikan kelemahan jadi sumber utama kekuatannya. Mereka semua ingin terlibat, tak ingin hanya (bisa) jadi penonton, dan kemudian menangisi keadaan.
Gurat optimisme di wajah mereka membuat saya semakin yakin bahwa masih ada harapan untuk negeri ini.
Utopiskah? Tentu kadang masih ada yang skeptis dan pesimis dengan masa depan negeri ini, apalagi melihat problematika bangsa yang kian kompleks. Tak sedikit yang memilih diam, dan larut dalam dunianya sendiri, tak (mau) tahu dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Tapi apakah kita mau menyerah dengan itu semua? Buat apa terlalu pusing memikirkan masalah. Kenapa kita tidak fokus dengan kekuatan yang kita miliki? Kenapa kita tidak memaksimalkan passion yang kita miliki? Kenapa kita tidak mengakumulasikan energi positif yang (masih) kita miliki, dan jadikannya sebagai sumberdaya untuk membuat perubahan yang ingin kita lihat?
Energi positif itu pula yang membuat saya dan teman-teman di Indonesian Future Leaders terus berupaya menyalakan harapan kepada anak muda di negeri ini, mengajak semua berpartisipasi untuk menciptakan perubahan. Dulu kami pikir, jarak, waktu, tenaga, dana, bisa jadi kendala besar untuk melakukan ini semua. Tapi seiring waktu, kami belajar, dan saksikan, bahwa keteguhan hati bisa mengalahkan segalanya. Siapapun (tidak peduli siapa dan seperti apa dia), bisa melakukan sesuatu!
Jika saya bisa, kamu juga bisa! Jika mereka bisa, kita juga bisa!
Berbekal keteguhan hati dan pengetahuan secukupnya yang dimiliki, saya dan teman-teman berpikir untuk mengembangkan kampanye #AyoBerbagi, sebuah jawaban atas pertanyaan “Bagaimana cara kami memulai menginisiasikan aktivitas sosial di sekitar?”. Kata inisiasi menjadi kunci dari kampanye ini. Kami percaya bahwa konsep “berbagi” sebetulnya sangatlah luas spektrumnya, sangat membumi. Setiap orang bisa memiliki interpretasi yang berbeda-beda, dan dalam kesempatan ini kami ingin menginterpretasikan “berbagi” sebagai bentuk“inisiasi pemuda untuk perubahan sosial”. Kenapa inisiasi? Karena kami percaya sudah saatnya pemuda kita tampil jadi inisiator bagi lingkungannya, menggagas ide-ide cemerlang nan solutif, melihat tantangan sebagai peluang, dan memaksimalkan modal sosial yang ada.
Kami mencoba untuk merangkum materi-materi yang pernah kami dapatkan dari berbagai kegiatan yang pernah diikuti, mengingat kembali pengalaman pribadi ataupun best practices dari sekitar, dan kemudian mencoba untuk menyampaikan lewat video sederhana. Pada tahap awal kami merencanakan membuat video-video tutorial yang berisikan materi mengenai:
Selama 1 bulan Oktober – November, kami mengembangkan berbagai kegiatan yang fokus pada upaya mengajak anak muda untuk menginisiasikan aksi berbaginya. Sekilas mengenai kegiatan 1 bulan tersebut bisa dilihat di sini:
Apakah berhenti di situ? Tidak! Dalam perkembangannya, kini kami tak sabar ingin menyentuh topik-topik lain untuk membantu teman-teman muda mengembangkan proyek sosialnya dengan bahasan berbagai isu yang lebih praktikal. Tentu saja materi yang kami sampaikan tidak bisa dijadikan sebagai rujukan tunggal, karena kami sendiri juga masih belajar dan mungkin masih memiliki kekurangan di berbagai sisi. Tapi tentunya itu tak jadi hambatan untuk berbagi. Selama ada yang bisa dibagi, kenapa kita tidak berbagi? Kami berencana menerjemahkannya ke bahasa lain selain bahasa Indonesia, sehingga perlahan juga bisa membantu teman-teman di mancanegara yang juga terkendala pada akses informasi. Video-video dengan versi yang lebih lengkap dan lebih baik kualitasnya akan dijadikan CD kompilasi, yang bisa dibagi ke sekolah-sekolah dan komunitas yang tertarik.
Video-video ini masih amat sangat sederhana, dan jika ada pihak-pihak yang ingin membantu kami mengembangkannya, memperbaiki kualitasnya, kami akan dengan senang hati menerimanya! Harapannya lewat video-video ini, setidaknya bagi teman-teman yang belum bisa mengikuti workshop atau kegiatan kami, bisa sedikit terbantu. Bagi mereka yang terbatas akses informasinya, bisa jadi tahu . Tentunya workshop kreatif #AyoBerbagi dan coaching clinic di berbagai tempat akan terus diupayakan, tapi sembari menunggu, bisa dimulai dengan menonton videonya, dan memulai menginisiasikan aksi berbaginya. Jika ada sekolah/ kampus/ komunitasnya yang ingin didatangi juga bisa langsung menghubungi kami! Satu persatu akan kita coba bantu
Silahkan hubungi saya melalui email imanusman@gmail.com jika ada yang tertarik!
Berbagi bukan hanya soal mampu, tapi juga mau. Dan kami mau! Bagaimana dengan anda?
Pada saat peringatan Sumpah Pemuda kemarin gue sempat nge bikin 20 tweets di twitter dengan hashtag #beranimengubah. Mungkin ada yang ketinggalan, silahkan dibaca. Enjoy!
Dear tweeps, jelang momentum sumpah pemuda, gw mau share sdikit deh soal pentingnya kita (anak muda) u/ #beranimengubah DIRI & LING kt
Saya sering bilang: kenapa anak muda? Because we are BIG! Big in numbers, in ideas, innovation, and SPIRIT! #beranimengubah
Ketika orang tua banyak cerita ttg masa lalunya, anak muda akan cerita banyak ttg masa depan, mimpi2 nya #beranimengubah
Masalah2 yg dihadapi bangsa ini kompleks! Ga bs dserahin sama pmerintah doang, apalagi klo pmerintah nya kyk skrg (ups). Butuh kita! #beranimengubah
Kalo mau mngubah, ga prlu dr ssuatu yg “tampak” besar, tp dr yg kecil aja. Gunakn “what we have” u/ jd solusi “what we see” #beranimengubah
Aksi yg mau kita buat upayakan berbasis “What we have” (skills, passion, interest), shg “aksi perubahan” jd FUN & bkn jd beban #beranimengubah
Selain itu kalo berbasis “what we have” jg bs sustainable. Kt jd termotivasi u/ terus improve, dan mengembangkan aksi kt #beranimengubah
It’s our small action that lead us to the bigger action, with bigger impact. Yg penting konsisten melakukannya. #beranimengubah
Msh bingung gmn cara mulainya? Start by asking “WHY”! Saat saya & teman2 memulai @ifutureleaders, kt jg ask WHY? #beranimengubah
Seperti kata Jammie Allen, “If you want to be successful, ask Why? Why not? Why Not Me? Why Not Now?” #beranimengubah
Ask why (kenapa) ktk melihat brbg masalah di sekitar kt. Kenapa ada korupsi? Kenapa byk anak ga sekolah? Ask Why! #beranimengubah
Jangan Cuma bisa bilang “we have a lot of problems”, but we never know “why” the problems come. #beranimengubah
Ask Why Not (Kenapa tidak) ktk kita punya ide/ gagasan u/ menangani masalah tsb. Jgn ngerasa rendah diri ktk punya ide #beranimengubah
The person who doesn’t make mistakes is unlikely to make anything (Paul A). Edison perlu coba 200x agar lampunya benar2 bkerja #beranimengubah
Ide akan sekedar jd ide dan ga pernah berdampak kalo ga ada yg bring it into action. Ask: Why Not Me yg memulai? #beranimengubah
Byk yg bilang: gw akan mengabdi/ berbagi kalo udh umur 35,40,50. Klo udh kaya, udh lulus, dll. Kpn mau berbaginya? #beranimengubah
Memangnya yakin kt punya umur panjang? Memangnya yakin kalo values kt saat ini akan tetep sama? Kt ga pernah tahu #beranimengubah
Jd selama msh ada waktu, msh ada kesempatan, siapapun kita #AyoBerbagi, ayo #beranimengubah! Why not now?
Sekian ya kultwitnya, kalo ada yg punya cerita/ pengalamannya dalam #beranimengubah, yuk share! Cerita aja pglmn2 yg sederhana
Ayo berbagi sekarang! Bs dimulai dr tweets km ttg pengalaman #beranimengubah! Why not u? Why not now? Ditunggu ya
Thank you ya. The tweets above are dedicated to my beloved brothers and sisters in Indonesian Future Leaders. They are the ones who #beranimengubah!
Mungkin pendekatan S.M.A.R.T udah nggak asing lagi bagi teman-teman muda semuanya. Apalagi kalo yang udah biasa ngerjain proyek, apakah individu, di kampus, atau di komunitasnya. Ibaratnya ini adalah hal yang paling basic yang biasanya diajarin ke kita-kita. Saya sendiri pertama kali diajarin soal S.M.A.R.T pas SMP waktu ngelola proyek untuk massa banyak untuk pertama kalinya. Apa yang saya dapatin sewaktu SMP hingga sekarang juga beda-beda, meskipun masih dalam koridor yang sama. Definisi yang saya dapatkan juga semakin luas, dan cara-caranya juga semakin luas.
Belakangan banyak teman-teman yang nanya sama saya soal ini, dan terlintas untuk coba bikin slide nya yang saya rangkum dr berbagai sumber dan pengalaman pribadi saya. Kebetulan slide ini sempat saya presentasikan juga buat teman-teman di Aksi Kita Club Speak yang lagi mau bikin proyek sosial. Di dalam slide ini juga saya masukkan bagian soal “marketing youth venture” yang saya share beberapa waktu yang lalu di Indonesian Youth Netizen Day. Semoga bermanfaat
Salah satu kata yang paling saya gemari adalah “WHY” atau “Kenapa”. Banyak hal dalam kehidupan saya dimulai dari sebuah pertanyaan “Kenapa?”, dan itulah kemudian yang memandu saya untuk berbuat sesuatu. Jammie Allen bahkan pernah menuturkan “If you want to be successful, ask Why? Why not? Why Not Me? Why Not Now?”. Ungkapan di atas bisa dibilang persis banget menggambarkan kenapa kemudian saya dan segelintir teman-teman lainnya memilih untuk melakukan kegiatan “yang nggak biasa” – yang jarang dipilih oleh banyak orang – dibandingkan aktivitas anak muda lainnya.
WHY?
Berbagai macam masalah sosial yang ada di sekitar kita saat ini, yang nggak ada habis-habisnya bikin kita jadi geregetan kan. Kita sering mengeluh, kenapa sih banyak sampah dimana-mana? Kenapa sih kok makin hari makin panas aja? Kenapa sih metode belajar di sekolah saya nggak menyenangkan? Kenapa sih pengangguran di Indonesia bukannya berkurang malah nambah terus? Dan masih banyak lagi (kita bisa list jutaan masalah kalo mau bahkan). Tapi nggak ada gunanya kalo kita cuma bisa melototin dan tetap mengeluh, tapi do nothing.
Harusnya, dari masalah-masalah tersebut, kita bisa memunculkan pertanyaan “Kenapa” dan mencoba untuk mencari tahu jawabannya. Kenapa bisa begini? Kenapa bisa begitu?
WHY NOT?
Ketika kita udah tahu apa penyebabnya, kadang kita masih diam aja dan tidak terpikir untuk mulai bergerak. Sering kali kita takut atau ngerasa nggak pede dengan solusi versi kita. Kita ngerasa rendah diri dengan kapasitas dan kapabilitas kita, takut untuk gagal. Padahal kenapa tidak dicoba dulu? Kalo nggak dicoba, kita nggak akan pernah tahu kan? The person who doesn’t make mistakes is unlikely to make anything (Paul Arden). Thomas Edison perlu mencoba hingga 200x untuk membuat bola lampu kreasinya benar-benar bekerja. Benjamin Franklin juga pernah bilang “I haven’t failed, I have had 10.000 ideas that didn’t work”. Jadi kalau punya ide, kenapa tidak?
WHY NOT ME?
Sering kali kalaupun udah tahu dan udah punya semangat untuk melalukan perubahan atau memberikan solusi terhadap suatu masalah, semangatnya cuma disimpan aja, atau paling pol dibayang-bayangin aja sendiri. Padahal, kenapa nggak kita share sama teman kita yang lain yang punya visi serupa. Siapa tau justru banyak yang punya gagasan serupa, tapi selama ini karena diam aja, kita nggak tahu. Kalaupun misalnya masih belum pede untuk mulai gerakan yang gede, kenapa nggak kita mulai mencoba untuk menerapkan perubahan itu di diri kita? Siapa tahu banyak orang yang justru jadi terinspirasi dan termotivasi sama aksi individual kita? Kenapa bukan saya yang memulai?
WHY NOT NOW
Saya sering kali berjumpa dengan teman-teman seusia saya (belasan atau early 20ies) yang punya mimpi besar buat Indonesia. Punya cita-cita luhur pengen ngebangun bangsanya lewat jalur yang beda-beda. Ada yang bilang mau bikin sekolah, ada yang mau bikin organisasi sosial, ada yang mau bikin majalah, dan lain – lain. Tapi kebanyakan bilangnya “gue kerja dulu 20 tahun, ngumpulin uang, abis itu bisa mengabdi”. Well, nggak salah sih.. mungkin memang sudah punya perencanaan yang matang. Tapi yang kepikiran oleh saya, kalo memang bisa sekarang kenapa harus nunggu nanti? Misalnya, bercita-cita pengen bikin sekolah. Mungkin “sekolah ideal” yg ada di pikiran masih 20 tahun lagi, tapi bisa dimulai dengan “sekolah kecil”, menjadi relawan mengajar di berbagai program adik asuh, atau mulai peduli dengan isu-isu pendidikan. Mau bikin majalah? Mungkin bisa memulai dengan bikin newsletteratau bulletin online, mulai rajin menulis blog dengan konten-konten yang sesuai dengan passion nya. Intinya, kalo bisa sekarang kenapa harus nunggu nanti. Why not now?
Jadi, bagaimana? Siap memulai dengan KENAPA? KENAPA masih diam? Ayo bergerak!
Tinggal menghitung hari, masa perkuliahan akan kembali dimulai. Sudah lama rasanya tidak mengecap bangku kelas, duduk tenang (ataupun tidak) menyimak dosen yang mengajar. Jika tak salah, terakhir kali itu terjadi akhir bulan Mei silam, dan seiring berjalannya waktu, ternyata hampir 3,5 bulan saya libur! Woo! Bukan waktu yang singkat untuk “berlibur”, tapi juga bukan waktu yang cukup panjang untuk mencoba apa yang mau saya coba.
Well, seperti yang sering kali saya bilang, liburan itu adalah saat dimana kita bisa mengerjakan hal-hal yang tidak bisa kita lakukan di hari biasa (normal). Tidak musti harus jalan-jalan ke sebuah tempat wisata, as long as kita enjoy ngejalaninnya, why not? Makanya, typical liburan saya mungkin beda dengan si A, beda dengan si B, karena apa yang kita suka juga beda-beda kan?
Most likely, sebenarnya di 3,5 bulan terakhir aktivitas saya banyak yang sudah terencana jauh-jauh hari dan terlaksana dengan matang, khususnya aktivitas bersama Indonesian Future Leaders (saya senang, bahagia, bangga, bisa menghabiskan hari-hari bersama teman-teman semua), yang mungkin mendominasi rutinitas saya selama liburan. Tapi juga banyak agenda random yang tiba-tiba muncul, termasuk perjalanan ke New York bulan lalu – Kita Manusia hanya bisa berencana, tapi tak punya kuasa untuk menentukan segalanya kan?
(Pengen nge-upload smua foto dari semua jenis kegiatan, tapi apa daya internet saya agak lemot saudara-saudara), dan banyak juga yang nggak punya fotonya. lol
IFL Projects
Salah satu hal yang saya paling syukuri selama liburan ini adalah produktivitas super tinggi dari IFL, yang membuat gue benar-benar menikmati liburan kali ini. IFL juga mungkin yang bikin liburan jadi nggak kerasa, tiba-tiba udah mau kuliah lagi. Udah nggak keitung lagi, entah berapa meeting yang diikutin (mulai dr BPH, projects, pleno), perdebatan (apalagi pas masa-masa rekrutmen staf baru), camp, projects, dll. Terima kasih teman-teman IFL baik yang di pusat dan di cabang!
Speaking
Salah satu bentuk aktivitas berbagi yang saya senangi. Karena bisa berdiskusi langsung dengan banyak anak muda dari berbagai daerah, dari berbagai kalangan. Liburan kali ini juga jadi seru, karena saya banyak mengeksplorasi topik-topik baru (jadi ga melulu cuma ngomongin IFL aja )- dan terima kasih atas kesempatan-kesempatan yang diberikan kepada saya. Lewat tulisan ini, saya juga minta maaf jika ada beberapa tempat yang tidak bisa saya kunjungi/ penuhi undangannya, karena keterbatasan waktu dan fisik saya. Pengen banget bisa mampir ke daerah-daerah lain, ataupun lebih banyak sekolah lagi, dan berkegiatan bersama teman-teman
Conferences/ Meeting
Vacation
Ini pure bersenang-senang tanpa beban pikiran apapun
Most likely, inilah beberapa kegiatan yang paling sering saya habiskan. Tapi bukan berarti saya nggak main/ hang out bareng teman-teman juga loh. Gilee aja.. Apalagi momentum ramadhan, membuka banyak kesempatan untuk ketemu dengan teman-teman lama, buka puasa bareng, kumpul-kumpul, dll. Plus, BACA BUKU!!! Akhirnya saya bisa baca buku-buku yang selama ini tergeletak rapi, atau bahkan belum terlepas dari sampulnya (ini parah), meski belum semuanya khatam. lol.
Bagaimana dengan liburan teman-teman? Semoga juga menyenangkan ya!
Siapa sih yang nggak pengen sekolah ke luar negeri? Tanpa bermaksud untuk mengkerdilkan pendidikan di negeri kita, tapi memang sekolah ke luar negeri jadi salah satu daya tarik bagi kebanyakan pelajar di Indonesia, dan Amerika Serikat mungkin jadi salah satu tujuan utama (atau favorit). Sebelumnya, gue sempat sharing tentang apa sih kelebihan sekolah ke luar negeri. Intinya, mulai dari mendapatkan guru-guru terbaik di dunia, fasilitas yang super lengkap yang mendukung kegiatan belajar, teman-teman yang berasal dari berbagai negara (diversed), koneksi global, perpustakaan dengan buku-buku terlengkap, serta nilai-nilai hidup yang mungkin baru bisa kita temukan ketika berada di luar zona nyaman (kemandirian, toleransi, kesabaran, dll), adalah segelintir dari manfaat yang bisa kita temukan ketika sekolah ke luar negeri. Teman saya, Marsha Sugana pernah menulis soal Indonesian vs American Education di Jakpost juga
Jangankan sekolah ke luar negeri, kegiatan pertukaran pelajar singkat, pelatihan, atau bahkan liburan sekalipun banyak memberikan manfaat bagi kita. Saya sebelumnya sempat share juga mengenai hal ini, di kampus saya, FISIP UI. Intinya, bagi teman-teman yang beruntung untuk ikutan segala macam kegiatan di luar negeri, pesan gue (yang selalu juga gue ingetin ke diri gue sendiri – jangan lupa untuk give back! Nggak semua orang bisa seberuntung kita ) :
Makanya, mungkin salah satu pertanyaan yang paling sering gue terima adalah:
1. Gimana sih caranya dapat beasiswa untuk sekolah ke luar negeri?
2. Apa aja yang harus dipersiapkan kalau mau sekolah ke luar negeri?
Well, sebetulnya pertanyaan ini “agak salah alamat” kalo ditanya ke gue. Karena gue sendiri bahkan belum pernah (benar-benar) sekolah di luar negeri (at least untuk waktu yang lama). Herannya pertanyaan kayak gini sering banget gue terima, dan membuat gue ngerasa bertanggungjawab untuk share, at least apa yang gue tahu dan apa yang gue udah denger dari teman-teman yang udah berhasil sekolah ke luar negeri.
Pertanyaan 1: Bagaimana caranya dapat beasiswa?
Well, untuk pertanyaan ini jujur agak sulit ngejawabnya. Karena gue sendiri aja masih s1, dan juga punya pertanyaan yang sama “gimana ya dapat beasiswa ke luar negeri buat s2?” – The only thing I know, Be Prepared! Bersiap! Bersiap! Yes, beasiswa (apalagi untuk sekolah ke luar negeri) bukan hal yang bisa disiapin semalam, tapi itu butuh waktu, butuh proses! Mulai dari mempersiapkan diri dengan kapasitas kita, sampai be updated dengan informasi beasiswa itu sendiri. Seringkali kita cuma tahu universitas-universitas kayak Harvard, Columbia, Yale (Ivy League) di AS – padahal sebenarnya ada banyaaaak banget universitas lain yang kualitasnya juga bagus. Cuma, kita seringnya nganggap yang nyediain beasiswa dan “bagus” cuma universitas-universitas itu aja loh. Padahal belum tentu loh universitas yang secara umum bagus rankingnya, tapi juga bagus untuk major (jurusan) yang mau kita ambil. So, intinya be prepared, be updated with information. Biasanya, pembukaan beasiswa itu hampir sama kok waktunya setiap tahunnya – jadi waktunya yang harus kita tahu. Kalopun misalnya kamu mau ngambil s2 2 tahun lagi, atau masih lama (menurut kamu) nggak ada salahnya untuk cari-cari info dari sekarang, soal waktu pendaftaran, dll. Jadi ketika itu beneran datang, you already well prepared!
Beberapa links yang bisa dijadikan rujukan untuk informasi ranking di AS*:
Businessweek also has a pretty good list of MBA/BBA Rankings, tapi they use different methods of ranking the schools, though they are considered more legitimate than FORBES by employers:
Selain universitas, perhatikan juga dengan kota dimana universitas itu berlokasi. Kadang itu dijadikan pertimbangan juga! Karena kan kalo sekolah disana, kita nggak cuma belajar aja – tapi juga punya kehidupan lain di luar itu.
* Thank you Marsha Sugana for helping me with the links
Pertanyaan 2: Apa sih yang harus dipersiapkan kalo kuliah/ sekolah ke luar negeri?
Note: Jawaban ini saya rangkum aja ya dari cerita teman-teman saya yang udah duluan kesana. Once more, I am not the expert in this field, tapi ya hanya mencoba membantu saya (moga-moga ga sotoy )
1. Persiapan Aplikasi
Selain hal-hal wajib yang sifatnya akademik (kayak transcript), SAT/ GMAT/ GRE (Jadwal tes International SAT bisa dilihat di sini), dll (cek apa aja syarat2 yg dibutuhkan di website universitas yang kamu tuju – perhatikan bahwa kamu mengisi forms yang tepat - there might be couple of application forms that you have to prepare). Selain itu, kalo misalnya mau ke US, sekarang ada namanya Common Application (jadi kamu ga perlu ngisi application berjuta-juta kali untuk apply ke beberapa univ di sana – tp remember, kadang ada beberapa suplemen apps yang harus dipersiapkan u/ brp univ tertentu). But It helps!
Ada juga hal-hal lain yang juga ga kalah pentingnya untuk dipersiapkan:
Bahasa
Kita harus tahu bahasa apa yang digunakan baik bahasa pengantar saat kuliah, maupun bahasa sehari-hari. Meskipun misalnya bahasa pengantarnya adalah Bahasa Inggris, tapi kalo bahasa sehari-harinya adalah Perancis/ Spanyol, you need to survive, right? Biasanya sejumlah universitas menetapkan syarat untuk kemampuan berbahasa asing, khususnya bagi calon siswa dari negara yang tidak menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utamanya. Terus gimana dong? Yups, TOEFL. Biasanya, TOEFL yang digunakan juga yang IBT (internet based toefl). Kalau merasa kemampuan berbahasanya masih kurang, jangan khawatir. Itu gunanya mempersiapkan diri jauh jauh hari, supaya kita juga bisa belajar lebih banyak soal bahasanya. Informasi tes TOEFL, salah satunya bisa dilihat disini.
Essay
Janganlah essay diremehkan! Ini jadi salah satu bagian yang vital. Kalo misalnya prestasi akademik cenderung biasa-biasa aja, essay bisa ngedongkrak banget. Atau kalaupun prestasi akademis dan non-akademisnya luar biasa, tapi pas di essay “zzzz” banget – juga dipertanyakan Di video yang gue upload di bawah (yg At America) – Juris (salah satu pembicara) di bagian akhir videonya – ngejelasin banget soal pentingnya essay dan gimana waktu dia bikin essay dulu. Intinya, membuat essay adalah salah satu bagian yang membutuhkan waktu yang cukup panjang, dan butuh latihan. Kamu bisa memulai dengan sering-sering membaca contoh essay dari siswa-siswa yang berhasil lolos ke universitas top (banyak kok dijual di toko buku) – atau bisa juga searching di Internet (misalnya ini). Jangan lupa minta orang untuk proofread essay kamu.
Recommendation Letter
Biasanya diminta beberapa surat rekomendasi. Surat rekomendasi biasanya diberikan oleh orang di luar keluarga inti. Dan biasanya berasal dari dua kalangan: lingkup sekolah (akademis) dan luar sekolah. Make sure bahwa orang yang surat rekomendasi buat kamu, adalah orang yang kenal dengan kamu secara personal, sehingga bisa menjelaskan who you are secara spesifik. Surat rekomendasi bukan cuma bilang hal-hal general kayak “Iya si A anak yang pintar dan rajin”, tapi sangat spesifik misalnya “A adalah anak yang punya kemauan keras untuk mengejar apa yang diimpikannya. Sewaktu itu… / di kelas saya …. ” – so, kalo orangnya nggak kenal sama kamu, gimana orangnya bisa ngasih rekomendasi tentang kamu. Ada baiknya, kamu juga kasih contoh surat rekomendasi itu kayak apa (bisa di googling) – jadi orangnya punya bayangan, apalagi kalo dia belum pernah bikin surat rekomendasi sebelumnya. Dan jangan deadliner! Kasih waktu yang cukup buat si orang itu untuk berpikir dan menuliskannya
GRE
Ini bisa dibilang graduate level version of SAT. Hampir semua universitas, kalo teman-teman mau ngambil semua program S2 menetapkan syarat GRE. Apa aja tes nya?
Verbal Reasoning — Measures your ability to analyze and evaluate written material and synthesize information obtained from it, analyze relationships among component parts of sentences and recognize relationships among words and concepts.
Quantitative Reasoning — Measures problem-solving ability, focusing on basic concepts of arithmetic, algebra, geometry and data analysis.
Analytical Writing — Measures critical thinking and analytical writing skills, specifically your ability to articulate and support complex ideas clearly and effectively.
Let’s say kamu sekolah di luar negeri bukan dengan beasiswa, nah penting banget mengkalkulasikan biaya yang dibutuhkan sebelum berangkat. Biasanya, pertimbangan biaya juga jadi salah satu pertimbangan dalam menentukan mau sekolah dimana. Karena taraf hidup di satu kota bisa aja beda dengan kota lainnya, meski masih dalam 1 negara. Kalaupun kamu dapat beasiswa, perhatikan juga apakah beasiswa tersebut sudah menanggung biaya yang dibutuhkan sepenuhnya? Saran gue, mungkin bisa banyak-banyak diskusi atau ngobrol sama temaan/ saudara/ senior/ dosennya yang pernah sekolah di sana, at least bisa jadi gambaran.
3. Kelengkapan Akademis dan Aplikasi
Make sure bahwa semua persyaratan yang dibutuhkan sudah lengkap (check list lagi ya) – dan kamu juga sudah siap secara mental dan finansial ! Kirimkan tepat waktu! Jangan sampai terlambat – sisakan waktu yang cukup untuk potensi keterlambatan
Mau lebih lengkap lagi, bisa juga nonton beberapa video yang menurut gue cukup relevan dan recommended:
Pertama, waktu gue ikutan sharing session di At America dan dengerin kisah temen-temen yang udah nyemplung langsung sekolah di sana (jadinya tips nya lebih terpercaya ). Di video ini, teman-teman bisa dapat info paling basic soal pendidikan di AS, gimana cara mempersiapkan dapat beasiswa, ampe soal student’s life dari perspektif anak muda Indonesia sendiri. Very recommended to watch the last part (Juris Tan) yang ngomongin soal How To:
Kalau videonya mendadak, nggak bisa diakses, silahkan klik disini.
Dan yang kedua, video dari AccessEdu yang menurut gue cukup singkat dan padat (kalo males nonton video yg panjang di atas) – untuk ngejelasin tips-tips yang lagi kita bahas ini.
Kalau masih bingung, dan males ngurus (sebenarnya ga boleh malas), dan larut dalam kebingungan sendiri, bisa juga pake jasa konsultan yang bisa ngebantu kamu mempersiapkan dari A sampai Z. Tanpa bermaksud promo, mungkin salah satu yang cukup credible adalah AccessEduyang bisa juga mulai tanya-tanya via twitternya.
Nah, semoga sedikit tulisan ini bisa membantu teman-teman yang lagi berharap dan berjuang untuk bisa sekolah di luar negeri. Ga salah kok mimpi tinggi-tinggi, toh pendidikan memang jadi eskalasi hidup kita (seperti yang selalu dibilang Mas Anies Baswedan kepada saya ) – Kalau ada yang mungkin punya pengalaman serupa, mungkin bisa sharing dan nambahin juga Coba cari informasi dari sumber lain juga ya, siapa tahu saya ada yang terlupa atau terlewatkan. Semoga bermanfaat . Kalau menurut teman-teman ini bermanfaat, silahkan di share ke yang lain. Let’s make more Indonesians going abroad for good
Note: salah satu website yang cukup oke untuk dijadikan panduan juga (khususnya buat yang mau kuliah di AS): College Confidential
Tulisan ini merupakan cerita yang saya tulis dalam kapasitas personal saya, bukan mewakili kapasitas pemerintah Indonesia. Adapun hasil resmi dan follow up dari kegiatan sudah disampaikan pada pihak-pihak terkait.
2 Minggu Sebelum Keberangkatan
Bu Rieke: “Iman, udah tahu kalau ada High Level Meeting on Youth di New York akhir Juli ini?”
Iman: “udah bu. Kenapa bu?”
Bu Rieke: “kamu berangkat nggak? Biasanya kan kalo isu pemuda kamu diundang?”
Iman: “belum tahu Bu, tapi sepertinya tidak, kalau tidak ada yang support untuk biaya perjalanan”
Bu Rieke: “saya coba usulkan dulu ya. Kamu kan cukup concern di isu ini, harapannya bisa berbuat sesuatu kalau berada di sana”
Iman: “Terima kasih Bu”
—
Begitulah awal cerita perjalanan saya ke New York selama 2 minggu belakangan ini dimulai, memang ini bukan pertama kalinya saya berangkat ke New York, dan juga bukan New York nya yang menjadi sangat spesial. Bagi saya negara manapun yang dikunjungi, tetap menarik untuk diamati dan dinikmati. Hanya saja, momen-momen seperti High Level Meeting kesempatannya sangat jarang sekali terjadi. High Level Meeting atau Konferensi Tingkat Tinggi merupakan sidang yang biasanya mengundang High Level Figures, seperti Presiden, Menteri, atau focal point dalam isu tertentu. Isu pemuda jarang sekali dibicarakan dalam pertemuan tingkat tinggi, dan ini jadi momentum penting bagi upaya advokasi isu partisipasi pemuda di dunia. Momentum ini juga bertepatan dengan International Year of Youth yang dimulai dari tahun lalu, dan akan berakhir tahun ini.
Terlibat dalam forum seperti ini juga memang bukan hal yang baru bagi saya (dan juga tidak perlu dibanggakan), tapi yang membuat ini spesial adalah isu yang dibahas fokus pada upaya partisipasi pemuda, yang selama 9 tahun terakhir menjadi perhatian utama saya dalam melakukan gerakan. Biasanya isu pemuda, dibahas dengan digandeng dengan isu-isu lainnya, dan hanya dibahas sepintas. Artinya, ini kesempatan langka untuk bisa menyuarakan apa yang menjadi keprihatinan saya selama ini.
Alhasil, meskipun diinformasikan 2 minggu jelang keberangkatan, saya mencoba melalukan berbagai persiapan. Saya cuma mau make sure, bahwa kesempatan ini ga terlewatkan begitu saja, nggak sekedar jadi “ajang ketemu” dengan para pemuda lainnya, atau sekedar jadi pembicaraan di ruang sidang saja, tapi bisa ada follow up nya. Saya cuma mau make sure bahwa duit negara yang dipake untuk mengirim saya ke-sana benar-benar terpakai dengan semestinya, dan bisa benar-benar bermanfaat. Saya nggak mau memperpanjang “kisah delegasi Indonesia yang kalau keluar negeri cuma jadi jalan-jalan”. So, dalam 2 minggu sebelum berangkat, saya sering mondar-mandir KEMLU, ngomongin rencana poin bahasan selama sidang disana, research, menghubungi stakeholders terkait. Simple, tapi menjadi tidak mudah, karena dalam 2 minggu tersebut jadwal saya benar-benar hectic. Saya harus bolak-balik Jogja, Bali, Jakarta, Jogja, Padang, Jakarta – karena aktivitas-aktivitas di IFL. Tidak mudah untuk mengabaikan liburan bersama teman-teman ke Karimun Jawa. Tidak mudah juga karena jadwal keberangkatan ke New York ternyata bertepatan dengan 5 acara lainnya, yang terpaksa tidak dapat saya hadiri. Dan lebih tidak mudah lagi, karena sebenarnya jadwal berada di New York adalah jadwal saya mudik, dan bertemu dengan keluarga di Padang – yang terpaksa harus saya persempit waktunya dari pulang kampung 1 minggu, jadi Cuma 1 hari 1 malam – berasa mimpi.
Saya sadar, bahwa ada kalanya rencana yang sudah saya atur sedemikian rupa tidak dapat berjalan sesuai kehendak saya. Ada kekuatan yang lebih besar dari saya yang menentukan segalanya. Ada saatnya saya harus melupakan kepentingan pribadi, untuk kepentingan yang lebih besar, negara!
Entah Apa Rencana Tuhan
Entah apa rencana Tuhan, 1 minggu sebelum berangkat saya menerima email dari Lauren (Vice President We Are Family Foundation – organisasi yang menganugerahi saya Global Teen Leader pada Maret lalu), singkatnya:
Lauren: “Iman, do you have any plan to come to New York around August? We nominated you for an award here”
Iman: “Hi, yes I will come to New York at the end of July. But I am not sure for the beginning of August, whether I will be there or not. But if it is that important, I will check”
—
Lauren: “Iman! Congrats, you just selected as one of the awardees of Youth Achiever Recognition by Youth Assembly at the United Nations, and you know what? You are invited to deliver keynote speech at the closing program at the United Nations”
Saya sempat diam, bingung, nggak tahu ngomong apa. Bingung karena, kok bisa sebegitu kebetulannya dua hal yang ga saya duga-duga datang dalam waktu yang hampir bersamaan? Bingung juga karena, apa nggak salah nih yang ngasih award? Karena saya udah pernah dapat award yang sama dua tahun sebelumnya, dan setahu saya belum ada yang menerimanya 2x”
Akhirnya setelah melalui berbagai pertimbangan, saya putuskan untuk memperpanjang durasi stay saya selama 1 minggu. Saya minta izin ke KEMLU, apa boleh jadwal flight pulang saya ditunda 1 minggu. Saya jelaskan persoalannya, dan saya bilang for the rest of my stay, saya yang tanggung biayanya. Untungnya, KEMLU nggak keberatan, dan mendukung upaya saya.
So, berangkatlah saya ke New York dengan berbagai ekspektasi.
Saya diberangkatkan sendiri 1 hari lebih awal, dengan harapan saya bisa berkonsolidasi terlebih dahulu dengan tim di New York. Dan sesampai di sana, saya takjub dengan keramah-tamahan orang-orang di PTRI (Perwakilan Tetap RI untuk PBB) – saya diperlakukan sejajar seperti diplomat lainnya. Suara dan concern saya didengarkan dan dijadikan pertimbangkan. Bukan berarti kedutaan kita di negara lain nggak ramah loh, tapi jarang saja menemukan pihak pemerintah yang memperlakukan anak muda dengan sejajar.
Saat Sidang…
Momen menarik dan menjadi kejutan adalah saya benar-benar diberikan kesempatan untuk bertindak sepenuhnya selama sidang. Awalnya saya piker, posisi saya sebagai adviser dalam delegasi hanya akan memberikan masukan dan usulan-usulan pada diplomat senior. Ternyata, di luar dugaan pak Hasan Kleib (Ketua Delegasi, Wakil Tetap RI untuk PBB) bilang “ini kan acaranya kamu, kamu gantikan saya saja”.
Saya bukan main senangnya, karena saya bisa menyampaikan poin intervensi sepenuhnya dalam kapasitas saya sebagai pemuda, saya bisa menulis ulang poin intervensi yang semula sangat “diplomatis” dan “elitis” dengan bahasa saya sendiri sebagai pemuda. Saya diperbolehkan menyampaikan rekomendasi-rekomendasi untuk pemerintah, dll. Kesempatan yang saya syukuri, dan bagi saya hampir seperti mukjizat. Terlebih lagi, ketika poin intervensi yang saya sampaikan ternyata banyak diapresiasi oleh negara-negara lain. Dengan ID card “adviser” saya diperbolehkan masuk ke ruangan mana saja di gedung PBB, termasuk observing suasana sidang di UN Security Council.
Hari kedua sidang, setiap negara akan menyampaikan country’s statement nya yang menyebutkan pandangan negara mengenai isu yang dibahas, apa yang sudah dilakukan, serta komitmen ke depannya. Sejumlah negara diwakili oleh Presiden nya langsung, atau Menteri Pemuda. Saya sedikit kecewa, karena tidak ada “orang penting” dari negeri kita yang datang langsung. Tapi setidaknya saya masih bersyukur bahwa Indonesia masih bs mengirimkan delegasi pemuda (meskipun hanya saya sendiri) – jika dibandingkan negara-negara lain yang mayoritas tidak mengirimkan.
15 Menit sebelum giliran Indonesia, tiba-tiba pak Hasan (Ketua Delegasi – yang semula direncanakan menyampaikan pidato) bilang ke saya: “Kamu saja deh yang pidato di depan. Ini acara kamu, dan sudah sepantasnya anak muda yang maju. Saya sudah sering di depan, tapi kalo kamu? This is your chance! Mau kan?”
Saya diam dan agak shocked seusai mendengar pertanyaan pak Hasan, tapi nggak pake lama saya bilang. “Yes, I will Pak”. Padahal meskipun saya terlibat dalam memberikan masukan untuk konten pidato tersebut, saya belum pernah berlatih as if saya yang akan baca. Akhirnya, dengan waktu yang terbatas saya Cuma sempat latihan 1 kali sebelum maju, saya beranikan diri. Dalam benak saya, kalau nggak sekarang kapan lagi saya bisa bicara di podium itu? Podium yang jadi mimpi kebanyakan anak HI, podium yang biasanya jadi tempat Sekjen PBB, Kepala Negara, Duta Besar menyampaikan pandangannya. Bahkan menjadi diplomat, juga belum tentu bisa berada di sana. Dan sekarang saya dikasih kesempatan, tidak akan saya lewatkan. Yang saya tahu, yang akan saya sampaikan memang jadi pandangan saya, memang keprihatinan saya, dan saya harus menyampaikannya dengan passionate.
Selama High Level Meeting on Youth saya juga berkesempatan bertemu dengan wakil pemuda dari negara-negara lain, serta ikutan nimbrung di beberapa side events nya. Diskusi di side event jauh lebih seru sepertinya :0
Boston
Setelah sidang berakhir, praktis jadwal saya kosong selama 1 minggu. Mau keliling-keliling New York juga nggak terlalu bersemangat, karena hampir semua must visit nya sudah dikunjungi (sebenarnya mau ngehemat juga. Lol). Dan kesempatan ini lebih banyak saya manfaatkan untuk ketemu dengan teman-teman di AS, coach saya Jayme Illien yang kebetulan lagi di New York juga, dan juga mengunjungi beberapa NGO di sana. Lumayan bisa diskusi dan ketemu orang-orang
Yang menarik juga, akhirnya saya ke Boston! Singkat cerita.. Oh.. ternyata itu yang namanya Harvard.
3 Hari Yang Berakhir dengan Sempurna
Tiga hari terakhir menjelang pulang, praktis perhatian saya sepenuhnya berada di persiapan keynote speech di PBB. Memang saya hanya bicara 10 menit, tapi bagi saya 10 menit itu akan jadi salah satu bagian terpenting dalam cerita hidup saya. Apa yang akan saya sampaikan, bisa saja justru jadi lelucon seumur hidup, atau sebaliknya mungkin bisa menginspirasi orang-orang yang hadir untuk bergerak melakukan sesuatu untuk komunitasnya. Jauh lebih gampang jika seandainya saya disuruh membahas satu topik tertentu, dibandingkan ketika saya diminta untuk menjelaskan apa yang sudah saya lakukan, apa pandangan saya, dan apa legacy yang ingin saya tinggalkan pada peserta. Terima kasih buat semua yang sudah terlibat dan membantu saya menyiapkan ini semua, buat mas Ricky, Nancy Hunt, Ghian, yang sudah bantu untuk proofreading, buat teman-teman IFL, Kick Andy, Young on Top, dll (yg tdk bs saya sebutkan satu persatu) atau dukungannya. Dan buat keluarga saya pastinya
UN Youth Assembly diikuti oleh tak kurang dari 700 pemuda dari berbagai negara di dunia. Sungguh sebuah kehormatan bagi saya pribadi, dan juga Indonesia untuk menjadi orang terakhir yang menyampaikan pidato pada acara yang luar biasa ini. Sebelumnya, pembicara-pembicara kelas dunia seperti Ban Ki Moon, Ambassador Susan Rice, Direktur United Nations Information Center, dan berbagai social entrepreneur sertaworld youth activist juga menyampaikan pidatonya.
Akhirnya seperti yang mungkin teman-teman dengar, Alhamdulillah misinya berjalan sukses. Dan saya baru tahu, ternyata kenapa saya dikasih award lagi tahun ini. Ternyata tahun ini ada 2 kategori,:
The Youth Achievement Recognition are given in two categories:
The Youth Assembly Recognition for Excellence honors the top outstanding students who have done great service to the global community through their leadership and innovation.
The Youth Assembly Recognition for High Achievement recognizes those individuals for their dedication to humanitarian aims, which is apparent from the impact that they have had on their organizations, schools and communities.
Alhamdulillah saya terpilih untuk mendapatkan Recognition for Excellence bersama 3 pemuda dari AS, 1 dr Kanada, 1 dari Korsel, dan 1 dari India. Terima kasih sekali lagi untuk We Are Family Foundation yang sudah menominasikan saya.
Menutup cerita yang (cukup) panjang ini, saya hanya ingin menyampaikan terima kasih buat semuanya, terkhusus untuk KEMLU dan PTRI New York! Dan semoga sedikit yang bisa saya kontribusikan ini, bisa jadi pemacu buat yang lain juga untuk bergerak. Think Big, Make it Happened!