Posted: April 22nd, 2012 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Notes, Personal | No Comments »
Di suatu malam, tiba-tiba nge twit random
I should know better when enough is enough. Sometimes I have to give up the fight and walk away. I need to move to something more productive
But if you want it so bad, you will try to goo beyond your limit. You will push your self to the end of the battle. Will I?
When you were child, people told u to dream as high as sky. But now, even footprints already left on the moon. Even the limit changes.
You know the limit is not limited. But, at then end you are the one who knows whether u have to push yourself beyond your limit or not.
Living in others’ expectations just make you frustrated. Because you (will) know, that you are not going to win in every single time.
There is a moment when you’re proud and happy with what u get. You get the expected. But it’s not going to happen everytime.
Therefore, being the unexpected, then getting the unexpected gives more satisfaction. But once you win, you’re no longer a darkhorse.
But then, it’s your option, whether you want to stay win as the snake’s head, or move to be a dragon’s tail.
You know that being a dragon’s tail will not make u come to the spotlight. But that’s the process u need to make u become a dragon’s head.
Even, when you become the dragon’s head, you still have to compete with the other dragons. The process is keep going on. No limit rite?
Even, when u get the highest one, u still have to maintain it. How far, how long you can do that? Living in others’ expectation forever?
Argh.. this is life, this is real. It’s not a fairy tale. The ideals are only in your head. So, just face it like a winner does.
The society constructs what is good and what is bad. Living in theirs will never get you to the end. What can u do then?
Just change how they shape the construction. Make them follow yours. Or just be happy with what u choose, leave what they think/ and say.
Ah.. sudahlah. Biarkan mereka bilang apa, biarkan mereka menaruh asa. Sampai kau sendiri rempa, ingat kau ada rasa.
Posted: February 8th, 2012 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Events, Personal | Tags: mimpi, parlemen muda | 3 Comments »
All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them – Walt Disney
Saya adalah orang yang selalu percaya bahwa tidak ada yang namanya batas dalam bermimpi. Bahkan dulu ketika kecil, kita diajarkan “gantungkan mimpimu setinggi langit”. Tapi sekarang? Don’t say that limit is the sky, the human’s footprint is already there. Artinya sudah ada manusia yang berhasil menembus langit, jadi nggak ada yang nggak mungkin kan?
Sejak kecil, bisa dibilang saya orang yang nggak pernah puas dengan setiap raihan yang mampu saya capai. Bukan berarti saya tidak bersyukur loh. Tapi saya selalu percaya, bahwa selalu ada ruang untuk perbaikan dan ruang untuk inovasi. Saya boleh berbangga, tapi tidak menjadikannya sebagai sebuah capaian yang harus ditutup begitu saja. Saya sering menganalogikan, jikalau saya mencapai sesuatu, itu ibarat saya hanya berhenti di terminal, bukan tujuan akhir dari perjalanan saya. Saya harus berhenti di terminal, untuk menuju terminal lainnya. The final destination is death.

Dalam beberapa tulisan lainnya, saya pernah bercerita, kalau saya dulu sering dipandang sebelah mata, apakah itu karena usia saya, fisik saya, pilihan yang saya ambil, dan sebagainya (we can make a long list of it). Thank God, meskipun sulit pada awalnya untuk melewati itu semua (apalagi usia saya masih tergolong muda untuk menghadapi pressure semacam itu), tapi kini pengalaman-pengalaman masa lampau itu justru jadi sumber kekuatan bagi saya. That painful realities that made me stronger. Kita nggak pernah tahu rasanya bahagia kalau nggak pernah sedih, kita juga nggak pernah tahu rasanya manis kalau nggak tahu manis.
Meskipun kadang saya suka bingung dan merenung lama (bahkan sangat lama), kenapa ya kadang tujuan kita baik, tapi orang tidak selamanya menganggap itu baik. Kenapa ya kadang kita masih dicurigai, dipandang negatif, padahal di luar sana ada banyak orang yang (jelas-jelas) jahat, tapi orang tidak begitu ambil pusing. Kenapa ya? Kadang sempat itu membuat saya jenuh dan mungkin ingin menyerah melakukan apa yang saya lakukan. Saya sempat berpikir, mungkin hidup saya akan jauh lebih tenang jika saya hidup layaknya orang pada umumnya. Hanya menjalani rutinitas yang sama setiap harinya.
Namun saya sadar, bahwa mungkin hidup saya akan jauh lebih tidak tenang jika saya hanya bisa diam, dan melihat ketidakadilan dan ketimpangan terjadi. Di saat saya tahu apa yang seharusnya (atau idealnya) terjadi. Apa saya masih bisa tenang? Apa artinya hambatan-hambatan kecil ini dibandingkan apa yang ingin diperjuangkan? Dibandingkan mimpi yang saya terus rajut sedari kecil, melihat Indonesia yang lebih baik, lebih ramah bagi anak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. Bagaimana dengan mimpi saya melihat Indonesia yang damai dan sejahtera? Ini pilihan yang saya ambil.
—
Sudah lama sebetulnya saya kesal dan prihatin dengan situasi politik di negeri ini. Perebutan kepentingan antara yang berkuasa dan mencari kuasa tak pernah usai. Semua berlomba untuk membela, tapi tak pernah paham apa yang hendak dibela. Semua merasa paling pintar, dan bisa menyelesaikannya seorang diri, bak sang gladiator. Tak mau berkaca bahwa ada hal-hal yang tidak mampu kita selesaikan seorang diri. Negeri ini ibarat sebuah pertunjukan orkestra, yang butuh harmoni untuk membuatnya menjadi indah, meski alat yang dimainkan amat beragam. Tidak semua orang bisa jadi sang konduktor. Ada yang harus memainkan piano, flute, biola, cello, dan sebagainya. Untuk menjadikannya menjadi pertunjukan sempurna, juga butuh pencahayaan yang baik, tata suara, panggung yang ditata dengan apik, dll. Bahkan tidak semuanya berada di dalam gedung pertunjukan, ada yang membantu promosi, pemasaran, kemanan, dll.

Saya memilih untuk tidak bermain di dalam gedung pertunjukan, karena saya tahu bahwa kapasitas saya bukan di situ. Saya buta dengan nada, tidak paham mengenai musik. Mungkin saya bisa belajar, tapi yang terpenting di atas semua itu, hati saya tidak pernah berada di dalam gedung pertunjukan nan megah ini. Kalaupun saya bisa memainkan musiknya, tapi jiwa saya tidak terepresentasikan oleh musik yang dimainkan. Mungkin saya akan lebih mahir dalam mempromosikan pertunjukan ini.
Ketika saya dengar kabar bahwa pemain musiknya berantakan, apa saya bisa diam? Sebaik apapun saya melakukan promosi dan bagaimapun orang mau menonton pertunjukannya, namun ketika pertunjukan tidak memuaskan, apa saya bisa diam?
—
Begitulah ilustrasi ketika Ide Parlemen Muda terlintas dalam benak saya. Kurang lebih ide ini sudah terlintas bertahun-tahun silam, namun semakin menguat di tahun 2010. Saya tidak pernah berpikir (bahkan hingga saat ini) untuk menjadi politisi, meskipun orang banyak menduga saya ingin berlabuh ke sana (tapi sekali lagi orang memang hanya bisa menduga). Saya tidak pernah bisa paham (meskipun mencoba untuk selalu mengikuti) dengan apa yang terjadi sebenarnya dalam politik praktis negeri ini. Yang saya tahu, saya ingin suara pemuda bisa di dengar dalam pengambilan kebijakan di negeri ini. Saya paham dengan fakta bahwa pemuda tak sepenuhnya paham dengan “kebijakan yang terbaik” yang selayaknya diambil. Namun, saya ingin kita (pemuda) bisa diberikan kesempatan untuk belajar, mendengar, dan didengarkan. Ibaratnya seorang anak yang merengek minta diajak berlibur oleh orang tuanya, meskipun tak mampu, apakah kita akan menutup mulut si anak? Tidak bukan? Tapi sang anak dibiarkan dulu menyampaikan keinginannya, dan kemudian butuh penjelasan kenapa keinginannya diterima/ tidak diterima.
Saya hanya ingin hal sesederhana itu untuk terjadi. Kami ingin mencoba paham dan mengerti dengan kebijakan di negeri ini, karena sedikit banyak, kebijakan yang di ambil berpengaruh pada bagaimana kami hidup di negeri ini. Izinkan kami untuk memiliki ruang untuk belajar, berdiskusi, memahami apa yang terjadi di luar kaca rumah saya, dan mencoba sedikit membantu menyelesaikan masalah (jika memungkinkan).
Parlemen Muda didesain bukan untuk menjadi oposisi, atau jagoan, apalagi pahlawan kesiangan. Sederhana saja, ia dedesain menjadi ruang kelas bagi anak-anak muda yang dipilih oleh sebayanya, untuk belajar di sana. Belajar memahami masalah, mengkritisi, dan (yang terpenting) mencoba memberi gagasan solusi. Kami ingin pemuda tidak hanya bisa diam, atau mengkritik saja, tapi tanpa solusi. That was my dream.
Dalam perjalanannya untuk membawa mimpi ini menjadi kenyataan, ada banyak hal yang kami lalui. Cercaan sana sini, pandagan negatif, kesulitan mencari pendukung acara, dana, dll. Tapi juga ada yang mendukung, memberi ucapan semangat, dan itu yang membuat kami terus kuat. Di awal Januari 2011, saya putuskan untuk segera membentuk tim. Saya temui satu persatu sahabat-sahabat saya, yang saya anggap punya visa sejalan, dan kiranya bisa membantu, bersinergi bersama-sama mewujudkan ini. Dalam prosesnya, kondisi internal kami pun bisa dibilang rapuh. Orang silih pergi satu persatu.
Pertengahan tahun, saya putuskan untuk mulai bergerak, menyuarakan kegiatan ini ke seantero negeri. Tidak bisa diam dan menunggu lebih lagi, ini harus segera dimulai. Meskipun saat itu dana yang kami miliki tak ada sepeserpun. Saya putuskan untuk menggunakan uang pribadi, meminta kerelaan teman-teman yang lain jika berkenan mengganti liburannya dengan rangkaian promo kegiatan. Dan saya beruntung memiliki sahabat yang ternyata mau berkorban untuk ini semua!

Singkat cerita akhirnya proses terus berjalan, ratusan peserta dari berbagai daerah mulai mendaftar. Mereka yang terpilih mengikuti rangkaian kampanye dan pemilihan umum. Hingga saat itu, saya masih belum tahu, bagaimana saya bisa menggelar acara sebesar ini. Tapi mimpi tadi jadi penguat begitu luar biasa. Bahkan saya sempat bertekad, kalau ini gagal, i’d do on my own expenses. Tuhan memang baik, dan ada rencana luar biasa yang dimiliki-Nya. Hasil pemilu ternyata menggembirakan, sekitar 37.000 orang berpartisipasi dalam rangkaian kampanye dan pemilu di seluruh Indonesia. Ini semakin memudahkan kami untuk mencari dana, mengajak rekanan, media, dll. Dalam 1 bulan sebelum penyelenggaraan, semuanya dipersiapkan. Bahkan saat itu masih Ujian Akhir Semester. Tapi sekali lagi, mimpi tadi jadi penguat.
Magicly, I dream, I make it happen. Voila! Pada 28 Januari – 3 Maret, 33 delegasi terpilih berkumpul di Jakarta. Mereka tidak hanya bersidang mendikusikan rekomendasi kebijakan, namun juga mendapatkan pelatihan di berbagai bidang, bertemu dengan tokoh-tokoh luar biasa dalam meet the leaders, beraudiensi, belajar, berproses bersama. Dan ini semua tidak berhenti di sini, tidak berhenti hanya pada lembaran rekomendasi, tapi setelah ini setiap delegasi akan mengelola dan mengembangkan program sosial gagasan mereka, dengan bantuan mini grant dan mentorship dari Indonesian Future Leaders. Harapannya, mereka bisa menghasilkan dampak nyata di tengah masyarakat, dan menyebarkan inspirasi dan pengalaman mereka kepada pemuda lain di seantero negeri.




Thank God for everything! Terima kasih buat semua yang membantu kami mewujudkan mimpi kami, yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan apa yang terjadi persisnya selama kegiatan ini berlangsung, tapi lebih kepada menyampaikan satu pesan, bermimpilah, dan buat itu jadinya. Saya buktikan itu, I dream, I make it happen!
I am ready to make another dreams come true! Are you?
Posted: December 19th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Life Lesson, Notes, Personal | 4 Comments »
Terpikir untuk sedikit menulis tentang sekelumit sejarah di balik siapa saya sekarang. Terima kasih buat mas Bukik, dengan pertanyaan-pertanyaan pemicunya yang akhirnya membuat saya menuliskan ini. Semoga bermanfaat. Tulisan ini juga ditampilkan di Blognya Mas Bukik, dengan sedikit pengantar dari beliau
Tentang Nama
Saya terlahir dengan nama lengkap M. Iman Usman pada tanggal 21 Desember 1991 di Kota Padang. Inisial M di awal nama saya dimaksudkan untuk menyebutkan Muhammad (namun kesalahan pada penulisan paspor, kini saya menuliskannya Muhamad). Nama tipikal untuk anak yang tumbuh dari keluarga yang cukup religius. Sempat saya tanya pada Ayah dan Ibu (begitu saya memanggil kedua orangtua saya) soal arti dibalik nama saya. Jawaban mereka simple saja, tapi bagi saya nama itu menyiratkan beban tersendiri. Orang tua saya menginginkan saya tumbuh sebagai pemimpin besar dengan karakter yang begitu kuat seperti Nabi Muhammad, dermawan dan berempati seperti sahabat Nabi, Usman bin Affan, dan tetap menjaga keimanan (keyakinan) saya sebagai seorang Muslim hingga akhir hayat.
Sejak kecil saya akrab dipanggil dengan nama tengah saya, Iman. Kadang di keluarga inti, saya dipanggil komeng (plesetan dari nama Iman, yang saya sendiri tidak tahu artinya apa J ), atau sesekali dipanggil adik (karena saya bungsu dari 6 bersaudara). Seiring tumbuhnya saya, dan bergaul dengan berbagai kalangan, nama saya pun makin bermacam-macam, fatalnya sekarang teman-teman di kampus saya, kompak menyebut saya ‘alay’. Haha. Kalau ditanya kenapa? Baiknya tanyakan pada mereka seja. Haha (enggan menjawab).
Saat ini saya berkuliah di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia semester 5. Usia saya 20 tahun, dan di sela-sela aktivitas saya berkuliah, sedikit meluangkan waktu berkontribusi di masyarakat dengan memimpin sebuah organisasi non-profit yang bergerak di bidang pemberdayaan pemuda untuk perubahan sosial, Indonesian Future Leaders. Saya menyenangi mengajar dan berkomunikasi dengan orang banyak, yang kini saya salurkan dengan mendirikan, memproduseri, dan menjalankan platform Inspire-Cast. Berhasrat tinggi pada pembangunan masyarakat dan dunia pendidikan, serta bercita-cita menjadi seorang guru dan pembaharu sosial.
Tentang Ayah dan Ibu
Tumbuh dalam keluarga dengan latar religi yang begitu kuat, membuat saya dibesarkan dengan nilai-nilai keislaman. Masih ingat di benak saya setiap hari sepulang sekolah saya harus mengaji bersama Ayah, mempelajari hadist, dll. Tapi satu hal yang paling saya hargai adalah tentang bagaimana orangtua saya tetap memberikan pilihan-pilihan di tangan saya sendiri, bagaimana mereka tetap memberikan ruang bagi saya untuk menjadi muslim yang moderat, bebas mengekspresikan diri (meskipun ada batas-batasan tertentu yang tetap tidak boleh dilanggar), mengungkapkan pendapat, dll. Ruang macam inilah yang saya pandang memberikan kesempatan bagi saya untuk jadi seperti sekarang. Ayah dan Ibu tidak pernah memaksakan kehendaknya, tetapi selalu melibatkan saya dalam setiap keputusan yang terkait dengan saya secara langsung. Mereka tidak pernah memaksakan saya untuk menjadi juara kelas, harus les ini atau les itu, ikut kegiatan macam-macam, melarang bermain, dll. Sesekali memang mereka memberikan tuntunan, namun pada akhirnya pilihan ada di tangan saya.
Kebebasan dan demokrasi itu tidak membuat saya kemudian justru jadi “liar”, tapi sebaliknya, justru merasa bertanggungjawab atas setiap pilihan yang saya ambil. Ketika saya melakukan kesalahan, Ayah hanya bilang “kamu yang pilih itu kan?”.
Kedua orang tua saya memang tidak berlatar belakang pendidikan yang kuat. Ayah hanyalah lulusan Madrasah (setingkat SLTA), dan Ibu juga hanyalah lulusan SMA. Kami bukan keluarga yang hidup berlimpah ruah. Ayah hanya seorang pedagang yang mengandalkan perekonomian keluarga dengan menjual minyak tanah ke warung-warung, dan Ibu hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga. Tapi jangan salah, wawasan mereka bisa diadu dengan orang-orang yang katanya sarjana. Mereka mungkin tidak paham bahasa asing, tapi mereka ingin anaknya bisa bercakap dengan “bule” dengan mengesankan. Mereka mungkin tidak gemar berlama-lama dengan buku, tapi mereka ingin anaknya tidak pernah kekurangan buku untuk dibaca. Mereka mungkin tidak pernah mengecap bangku kuliah, tapi mereka ingin anaknya kuliah setinggi-tingginya. Begitulah Ayah dan Ibu.
Saya anak bungsu dari 6 bersaudara, dan satu-satunya anak laki-laki di keluarga. Meskipun mungkin mereka tidak pernah mengatakannya, namun saya yakin bahwa saya diharapkan jadi tumpuan di keluarga ini. Diantara saudara-saudara saya yang lain, hanya saya yang bisa mengenyam bangku sarjana, dan insya Allah segera menjadi sarjana pertama di keluarga inti saya. Dan saya masih ingin menjadi master pertama di keluarga saya, doktor pertama, orang yang bisa mengubah dan meningkatkan derajat keluarga kami, bukan hanya dengan pencapaian akademis saya, tapi juga karakter dan kontribusi saya untuk masyarakat.
Ketika ditanya, mana aktivitas yang paling menggetarkan. Sulit sekali menjawabnya. Entahlah, bagi saya setiap aktivitas yang mereka lakukan untuk saya, agar saya berhasil, begitu besar artinya. Sehingga sedih sekali ketika melihat keduanya menangis, karena kenakalan saya atau ketika saya justru mengecewakan mereka.
Milestone
Bagi saya, ada banyak momentum dalam hidup saya yang mengambil andil besar dalam membuat saya menjadi Iman yang sekarang. Tapi diantara itu semua, ada beberapa hal yang menjadi pijakan penting.
Pertama, ketika usia saya 10 tahun. Pertama kalinya saya akrab dengan aktivitas sosial (yang saat itu tak pernah saya sadari). Saya tak punya kedekatan personal dengan isu sosial tertentu, dan mungkin tidak menjadi korban langsung dari berbagai ketimpangan yang saat itu sudah ada di sekitar saya. Sehingga kadang, ketika orang bertanya bagaimana awal mulanya saya terlibat, agak sulit juga menjelaskannya. Namun, saya sering kali menyebutnya dengan “panggilan jiwa”. Saat itu saya melihat teman-teman sebaya saya, tetangga saya, tidak bisa memiliki buku selain buku pelajaran mereka di sekolah, fasilitas perpustakaan di sekolah juga tidak begitu mumpuni. Menyadari hal itu, saya tergerak membuka sebuah warung kecil, tidak cukup besar, luasnya hanya 2×3 meter, tapi cukuplah untuk menampung 100-an buku dan majalah saya waktu itu. Perlahan saya coba kumpulkan buku teman-teman yang lain, dan menjadikan warung itu sebagai pustaka bersama. Tetangga bisa meminjam buku di sana, dan mengembalikannya kembali jika usai membaca. Lalu, saya tergerak untuk mengajar dan membantu sekitar 5-7 orang tetangga saya yang tidak pernah punya akses untuk mengikuti kursus. Mengajarkan mereka sedikit mengenai bahasa Inggris yang sehari-hari saya dapatkan di kursus, membantu mereka mengerjakan PR matematika (ketika saat itu saya masih sangat menyenangi dan bisa dibilang mahir pada bidang ini), dll. Memang aksinya tidak berkelanjutan, dan hanya mampu bertahan sekitar 2 tahun. Namun itu jadi pijakan pertama saya, yang membuka mata saya bahwa masalah sosial itu nyata dan ada di sekitar kita. Siapapun kita, apapun latar belakang kita, kita bisa melakukan sesuatu, dari hal yang paling kecil.
Kedua, ketika saya SMP, saya mulai menyenangi dunia jurnalistik. Blog pribadi dan tabloid remaja menjadi wadah menyalurkan hasrat saya di bidang tulis menulis. Apapun saya tulis dan saya bagikan kepada teman-teman, sampai akhirnya hal ini menginspirasikan saya untuk mendirikan tabloid sekolah pertama di sekolah saya waktu itu. Masa SMP juga jadi sarana pengembangan diri dan eksplorasi bakat, dan minat. Kegilaan saya pada Harry Potter, membawa saya mulai mengelola sejumlah forum diskusi online pecinta Harry Potter, mengakrabkan saya dengan media jejaring sosial, hingga akhirnya menambah pundi-pundi di kantong saya, dengan membuka online shop. Masa ini juga jadi masa-masa awal saya merintis karir sebagai public speaker, mulai menjadi MC dan sharing di berbagai tempat. Mulai dari MC pernikahan adat, hingga acara-acara yang dihadiri pejabat daerah kala itu. Masa ini membawa saya kepada proses eksplorasi bakat dan minat, menyelami dunia yang berbeda, menikmati proses belajar.
Ketiga, ketika saya bergabung di Forum Anak Daerah Sumatera Barat, hingga akhirnya saya didaulat sebagai Sekretaris Umum. Sebuah forum yang terdiri atas anak-anak dari berbagai daerah di Sumatera Barat, yang berkomitmen untuk memperjuangkan dan mensosialisasikan hak-hak anak. Bertemu dengan aktivis anak, penggerak sosial, sedikit banyak menarik saya ke dalam dunia ini. Menggali empati saya untuk benar-benar total dalam apa yang kita cintai, dan apa yang ingin kita perjuangkan. Dari Forum Anak, saya juga mulai aktif mengembangkan komunitas sendiri, aktif di kegiatan-kegiatan pemuda, hingga akhirnya dianugerahi penghargaan Pemimpin Muda Indonesia 2008 oleh Bapak Presiden. Kala itu pula saya berkenalan dengan Bang Muharman (saya biasanya memanggil bang Imoe), orang yang saya anggap begitu besar peranannya dalam membawa dan membimbing saya dalam mengembangkan berbagai gerakan sosial. Orang yang selalu meyakinkan bahwa saya bisa, dan mengajarkan saya untuk berani bermimpi dan menjaga mimpi saya untuk terus hidup.
Keempat, ketika pertama kalinya kaki saya menginjakkan negeri yang sama sekali asing buat saya, mengikuti program pertukaran pelajar AFS ke Jepang. Tidak lama, bahkan cukup singkat, saya di sana. Tapi momen inilah yang membuka mata saya betapa pentingnya untuk keluar dari zona nyaman saya, membuka diri terhadap perbedaan, dan hal-hal baru dalam hidup. Jepang membuat saya semakin bersemangat untuk menjelajahi dunia, dan melihat peta dunia yang terpampang di dinding kamar, bukan sebagai teritori yang tak dapat ditembus, tapi justru untuk dijelajahi. Membuat saya bisa mengklarifiikasi pandangan dan sinisme orang terhadap Indonesia, menunjukkan kompetensi global pemuda Indonesia, dan melihat Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. Hal ini pula yang membuat saya mulai berani dan percaya diri untuk berjejaring dengan teman-teman dari berbagai negara, dan membawa saya kini menjelajah ke belasan negara. Langkah awal menuju impian masa kecil saya, mengelilingi dunia. Semakin banyak negara yang saya jelajahi, semakin besar kecintaan saya pada negeri ini. Kecintaan yang bukan hanya berlandaskan chauvinism belaka.
Kelima, saat saya mendirikan Indonesian Future Leaders bersama 6 teman saya di tahun 2009. Saat itu tak pernah terpikir IFL akan jadi seperti sekarang. Semuanya hanya berawal dari kegelisahan kolektif, yang memicu aksi kecil. Namun aksi kecil yang dilakukan oleh segelintir orang inilah yang kemudian memandu kami kepada aksi yang lebih besar, dengan dampak yang lebih besar. Entahlah, saya berharap IFL akan bisa bertahan sepanjang masa. Membangun Indonesia dengan sumberdaya manusianya, karena kekayaan terbesar yang dimiliki bangsa ini bukanlah minyak, bukanlah emas, bukanlah hutan berlimpah (seperti yang diajarkan pada kita sewaktu kecil), tapi sumberdaya terbesar adalah orang-orang Indonesia sendiri. Menjadikan sumberdaya Indonesia yang tangguh, kesitulah IFL bermuara.
Saya percaya perjalanan saya masih panjang, dan masih ada hal-hal lain yang menunggu saya, menambah pijakan saya hingga akhirnya sampai ke akhir perjalanan ini (kematian).
Yang Saya Hargai
Perjalanan hidup saya jalani sepanjang 20 tahun saya di dunia ini membawa saya pada titik dimana saya merasa bersyukur dengan segala hal yang diberikan Tuhan kepada saya.
Menghargai diri saya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan seorang Iman yang tidak pernah berhenti menyerah, bersemangat, dan mau belajar. Saya percaya bahwa saya dilahirkan ke dunia ini, dengan tujuan. Menjadi solusi, dan bukannya jadi masalah. Meninggalkan jejak pengamalan untuk anak, cucu, dan orang-orang di sekitar saya.
Menghargai keluarga saya atas dedikasi tanpa pamrih, komitmen tanpa putus, dan rasa cinta tak terbendung untuk menjadikan saya menjadi Iman yang sekarang. Tanpa kedua orang tua saya, saya tidak pernah hadir di dunia ini, tidak akan bisa mengecap pendidikan yang berkualitas, di saat perekonomian kami sendiri sedang sulit saat itu. Berkat keduanya, saya tumbuh dengan karakter yang tak mau menyerah, dan percaya bahwa selalu ada kemudahan di setiap kesulitan. Menghargai kakak-kakak saya, yang meskipun jarak usianya cukup jauh dengan saya, sehingga tak banyak waktu yang benar-benar saya habiskan dengan mereka semua, namun saya percaya bahwa kasih sayang mereka tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang. Mereka semua berkoban, berusaha secara kolektif, membentuk saya seperti sekarang.
Menghargai orang-orang di sekitar saya atas pelajaran hidup yang begitu luar biasa. Mengajarkan saya tentang berbagai hal, menunjukkan inspirasi yang menggugah saya untuk beraksi. Air mata kepedihan masyarakatlah yang menjadi pecut bagi saya untuk tidak pernah berhenti bergerak. Tawa dan senyuman lepas mereka yang jadi pengobat luka di saat-saat saya merasa letih dan lelah melakukan ini semua. Tak mampu saya menyebut orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupan saya, tak putus kata menguraikan nama dan pengabdian yang mereka lakukan. Hanya rasa terima kasih, terima kasih.
Menghargai Indonesia, negeri yang tidak pernah berubah rasa cinta saya kepadanya. Saat sulit maupun saat bahagia, rasa bangga menjadi orang Indonesia. Negeri yang selalu memacu saya untuk bergerak, menginspirasi dan mengabdi lewat karya nyata. Negeri dimana masa depan dan impian saya berlabuh, dan ditautkan kepadanya.
Menghargai kehidupan ini, entah bagaimana caranya, tapi.. terima kasih Tuhan untuk kehidupan yang saya jalani ini. Tak pernah terbesit pikiran untuk menyia-nyiakan anugerah ini.
Simbolisasi dan Imaji
Sulit sekali mencari simbolisasi diri saya, karena kompleksitas imaji akan diri saya sendiri. Tapi jika harus memilih, mungkin air adalah elemen bumi yang paling bisa menggambarkan saya. Hidup saya mengalir, tapi bukan berarti mengalir tanpa tujuan dan rencana, air kehidupan ini akan bermuara kepada mimpi besar dan tujuan saya berada di bumi ini. Air mengalir dari atas ke bawah, yang selalu mengingatkan saya untuk tetap melihat ke bawah meskipun posisi atau status sosial saya sedikit lebih tinggi. Air kadang bisa begitu menenangkan, tapi juga bisa menghanyutkan. Kadang semangat saya begitu menenangkan bagi orang-orang di sekeliling, tapi juga bisa menjadi meledak-ledak tak terbendung, utamanya ketika saya diremehkan, semakin besar keinginan untuk membuktikannya. Air yang menjadi pelepas dahaga, menyiratkan bagaimana saya ingin hidup menjadi berkah untuk orang lain. Tapi saya tidak pernah tahu hidup saya di masa depan akan seperti apa, entah menjadi air yang menyenangkan orang lain dengan segala kelebihannya, atau (mungkin saja) justru jadi cobaan bagi orang lain. Tapi selama saya bisa memilih dan berencana, saya ingin jadi air yang menyenangkan, menjadi berkah, bukan kutukan.
Imaji Untuk Indonesia
Saya selalu punya bayangan besar untuk Indonesia. Entahlah mungkin karena kecintaan berlebih saya pada negeri dimana saya lahir, dan negeri dimana saya ingin akhir perjalanan saya juga berakhir di sini. Bukan kecintaan semu, tapi kecintaan tanpa syarat. Bagi sebagian orang mungkin melihat mimpi-mimpi saya ini utopis. Tapi bagi saya yang seorang optimis, saya percaya bahwa suatu saat ini semua bisa tercapai.
Di tahun 2030, saya bayangkan tak ada lagi korupsi di Indonesia, tak ada lagi anak yang terlantar dan harus mengais di jalanan. Tak ada lagi anak Indonesia yang tak dapat bersekolah, hanya karena persoalan biaya. Anak-anak Indonesia bisa lahir, hidup, dan tumbuh kembang sebagaimana layaknya. Tak ada lagi anak Indonesia yang tak dapat bermain, karena harus mencari nafkah membantu orang tua.
Kita semua hidup damai, saling hormat menghormati. Tak ada lagi mendengar berita di bom nya gereja, perusakan mesjid, pelarangan ibadah, dan sejenisnya. Tak ada lagi kerusuhan membabi buta. Kita semua bersaudara, meskipun warna kulit, dan potongan rambut kita tetap beda. Logat bahasa kita tak berubah, amat kental dengan asal kedaerahan kita. Tarian, nyanyian, dan karya budaya leluhur masih amat terjaga. Tapi wawasan kita mulai mengglobal, kita bisa diadu secara intelektual dengan negara manapun.
Ketika saya perhatikan media massa, yang saya lihat dan saya dengar adalah deretan prestasi dan khabar baik tentang karya anak negeri. Pejabat-pejabat di pemerintahan berhasil menuntun rakyatnya kepada kemakmuran dan kedamaian. Masyarakat bahu membahu, bekerja kolektif memajukan bangsa. Pemuda/I nya berlomba untuk meraih prestasi untuk negeri, berkarya, menciptakan inovasi untuk kemajuan umat.
Utopiskah? Tidak!
Karena kini saya menyiapkannya. Saya siapkan diri saya sembari berkarya untuk negeri. Melalui Indonesian Future Leaders, kami mencoba untuk membangun kapasitas dan karakter kami, sembari menjadi katalis, mengajak anak-anak muda lain untuk bergerak, berkarya, dan berdampak positif bagi negeri. 2030 seperti hal di atas? Kenapa tidak?

Posted: August 6th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Life Lesson, Notes, Personal | Tags: change, dream, pidato | No Comments »
Delivered by Iman Usman (19) from Indonesia at the 9th UN Youth Assembly in New York before receiving The Youth Assembly Recognition for Excellence
Good afternoon everyone, it is indeed an honor for me to be here with you all today. Thank you for the UN Youth Assembly for inviting me. I feel the excitement of passionate young leaders in this room, and it makes me more than excited.
I’d like to begin with a story of a kid, a 10 year-old boy, living in a small town in Indonesia. He was a normal kid, not a child prodigy, who found himself powerless and talentless. But the one thing he had – he had a dream.
Since he was child, he was the one who believed in dreams. For him, a life without dreams was just like driving without a destination. Dreams became the stepping stones and foundation of enjoying his life – making it valuable to the world. His dream was simple, but most people thought that it was too big, or even too idealistic. But he believed that there is no dream too big, because it is not a dream if it is not big.
He just wanted a better world, a better place for every single child in the world to live, to survive, and to develop. When he was a child, he was treated unjustly. His opinion was dismissed. His voice was deemed meaningless by society. He had nowhere to speak his ideas, and bring them to action.
He also saw that many kids felt the same as he did. He did not come from a wealthy or well-educated family. But, he believed these challenges should not be justifications to undermine or discriminate against him. That 10-year-old kid insisted, and reminds me every day: that no matter what your background is, no matter how old you are, you are a human being with rights and liberty.
The painful realities he endured led him to embark the journey in improving his own quality of life, and step-by-step, try to improve the quality of human beings around him. He believed that he couldn’t wait for someone to come and fix his life – he was the one to fix it. He was very passionate about the struggle to empower children, the future generation.
His story of movement began with a blackboard. When he was 10 he found that many kids in the neighborhood couldn’t access books and other sources of information. So, he established a free course for underprivileged children. Later on, he established a small library in front of his house. It’s His hope that this small action would lead him to a larger action with a bigger impact. He became involved in various communities, journalism, entrepreneurship programs, and active in advocating for child rights issues when he was elected as Secretary General for a children’s forum in his province. He conducted various campaigns, initiated and coached various brands on social activism, particularly on the promotion of the achievement of the MDGs. Until he moved to the capital town for study, and the study could not stop his momentum of change as he thought that he need to do a bigger action.
Then, he founded a youth-led NGO concerning youth empowerment for social change. With his team, he went from school to school, campus to campus, to deliver capacity building and inspire youths to believe and achieve their dreams. He conducted various community development projects to achieve the MDGs, as well as advocacy on youth-related issues by mobilizing thousands members and more than 500 volunteers who impacted thousands lives.
The story of this kid is really meaningful and has a lot of correlation to myself. That kid is in front of you all right now, that’s the story of me.
I share this story not for the sake of mentioning my achievement. It is because I just want to tell you that when I started to “do something”, I was nothing compared to you all today but I know I holding the part of the bright future of my country.
I couldn’t speak any language beside my mother tongue but I know I can speak the word of change.
I couldn’t play any musical instrument, sing, dance, or anything else that I can be proud of but I listened to the tune in my heart.
I knew my dream and my past experiences that lead me to make a difference. I had the courage. Even today, I am still that 10 year-old boy, with a bigger vision, with a bigger dream to achieve, with more friends at my back for support.
People have told to me that “serving humanity is like giving life to the lifeless”, but for me, it is not only for the lifeless, but also for ourselves. We can make our life bigger than we can think.
People often say that volunteering and activism only waste time, energy, and even money. But what I learned is this: you will not lose anything by being a giver; instead you will received many things that you never expected.
It is in my wildest dream to be invited to various international forums and have the opportunity to speak on behalf young people. I never expected to earn trust as a consultant for various government projects and United Nation agencies at the age of 19. I never expected have a privilege of invitations by vice presidents, ministers, parliaments in my country due to what my team and I have done. And the most important thing, I never expected to see people smiling because of what I do. It is a blessing to make people feel blessed and happy as they are with you. And finally, I could do something.
Each one of us can do something.
In last 3 years, I had the opportunity to travel to dozens of countries, speak, share, and learn from one person to thousands. I am inspired by thousands of children’s dreams around the world and help them to realize their potential, to make the impossible possible, and the unexpected happen.
And one of them is We Are Family Foundation’s Three Dot Dash – Just Peace Summit. I have a priceless honor as one of 31 Global Teen Leader representing 12 different countries and five continents this past March. I meet bright minds with other 30 teen leaders at the Summit in New York. It was great to meet and be connected with these amazing youth, where we collaborate together to amplify our work and encourage millions of people to replicate our positive messages and get involved.
We share best practices, and support each other, even after the Summit has passed. With this global network, all Global Teen Leader alumni have already made a direct impact to more than 4 million people globally, and the numbers keep growing. It is interesting and enlightening to see the power of youths, and how their passion can impact mother earth. We connected because of our same hopes, compassion, courage, and passion.
We are so blessed to be part of Generation21, to be the generation who lives in 21st century, with all technology supports around us, that make it easier for us to do something collectively and globally.
A borderless world
But it also provides various challenges that we have to overcome. We can convert challenges into opportunities.
Being part of these movement brought me many surprises in life. I do believe that there are still more surprises ahead, but that’s not the point. The point is, the more people appreciate youth involvement, the better a sign it is for youth to be heard and get the opportunity to be a part of the solution. What I believe is that opportunity itself is not ascribed, it is not something that we have to wait for – we can create our own opportunities. Just keep your eyes open.
Once more, I would like to say, that this moment is very meaningful for me. Thank you to everyone who has supported me since the beginning. Thanks to my mom, my dad, my family, my coaches, and my friends who always believe in me. I would like to thank and receive this recognition on behalf of other undiscovered young people around the world who did something to change their life. You all are my greatest inspiration.
I enjoy my pathway to making a difference and this is the way I want to be remembered. You may also have your own pathway, because there is no rigid template in change. Let’s start by dreaming, exploring our talents, doing something small, then trying to reach further, reach more people, and eventually it will be not only your movement, but also a social movement, a global movement. I do believe that any exploration of talent and passion can contribute to social changes. A small action that is conducted by a single individual will consistently make other people follow it, and then it has real impact. Never limit yourself. Never underestimate yourself because we are young. We can change the world.
If a 10 year-old boy with nothing attached to him could ignite something, why can’t you. He had a dream, and you have a dream. Think Big, Make it Happen! I will wait for another story from YOU! Thank you.

Posted: April 10th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Personal | Tags: achievement, activist, changemaker, youth | 4 Comments »
I always think to have a book as a media to inspire and share my thought to more people. But I never find the right time to have one, until some of you (my readers) suggest me to have one. I never think that writing will be a media to have money, but it is more to a passion that I have, that I will use to fundraise for my activities. So, I am planning to use 100% of profit to benefit others through my activism. I am currently writing (eventhough there is no publisher that offers me to make one, but yeah, let’s say it will be published soon. Lol). It’s about *** (let’s make it secret), but what i can say, there will be a part where you can be inspired by those young people. They are young, very talented, and inspiring. When I met them for the first, I was surprised that there is such an amazing kids in this world. In my upcoming book, I will have personal interview with them to find out what are their reason, challenges, and their tips for other changemakers wanna be. So let’s find out who are some of them:
Jourdan, 19, USA
It was clear from a very early age that Jourdan was going places. At only seven years old and a prodigious violinist attending Juilliard, Jourdan developed a curious interest in the field of medicine, specifically neurology. While most children were still thumbing through picture books, Jourdan was engrossed in renowned pediatric neurosurgeon Fred Epstein’s autobiography. The man’s story fascinated him, and upon finishing the book, Jourdan wrote to the doctor requesting a meeting. Dr. Epstein gave him a tour of the pediatric ICU at Beth Israel North Hospital in New York City and Jourdan witnessed the isolated and underserved young patients suffering from devastating neurological diseases. A child prodigy on the violin and a firm believer in the power of music, Jourdan gathered other young conservatory musicians and produced monthly performances in New York City hospital playrooms to do his part. Proof of the healing properties of music, and one of Jourdan’s most memorable moments, came when he played for a previously unresponsive patient who had recently undergone neurosurgery: “Every monitor she was hooked up to commenced beeping as she began reacting to my music. It was a moment I will never forget; it demonstrated the profound synergy between medicine and music.” Since then he has produced and performed hundreds of Concerts for a Cure w/sold-out houses at Carnegie Hall, Lincoln Center, Jazz at Lincoln Center and around the country through his organization Children Helping Children (CHC) to raise funds for neurological research and innovative hospital music therapy programs. To date, CHC has directly impacted over 42,000 people and has raised $4.7 million for its various charities. CHC now funds the largest music therapy program in America at the University of Michigan’s Mott Children’s Hospital, serving 5,000 inpatients per year; and Jourdan has been named Artist-in-Residence for the UN’s Council for Arts and Peace.
Talia, 16, USA
Talia is in the business of bringing people together. Talia understood the power in numbers after her first foray into philanthropy. By rallying youth from 4,000 United States school districts through her networking, Talia unified their fundraising efforts and managed to raise $10.4 million dollars for the Katrina/Rita Hurricane relief. Riding the momentum of this successful endeavor, Talia founded her non-profit organization entitled RandomKid, which brings youth activists together across boundaries of culture, race, creed, ability, and geography to address global causes. Through networking and the RandomKid website, Talia has managed to unify the efforts of 12 million youth from 20 countries, bringing aid to four continents for a number of different projects. Among their accomplishments are funding water-pumping technologies serving villages in Africa, Asia, South and Central America, funding a school in Cambodia, refurbishing a school and rebuilding a home in post-Katrina Louisiana, and providing crutches and artificial limbs to 400 Haitian children. RandomKid is so grand in scale and its causes are so various, that funding comes from a unique community pool, which Talia created. Ten percent of every dollar raised by the pool is put into new youth ventures to entice innovation and promote different causes. Talia’s platform is world-renowned and the United Nations has recognized it as one of nine international organizations identified as a premier model for promoting peace.
Shannon, 17, USA
While preparing for a family service trip to Africa, Shannon learned of the “book famine” taking place in East Africa, along with the deeply-rooted gender-bias that prevents many girls from learning how to read. Before her departure, Shannon collected 500 pounds of books and supplies from neighbors. She brought the supplies along on her trip, and with the help of her family’s volunteer group, Shannon turned a dilapidated classroom into a library. Shannon’s After-School Reading Exchange (SHARE) was soon in full swing. To date, Shannon has spent three summers in Tanzania, running reading programs in the libraries she renovates and stocks full of books to teach English to the girls there. Stateside, Shannon runs book drives, gives presentations to spread awareness, and promotes youth involvement, with over 800 American students having joined the cause. Her fundraising events have brought in $122,000 for SHARE, (her campaign “Light for Learning” raised $34,000 alone, providing three African schools with electricity) contributing over 23,000 books and thousands of school supplies to four school libraries. Currently, 3,200 African students and 45 teachers utilize the facilities. Thanks to SHARE, many girls are currently passing exams to enter secondary school. Shannon plans to implement a new program called “SHARE Scholars” to raise funds to support their tuitions so they may complete school and become the leaders of tomorrow.
Bilaal, 14, Canada
Bilaal’s compassion for those in need became clear at a very young age. When he was only 4 years old, Bilaal was informed that a religious leader from his community had been killed in the devastating 2001 earthquake in Gujurat, India. Deeply troubled by this news, he decided to raise funds for the victims of the earthquake by selling Clementine oranges door-to-door. Bilaal raised $350, no small feat for a 4 year-old salesman, and so his career in philanthropy began. At the age of 8, Bilaal founded “Making Change Now”, an organization through which he has raised over $5 million dollars for a variety of causes, including victims of the 2004 tsunami in south-east Asia, an orphanage for children who have lost their parents to HIV/AIDS in Kenya, and most recently, the earthquake in Haiti. As a UNICEF Children’s Ambassador, Bilaal has spoken to tens of thousands of children in over two dozen countries, leading by example and driving home his favorite saying: “Together, we can make a difference.” Bilaal’s knack for creative, outside-the-box projects (such as the annual “Barefoot Challenge”, for which Bilaal will not wear shoes for a few days out of each year to raise awareness about child poverty in the Global South) have garnered much media attention and Bilaal has now made more than 100 media appearances. Having already become an accomplished author with his book Making Changes: Tips from an Underage Overachiever, Bilaal looks to the future with zeal, considering career paths in neurology, politics, and possibly even space travel!
Interested to figure out more about them and other influential youths worldwide, including Indonesia? Insya Allah, it will be in my book soon (as soon as there is any publisher that interested to publish. haha).
Posted: March 7th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Notes, Personal | Comments Off
Hi everyone, it’s nice to greet you all here. I do really appreciate to all of your comments and messages sent to me, which is really valuable to build up my activism better. Lately, I’m busy with all of campus stuffs, since i had to catch up with my study that i already missed due to my exchange program. This semester seems more challenging, since we are demanded to get a much deeper understanding about international relations concept. Another thing that make it also challenging is the fact that i have to conflict with my study time, eventhough i only took 21 credits for this semester, but it seems hard to manage. I also still busy with all stuffs related to Indonesian Future Leaders, and other organizations where I involved. I’m happy to find that many young people around are really interested to join our activism and be part of the change that we are going to see. Unfortunately, in Indonesian Future Leaders, we already had enough staffs to manage all of the things we need. We just afraid if we receive more, there will be overlapping in some divisions. But still we need you to be our volunteers in our various programs. So, please keep updating the info by following us in twitter @ifutureleaders or through http://indonesianfutureleaders.org
Another thing, I and other youths here are really excited to make Parlemen Musa (Youth Parliament Indonesia) comes true. Last week, we just had our first big meeting, and all of people were very enthusiastic with this program. We hope youths around Indonesia also feel the same thing. Be ready, we already prepared visit to your town!

Oh ya, I just decided not to prolong my duty as Youth Advisor at United Nations Population Fund Indonesia. Some are regret with my decision, since they think that it’s such a golden opportunity, and i just missed it. It’s also hard for me, but yeah, i have to be realistic and not to push my body too hard. I know that i really want to work in UN at the future, I know that I always happy to work in all UN Mandates, but I also know that I already managed 13 things at the same time, and I have to eliminate one by one. Though, it doesn’t mean that i cut all of my connections and works with UN. We still cooperate in other ways.
Last, now i am preparing all stuffs related to my departure to New York in next 2 weeks. I am very excited and eager to go, while at the same time also afraid to know the fact that i’ll miss my mid semester test. Maybe i can postpone test for some classes, but some also are really hard to negotiate. Yeah, this time, I really have to choose. and I think, this time i hope i know which one best for me.
Iman
Posted: January 9th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: America, Articles, Personal | 2 Comments »
Tahun baru, pastinya semangat baru! Bagaimana kabar selebrasi tahun baru 2011 kamu? Mungkin banyak yang menghabiskan bersama orang-orang yang dikasihi, seperti keluarga, teman, atau mungkin juga kekasih. Tahun ini agak beda dengan tahun-tahun sebelumnya, saya memilih untuk menyambut awal tahun 2011 dengan sendiri dan bekerja. Terdengar geek? Well, bukan geek sih sebenarnya, tapi somehow kadang menyenangkan untuk menyisakan waktu untuk sendiri, dan melakukan self reflection, melihat perjalanan ke belakang, dan memikirkan apa yang akan dihadapi, Eventhough, I didn’t take it seriously as a must.
Tidak juga hanya untuk diri sendiri, tapi juga seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya memilih untuk bekerja, dan melakukan apa yang saya senangi, yaitu mengkompilasi, mengedit, dan mendesain laporan akhir tahun Indonesian Future Leaders. Menyenangkan? Yup, menyenangkan karena mengetahui betapa kami sudah cukup bekerja keras dan menunjukkan progress yang cukup signifikan dalam perjalanan 1 tahun ke belakang. Menyenangkan untuk kembali melihat rekam jejak kegigihan para relawan dan staf akan mimpi dan kepercayaan yang mereka perjuangkan.
Alhasil, teman-teman bisa melihat hasilnya di website IFL, comments are welcome, karena kami juga percaya bahwa meskipun banyak progress yang bisa dicapai, tapi masih banyak pekerjaan rumah menanti, dan hal-hal yang harus diperbaiki tentunya.
Tahun baru, juga berarti liburan! Setelah berhari-hari menyerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki selama 1 semester ini, dan juga membiarkan the invisible hand bekerja, saatnya untuk menutup buku dan jurnal sejenak, dan menghabiskan hari-hari bersama teman-teman. Thus, tanggal 3 dan 4 Januari saya memilih untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman HI UI, di Ciwidey. It was full of fun, as always. Pada tanggal 4 Januari, saya dan beberapa rekan kerja di IFL (yang kebetulan juga mahasiswa HI UI : Afu, Kiki, dan Diku) juga menyempatkan mampir ke Bandung untuk gathering bersama rekan-rekan IFL Chapter Bandung. Senang sekali melihat betapa passionate nya mereka dalam membawa perubahan di kota Bandung (seolah melihat kami 1,5 tahun yang lalu saat mendirikan IFL). Ada wajah-wajah optimis, tapi juga sedikit guratan khawatir dengan tantangan yang siap menghadang. Well, memang tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak bisa untuk dilewati. Sejujurnya, saya cukup menaruh harapan akan perkembangan IFL di Bandung, semoga mereka bisa jauh lebih impactful dari kami. Hehe

Yang menarik dari Januari 2011 juga adalah, finally, for the first time in my life, saya ke Amerika! Menjadi sebuah mimpi sedari kecil, untuk bisa menapakkan kaki dan belajar dari negara adidaya ini, yang selama ini hanya bisa saya dengar kisahnya dari para “pembesar”, ataupun sekilas melihat di surat kabar dan televisi. Sesekali juga muncul dalam bahasan saya di kuliah, dan mendasarkan asumsi saya tentang Amerika pada apa yang saya baca dan dengar. Senang sekali bisa mendapatkan kesempatan dan pengalaman baru, untuk menyaksikan langsung negara ini, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bukan hanya karena ini tentang “AMERIKA”, tapi sejatinya, setiap negara punya kisahnya masing-masing, dan punya keunikan tersendiri. Dan itu yang membuat saya selalu senang untuk bisa menapaki berbagai penjuru di dunia ini. Thank God for this one lifetime chance, selama 5 minggu ke depan saya akan belajar di Temple University, Philadelphia, dan yah, semoga curiosity saya selama ini bisa terjawab.
Note: Terima kasih untuk dukungan rekan-rekan selama ini, dan khususnya bagi Tama yang harus menggantikan saya di IFL selama saya pergi (always feel grateful and glad to be your friend!), Aswin yang harus ikutan pusing dan rebek menangani Parlemen Muda (You go my MAN! Pasti bisa! Jangan pernah khawatir, just believe in ur self!).
Salam,
Philadelphia, 8 Januari 2011