11 Resolusi Untuk 2011

Posted: December 22nd, 2010 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Articles, Personal | 8 Comments »

Kemarin, tanggal 21 Desember 2010, usia saya sudah 19 tahun. Thank God, masih diberi kesempatan untuk menghirup nafas dan masih diberi waktu untuk merealisasikan mimpi-mimpi yang belum terwujud.

19 tahun ke belakang, adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Banyak hal-hal menarik yang mungkin tak pernah terbesit, meskipun tersirat di hati, yang terjadi. Banyak pengalaman jatuh dan bangun yang membuat saya menjadi lebih dewasa untuk bersikap di usia saya saat ini. Meskipun masih jauh dari kata sempurna, dan banyak hal yang masih harus dipelajari, dan melengkapi kekurangan-kekurangan yang saya miliki, tapi tak ada salahnya mengapreasi diri atas pencapaian selama 19 tahun ke belakang. Mungkin, bukan diukur dari pencapaian kuantitatif, tapi lebih kepada bagaimana saya mengikuti sebuah proses kehidupan, yang telah menjadi rencana-Nya jauh sebelum saya diciptakan. Bagaimana, saya mengalami perubahan-perubahan secara fisik dan juga mental, dan membuat saya belajar untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertaanyaan saya yang tiada habisnya tentang dunia ini.

Khususnya selama 1 tahun ke belakang, saya menjalani satu tahun yang unpredictable, full of surprise, dan challenging. Meskipun sedari awal rencana sudah dipersiapkan, tapi manusia hanya bisa berencana, Tuhan lah yang menentukan segalanya. Hal-hal di luar perkiraan, tantangan dan cobaan yang sempat beberapa kali membuat saya hampir menyerah, ataupun semangat dan pencapaian tertentu yang membuat saya kembali bangun, dan berjuang untuk memijak batu yang lebih tinggi lagi.

Di awal 2010, saya sempat menyiapkan resolusi yang harus dicapai selama 1 tahun ini:

1. IPK 3,41

2. Lebih produktif lagi dalam mengedukasi dan menginspirasi masyarakat.

3. Les Bahasa Asing

4. Punya Official Personal Blog

5. Tulisan dimuat di media cetak/online nasional

6. Ke luar Sumatera-Jawa

7. Pergi ke negara yang selama ini belum pernah dikunjungin

KARIR

8. Sukses gelar roadshow IFL

9. Indonesian Future Leaders (IFL) lebih dikenal masyarakat.

10. Lebih kontributif sbg United Nations Population Fund (UNFPA) – Youth Advisory Panel (YAP) dan UNICEF Volunteers

11. Bisa memberikan perubahan dan manfaat bagi eksistensi dan kontribusi Duta Muda ASEAN Indonesia

Alhamdulillah semua resolusi di tahun 2010 tercapai, meskipun ada beberapa yang tidak terlalu maksimal eksekusinya. Khususnya les bahasa asing, haha. Saya sempat mengambil intensif 1 bulan les bahasa Perancis di CCF, tapi tidak sempat menyelesaikannya dengan tuntas, karena pilihan yang saya tentukan sendiri. Hehe.

Tak ketinggalan, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya ingin sedikit berbagi, rencana-rencana yang ingin saya capai di tahun 2011, semoga teman-teman nantinya bisa terus mengingatkan saya, dan memotivasi saya untuk bisa mencapai target-target personal ini.

  1. Maintaining IPK Cumlaude
  2. Projects yang dijalankan berjalan lancar
  3. Mulai Menulis Draft Buku
  4. Mengunjungi negara yang belum pernah dikunjungi
  5. Meningkatkan intensitas untuk menulis di media nasional
  6. Menulis untuk media asing
  7. Volunteering Minimal 2 Minggu Penuh di daerah / negara berkembang
  8. Tugas sebagai Duta Muda ASEAN terpenuhi dengan baik
  9. Jadi pembicara di salah satu kegiatan bertaraf internasional
  10. Ekplorasi kota lain di Indonesia
  11. Mulai berbisnis

Secara umum, mungkin bisa diklasifikasikan atas beberapa kategori: Pendidikan, Pekerjaan dan Aktivisme, dan Personal Interest.

Untuk pendidikan, sangat besar harapan untuk bisa mempertahankan IPK saat ini, dan kalau bisa (harus bisa), ada progress yang cukup signifikan. Supaya orang tua saya nggak perlu khawatir lagi dengan nilai kuliah anaknya, karena sering bolos. Haha. Dan yang bayarin kuliah saya juga nggak perlu ketar-ketir. Hehe. Meskipun sejatinya, 2011 akan jauh lebih berat. Apalagi dengan adanya cluster, dan membuat hubungan saya dengan paper dan review akan semakin akrab. Hehe

Untuk pekerjaan, ada beberapa proyek yang siap digulirkan di tahun 2011, dan saya menaruh harapan yang cukup besar semoga proyek-proyek ini bisa sukses dan benar-benar berdampak. Di tahun 2011, akan ada topik-topik baru (masih ada benang merahnya dengan kegiatan-kegiatan sebelumnya), yang mungkin akan saya coba. Ada juga hal-hal lama yang sudah saya tinggalkan sekian tahun, dan ingin saya coba lagi, haha.. Berbisnis! Tapi mungkin masih ada kaitannya dengan social issues juga, bisa dibilang memulai upaya social entrepreneurship lah. Tahun 2011 juga akan menjadi tahun terakhir saya sebagai Duta Muda ASEAN-Indonesia, dan sejalan dengan Indonesia yang menjadi chairman ASEAN.

Untuk personal interest, mungkin saya ingin lebih banyak produktif dalam menulis, baik di media, dan juga mulai menyusun draft penulisan buku (mimpi dari dulu, yang selalu tertunda), moga-moga di tahun 2011 nanti saya bisa menemukan mood, kesempatan, untuk lebih berbagi lewat tulisan. Lalu, mungkin akan sedikit mengurangi frekuensi perjalanan dibandingkan tahun 2010 yang cukup padat (but who knows), dan ingin mendapat kesempatan untuk lebih banyak mengeksplor dunia volunteerism dan juga kekayaan Indonesia dan dunia. Sempat terpikir juga di next summer, pengen benar-benar jalan-jalan. Haha. Dan sedikit melepas penat, moga-moga ada waktunya. Amin!

Yah, itulah sedikit rencana saya di tahun 2011. Ada banyak mimpi besar, tapi ada juga mimpi lama, yang butuh peningkatan intensitas dan kualitas. 2010 hampir berakhir, masih ada waktu buat kita untuk merefleksi dan belajar dari pengalaman 1 tahun ke belakang. Bahkan, kalau ada mimpinya yang belum tercapai, mungkin bisa dicapai dalam sisa waktu di tahun 2010. Tak ada salahnya juga kita berpikir rencana di tahun 2011!

Post to Twitter


What a chance!

Posted: August 18th, 2010 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Personal | 6 Comments »

Hello the world!

Alhamdulillah banget. Beberapa waktu yang lalu saya sempat iseng daftar ke sebuah penghargaan yang diadakan oleh Global Volunteers Network.

Nah, jadi seleksinya itu application-based maupun video mengenai aktivitas kandidat dalam melakukan kerelawanan. Well, jujur saya ikutan ini bukan karena mau dapat award atau bla bla (yang mungkin some of u pikirkan sekarang). Saya melakukan aktivitas volunteering juga bukan karena mau jd ngetop atau apa.. simply, karena that’s my passion. Selain itu saya berpikir, ada banyak peluang yang bisa saya dapatkan kalo saya terpilih sebagai salah satu penerimanya.

1. Saya bisa volunteering 1 bulan di negara yang saya inginkan.

Mungkin bagi teman-teman biasa saja, apa sih volunteering? Capek-capek doang. Tapi bagi saya, that’s my passion. Sama halnya kalo teman-teman suka fotografi, lalu saya bilang “ah.. apa sih fotografi..”, mungkin teman-teman nggak akan peduli. karena simply, that’s what u like. Sama! Bagi saya kesempatan volunteering 1 bulan itu luar biasa. Bisa beradaptasi di negara yang baru, bisa berbagi dengan sesama, dan memperkaya diri ini dengan nilai-nilai hidup. Bisa jadi 1 buku kali kalo dibahas tentang manfaat volunteering. Hehehe

2. Bisa ikutan Be The Change Training

Nah, meskipun ada banyak training ataupun konferensi yang pernah saya ikuti. Tapi saya yakin bahwa training ini yang paling saya butuhkan saat ini. Khususnya, dalam kapasitas saya di Indonesian Future Leaders. Training 1 minggu dengan materi-materi yang paling saya butuhkan saat ini, misalnya “applying technology – like website, social networking, etc into our activism, fundraising, dll”. Makanya saya pengen banget bisa ikutan training ini.

3. Jelas, enlarging networks and sharing best practices

Tak diduga tak disangka (meskipun pastinya berharap), setelah 1 bulan-an menunggu (sampe saya sendiri hampir lupa pernah apply). tiba-tiba beberapa hari yang lalu ada deh pengumuman di website nya GVN:

Global Volunteer Network and World Wealth Foundation are pleased to award the first five $5,000 scholarships to the following individuals:

-Gillian Burt, Canada
-Jenna Praschma, South Africa/U.K
-Muhamad Usman, Indonesia
-Jyoti Rai, Nepal
-Kent Mcilraith, New Zealand

Colin Salisbury, Global Volunteer Network Founder and President says that scholarships aim to provide opportunities for people passionate about social change.

“Each scholarship is designed to provide individuals with the tools and support necessary to develop their passion into projects with lasting positive change.”

Senang sekali rasanya. Apalagi, saya yang paling muda diantara para penerima penghargaan lainnya. Dan juga, melihat rekan-rekan penerima penghargaan lainnya yang sudah makan asam garam di dunia volunteering, saya yakin ini akan jadi pengalaman yang besar dan berharga buat saya, yang semoga ada manfaatnya buat negeri ini. Bangga juga bisa satu-satunya penerima penghargaan dari Indonesia, dan “lebih beruntung” dibandingkan ratusan pelamar di seluruh dunia.

Well, nah maksud saya share tentang hal ini di blog bukan buat sombong-sombongan. Tapi sebenarnya saya mau minta pendapat teman-teman semuanya, terkait dengan penempatan volunteering saya. “If you had to mention 3 countries for volunteering, what would they be?”

Masukan teman-teman akan sangat berharga sekali bagi saya untuk menentukan tempat yang akan saya pilih, supaya kontribusi saya nantinya bisa lebih terencana, maksimal, dan mencapai visi yang diinginkan. Anyway, kalau saya nggak salah..  Round 2 nya akan dibuka.. mungkin next year. bisa keep updating on http://gvnscholarships.org

Post to Twitter


Saya dan Nasionalisme

Posted: August 18th, 2010 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Articles, Personal | 9 Comments »

Halo teman-teman semua, apa kabar?

Maaf ya sudah lama tidak menyapa dan berbagi. Kali ini, mumpung momentumnya pas. Saya hanya mau sedikit berbagi, tentang “Nasionalisme”. Ini sebenarnya berupa beberapa potongan slides pada saat saya diminta jadi pembicara pada Konferensi Pemuda Indonesia – Olimpiade Ilmu Sosial Universitas Indonesia, beberapa waktu yang lalu. Anyway, sebelum kita diskusi lebih lanjut, saya mohon maaf, mungkin sekiranya nanti dalam postingan ini ada hal-hal yang terkesan “sombong” atau “sok”. Dari lubuk hati yang terdalam, saya hanya ingin berbagi. Adapun interpretasi teman-teman dalam memaknai tulisan ini, itu hak anda. Ehem..

Ngomongin nasionalisme, memang semua orang punya pendapatnya masing-masing. Ada yang bilang nasionalisme itu mencintai bangsanya dengan sepenuh jiwa dan rela melakukan apa saja demi bangsa nya. Pengertian yang satu ini memang kemudian mengarah ke chauvanistik, dan kalo bagi saya, justru bisa jadi negatif kalo salah menginterpretasikan. Para ahli juga mendefinisikan nasionalisme macam-macam, Ernest Renan misalnya,dia bilang “Nasionalisme adalah kehendak untuk bersatu dan bernegara”. Atau Hans Kohn juga bilang, “Nasionalisme itu formalisasi (bentuk) dan rasionalisasi dari kesadaran nasional berbangsa dan bernegara sendiri”.

Terserah sih para ahli mau bilang apa, toh buat apa hafal semua definisi tentang nasionalisme yang kalo dikumpulin mungkin bisa jadi 1 buku sendiri. Bagi saya, simply, saya memaknai nasionalisme itu:

Di bawah ini, saya akan coba bahas satu persatu dengan mengambil beberapa sudut cerita dari kisah hidup saya selama hampir 19 tahun.

Mungkin udah pada bosan ya dengerin saya ngomongin mimpi? Yups, karena sudut yang satu ini jadi sudut favorit saya dalam setiap kesempatan ketika ingin berbagi dengan yang lain. Bukan karena kehabisan ide, tapi simply karena bagi saya .. ya itu… starting point dari semua yang kita kerjakan. Dari kelas 5 SD, saya sudah memantapkan hati pengen masuk Hubungan Internasional UI. Berlebihan mungkin bagi sebagian orang melihatnya. Ada yang bilang “Lebaaay.. kayak masuk UI susah aje..”. Well, tapi bagi saya memang ga semudah itu masuk UI. Dan karena nggak mudah itu makanya butuh perencanaan. Susah karena saya bukan dari keluarga yang kaya raya, yang bisa “mungkin” menyogok untuk masuk ke universitas yang saya mau, atau yang bisa bayarin kuliah yang kata orang “Mahal banget” (meskipun ternyata wajar). Susah karena di keluarga saya nggak ada yang bisa masuk UI, bahkan dari 5 kakak saya, hanya 2 yang berkuliah. Susah karena, saya berasal dari daerah yang dulunya nggak begitu dominan di kampus perjuangan ini. Susah karena, yang saya mau adalah UI. Ada lebih dari 100.000 orang setiap tahunnya yang bertarung untuk masuk sini. Dan yang saya mau adalah HI. Jurusan yang katanya paling sulit untuk ditempus, dengan rate paling tinggi, dan kuota yang begitu banyak. Dan karena itulah, saya bermimpi.

Saya bermimpi masuk UI karena bagi saya ketika masuk UI, saya akan lebih mudah untuk mencapai mimpi saya yang lebih besar, dan itu semuanya untuk Negeri ini. Untuk bikin bangsa ini bangga memiliki seorang warga Negara seperti saya. Saya bermimpi masuk UI, karena disitu saya bisa belajar untuk mengabdi bagi bangsa dari banyak orang yang telah lebih dahulu membanggakan negeri ini dengan karya-karyanya. And Thanks God, mimpi saya waktu usia 10 tahun ternyata kini bisa diraih, dan Alhamdulillah dengan beasiswa penuh.

Classic? Ya. Banyak orang bilang, bagi seorang pelajar, cara terbaik untuk meneruskan perjuangan para pahlawan adalah dengan belajar sungguh-sungguh. Dan memang betul, dengan belajar lah kita bisa melakukan sesuatu. Kita bukan dilahirkan dengan kemampuan sempurna, yang membuat kita bisa melakukan apapun. Bahkan seorang prodigy (orang yang dilahirkan dengan bakat dan talenta luar biasa) pun masih harus terus belajar dan berlatih, untuk kemudian memanfaatkan dengan maksimal potensi yang dimilikinya. Bagi saya, belajar itu bisa dimana saja dan dari mana saja. Makanya terkadang, bagi saya, ketika ada berbagai pilihan sulit, and I have to make a right choice, belum tentu saya berada di kelas, duduk dan mendengarkan dosen lebih baik dari pada saya berada di luar dan berkegiatan. Atau sebaliknya, belum tentu kegiatan saya di luar lebih baik dan bermanfaat dibandingkan saya di kelas. Saya belajar dari banyak tokoh, mulai dari orang nomor  1 di negeri ini hingga mungkin orang yang dipandang sepele di masyarakat. Dari mereka saya belajar banyak hal, tentang pengalaman, tentang rahasia sukses, tentang perjuangan, dll. Saya suka berdiskusi dengan pak Marty Natalegawa, karena wawasannya yang begitu luas dan perjuangannya yang begitu hebat. Saya suka berdiskusi dan sering sekali merasa harus berbuat lebih banyak untuk bangsa ini,ketika curhat atau diskusi dengan pak Budi Soehardi (CNN Heroes). Ketika saya berdiskusi dengan seorang Anies Baswedan, saya belajar dari kesederhanaannya, dan kepiawaiannya memainkan kata, begitu mengalir, dan mudah dimengerti. Tidak hanya dari mereka, saya belajar dari rekan-rekan saya di HI, dari anak-anak yang kini sedang menabur mimpinya. Belajar tentang perjuangan dari mereka semua. Yeah! Dan itu semua untuk Negeri ini.

“Negeri ini butuh perbuatan!“. Sepertinya tulisan semacam ini ramai sekali di timeline akun twitter saya selama pesta kemerdekaan Indonesia. Dan saya setuju sekali, dan berharap bahwa semangat itu bukan hanya berkobar di dunia maya, tetapi juga di dunia nyata. Berulang kali saya sampaikan ketika ditanya, bagaimana sih berkontribusi untuk bangsa ini? “Hey dude! Just look at your self and make the nation proud of you!”. Tidak ada template baku / panduan khusus untuk berbuat bagi bangsa ini. Simply, gunakan potensi yang ada diri kamu. Karena saya suka volunteering dan public speaking, saya menggunakan elemen ini untuk kemudian mengabdi kepada bangsa ini. Kalo kamu suka musik, kamu bisa bikin bangsa ini bangga dengan musikmu. Kalo kamu suka berorganisasi, kamu bisa berkontribusi aktif dalam berbagai komunitas atau organisasi di sekolah/ kampus yang positif dan bergerak untuk kemajuan bangsa. Atau kalau kamu merasa nggak bisa sama sekali (sayang sekali), at least just do your best at school.

Saya percaya. Ini sih masih sambungannya sama part mimpi tadi. Bisa jadi trilogy kali kalo dibahas. Hehe. Well, pentingnya percaya sama apa yang kita yakini, impikan dan kita lakukan itu penting banget. Bukan karena nama saya “Iman” ya, yang kalo dalam Bahasa Arab artinya percaya. Tapi memang seperti itu.. Saya sering kali lo mengalam situasi di mana orang nggak percaya dengan apa yang saya lakukan, dan hanya menganggap saya mimpi di siang bolong, atau terlalu banyak mimpi. Bahkan dulu guru saya pernah bilang “Udah lah. Nggak usah mimpi ketinggian. Biasa aja hidup ini”. Tapi karena “kepercayaan” dengan apa yang saya jalani itulah yang membuat saya kini menjadi sosok Iman yang seperti ini. Salah satu kisah, yang pernah juga saya bagi melalui blog ini, ya kisah sewaktu mengikuti Pemilihan Duta Muda ASEAN. Sewaktu semua orang nggak yakin dengan kemampuan saya, dan menganggap saya terlalu dini mengikuti ini, saya buktikan! Saya percaya dengan apa yang saya pilih, dan saya lakukan. Saya percaya dengan strategi yang saya buat, dan saya yakin semua akan Indah pada waktunya. Rasa percaya itu penting juga buat negeri ini. Di saat bangsa ini dilanda dengan berbagai pesimisme,bangsa ini butuh orang-orang yang optimis. Bangsa ini butuh orang-orang yang percaya kalau bangsa ini bisa bergerak lebih baik, dan lantas tidak pasrah dengan nasib.

Saya nggak mau dicap sebagai orang yang Cuma bisa ngomong saja, dan lantas nggak berbuat apa-apa. Simply, Saya buktikan!

Slide di atas bukan karena kehabisan ilustrasi atau apa.. Tetapi ya karena saya cinta. Orang bilang cinta itu susah dilukiskan. Betul! Ketika ditanya “kenapa sih kamu suka si dia, si A, atau si B?” bingung kan jawabnya.. Begitu juga kalo ditanya “kenapa saya cinta negeri ini?”. Bisa saja karena saya lahir di sini, karena saya hidup di sini, karena saya sudah biasa dengan segala yang ada di sini.. atau apapun.. Saya cinta dengan apa yang saya lakukan, dan begitulah cara saya mencintai negeri ini.

Sekali lagi, ini semua hanyalah pandangan personal saya, dan bukan template baku yang harus teman-teman ikuti. Teman-teman punya potensinya masing-masing, dan saya yakin kita semua punya keinginan yang saya untuk bangsa ini. Tinggal, bagaimana kita menginterpretasikan keinginan itu menjadi perbuatan kita.

ITULAH SAYA, DENGAN CARA SAYA

Buktikan Nasionalisme-mu

Dengan Cara-mu

Post to Twitter


Toronto 2010: What a Journey

Posted: July 14th, 2010 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Events, Personal | 7 Comments »

Halo semuanya, apa kabar? Alhamdulillah, saya sekarang sudah kembali lagi ke negeri ini. Saya baru kembali dalam perjalanan 11 hari ke belahan benua lain, benua Amerika, ke Negara Kanada tepatnya. Jika ditanya, “apakah kamu pernah membayangkan bisa pergi ke benua Amerika?”, bohong jika saya jawab tidak. Tapi, yang pasti saya tidak menyangka jika bisa secepat ini. Semuanya rahasia Tuhan.

Sekitar 1,5 bulan yang lalu saya mendaftar sebuah seleksi yang diadakan oleh Global Vision Canada untuk memilih pemuda-pemudi dari 19 negara anggota G20, untuk berpartisipasi dalam My Summit. Penilaiannya didasarkan pada CV dan track record baik secara akademis maupun kegiatan-kegiatan kepemimpinan (non-akademis), serta essay. My Summit merupakan konferensi resmi yang ditujukan kepada pemuda/i di seluruh dunia yang diselenggarakan bersamaan dengan G20 Summit, yang akan dihadiri oleh para pemimpin-pemimpin dunia. Tak disangka, prosesnya begitu cepat, saya diterima menjadi salah satu dari 7 delegasi Indonesia.

Apakah semuanya sudah selesai begitu saja?

Tidak, saya dan teman-teman harus berkutat dengan persoalan sponsorship. Karena penyelenggara tidak menanggung biaya transportasi dari negara asal ke Kanada. Dan, seperti yang teman-teman tahu, tiket dari Indonesia-Kanada sangat mahal. Bahkan hampir 2x penerbangan ke Amerika Serikat. We tried everything we can, hingga akhirnya Tuhan menggariskan bahwa My Summit akan menjadi salah satu dari kisah panjang kehidupan kami.

Saya berangkat pada tanggal 22 Juni 2010 dan tiba di Toronto, Canada pada tanggal yang sama pukul 18.00 (waktu setempat, Indonesia lebih cepat 11 jam). Kebetulan saya adalah siswa pertama yang tiba di Toronto, dari rombongan delegasi Indonesia. Sesampai di Toronto, saya langsung menuju rumah rekan saya Lucie (dari TakingItGlobal), untuk bermalam di sana, sebelum esok hari saya mencari penginapan. Melihat Toronto pertama kali, begitu menakjubkan. Beragam warna kulit, asal negara menyatu dalam sebuah kesatuan, kota Toronto. Bahkan saya tidak bisa membedakan, mana yang penduduk asli, dan mana yang hanya sekadar visitor (seperti saya). Tak ada bedanya, semua orang terlihat berbeda, tapi semua bisa menerima.

Pertama kali saya datang, saya sudah dapat pelajaran pertama, Toleransi.  Kebebasan bagaimanapun memang ada batasnya, tapi yang harus diingat adalah tetap toleran. Bagi saya, toleran tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, tetapi kedua belah pihak harus saling menenggang perasaan satu sama lain. Dan itu yang saya lihat di Toronto. Pantas saja pelajaran mengenai ‘toleransi’ sudah diajarkan kepada kita sedari duduk di bangku sekolah dasar.

Menelusuri kota sambil mencari rumah teman saya tadi, membuat saya tak henti-hentinya terpesona dengan tata kotanya. Gedung-gedung tinggi, dengan arsitektur modern dan futuristik tampak harmonis, dengan taman-taman yang tampak terawat di setiap sudut. Ditambah lagi dengan sejumlah gedung-gedung tua yang masih terawat dan menimbulkan sisi kemegahan kota ini. Bergumam dalam hati, andaikan negeri saya seperti ini…. Mungkin saya tidak perlu membandingkan bagaimana majunya Kanada, dibandingkan Indonesia. Karena memang keduanya adalah entitas yang berbeda. Tapia da seharusnya nilai-nilai yang tetap harus dipelajari oleh Indonesia, untuk mengejar ketertinggalannya. Bahkan nilai-nilai yang selalu dibangga-banggakan oleh negeri kita, seperti keramahtamahan , gotong royong, dll, yang jutsru saya lihat berkembang di negeri Barat. Nilai-nilai timur, yang kini bahkan sudah mulai pudar di negeri kita sendiri. Misalnya saja, setiap saya bertanya di Toronto, semua orang dengan senang hati membantu. Sampai saya sendiri sering bilang “Kok ini orang baik banget ya?”.

Summit baru akan dimulai pada tanggal 25 Juni 2010. Artinya saya masih punya waktu sekitar 2 hari, untuk menikmati keindahan kota ini dengan segala pernak-perniknya, sembari meningkatkan kapasitas saya sendiri. Maklum, saya sendiri jujur masih merasa awam dan perlu banyak belajar dengan materi-materi bahasan G20, meskipun untuk kategori “My Summit”, kita tidak dituntut begitu besar, karena sasarannya adalah “learning-oriented”. Artinya keberadaan saya di G20 Summit, tetap sebagai country representative, tetapi lebih diorientasikan untuk belajar sebanyak-banyaknya baik dari para penelis, bertanya dan saling bertukar pikiran, serta saling berbagi mengenai apapun antar delegasi di G20. Hal ini, juga secara tidak langsung tentunya akan meningkatkan persahabatan antar negara-negara anggota G20.

Selama summit, saya banyak bertemu dan berdikusi langsung dengan figur figur sukses, baik di Canada maupun dunia, apakah CEO sebuah bank, founder sebuah NGO, wirausahawan muda, social entrpreneurs, dll. Mendapatkan insight dari mereka, sungguh sebuah kesempatan yang luar biasa, dan memacu saya untuk terus berkembang. Terlebih lagi, pada beberapa bahasan tertentu juga sangat relevan dengan apa yang saat ini sedang saya kerjakan di organisasi Indonesian Future Leaders (http://indonesianfutureleaders.org). Selain berdiskusi mengenai ekonomi dan pembangunan dunia, kami sesame delegasi juga melihat peluang dan tantangan yang ada yang dimiliki oleh G20. Bagaimana peran masing-masing negara, dan kontribusinya. Di sini saya melihat, Indonesia memainkan peran yang cukup vital. Diplomasi-diplomasi yang digunakan juga gencar memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang. Isu-isu yang diangkat menjadi isu seksi di ranah G20 Summit. Salut untuk semua diplomat Indonesia! Di sela-sela summit, saya juga berkesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat di Toronto, misalnya saja Remix Project, sebuah tempat yang kini menjadi pusat kreativitas anak-anak jalanan di Toronto untuk mengembangkan bakat bermusiknya, jurnalisme, fotografi, media, dll. Mereka tak Cuma sekedar belajar, tapi juga mempublikasikannya hingga menjadi karya-karya yang layak jual, dan cukup bersaing. Project ini selain merupakan wadah pemberdayaan kaum muda di Toronto, ternyata juga mampu menekan angka kriminalitas di kota ini. Mmm.. ide yang cukup menarik.

Saya juga berkesempatan bertemu dengan Presiden RI, para menteri di Kabinet Indonesia Bersatu, Ketua DPD, figure-figur ternama di dalam negeri, para jurnalis Indonesia yang tak gentar untuk menyampaikan kabar ke tanah air. Sungguh momen yang sangat jarang terjadi, dan tentunya tak saya sia-siakan. Mereka banyak bertanya seputar Summit yang saya ikuti, dan tak ketinggalan menggali tentang apa yang saya dan teman-teman muda Indonesia kerjakan di Indonesian Future Leaders.

Saya juga mendapatkan pembekalan khusus dari Menteri Keuangan dan Sherpa G20 (Wakil Menteri Perdagangan), mengenai perkembangan situasi yang terjadi di G20 Summit, dan bagaimana stance Indonesia. Komprehensif, penuh dengan passion, dan mencerahkan wawasan saya (maklum saya baru tahun 1 kuliah di Hubungan Internasional UI, dan belum banyak belajar mengenai isu-isu ini).

Well, mungkin bertemu dengan Pak Menlu Marty Natalegawa sudah cukup sering, khususnya terkait dengan tugas saya sebagai Duta Muda ASEAN-indonesia. Tapi kali ini, luar biasa! Berbincang langsung, tatap muka, dan waktunya pun cukup lama (maklum sembari menunggu Bapak Presiden RI. Hehe). Pak Hatta Radjasa, Ibu Marie Elka Pangestu, Pak Irman Gusman, Pak Agus M, Pak Mahendra Siregar, dll. Begitu banyak yang saya temui, hanya syukur yang bisa terucap.

Saya begitu beruntung menjadi delegasi Indonesia, dan berkesempatan memimpin teman-teman delegasi Indonesia lainnya yang luar biasa. Mereka semua senior saya, dan saya yang paling muda. Tetapi tetap mereka mendengarkan opini dan pendapat saya, meskipun mungkin sesekali menyebalkan. Hahaha. I learn a lot from you all guys.

Ditambah lagi, dengan pemerintah Indonesia yang sangat peduli dengan kami. Kami tidak dianggap anak-anak yang tidak tahu apa-apa, dan tiba tiba datang ke negeri orang. Tetapi posisi kami dianggap sejajar dengan para delegasi Indonesia lainnya.

Banyak hal yang saya dapatkan selama mengikuti G20 Summit, mungkin saya akan bercerita mengenai substansi pada bahasan tersendiri, tetapi yang jelas perjalanan ini mengisi 1 halaman lagi dari kisah panjang di buku kehidupan saya.

“Hidup ini seperti buku. Dan bagi mereka yang tidak pernah melakukan perjalanan, mereka hanya membuka 1 halamannya saja”. – Chiken Soup for Traveller Soul

Setiap perjalanan yang saya lakukan, apakah itu hanya untuk tugas khusus, ataupun sekedar bersenang-senang saja, memberikan arti luar biasa untuk membentuk diri saya. Kadang saya melakukan kesalahan, yang membuat saya belajar agar tidak jatuh pada lubang yang sama di lain kesempatan. Atau kadang, saya juga merengkuh buah sukses dari usaha saya selama ini, yang semakin memacu saya untuk lebih maju dan tetap progresif di langkah berikutnya.

Menjadi duta bangsa memang terlihat menyenangkan, tapi ada beban berat yang juga menanti. Menampilkan Indonesia seorang diri, yang kadang memang harus menahan egoisme pribadi. Dan yang terpenting, bagaimana untuk tetap berkontribusi sesudah kembali. Itu yang kemudian membuat saya sering harus berpikir berulang kali, ketika diminta atau ingin mengikuti sebuah kegiatan, khususnya di negeri orang. Apa yang kita dapat, harus dikontribusikan dan disumbangsihkan kepada masyarakat. Dan sumbangsih itu, sudah selayaknya jauh lebih besar dari apa yang kita dapat. Begitulah cara kita mensyukurinya, dan saya sendiri masih harus banyak belajar untuk urusan yang satu ini.

Long way to go. Masih banyak yang harus dikerjakan, dan tugas-tugas lain menanti selama ini. Kita semua sama teman-teman, jadi kalau saya bisa, kenapa anda tidak?

Tentang penulis:

Pria yang biasa dipanggil Iman ini dilahirkan pada 21 Desember 1991, di kota Padang. Sejak usia 10 tahun, Iman telah aktif terlibat dalam kegiatan kerelawanan dan juga pengembangan masyarakat. Sejak saat itu, Iman yang telah meraih sejumlah penghargaan bergengsi khususnya dalam aktivitasnya mempromosikan dan memperjuangkan hak-hak anak dan dialog antarbudaya. Pada tahun 2008 Ia dianugerahi Penghargaan Presiden RI – Pemimpin Muda Indonesia 2008, serta Mondialogo Junior Ambassador for Intercultural Dialogue oleh DAIMLER dan UNESCO. Pada tahun 2009, Iman terpilih sebagai salah satu dari 10 anak di dunia penerima penghargaan World Youth Achiever Recognition oleh Friendship Ambassador Foundation Amerika Serikat dan terpilih sebagai Penasehat Remaja United Nations Population Fund Indonesia. Saat ini Iman baru saja memulai pendidikannya di Universitas Indonesia jurusan Ilmu Hubungan Internasional, sembari menjabat sebagai Presiden Indonesian Future Leaders, dan Duta Muda ASEAN-Indonesia.

Post to Twitter


Kisah 6 Bulan

Posted: June 21st, 2010 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Personal | 11 Comments »

Hai smuanya, apa kabar? Maaf ya saya sudah lama nggak berkisah dan bercerita di blog ini. Many things happened, dan sayangnya susah juga menemukan waktu (dan mood) untuk kembali aktif nge blog seperti dulu. Saat ini saya sedang di Kuala Lumpur untuk transit beberapa jam, untuk pergi ke Toronto, Canada guna mengikuti G20 Youth Summit (bersamaan dengan G20 Summit). Nanti untuk yang satu ini, insya Allah sepulang dari Canada saya akan berbagi pengalaman dengan teman-teman semua.

Well, kali terakhir saya menulis adalah tentang salah satu kegiatan Indonesian Future Leaders (IFL), yaitu IFL Goes to School.  Well, 5 bulan terakhir ini memang kegiatan saya selain kuliah, banyak berkutat dengan program-program kerja IFL. Saya akan bercerita lebih lanjut nanti.

Di awal tahun 2010, saya sempat berbagi mengenai visi saya di tahun 2010 ini, tentang mimpi-mimpi yang ingin saya capai. Dan tak terasa, ini sudah bulan ke 6. Artinya sudah setengah tahun, tahun 2010 ini berjalan. Mungkin tak ada salahnya, mencoba merefleksi apa yang terjadi 6 bulan ke depan. Di awal tahun, saya menuliskan Resolusi 2010:

1. IPK 3,41

2. Lebih produktif lagi dalam mengedukasi dan menginspirasi masyarakat.

3. Les Bahasa Asing

4. Punya Official Personal Blog

5. Tulisan dimuat di media cetak/online nasional

6. Ke luar Sumatera-Jawa

7. Pergi ke negara yang selama ini belum pernah dikunjungin

KARIR

8. Sukses gelar roadshow IFL

9. Indonesian Future Leaders (IFL) lebih dikenal masyarakat.

10. Lebih kontributif sbg United Nations Population Fund (UNFPA) – Youth Advisory Panel (YAP) dan UNICEF Volunteers

11. Bisa memberikan perubahan dan manfaat bagi eksistensi dan kontribusi Duta Muda ASEAN Indonesia

Yups, kira-kira ada 7 dari 11 resolusi yang sudah tercapai sejauh ini. Dan masih ada 6 bulan lagi untuk mencapai sisanya. Ini dia teman-teman, power of dreams. Dulu pas di awal 2010, banyak yang bilang “wah… resolusinya susah-susah ya kayaknya bakal kerja keras nih”, atau “bener bener big dreams ya”. Dan saya cuma tersenyum, dalam hati bilang “Insya Allah tercapai”. Saya adalah orang yang percaya dengan mimpi dan pengharapan. For me, life without dream hopes is nothing. Itu sama saja seperti kita mengendarai kendaraan tapi kita tidak tahu tujuannya.

Saya sering mendengar teman-teman saya bicara “Ya udahlah, nikmati aja hidup ini. Jalani saja, seperti air mengalir”. Salahkah? Tentu tidak. Saya menghargai pendapat mereka, sebagaimana mereka juga menghargai saya. Bagi saya mereka bebas menentukan, ya.. toh itu hidup mereka sendiri. Cuma mungkin saya hanya berbeda pandangan saja. Bagi saya, ketika kita punya mimpi bukan berarti kita tidak menikmati hidup ini, bukan lantas kita menjadi ambisius, dan lupa menikmati kehidupan. Justru bagi saya, perjalanan kita mencapai mimpi mimpi itu sendiri adalah kenikmatan. Ada banyak hal-hal tak terduga, kejutan-kejutan manis, atau bahkan juga cobaan dan kegagalan yang membuat saya terus diingatkan bahwa saya harus kerja keras lagi. Semua itu menjadi tambah sempurnan, tatkala apa yang kita impikan berhasil kita genggam. Rasanya?? Jauh lebih nikmat dibandingkan, hal hal manis yang kita dapatkan secara kebetulan (artinya tidak kita rencanakan).

Merencanakan mimpi atau visi, bagi saya juga mempermudah saya untuk melakukan evaluasi diri. Saya bisa mengukur sejauh mana saya melangkah, apakah saya sudah dekat, atau masih jauh dari tujuan saya. Bayangkan saja misalnya jika sebuah team sepakbola datang ke Piala Dunia tanpa target apapun. Bagaimana kita bisa kita mengukur kesuksesan mereka? bagaimana kita menilai suatu team dianggap berhasil, atau gagal? Begitu juga diri kita.

Selama 6 bulan terakhir saya banyak belajar, baik dari orang-orang yang selama ini saya kagumi, ataupun belajar dari diri sendiri. Belajar dari kegagalan agar tidak mengulangi hal yang sama, atau belajar dari keberhasilan, sehingga bisa melakukan hal yang sama baiknya atau bahkan lebih baik pada bidang yang lain. Saya dapat kesempatan bertemu dan berkenalan degan tokoh tokoh yang saya kagumi, berkeliling ke berbagai tempat, menghadiri berbagai acara, dll. Semuanya bagi saya adalah suatu anugerah, yang pantas untuk disyukuri.

Well kembali ke resolusi tadi:

Alhamdulillah, secara akademik ada peningkatan prestasi akademik. Meskipun tidak terlalu signifikan, tapi tetap masih di atas target saya. Mungkin tidak setinggi teman-teman saya yang lain, yang IP nya nyaris sempurna, atau sangat membanggakan, tapi saya tetap bahagia dengan IP saya saat ini, meskipun harus/ wajib/ musti ditingkatkan di semester berikutanya (HARGA MATI). Memang sedari awal, saya sudah menyadari berapa IP yang ingin saya capai, dan apa yang harus saya korbankan. Tak jarang, saya kadang memang agak keteteran dengan tuntutan akademik, hingga saya harus beberapa kali izin kuliah (sering sih. hehe). Meskipun banyak yang bilang “sayaang ya. harusnya fokus ke akademik, dll”. Yups, insya Allah saya tahu dengan apa yang saya pilih dan saya kerjakan. Saya juga punya batas batas tertentu kapan saya harus stop, kapan saya harus maju, atau kapan harus saya rem. Bagi saya, duduk di kelas dan mendengarkan lecture bukan selamanya lebih baik dibandingkan ikut suatu acara, atau begitu juga sebaliknya. Intinya, saya mencoba melihat oppurtunity dan risk sebagai suatu yang berkorelasi. Well, cerita tentang akademik, saya juga sangat menikmati kehidupan di HI UI. Yeah, mereka smua luar biasa. Kompetisi antara kami masing-masing, nggak memudarkan persahabatan yang ada. Saya juga belajar tentang totalitas, loyalitas, komitmen, kerja keras, pengorbanan, dll dari teman teman saya. Dan saya yakin, 3 tahun ke depan juga insya Allah tak kalah indahnya.

Sedikit cerita tentang Indonesian Future Leaders, alhamdulillah 6 bulan ini IFL cukup pesat kemajuannya. Mulai dikenal banyak orang, bahkan anggotanya dari ke hari juga kian bertambah. Tapi memang, IFL ada bukan buat ajang ngetop ngetopan, atau supaya dikenal, dll. Yang paling penting, bagaimana kontribusi untuk masyarakat tetap bisa diwujudkan. Kesuksesan IFL, bukan hanya diukur dari seberapa banyak anggotanya, atau seberapa banyak media yang meliput, tapi juga seberapa besar kehadirannya bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Insya Allah, saya dan teman teman akan terus berjuang untuk itu. 6 bulan belakangan, kegiatan kami banyak diisi dengan talkshow ke berbagai sekolah, khususnya lewat program School of Volunteers. Selain itu, kami juga bekerjasama dengan berbagai partners untuk mendukung pemberdayaan masyarakat. Insya Allah 6 bulan ke depan, akan jadi hari hari yang menarik, ikuti terus perkembangannya! Hehe

Sebagai Youth Advisory Panel UNFPA Indonesia, saya merasa juga mulai sedikit terbiasa dengan suasana kerja di UN. hehe. sampe bikin saya betah nongkrong di kantor. Hehe. Saya mulai banyak terlibat dalam monitoring program, dan juga memberikan input terhadap program -program UN. Kesibukan saya di sini, juga membuat saya sekarang hampir kenal dengan semua UN Agencies yang ada di Indonesia, lumayan lah.. bagi seseorang yang pengen punya masa depan di sana (hehehe). Saya dipercaya untuk menangani International Youth Day bulan Agustus mendatang, dan yeah.. cukup menyibukkan, menantang, sekaligus mendebarkan. Haha. Belum lagi, itu juga akan jadi starting point penyelenggaraan International Youth Year selama 1 tahun ke depan. Yups. I’m very excited with all of these stuffs. haha

Sebagai Duta Muda ASEAN Indonesia, meskipun belum tugas ke luar negeri atau ke mana mana (karena sering bentrok dengan jadwal lainnya), saya tetap bersyukur. 6 bulan sejak saya terpilih sebagai Duta Muda, saya sering menjadi pembicara atau mengisi sharing session tentang ASEAN dan kaum muda. Selain itu, saya juga berkesempatan menghadiri berbagai acara-acara, bertemu dengan media, dll. Pengalaman yang luar biasa. Insya Allah 1 tahun lagi saya menjabat sebagai Duta Muda ASEAN, dan moga moga banyak hal menarik sekaligus pembelajaran yang didapat.

Well, lumayan capek juga ya. Sepertinya saya harus istirahat untuk perjalanan panjang esok. Haha. See u later ya!

Post to Twitter


Resolusi 2010! THINK BIG!

Posted: January 2nd, 2010 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Personal | 2 Comments »

Yes! 2010 udah datang, dan saatnya resolusi baru muncul. Well. Di tahun 2009, 8 dari 9 resolusi saya terwujud.. di tahun 2010 nggak mau kalah dong? 2010 mungkin akan jadi tahun yang bagus buat geting closer with my dreams.

PERSONAL

1. IPK 3,41 >>> Kenapa nanggung banget, ga 3,51 skalian? Haha. Yeah, mencoba realistis aja.. 2010 akan jadi tahun yang sibuk banget, dan bisa stabil aja udah syukur banget. Hehehe. Dan it’s good enough lah buat mencapai resolusi lain di 2010.

2. Lebih produktif lagi dalam mengedukasi dan menginspirasi masyarakat.

Yeah, insya Allah program edukasi ChildrenBehindUs bisa diperpanjang, ga cuma 6 bulan. Jadi masih bisa ngajar terus buat anak-anak yang kurang mampu. Dan karena ngerasain serunya jadi speakers dalam berbagai kegiatan di 2009, kayaknya jadi tertarik juga buat 2010. Moga-moga banyak yang ngundang! Hehehe

3. Les Bahasa Asing

Ok. Moga-moga ini bisa kesampaian. Apakah memperdalam B.Inggris lagi.. atau mungkin try something new, Perancis? Boleh juga.. haha

4. Punya Official Personal Blog

Haha. Yeah.. mengikuti saran banyak orang, dan mungkin juga sebagai sbuah kebutuhan.. Insya Allah di 2010 pengen beli domain dan hosting blog sendiri.

5. Tulisan dimuat di media cetak/online nasional

6. Ke luar Sumatera-Jawa

Sayang banget selama ini cuma keliling Sumatera atau Jawa aja. Padahal Indonesia luasss banget. Moga moga bisa dapet waktu dan moment yang pas.

7. Pergi ke negara yang selama ini belum pernah dikunjungin

KARIR

8. Sukses gelar roadshow IFL

Ayo. the founders.. Haha. moga-moga niatan kita buat gelar IFL Goes to School dan roadshow… berjalan dengan sukses ya. Termasuk Big Project kita di 2010.

9. Indonesian Future Leaders (IFL) lebih dikenal masyarakat.

Yeah. moga moga program kita lebih unggul dan bermanfaat, invited to some events, partnership makin lancar, highlighted by medias, etc. Impactnya moga-moga ada 100 active volunteers di 2010

10. Lebih kontributif sbg United Nations Population Fund (UNFPA) – Youth Advisory Panel (YAP) dan UNICEF Volunteers

11. Bisa memberikan perubahan dan manfaat bagi eksistensi dan kontribusi Duta Muda ASEAN Indonesia

Moga-moga seiring berjalannya 2010 nanti, akan ada hal hal tak terduga di luar resolusi ini. Ingetin terus ya! Keep up the spirit, THINK BIG, and MAKE IT HAPPEN!

Post to Twitter


Think Big, and Make It Happen!

Posted: December 17th, 2009 | Author: Iman | Filed under: Events, Personal | Tags: , | 1 Comment »

Menjadi seorang Duta Muda ASEAN Indonesia adalah sebuah pengalaman luar biasa, sesuatu yang dalam 2 tahun terakhir saya anggap hanya sebagai impian yang mungkin suatu saat bisa saya capai, entah kapan itu. Tulisan ini hanyalah sebuah refleksi yang saya harap bisa menginspirasi teman-teman semua, khususnya buat semua orang yang ingin menjadi Young on Top[i] (meskipun saya sendiri masih berjuang untuk mencapai itu semua)

Sejak 2  tahun yang lalu, tepatnya ketika Duta Muda ASEAN 2007 untuk pertama kali diselenggarakan, dan akhirnya memilih Yoes Chandra Kenawas dan Kinanti Taufik sebagai pemenangnya, saya sudah sangat kagum dengan pencapaian mereka, dan juga 18 finalis lainnya. Mereka semua luar biasa! Sepanjang masa jabatnya, seluruh DMAI 2007 sukses mengharumkan nama Indonesa dan luar biasa kontributifnya dalam mempromosikan ASEAN Community.

Dan ketika sekitar 6 bulan yang lalu, info pemilihan Duta MUda ASEAN Indonesia 2009 mampir ke telinga saya, saya bergegas mencari informasinya. Saya masih ingat saat itu bahkan saya belum melakukan Ujian Akhir Nasional sebagai anak SMA. Haha. Lucu kadang, Cuma bagi saya untuk berkontribusi tak mengenal batasan umur, selalu ada peluang jikalau mau. Saya sudah menduga sih bahwa aturannya haruslah berstatus mahasiswa, dan tentu status saya yang bahkan belum lulus UAN ini akan menjadi masalah. Saya masih ingat dengan kalimat “peserta merupakan mahasiswa/I berprestasi di Indonesia, dan bagi S1 minimal IPK 2,75”. Hahah. Cuma, memang saya yang ngeyel. Saya tetep keukeuh mau ikutan.  And I asked the committee, saya kirim email ke mereka. Kira-kira menyatakan bahwa “saya ingin ikut serta dalam kegiatan ini. Dan menjelaskan status saya saat ini bahwa saya akan segera lulus SMA (Meskipun waktu itu saya bahkan belum memulai ujian akhir. Hehe), dan pada bulan Juli saya akan resmi menjadi mahasiswa Universitas Indonesia (kebetulan saat itu saya telah diterima di UI), jadi jika lulus, status saya sudah mahasiswa, sama halnya dengan peserta lain”. Then, mereka bilang “Ok. Silahkan coba saja dulu. Akan kami pertimbangkan (Diplomat never says no!)

Saya ikuti semua proses pendaftarannya, seleksi berkas, cv, essay, dll. Dan kabar mengejutkan datang di bulan November yang menyebutkan saya masuk 50 besar, dan akan menjalani proses wawancara. Haha. Then, I was shocked and realized that I was the only freshman among all semifinalists. Tapi itu bukan kali pertama bagi saya “ikut-ikutan” di acaranya orang gede. Masih ingat dulu pada saat talkshow di sebuah stasiun TV lokal Kota Padang, dan mereka menanyakan “Kok kamu senang banget sih ikutan acara orang gede?”. Hehe. Simply, I just believe that there is no barrier to contribute for society, even your age. Tahapan wawancara semifinal sungguh pengalaman luar biasa, di mana saat itu I could say that it was not my best interview. To be honest, Banyak jawaban yang saya lontarkan, yang saya sendiri ragu dengan kebenarannya. Masih ingat ketika Mas Cherry (salah satu juri) nanya saya “kamu tahu nggak kapan Bali Concord?”, dan tiba-tiba saya lupa, padahal dulu waktu ASEAN Goes to School pernah dikasih tahu. Dan dengan gampangnya saya jawab “Maaf mas, saya lupa”. Dan ada banyak kisah kisah lucu lainnya selama wawancara, yang mungkin beberapa orang tahu prosesnya. Menggelikan!

Dan sekitar 1 bulan kemudian, ketika saat itu saya lagi diminta jadi MC di Farewell Party AFS Jenesys Short Program di daerah Kemang, saya ditelepon perwakilan dari DEPLU yang menyebutkan bahwa saya terpilih sebagai salah satu dari 10 pasang finalis. Hahaha. Ekspresi saya aneh banget pas dikasih tau waktu itu. Serasa nggak percaya, dan masih bingung aja.

Menuju karantina, yang saya takutkan Cuma “saya takut nggak bisa memberikan yang terbaik buat orang orang di sekeliling saya. Takut jawaban pada saat malam final mengecewakan, atau bahkan lebih parahnya saya nggak tahu mau ngomong apa”. Haha. Saya udah nggak peduli lagi, apakah mau menang atau kalah. Saya masih ingat ketika itu saya kabari Yoes (pemenang DMAI 2007), dan dia Cuma bilang “Be Sincere Man!”, nggak beda jauh sama Kintan (DMAI 2007) “Bring out the best in you by being yourself, sincerely and passionately”. Ya, saya hanya akan mencoba just perform. Nggak susah kok, karena saya ikut karena kemauan saya, saya tahu apa yang ingin saya capai, dan I just do what I love, and love what I do. Simple!

Selama karantina, saya benar-benar untuk mencoba melepaskan diri saya dari segala macam tuntutan yang ada, Toh kalau kalah, ini bukan akhir dari segalanya. Kalah atau menang, saya tetap akan berkontribusi buat masyarakat. And yeah, I tried to bring out my self. Semua proses karantina saya lalui, dan setiap menyudahi sesi, saya langsung bersyukur, luar biasa! Menang atau kalah, ini betul betul kesempatan luar biasa. Diajar oleh seorang Anak Agung Banyu Perwita, mendapatkan pendidikan mengenai public speaking, dll. Saya masih ingat ngomong sama Mario (room mate saya yang akhirnya jadi Juara Favorit), “Mar.. gue udah nggak peduli lagi menang atau kalah. I believe that million doors will be opened after this. I wont be someone else. Gue Cuma coba jd diri sendiri. Kalo mereka memang mencari orang seperti gue, ya they’ll choose me. Kalau bukan, berarti ada orang lain yang lebih tepat”. Haha. Saya benar benar menikmati proses karantina, mungkin saking menikmatinya, saya sampe jadi paling ribut, rame, dan hobby banget bikin jokes jokes aneh (merasa nggak peduli, apakah itu sedang dinilai atau tidak).

Dan ketika malam final berlangsung. Sebelum maju saya bilang di depan cermin, “Alhamdulillah. I’m Happy to be me, and I’m well prepared”. Dan sepertinya ritual ini dilakukan oleh hampir semua finalis. Haha. Menjawab pertanyaan 10 besar dari Mas Banyu, masya Allah deg degannya. Saya takut ditanya yang aneh-aneh (to be honest), ternyata beliau nanya “Gimana pendapat kamu upaya yang dilakukan untuk mengatasi perselisihan antarnegara”. Pas dinyatakan masuk 5 besar, saya luar biasa kagetnya, dan semua jadi terasa lebih mudah saat itu. Saya sudah nggak peduli dengan hasil akhirnya, yang saya percaya bahwa saya sudah melakukan yang terbaik, dan saya ingin menutupnya dengan sesuatu yang indah. Lagi-lagi saya dapat pertanyaan dari Mas Banyu.

Haha. Ketika pengumuman, saya Cuma menatap teman teman saya yang hadir saat itu (Tama, Anda, Wiwik, Iib, Diku, Afu, Samiadji, Stephie, Fika, Audry), dan juga keluarga besar HI UI, dan hati saya berteriak “I have done! Moga-moga hasilnya nggak ngecewain kalian”. Ketika satu persatu nama disebutkan, hingga nama Dhita Wirapradja disebutkan sebagai Juara 1 DMAI 2009 Putri,saya sudah pasrah. Haha. Dhita itu tinggi banget posturnya, pinter banget, bisa entah berapa banyak bahasa, dan kayaknya udah nggak mungkinlah saya menang. Ternyata Tuhan berkata lain, Yeah! And I made it.

Saat ini saya percaya bahwa saya diberikan amanah oleh banyak orang. Yang insya Allah saya yakin bahwa bersama 19 finalis lainnya, dan anak anak muda di ASEAN kita bisa mencapai sebuah komunitas bersama, ONE VISION, ONE IDENTITY, ONE COMMUNITY, ASEAN!

Saya ingin lebih kontributif terhadap masyarakat. Menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap ASEAN. ASEAN COMMUNITY 2015 mungkin bagi banyak orang sebuah mimpi ambisius. Tapi nothing impossible kan? Harus saya akui ada banyak tantangan yang dihadapi, hingga kini bahkan ASEAN hanya dikenal oleh anak muda dalam buku pelajaran Sejarah saja. Atau itupun kadang masih lebih baik, karena masih banyak sebetulnya masyarakat Indonesia khususnya yang berada di garis bawah kemiskinan, yang mungkin tidak tahu dengan ASEAN. Ataupun jikalau tahu, tidak mau ambil pusing dengan hal itu, untuk makan aja udah susah. Tapi, ayo, state actor dan non state actors (masyarakat) harus bersama-sama bergerak maju!

Banyak orang yang menyangsikan keikutsertaan saya tahun ini. Karena banyak yang menganggap bahwa saya terlalu dini mengikuti ini, dan akan lebih baik jika 2 tahun lagi saya ikutan, dan mungkin saya jadi juara pada tahun tersebut. Tapi seperti yang saya bilang, saya nggak ingin disebut sebagai makhluk yang kufur nikmat, dan saya percaya bahwa Tuhan punya rencana. Menang atau kalah bagi saya adalah proses belajar. Jika menang, saya belajar untuk bersyukur dan bertanggungjawab dengan kemenangan yang saya raih. Dengan kemenangan, saya belajar untuk membuat lebih banyak orang sukses dari saya. Kalaupun saya kalah, saya juga belajar. Saya belajar dari kesalahan yang anda, untuk menjadi lebih baik di tempat lain. Saya belajar untuk menjadi seorang manusia, yang tidak selalu berada di atas, tapi kadang di bawah. Belajar dari Sang Juara untuk menjadi Juara di tempat lain.

Ketika orang mencapai kesuksesannya, saya percaya bahwa mereka sudah menjalani ujian yang luar biasa dalam prosesnya untuk mencapai itu. Tidak ada yang instant. Yang ada adalah bagaimana mereka bisa mempercepat jalan mereka menuju garis finish. Dan hingga kini saya belajar untuk menjadi “Young on Top”. Belajar untuk terus menginspirasi lebih banyak orang.

Ini jadi kado luar biasa jelang ulang tahun saya ke-18, dan saya percaya akan banyak hal-hal menarik lainnya yang siap menghadang. Seperti yang saya sebutkan saat ditanya oleh juri, “Apa yang akan kamu lakukan jika terpilih?”. “It just about four things. ACT, INITIATE, SHARE, AND INSPIRE”. Terima kasih kepada semua orang yang membuat saya bisa melangkah sejauh ini, meskipun jalan panjang masih terbentang. Kepada kedua orangtua saya yang selalu percaya bahwa anaknya Bisa. Kepada kakak-kakak saya yang selalu mendukung saya. Teman-teman saya yang membuat hidup saya semakin berwarna. EVERYONE!

Think Big, and Make It Happen! Untuk berjalan sejauh 1 mil, kita harus memulai dari satu langkah.

“Dalam semua sikap inisiatif, ada kebenaran yang mendasar. Ketidaktahuan memupuskan ide, dan rencana hebat. Pada saat anda melakukan komitmen, Ilahi pun membantu” >> W.N. Murray

“Manusia hanya dapat menjadi apa yang diyakininya, dan mencapai hanya apa yang diyakininya” >> Florence SH

“Tak seorangpun dapat menyiulkan simfoni. Dibutuhkan orkestra untuk memainkannya. And I NEED U Guys”


[i] Young on Top adalah sebuah buku berisi 30 Rahasia Sukses Muda, karya Billy Boen, salah satu penulis favorit saya, sekaligus teman yang banyak memberikan inspirasi dan pelajaran tentang kehidupan. Buku ini hampir kemana-mana saya bawa, untuk mengingatkan saya bahwa saya bukan harus menjadi seorang Billy Boen, tapi Young on Top. Thanks Mas Billy!

Post to Twitter