Follow Me!

2011 In Pictures

Posted: January 1st, 2012 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Notes | No Comments »

Mungkin tidak banyak yang bisa diungkapkan tentang 2011. Bukan karena tidak terjadi apa-apa, tapi justru karena ada banyak sekali hal yang terjadi. Tahun yang luar biasa, salah satu milestone penting pdalam hidup saya. Mungkin gambar-gambar ini bisa sedikit menggambarkan apa yang terjadi sepanjang tahun ini dengan saya.

 

Pertama kalinya menginjakkan kaki di Negeri Paman Sam, mendapatkan beasiswa penuh selama 5 minggu di Temple University untuk belajar mengenai Religious Pluralism and Democracy in USA, Januari-Februari 2011

Dipercaya kembali untuk memimpin Indonesian Future Leaders hingga 2013, dan perjalanan itu dimulai dengan IFL Youth Camp!

Merayakan ulang tahun IFL yang kedua! Terima kasih buat teman-teman yang slalu percaya pada kami dan mendukung kami. Semoga IFL bisa lebih berdampak lagi ke depannya!

Untuk kali pertama, saya harus berbicara di depan 5000 orang. Terima kasih untuk teman-teman Kick Andy atas kesempatan yang diberikan!

Siapa sangka, di bulan Maret saya kembali lagi ke New York, dinobatkan sebagai Global Teen Leader of We Are Family Foundation, dan bertemu dengan remaja-remaja terbaik dari seluruh dunia. Awal mula bergabung dengan GTL Family!

 

Dipercaya kembali untuk memimpin IFL hingga 2013, dan perjalan itu dimulai dengan IFL Camp bersama pengurus-pengurus baru!

Mimpi hampir setiap anak HI, berbicara di panggung UN General Assembly, di New York di depan para pemimpin dunia. (Juli 2011)

Dianugerahi UN Youth Assembly Recognition di UN Headquarter New York, dan dapat kesempatan menjadi pembicara penutup di depan 700 pemuda dari puluhan negara di dunia - Agustus 2011

Akhirnya bisa menginisiasikan mimpi yang sudah lama saya bayangkan sejak kecil, ketika Indonesia punya Parlemen Muda. Tahun 2012 akan jauh lebih menantang pastinya!

Di tahun 2011, saya dan Marshanda punya ide untuk memulai start up kami, Inspire-Cast.com untuk menyuarakan inspirasi bagi Indonesia! Kita lihat bagaimana sepak terjangnya di 2012!

Akhirnya kesampaian juga bikin seri 'AyoBerbagi' di Youtube dalam 6 episodes. Semoga bisa ngebantu teman-teman yang mau mulai bikin gerakan sosial, tapi nggak tahu caranya gimana. Alhamdulillah, coaching clinicnya sudah bisa diadakan di Jakarta, Padang, dan Bali selama 2011!

 

Nggak pernah kepikiran untuk bisa dapat penghargaan pemuda paling prestisius di Asia Tenggara, ASEAN Youth Award 2011. Tentunya, tanggungjawab yang diemban juga jauh lebih besar! Thank God!

Tentunya, ada banyak hal lain yang terjadi selama 2011. Thank God untuk semua anugerah-Mu. Banyak juga pelajaran kehidupan yang terjadi, yang sulit untuk digambarkan, dan mempengaruhi kehidupan saya. Semoga 2012 bisa jauh lebih luar biasa lagi, dan bisa lebih baik lagi! Amin! Happy New Year!

Post to Twitter


Sebuah Refleksi

Posted: December 19th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Life Lesson, Notes, Personal | 2 Comments »

Terpikir untuk sedikit menulis tentang sekelumit sejarah di balik siapa saya sekarang. Terima kasih buat mas Bukik, dengan pertanyaan-pertanyaan pemicunya yang akhirnya membuat saya menuliskan ini. Semoga bermanfaat. Tulisan ini juga ditampilkan di Blognya Mas Bukik, dengan sedikit pengantar dari beliau :)

 

Tentang Nama

Saya terlahir dengan nama lengkap M. Iman Usman pada tanggal 21 Desember 1991 di Kota Padang. Inisial M di awal nama saya dimaksudkan untuk menyebutkan Muhammad (namun kesalahan pada penulisan paspor, kini saya menuliskannya Muhamad). Nama tipikal untuk anak yang tumbuh dari keluarga yang cukup religius. Sempat saya tanya pada Ayah dan Ibu (begitu saya memanggil kedua orangtua saya) soal arti dibalik nama saya. Jawaban mereka simple saja, tapi bagi saya nama itu menyiratkan beban tersendiri. Orang tua saya menginginkan saya tumbuh sebagai pemimpin besar dengan karakter yang begitu kuat seperti Nabi Muhammad, dermawan dan berempati seperti sahabat Nabi, Usman bin Affan, dan tetap menjaga keimanan (keyakinan) saya sebagai seorang Muslim hingga akhir hayat.

Sejak kecil saya akrab dipanggil dengan nama tengah saya, Iman. Kadang di keluarga inti, saya dipanggil komeng (plesetan dari nama Iman, yang saya sendiri tidak tahu artinya apa J ), atau sesekali dipanggil adik (karena saya bungsu dari 6 bersaudara). Seiring tumbuhnya saya, dan bergaul dengan berbagai kalangan, nama saya pun makin bermacam-macam, fatalnya sekarang teman-teman di kampus saya, kompak menyebut saya ‘alay’. Haha. Kalau ditanya kenapa? Baiknya tanyakan pada mereka seja. Haha (enggan menjawab).

Saat ini saya berkuliah di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia semester 5. Usia saya 20 tahun, dan di sela-sela aktivitas saya berkuliah, sedikit meluangkan waktu berkontribusi di masyarakat dengan memimpin sebuah organisasi non-profit yang bergerak di bidang pemberdayaan pemuda untuk perubahan sosial, Indonesian Future Leaders. Saya menyenangi mengajar dan berkomunikasi dengan orang banyak, yang kini saya salurkan dengan mendirikan, memproduseri, dan menjalankan platform Inspire-Cast. Berhasrat tinggi pada pembangunan masyarakat dan dunia pendidikan, serta bercita-cita menjadi seorang guru dan pembaharu sosial.

 

Tentang Ayah dan Ibu

Tumbuh dalam keluarga dengan latar religi yang begitu kuat, membuat saya dibesarkan dengan nilai-nilai keislaman. Masih ingat di benak saya setiap hari sepulang sekolah saya harus mengaji bersama Ayah, mempelajari hadist, dll. Tapi satu hal yang paling saya hargai adalah tentang bagaimana orangtua saya tetap memberikan pilihan-pilihan di tangan saya sendiri, bagaimana mereka tetap memberikan ruang bagi saya untuk menjadi muslim yang moderat, bebas mengekspresikan diri (meskipun ada batas-batasan tertentu yang tetap tidak boleh dilanggar), mengungkapkan pendapat, dll. Ruang macam inilah yang saya pandang memberikan kesempatan bagi saya untuk jadi seperti sekarang. Ayah dan Ibu tidak pernah memaksakan kehendaknya, tetapi selalu melibatkan saya dalam setiap keputusan yang terkait dengan saya secara langsung. Mereka tidak pernah memaksakan saya untuk menjadi juara kelas, harus les ini atau les itu, ikut kegiatan macam-macam, melarang bermain, dll. Sesekali memang mereka memberikan tuntunan, namun pada akhirnya pilihan ada di tangan saya.

Kebebasan dan demokrasi itu tidak membuat saya kemudian justru jadi “liar”, tapi sebaliknya, justru merasa bertanggungjawab atas setiap pilihan yang saya ambil. Ketika saya melakukan kesalahan, Ayah hanya bilang “kamu yang pilih itu kan?”.

Kedua orang tua saya memang tidak berlatar belakang pendidikan yang kuat. Ayah hanyalah lulusan Madrasah (setingkat SLTA), dan Ibu juga hanyalah lulusan SMA. Kami bukan keluarga yang hidup berlimpah ruah. Ayah hanya seorang pedagang yang mengandalkan perekonomian keluarga dengan menjual minyak tanah ke warung-warung, dan Ibu hanyalah seorang Ibu Rumah Tangga. Tapi jangan salah, wawasan mereka bisa diadu dengan orang-orang yang katanya sarjana. Mereka mungkin tidak paham bahasa asing, tapi mereka ingin anaknya bisa bercakap dengan “bule” dengan mengesankan. Mereka mungkin tidak gemar berlama-lama dengan buku, tapi mereka ingin anaknya tidak pernah kekurangan buku untuk dibaca. Mereka mungkin tidak pernah mengecap bangku kuliah, tapi mereka ingin anaknya kuliah setinggi-tingginya. Begitulah Ayah dan Ibu.

Saya anak bungsu dari 6 bersaudara, dan satu-satunya anak laki-laki di keluarga. Meskipun mungkin mereka tidak pernah mengatakannya, namun saya yakin bahwa saya diharapkan jadi tumpuan di keluarga ini. Diantara saudara-saudara saya yang lain, hanya saya yang bisa mengenyam bangku sarjana, dan insya Allah segera menjadi sarjana pertama di keluarga inti saya. Dan saya masih ingin menjadi master pertama di keluarga saya, doktor pertama, orang yang bisa mengubah dan meningkatkan derajat keluarga kami, bukan hanya dengan pencapaian akademis saya, tapi juga karakter dan kontribusi saya untuk masyarakat.

Ketika ditanya, mana aktivitas yang paling menggetarkan. Sulit sekali menjawabnya. Entahlah, bagi saya setiap aktivitas yang mereka lakukan untuk saya, agar saya berhasil, begitu besar artinya. Sehingga sedih sekali ketika melihat keduanya menangis, karena kenakalan saya atau ketika saya justru mengecewakan mereka.

 

Milestone

Bagi saya, ada banyak momentum dalam hidup saya yang mengambil andil besar dalam membuat saya menjadi Iman yang sekarang. Tapi diantara itu semua, ada beberapa hal yang menjadi pijakan penting.

Pertama, ketika usia saya 10 tahun. Pertama kalinya saya akrab dengan aktivitas sosial (yang saat itu tak pernah saya sadari). Saya tak punya kedekatan personal dengan isu sosial tertentu, dan mungkin tidak menjadi korban langsung dari berbagai ketimpangan yang saat itu sudah ada di sekitar saya. Sehingga kadang, ketika orang bertanya bagaimana awal mulanya saya terlibat, agak sulit juga menjelaskannya. Namun, saya sering kali menyebutnya dengan “panggilan jiwa”. Saat itu saya melihat teman-teman sebaya saya, tetangga saya, tidak bisa memiliki buku selain buku pelajaran mereka di sekolah, fasilitas perpustakaan di sekolah juga tidak begitu mumpuni. Menyadari hal itu, saya tergerak membuka sebuah warung kecil, tidak cukup besar, luasnya hanya 2×3 meter, tapi cukuplah untuk menampung 100-an buku dan majalah saya waktu itu. Perlahan saya coba kumpulkan buku teman-teman yang lain, dan menjadikan warung itu sebagai pustaka bersama. Tetangga bisa meminjam buku di sana, dan mengembalikannya kembali jika usai membaca. Lalu, saya tergerak untuk mengajar dan membantu sekitar 5-7 orang tetangga saya yang tidak pernah punya akses untuk mengikuti kursus. Mengajarkan mereka sedikit mengenai bahasa Inggris yang sehari-hari saya dapatkan di kursus, membantu mereka mengerjakan PR matematika (ketika saat itu saya masih sangat menyenangi dan bisa dibilang mahir pada bidang ini), dll. Memang aksinya tidak berkelanjutan, dan hanya mampu bertahan sekitar 2 tahun. Namun itu jadi pijakan pertama saya, yang membuka mata saya bahwa masalah sosial itu nyata dan ada di sekitar kita. Siapapun kita, apapun latar belakang kita, kita bisa melakukan sesuatu, dari hal yang paling kecil.

Kedua, ketika saya SMP, saya mulai menyenangi dunia jurnalistik. Blog pribadi dan tabloid remaja menjadi wadah menyalurkan hasrat saya di bidang tulis menulis. Apapun saya tulis dan saya bagikan kepada teman-teman, sampai akhirnya hal ini menginspirasikan saya untuk mendirikan tabloid sekolah pertama di sekolah saya waktu itu. Masa SMP juga jadi sarana pengembangan diri dan eksplorasi bakat, dan minat. Kegilaan saya pada Harry Potter, membawa saya mulai mengelola sejumlah forum diskusi online pecinta Harry Potter, mengakrabkan saya dengan media jejaring sosial, hingga akhirnya menambah pundi-pundi di kantong saya, dengan membuka online shop. Masa ini juga jadi masa-masa awal saya merintis karir sebagai public speaker, mulai menjadi MC dan sharing di berbagai tempat. Mulai dari MC pernikahan adat, hingga acara-acara yang dihadiri pejabat daerah kala itu. Masa ini membawa saya kepada proses eksplorasi bakat dan minat, menyelami dunia yang berbeda, menikmati proses belajar.

Ketiga, ketika saya bergabung di Forum Anak Daerah Sumatera Barat, hingga akhirnya saya didaulat sebagai Sekretaris Umum. Sebuah forum yang terdiri atas anak-anak dari berbagai daerah di Sumatera Barat, yang berkomitmen untuk memperjuangkan dan mensosialisasikan hak-hak anak. Bertemu dengan aktivis anak, penggerak sosial, sedikit banyak menarik saya ke dalam dunia ini. Menggali empati saya untuk benar-benar total dalam apa yang kita cintai, dan apa yang ingin kita perjuangkan. Dari Forum Anak, saya juga mulai aktif mengembangkan komunitas sendiri, aktif di kegiatan-kegiatan pemuda, hingga akhirnya dianugerahi penghargaan Pemimpin Muda Indonesia 2008 oleh Bapak Presiden. Kala itu pula saya berkenalan dengan Bang Muharman (saya biasanya memanggil bang Imoe), orang yang saya anggap begitu besar peranannya dalam membawa dan membimbing saya dalam mengembangkan berbagai gerakan sosial. Orang yang selalu meyakinkan bahwa saya bisa, dan mengajarkan saya untuk berani bermimpi dan menjaga mimpi saya untuk terus hidup.

Keempat, ketika pertama kalinya kaki saya menginjakkan negeri yang sama sekali asing buat saya, mengikuti program pertukaran pelajar AFS ke Jepang. Tidak lama, bahkan cukup singkat, saya di sana. Tapi momen inilah yang membuka mata saya betapa pentingnya untuk keluar dari zona nyaman saya, membuka diri terhadap perbedaan, dan hal-hal baru dalam hidup. Jepang membuat saya semakin bersemangat untuk menjelajahi dunia, dan melihat peta dunia yang terpampang di dinding kamar, bukan sebagai teritori yang tak dapat ditembus, tapi justru untuk dijelajahi. Membuat saya bisa mengklarifiikasi pandangan dan sinisme orang terhadap Indonesia, menunjukkan kompetensi global pemuda Indonesia, dan melihat Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. Hal ini pula yang membuat saya mulai berani dan percaya diri untuk berjejaring dengan teman-teman dari berbagai negara, dan membawa saya kini menjelajah ke belasan negara. Langkah awal menuju impian masa kecil saya, mengelilingi dunia. Semakin banyak negara yang saya jelajahi, semakin besar kecintaan saya pada negeri ini. Kecintaan yang bukan hanya berlandaskan chauvinism belaka.

Kelima, saat saya mendirikan Indonesian Future Leaders bersama 6 teman saya di tahun 2009. Saat itu tak pernah terpikir IFL akan jadi seperti sekarang. Semuanya hanya berawal dari kegelisahan kolektif, yang memicu aksi kecil. Namun aksi kecil yang dilakukan oleh segelintir orang inilah yang kemudian memandu kami kepada aksi yang lebih besar, dengan dampak yang lebih besar. Entahlah, saya berharap IFL akan bisa bertahan sepanjang masa. Membangun Indonesia dengan sumberdaya manusianya, karena kekayaan terbesar yang dimiliki bangsa ini bukanlah minyak, bukanlah emas, bukanlah hutan berlimpah (seperti yang diajarkan pada kita sewaktu kecil), tapi sumberdaya terbesar adalah orang-orang Indonesia sendiri. Menjadikan sumberdaya Indonesia yang tangguh, kesitulah IFL bermuara.

Saya percaya perjalanan saya masih panjang, dan masih ada hal-hal lain yang menunggu saya, menambah pijakan saya hingga akhirnya sampai ke akhir perjalanan ini (kematian).

 

Yang Saya Hargai

Perjalanan hidup saya jalani sepanjang 20 tahun saya di dunia ini membawa saya pada titik dimana saya merasa bersyukur dengan segala hal yang diberikan Tuhan kepada saya.

Menghargai diri saya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakan seorang Iman yang tidak pernah berhenti menyerah, bersemangat, dan mau belajar. Saya percaya bahwa saya dilahirkan ke dunia ini, dengan tujuan. Menjadi solusi, dan bukannya jadi masalah. Meninggalkan jejak pengamalan untuk anak, cucu, dan orang-orang di sekitar saya.

Menghargai keluarga saya atas dedikasi tanpa pamrih, komitmen tanpa putus, dan rasa cinta tak terbendung untuk menjadikan saya menjadi Iman yang sekarang. Tanpa kedua orang tua saya, saya tidak pernah hadir di dunia ini, tidak akan bisa mengecap pendidikan yang berkualitas, di saat perekonomian kami sendiri sedang sulit saat itu. Berkat keduanya, saya tumbuh dengan karakter yang tak mau menyerah, dan percaya bahwa selalu ada kemudahan di setiap kesulitan. Menghargai kakak-kakak saya, yang meskipun jarak usianya cukup jauh dengan saya, sehingga tak banyak waktu yang benar-benar saya habiskan dengan mereka semua, namun saya percaya bahwa kasih sayang mereka tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang. Mereka semua berkoban, berusaha secara kolektif, membentuk saya seperti sekarang.

Menghargai orang-orang di sekitar saya atas pelajaran hidup yang begitu luar biasa. Mengajarkan saya tentang berbagai hal, menunjukkan inspirasi yang menggugah saya untuk beraksi. Air mata kepedihan masyarakatlah yang menjadi pecut bagi saya untuk tidak pernah berhenti bergerak. Tawa dan senyuman lepas mereka yang jadi pengobat luka di saat-saat saya merasa letih dan lelah melakukan ini semua. Tak mampu saya menyebut orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupan saya, tak putus kata menguraikan nama dan pengabdian yang mereka lakukan. Hanya rasa terima kasih, terima kasih.

Menghargai Indonesia, negeri yang tidak pernah berubah rasa cinta saya kepadanya. Saat sulit maupun saat bahagia, rasa bangga menjadi orang Indonesia. Negeri yang selalu memacu saya untuk bergerak, menginspirasi dan mengabdi lewat karya nyata. Negeri dimana masa depan dan impian saya berlabuh, dan ditautkan kepadanya.

Menghargai kehidupan ini, entah bagaimana caranya, tapi.. terima kasih Tuhan untuk kehidupan yang saya jalani ini. Tak pernah terbesit pikiran untuk menyia-nyiakan anugerah ini.

 

Simbolisasi dan Imaji

Sulit sekali mencari simbolisasi diri saya, karena kompleksitas imaji akan diri saya sendiri. Tapi jika harus memilih, mungkin air adalah elemen bumi yang paling bisa menggambarkan saya. Hidup saya mengalir, tapi bukan berarti mengalir tanpa tujuan dan rencana, air kehidupan ini akan bermuara kepada mimpi besar dan tujuan saya berada di bumi ini. Air mengalir dari atas ke bawah, yang selalu mengingatkan saya untuk tetap melihat ke bawah meskipun posisi atau status sosial saya sedikit lebih tinggi. Air kadang bisa begitu menenangkan, tapi juga bisa menghanyutkan. Kadang semangat saya begitu menenangkan bagi orang-orang di sekeliling, tapi juga bisa menjadi meledak-ledak tak terbendung, utamanya ketika saya diremehkan, semakin besar keinginan untuk membuktikannya. Air yang menjadi pelepas dahaga, menyiratkan bagaimana saya ingin hidup menjadi berkah untuk orang lain. Tapi saya tidak pernah tahu hidup saya di masa depan akan seperti apa, entah menjadi air yang menyenangkan orang lain dengan segala kelebihannya, atau (mungkin saja) justru jadi cobaan bagi orang lain. Tapi selama saya bisa memilih dan berencana, saya ingin jadi air yang menyenangkan, menjadi berkah, bukan kutukan.

 

Imaji Untuk Indonesia

Saya selalu punya bayangan besar untuk Indonesia. Entahlah mungkin karena kecintaan berlebih saya pada negeri dimana saya lahir, dan negeri dimana saya ingin akhir perjalanan saya juga berakhir di sini. Bukan kecintaan semu, tapi kecintaan tanpa syarat. Bagi sebagian orang mungkin melihat mimpi-mimpi saya ini utopis. Tapi bagi saya yang seorang optimis, saya percaya bahwa suatu saat ini semua bisa tercapai.

Di tahun 2030, saya bayangkan tak ada lagi korupsi di Indonesia, tak ada lagi anak yang terlantar dan harus mengais di jalanan. Tak ada lagi anak Indonesia yang tak dapat bersekolah, hanya karena persoalan biaya. Anak-anak Indonesia bisa lahir, hidup, dan tumbuh kembang sebagaimana layaknya. Tak ada lagi anak Indonesia yang tak dapat bermain, karena harus mencari nafkah membantu orang tua.

Kita semua hidup damai, saling hormat menghormati. Tak ada lagi mendengar berita di bom nya gereja, perusakan mesjid, pelarangan ibadah, dan sejenisnya. Tak ada lagi kerusuhan membabi buta. Kita semua bersaudara, meskipun warna kulit, dan potongan rambut kita tetap beda. Logat bahasa kita tak berubah, amat kental dengan asal kedaerahan kita. Tarian, nyanyian, dan karya budaya leluhur masih amat terjaga. Tapi wawasan kita mulai mengglobal, kita bisa diadu secara intelektual dengan negara manapun.

Ketika saya perhatikan media massa, yang saya lihat dan saya dengar adalah deretan prestasi dan khabar baik tentang karya anak negeri. Pejabat-pejabat di pemerintahan berhasil menuntun rakyatnya kepada kemakmuran dan kedamaian. Masyarakat bahu membahu, bekerja kolektif memajukan bangsa. Pemuda/I nya berlomba untuk meraih prestasi untuk negeri, berkarya, menciptakan inovasi untuk kemajuan umat.

Utopiskah? Tidak!

Karena kini saya menyiapkannya. Saya siapkan diri saya sembari berkarya untuk negeri. Melalui Indonesian Future Leaders, kami mencoba untuk membangun kapasitas dan karakter kami, sembari menjadi katalis, mengajak anak-anak muda lain untuk bergerak, berkarya, dan berdampak positif bagi negeri. 2030 seperti hal di atas? Kenapa tidak?

Post to Twitter


Pestanya Para Bloggers

Posted: December 14th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Events | Tags: , | 1 Comment »

Dear All,

Dari tanggal 2-4 Desember 2011 lalu saya berkesempatan untuk mengikuti rangkaian On|Off ID di Epicentrum Rasuna, Jakarta, yang merupakan transformasi dari Pesta Blogger yang sejak tahun 2007 digelar setiap tahunnya sebagai wujud eksistensi dan ngumpulnya komunitas Blogger se-Indonesia. Well, meskipun saya sudah nge-blog sejak awal tahun 2004 (hampir 8 tahun), tapi jujur saya belum pernah datang ke Pesta Blogger. Selalu saja ada halangannya, mulai dari saya masih tinggal di Padang, atau bahkan pas udah di Jakarta, selalu saja ke luar kota/ ke luar negeri pada waktu yang bersamaan. Makanya, cukup excited untuk tahu how it looks like. Karena dulu-dulu suka sebel sendiri nggak bisa ikutan, dan cuma baca betapa serunya timeline di twitter ataupun baca tulisan rekapnya, saat blogwalking.

Tahun ini, salah satu bagian acara dari On|Off ID adalah Southeast Asia Blogger Exchange, yang didukung oleh US Mission to ASEAN. Jadi panitia mengundang 10 Bloggers dan 10 negara ASEAN, dan kebetulan (surprisingly) saya diberi kehormatan untuk mewakili Indonesia. Sayangnya rekan blogger dari Myanmar tidak bisa hadir, karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditingalkan. Padahal saya cukup penasaran sebenarnya untuk mengetahui perkembangan blog dan internet secara umum, pasca upaya demokratisasi dan perkembangan informasi di negeri itu. Tapi hal itu, tidak mengurangi hip nya acaranya ini. Paling nggak saya sekarang jadi punya 8 teman baru dari 8 negara ASEAN, mereka blogger aktif yang bisa dibilang cukup makan asam garam dunia blog di negaranya masing-masing. Ketemu dengan mereka, berinteraksi dengan mereka, membuat pemahaman saya soal ASEAN dan masyarakatnya juga semakin berkembang.

Pengalaman pertama ini jadi sangat berkesan, karena ngasih kesempatan kepada saya untuk ketemu sama orang-orang yang selama ini cuma saya baca tulisannya, blog walking, ataupun juga para aktivis social media, yang sering lalu lalang di lini massa saya di twitter.

Back to the program, jadi acaranya cukup padat. On Off | ID sendiri terdiri dari berbagai macam acara sebagaimana yang bisa dilihat di sini. Mulai dari inspiring talks, breakout sessions dengan beragam topik, music performance, fashion show, stand up comedy, dll. Tak ketinggalan juga ada pameran komunitas di sini, beruntung Indonesian Future Leaders juga dapat kesempatan untuk “buka warung” dan mengenalkan program -program kita ke khalayak ramai.

Saya sendiri dan para ASEAN Bloggers dapat kehormatan untuk sharing di panggung utama (meskipun waktunya sangat singkat, cuma 2,5 menit per orang :D – kepake banget ilmu elevator pitch nya), dan di breakout session (di ruang kelas dengan jumlah penonton lebih terbatas). Kurang lebih presentasi saya macam ini (banyak kebantu banget ama datanya Saling Silang ;D). Lalu kita juga diundang makan malam di rumahnya Chief of Mission US to ASEAN. Dan terakhir sharing session di At America! Beruntung banget bisa dapat kesempatan macam ini, thanks sudah melibatkan saya!

Post to Twitter


Ngomongin Pemuda di DAAI TV

Posted: December 5th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Media | No Comments »

Halo semuanya! Bulan Oktober lalu, saya dapat kesempatan untuk tampil di program “Meniti Harapan” yang tayang DAAI TV. Beberapa waktu yang lalu, saya baru dapat CD nya, dan akhirnya bisa juga nge-upload rekamannya ke Youtube (setelah cukup lama menanti). Mungkin banyak yang belum familiar dengan stasiun TV ini. Ya, karena sampai saat ini stasiun TV ini hanya tayang di Jakarta dan Medan. But, yes, it produces a good content. So far, ini produksi paling niat yg pernah saya ikutin. Mereka meneliti banget soal apa yang kita kerjakan, mengikuti keseharian dan aktivitas kita, dll. Saat tayang waktu itu, banyak teman-teman yang nanya bisa dapat rekamannya atau gak, nah sekarang gue bantu upload. Semoga bermanfaat!

Catatan: Yups! Ngomongnya masih agak kecepatan (kata sebagian orang). Masih belajar untuk ngomong lebih pelan. Mohon doanya! Haha.

Post to Twitter


Yuk Kita Berbagi!

Posted: November 23rd, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Notes | Tags: , | No Comments »

“Saya mau kok ikutan proyek sosial, ikutan jadi relawan, ikutan berbagi untuk masyarakat yang membutuhkan”. Semangat positif ini belakangan makin sering terdengar di kuping saya, beriringan dengan sahut-sahut optimisme untuk negeri ini.

Dalam beberapa bulan terakhir, senang kali rasanya bisa mengunjungi berbagai tempat di negeri ini, dan juga sejumlah negara. Puluhan sekolah dan kampus sempat saya datangi, bertemu dengan ribuan anak muda dari berbagai macam latar belakang sosial, budaya, dan agama. Mendengarkan kisah tentang pengalaman dan mimpi-mimpi mereka yang tak terbendung. Ada yang mau jadi pilot, seniman, insinyur, pegawai negeri, guru, atau pengusaha. Ada yang ingin mengabdikan hidupnya untuk masyarakat, mendedikasikan waktunya untuk mengajar di pedalaman, menuangkan mimpi dan harapannya lewat musik, tarian, atau tulisan. Ada yang ingin jadi juara, yang ingin mengalahkan rasa takut terhadap dirinya sendiri. Ada pula yang ingin bangkit dari kegagalannya, menjadikan kelemahan jadi sumber utama kekuatannya. Mereka semua ingin terlibat, tak ingin hanya (bisa) jadi penonton, dan kemudian menangisi keadaan.

Gurat optimisme di wajah mereka membuat saya semakin yakin bahwa masih ada harapan untuk negeri ini.

Utopiskah? Tentu kadang masih ada yang skeptis dan pesimis dengan masa depan negeri ini, apalagi melihat problematika bangsa yang kian kompleks. Tak sedikit yang memilih diam, dan larut dalam dunianya sendiri, tak (mau) tahu dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Tapi apakah kita mau menyerah dengan itu semua? Buat apa terlalu pusing memikirkan masalah. Kenapa kita tidak fokus dengan kekuatan yang kita miliki? Kenapa kita tidak memaksimalkan passion yang kita miliki? Kenapa kita tidak mengakumulasikan energi positif yang (masih) kita miliki, dan jadikannya sebagai sumberdaya untuk membuat perubahan yang ingin kita lihat?

Energi positif itu pula yang membuat saya dan teman-teman di Indonesian Future Leaders terus berupaya menyalakan harapan kepada anak muda di negeri ini, mengajak semua berpartisipasi untuk menciptakan perubahan. Dulu kami pikir, jarak, waktu, tenaga, dana, bisa jadi kendala besar untuk melakukan ini semua. Tapi seiring waktu, kami belajar, dan saksikan, bahwa keteguhan hati bisa mengalahkan segalanya. Siapapun (tidak peduli siapa dan seperti apa dia), bisa melakukan sesuatu!

Jika saya bisa, kamu juga bisa! Jika mereka bisa, kita juga bisa!

Berbekal keteguhan hati dan pengetahuan secukupnya yang dimiliki, saya dan teman-teman berpikir untuk mengembangkan kampanye #AyoBerbagi, sebuah jawaban atas pertanyaan “Bagaimana cara kami memulai menginisiasikan aktivitas sosial di sekitar?”. Kata inisiasi menjadi kunci dari kampanye ini. Kami percaya bahwa konsep “berbagi” sebetulnya sangatlah luas spektrumnya, sangat membumi. Setiap orang bisa memiliki interpretasi yang berbeda-beda, dan dalam kesempatan ini kami ingin menginterpretasikan “berbagi” sebagai bentuk “inisiasi pemuda untuk perubahan sosial”. Kenapa inisiasi? Karena kami percaya sudah saatnya pemuda kita tampil jadi inisiator bagi lingkungannya, menggagas ide-ide cemerlang nan solutif, melihat tantangan sebagai peluang, dan memaksimalkan modal sosial yang ada.

Kami mencoba untuk merangkum materi-materi yang pernah kami dapatkan dari berbagai kegiatan yang pernah diikuti, mengingat kembali pengalaman pribadi ataupun best practices dari sekitar, dan kemudian mencoba untuk menyampaikan lewat video sederhana. Pada tahap awal kami merencanakan membuat video-video tutorial yang berisikan materi mengenai:

 

Selama 1 bulan Oktober – November, kami mengembangkan berbagai kegiatan yang fokus pada upaya mengajak anak muda untuk menginisiasikan aksi berbaginya. Sekilas mengenai kegiatan 1 bulan tersebut bisa dilihat di sini:

Apakah berhenti di situ? Tidak! Dalam perkembangannya, kini kami tak sabar ingin menyentuh topik-topik lain untuk membantu teman-teman muda mengembangkan proyek sosialnya dengan bahasan berbagai isu yang lebih praktikal. Tentu saja materi yang kami sampaikan tidak bisa dijadikan sebagai rujukan tunggal, karena kami sendiri juga masih belajar dan mungkin masih memiliki kekurangan di berbagai sisi. Tapi tentunya itu tak jadi hambatan untuk berbagi. Selama ada yang bisa dibagi, kenapa kita tidak berbagi? Kami berencana menerjemahkannya ke bahasa lain selain bahasa Indonesia, sehingga perlahan juga bisa membantu teman-teman di mancanegara yang juga terkendala pada akses informasi. Video-video dengan versi yang lebih lengkap dan lebih baik kualitasnya akan dijadikan CD kompilasi, yang bisa dibagi ke sekolah-sekolah dan komunitas yang tertarik.

Video-video ini masih amat sangat sederhana, dan jika ada pihak-pihak yang ingin membantu kami mengembangkannya, memperbaiki kualitasnya, kami akan dengan senang hati menerimanya! Harapannya lewat video-video ini, setidaknya bagi teman-teman yang belum bisa mengikuti workshop atau kegiatan kami, bisa sedikit terbantu. Bagi mereka yang terbatas akses informasinya, bisa jadi tahu :) . Tentunya workshop kreatif #AyoBerbagi dan coaching clinic di berbagai tempat akan terus diupayakan, tapi sembari menunggu, bisa dimulai dengan menonton videonya, dan memulai menginisiasikan aksi berbaginya. Jika ada sekolah/ kampus/ komunitasnya yang ingin didatangi juga bisa langsung menghubungi kami! Satu persatu akan kita coba bantu :)

Silahkan hubungi saya melalui email imanusman@gmail.com jika ada yang tertarik!

Berbagi bukan hanya soal mampu, tapi juga mau. Dan kami mau! Bagaimana dengan anda?


Post to Twitter


Berani Mengubah

Posted: November 3rd, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Notes | 2 Comments »

Pada saat peringatan Sumpah Pemuda kemarin gue sempat nge bikin 20 tweets di twitter dengan hashtag #beranimengubah. Mungkin ada yang ketinggalan, silahkan dibaca. Enjoy!

  1. Dear tweeps, jelang momentum sumpah pemuda, gw mau share sdikit deh soal pentingnya kita (anak muda) u/ #beranimengubah DIRI & LING kt
  2. Saya sering bilang: kenapa anak muda? Because we are BIG! Big in numbers, in ideas, innovation, and SPIRIT! #beranimengubah
  3. Ketika orang tua banyak cerita ttg masa lalunya, anak muda akan cerita banyak ttg masa depan, mimpi2 nya  #beranimengubah
  4. Masalah2 yg dihadapi bangsa ini kompleks! Ga bs dserahin sama pmerintah doang, apalagi klo pmerintah nya kyk skrg (ups). Butuh kita! #beranimengubah
  5. Kalo mau mngubah, ga prlu dr ssuatu yg “tampak” besar, tp dr yg kecil aja. Gunakn “what we have” u/ jd solusi “what we see” #beranimengubah
  6. Aksi yg mau kita buat upayakan berbasis “What we have” (skills, passion, interest), shg “aksi perubahan” jd FUN & bkn jd beban #beranimengubah
  7. Selain itu kalo berbasis “what we have” jg bs sustainable. Kt jd termotivasi u/ terus improve, dan mengembangkan aksi kt #beranimengubah
  8. It’s our small action that lead us to the bigger action, with bigger impact. Yg penting konsisten melakukannya. #beranimengubah
  9. Msh bingung gmn cara mulainya? Start by asking “WHY”! Saat saya & teman2 memulai @ifutureleaders, kt jg ask WHY?  #beranimengubah
  10. Seperti kata Jammie Allen, “If you want to be successful, ask Why? Why not? Why Not Me? Why Not Now?” #beranimengubah
  11. Ask why (kenapa) ktk melihat brbg masalah di sekitar kt. Kenapa ada korupsi? Kenapa byk anak ga sekolah? Ask Why!  #beranimengubah
  12. Jangan Cuma bisa bilang “we have a lot of problems”, but we never know “why” the problems come. #beranimengubah
  13. Ask Why Not (Kenapa tidak) ktk kita punya ide/ gagasan u/ menangani masalah tsb. Jgn ngerasa rendah diri ktk punya ide #beranimengubah
  14. The person who doesn’t make mistakes is unlikely to make anything (Paul A). Edison perlu coba 200x agar lampunya benar2 bkerja #beranimengubah
  15. Ide akan sekedar jd ide dan ga pernah berdampak kalo ga ada yg bring it into action. Ask: Why Not Me yg memulai? #beranimengubah
  16. Byk yg bilang: gw akan mengabdi/ berbagi kalo udh umur 35,40,50. Klo udh kaya, udh lulus, dll. Kpn mau berbaginya? #beranimengubah
  17. Memangnya yakin kt punya umur panjang? Memangnya yakin kalo values kt saat ini akan tetep sama? Kt ga pernah tahu #beranimengubah
  18. Jd selama msh ada waktu, msh ada kesempatan, siapapun kita #AyoBerbagi, ayo #beranimengubah! Why not now?
  19. Sekian ya kultwitnya, kalo ada yg punya cerita/ pengalamannya dalam #beranimengubah, yuk share! Cerita aja pglmn2 yg sederhana :)
  20. Ayo berbagi sekarang! Bs dimulai dr tweets km ttg pengalaman #beranimengubah! Why not u? Why not now? Ditunggu ya :)

Thank you ya. The tweets above are dedicated to my beloved brothers and sisters in Indonesian Future Leaders. They are the ones who #beranimengubah!

Post to Twitter


Sekilas Kampanye #AyoBerbagi

Posted: October 24th, 2011 | Author: Muhamad Iman Usman | Filed under: Opportunities | Tags: | No Comments »
Saat ini perkembangan media di Indonesia semakin pesat, namun sayangnya tidak banyak yang konsisten untuk memuat konten-konten positif dan edukatif yang mengajak anak muda untuk bergerak dan berbagi kepada masyarakat ataupun lingkungannnya. Di sisi lain, masalah-masalah sosial yang dihadapi bangsa ini semakin kompleks, dan membutuhkan partisipasi serta peranan pemuda, untuk turun mengambil peranan menjadi agen perubahan. Dengan memanfaatkan potensi yang ditawarkan oleh perkembangan media sosial saat ini, Iman Usman dan Indonesian Future Leaders menggelar sebuah gerakan bernama AyoBerbagi.orgwadah melalui sebuah website yang berisi video-video kreatif tentang cara membentuk kesadaran sosial, merancang hingga mengembangkan proyek sosial, sehingga bisa memberikan manfaat nyata kepada masyarakat. Dengan semangat Hari Pahlawan, AyoBerbagi juga akan berbagi tips, ide, dan diskusi bersama para pembaharu Indonesia lewat akun twitter http://twitter.com/ifutureleaders pada 1-12 November 2011.Melalui platform ini, AyoBerbagi juga akan menampung ide-ide solutif anak muda Indonesia untuk mengatasi berbagai masalah sosial yang ada, dan bagi yang terpilih, akan mendapatkan kesempatan untuk dilatih dan dikembangkan idenya menjadi aksi nyata melalui Workshop Ayo Berbagi. Melalui platform ini diharapkan ribuan anak muda bisa terinspirasi dan mewujudkan perubahan yang mereka impikan! Dan ke depannya, perlahan tapi pasti, masalah-masalah yang dihadapi bangsa ini akan segera terselesaikan, karena keberadaan para pemabaharu muda ini. AyoBerbagi berharap bisa menjadi virus positif, yang bisa direplikasi dimanapun, kapanpun, dan oleh siapapun! Karena kita percaya, everybody can be a hero!

Tujuan kegiatan:

  • Tumbuhnya kesadaran dan kepekaan sosial pemuda Indonesia
  • Terciptanya konten/ media edukasi dan informasi mengenai social venture berbahasa Indonesia berbasis social media
  • Replikasi dan penyebaran gagasan/ ide/ kontribusi positif bagi bangsa Indonesia

Melalui video #AyoBerbagi, diharapkan anak muda Indonesia:

  • Mampu mengidentifikasi dan mengenali potensi diri
  • Menggali isu sosial disekitarnya, menumbuhkan empati dan menjawab permasalahan dengan passion (kekuatan diri)
  • Merumuskan visi perubahan bagi masyarakat, dan mampu membuat rancangan aktivitas sosial yang berkelanjutan , konkrit dan siap dijalankan
  • Mampu mengidentifikasi sumberdaya untuk membuat perubahan
  • Mampu memahami pentingnya kegiatan social venture bagi masyarakat dan pendampingan anak muda

Berikut adalah rancangan tutorial “Ayo Berbagi” yang dapat anda saksikan pada episode 1-7:

  1. Episode 1: Kenali Isu Sosial
  2. Episode 2: Kenali Siapa Saya
  3. Episode 3: Mimpikan Aksimu!
  4. Episode 4: Rancang Aksimu!
  5. Episode 5: Wujudkan dalam Aksi
  6. Episode 6: Tumbuh Kembangkan Aksimu
  7. Episode 7: Mereka yang Berdampak

Post to Twitter