Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintaimu harus menjelma aku
Saya ingin memiliki masa depan yang membahagiakan. Saya, seperti yang lainnya, punya ekspektasi dan bayangan akan masa depan kita. Entah akan datang kapan, tapi kita punya harapan. Konsekuensinya sering kali hidup kita hari ini jadi dikendalikan penuh akan ambisi kita tentang masa depan itu sendiri.
Hidup kita jadi dibayangi dengan berbagai ketakutan. Kita takut untuk untuk melakukan hal baru, bertemu dengan teman baru, pergi ke tempat yang baru. Kita takut mengambil resiko. Kita takut bahwa kita akan kehilangan apa yang kita miliki saat ini. Atau bahkan kita takut kehilangan sesuatu yang juga bukan milik kita, tapi kita hanya takut saja dengan konsepsi kehilangan itu sendiri.
Di sisi lain kita mengutuk, karena bosan menjalani rutinitas yang ada. Kita diburu waktu. Kita hidup seolah berpacu dengan sesuatu yang juga tak jelas wujudnya. Tapi kita tahu bahwa kita sedang berpacu, dan seolah waktu kita akan habis.
Kita lupa menikmati hari ini.
Kita sibuk menyesali masa lalu, karena masa depan yang kita bayangkan dulu, kini telah jadi masa sekarang. Menyesalinya membuat kita lagi-lagi dipacu, tak ingin yang sama terjadi, untuk sesuatu yang kita sebut masa depan.
Kita lupa, atau mungkin memilih untuk tidak menikmati hari ini. Kita sebut itu pengorbanan demi masa depan.
Hari ini saya mengambil sebuah keputusan besar dalam hidup saya. Saya memilih. Tidak tahu saya akan menyesalinya atau tidak, namun saya memilih. Saya memilih untuk meninggalkan sejenak apa yang saya anggap besar selama ini, untuk sebuah keinginan sederhana, menikmati hari ini.
Saya mungkin bisa menundanya, dan tak ada yang salah juga dengan menundanya. Saya bisa memilih untuk terus dipacu dengan masa depan, dipacu dengan waktu, dan saya mungkin juga menikmati itu. Tak ada yang salah. Ini hanya soal pilihan. Yang saya tahu, saya tidak bisa memastikan segalanya. Saya tidak yakin jika saya menunda, saya akan memiliki tekad yang sama seperti yang saya miliki hari ini.
Setelah mengumpulkan informasi, mempertimbangkan pilihan, sekitar bulan Agustus 2012 saya pun mantap menetapkan keputusan untuk mencoba menyiapkan diri dan segala persyaratan yang dibutuhkan untuk mendaftarkan diri saya pada program impian saya di Teachers College of Columbia University (pil. 1 ), Stanford Graduate School of Education (pil. 2), dan Harvard Graduate School of Education (pil. 3).
Ketika rencana ini saya bagi kepada rekan-rekan terdekat ataupun yang nggak terlalu dekat, reaksinya bermacam-macam. Mereka tahu bahwa saya ingin sekolah – dan pastinya di sekolah yang bagus – tapi tidak secepat ini, dan juga tidak begitu “bodoh” dengan mendaftarkan diri tanpa satupun “safe schools” yang menjadi alternatifnya. Ada yang amat mendukung (sampai agak nggak realistis, tapi membuat saya lebih optimis), tapi juga tidak sedikit yang meragukan (yang membuat saya juga terpacu). Tidak salah juga sih bagi yang meragukan. Ada yang menilai bahwa sulit sekali rasanya untuk diterima di sekolah bagus, tanpa pengalaman kerja di lapangan memadai. Ada yang menilai bagaimana bisa saya membagi waktu sembari kerja & semester akhir di sekolah (belum lulus), dengan persiapan registrasi sekolah yang membutuhkan waktu tidak sedikit, bahkan orang yang sudah bekerja saja banyak yang cuti khusus untuk mempersiapkan sekolah. Ada yang bilang meskipun persaingan menuju gradschool itu tidak sekompetitif undergrads (arguable), tapi tetap saja it takes a lot to fit in with the criteria, particularly when you aim high – dan mereka melihat saya belum sesuai (mumpuni) dengan kriteria yang dibutuhkan. Ada juga yang menilai kalau saya melakukan segala hal bersamaan (kerja, kuliah, daftar sekolah), maka salah satunya akan gagal. Apakah saya yang gagal lulus cepat, atau kerjaan saya berantakan, atau pendaftaram sekolahnya yang gagal. Kita lihat nanti.
Ada yang bilang macam-macam.
Bisa dilihat bahwa bahkan kita belum menjalani prosesnya saja, orang sudah dihadapi dengan tes mental dulu. Makanya tidak sedikit teman-teman saya yang ketika mendaftar sekolah tidak cerita dengan siapapun. Tidak masalah juga sih, soal preferensi. Namun bagi saya, saya butuh orang lain sebagai “penekan” (dalam artian positif), yang mungkin kalau ketemu akan nanya “bagaimana persiapan S2 nya?” atau mengingatkan saya kalau saya terlalu santai, atau mungkin juga sekedar teman bicara untuk berbagi menghadapi kesulitan yang ditemui saat mendaftar. Dan pastinya ketika banyak yang tahu, saya tidak ingin mengecewakan mereka (khususnya yang percaya bahwa saya bisa).
Saya berpikir, nggak ada salahnya mencoba. Toh, kalau gagal, saya masih bisa apply tahun depan lagi. Saya juga nggak diburu-buru dengan ini semua. Saya justru akan lebih menyesal jika sudah berencana namun menunda-nunda terus aksi nyatanya. Saya akan terus bertanya-tanya apakah saya bisa atau tidak. Saya juga merasa bahwa saya sudah mengumpulkan informasi yang memadai, dan juga mengukur kemampuan saya pribadi, dan rasanya tidak ada salahnya mencoba.
Mungkin saya juga yang memang keras kepala, atau nggak sadar diri, tapi When I (rationally) believe in something, I won’t listen to any potential distraction. Saya justru melihat keraguan ataupun sindirian justru sebagai sesuatu yang perlu ditaklukan, sesuatu yang harus dibuktikan. Dan selama ini dibalik segala “keberhasilan” yang orang lihat dari luar, saya sudah melalui banyak sekali keraguan, dan selama ini saya justru menggunakan “keraguan orang” sebagai senjata kuat saya.
Selain persiapan mental dan akademis, finansial juga menjadi salah satu yang patut diperhatikan (relatif). Uang yang perlu disiapkan untuk mendaftar dan mempersiapkan segala sesuatunya juga tidak sedikit. Bagi sebagian orang mungkin sekian juta rupiah tidak terlalu bermasalah, namun bagi saya setiap rupiah jadi hal yang penting untuk dipertimbangkan. Mulai dari bayar untuk berbagai tes, membeli buku-buku persiapan, penerjemahan surat-surat terkait, verifikasi transkrip, hingga membayar biaya pendaftarannya.
Mengatur rencana dan strategi
Setiap mengerjakan sesuatu, pasti kita memulainya dengan berencana dan mengatur strategi, hingga apa yang kita lakukan bisa berhasil dengan baik. Sama seperti ketika memutuskan mau mendaftar sekolah yang mana, hal yang sama saya lakukan juga ketika menyiapkan aplikasi: 1) mengumpulkan informasi; 2) mempertimbangkan pilihan; 3) mengambil keputusan. Jangankan untuk urusan sekolah, untuk urusan semacam pergi ke pesta saja, kita biasanya mengumpulkan informasi dulu, seperti: Pesta apa itu? Ada tidak dress code nya? Siapa saja yang akan hadir? dan lainnya. Informasi yang kita peroleh menjadi pertimbangan bagi kita untuk menentukan baju apa yang akan saya kenakan? siapa yang akan saya ajak menemani? apa yang harus saya bawa dan siapkan? dan lainnya. Hingga kemudian kita memutuskan akan menggunakan pakaian casual dan membawa pacar :p
Untuk mendaftar ke tiga sekolah, apa saja yang saya butuhkan? Setidaknya waktu itu secara keseluruhan saya membutuhkan 3 personal statements, 3 letters for scholarship application, mengumpulkan surat rekomendasi (masing-masing sekolah 3), hasil tes IBT yang memenuhi syarat minimum (atau IBT sebagai back up plan), CV, transkrip akademis (yang kalau dalam kasus Columbia – harus dikirim dulu ke World Education Services di Amerika Serikat untuk diverifikasi kesetaraan bobotnya – ini berlaku untuk seluruh non-US undergrads), hasil tes GRE, serta mengisi aplikasi online yang ada. Kelihatannya nggak banyak, tapi kalau dikerjakan menyita waktu banget loh :p
Di sinilah kita butuh rencana dan strategi yang baik. Rencana apa yang perlu diatur? Macam-macam. Tapi mungkin yang paling krusial adalah mengatur timeline dan menentukan prioritas. Dalam kasus saya, saya memfokuskan diri terlebih dahulu untuk menulis personal statements. Karena pada umumnya, sekolah menaruh bobot paling penting diantara komponen applikasi yang lainnya – serta jika saya menunda saya khawatir nanti saya akan disibukkan dengan deadline Tugas Akhir.
Saya tidak akan terlalu banyak membahas mengenai personal statements di sini. Karena rasanya sudah banyak yang membahas ini. Teman-teman bisa mengakses website indonesiamengglobal.com untuk mendapatkan berbagai insight mengenai bagaimana membuat personal statements yang baik. Cuma mungkin saya hanya akan mengingatkan bahwa pastikan sebelum memulai menulis, buatlah essay plan terlebih dahulu. Karena dulu saya saking semangatnya, saya langsung mulai menulis tanpa rencana, dan kemudian langsung meminta orang lain untuk membaca. Akibatnya, jangan heran kalau saya “dimarahin” sama teman saya Donny & Marsha. Salahnya dimana-mana. :p Saya ngalor ngidul ngomong macam-macam, tapi nggak sepenuhnya menjawab pertanyaan.
Ketika membuat essay plan, ada baiknya memperhatikan betul pertanyaan yang diberikan, dan pastikan bahwa essai kita itu benar-benar menjawab pertanyaan yang diminta. Jangan pikirkan dulu bahwa teman-teman dibatasi dengan word limits, sehingga tidak bisa menuliskan banyak hal. Namun, buat saja dulu apa yang rasanya bisa jadi jawaban, lalu perihal mana yang akan dipilih untuk ditulis, itu urusan belakangan.
Ada baiknya juga sambil menulis, kita banyak membaca referensi tulisan-tulisan dari mereka yang berhasil lolos, atau semacam rules (hal yang perlu dilakukan & dihindari), atau beragam jenis tulisan lainnya, untuk memperkaya referensi kita.
Saya paling suka bikin essay plan dengan coret-coret meja di @commaid
Menulis essai bisa dibilang menjadi masa-masa yang melelahkan, penuh tantangan, namun juga menyenangkan. Ketika menulis, saya jadi lebih mengenal lagi tentang diri saya, dan mencoba menghargai hal-hal kecil namun bermakna dalam hidup saya yang membuat saya menjadi Iman yang sekarang ini. Saya juga banyak bertemu dan berdiskusi dengan berbagai macam orang, meminta masukan, dan lainnya. Thank you everyone! Meskipun saya mengalokasikan waktu sekitar dua bulan, namun pada akhirnya proses editing essai saya berlangsung hingga detik-detik terakhir.
Hal lain dari komponen aplikasi yang juga perlu jadi perhatian adalah surat rekomendasi. Banyak orang yang bilang kalau bisa cari tokoh-tokoh yang punya nama besar. Tapi entahlah, saya selalu percaya bahwa alangkah lebih baik jika yang menulis dan merekomendasikan kita adalah orang-orang yang mengenal kita dengan baik, dan mau mengalokasikan waktunya untuk berdiskusi dengan kita, punya waktu, dan juga menuliskan yang terbaik untuk kita, syukur-syukur kalo orang tersebut juga punya status penting. Orang orang yang kenal kita dengan baik, biasanya juga akan berupaya membantu sebisa mungkin agar kita dapat diterima. Dalam kasus saya, sebisa mungkin orang tersebut juga harus melek sama internet, karena rekomendasi harus mereka langsung yang submit secara online. Sebisa mungkin kita juga meminta secara personal dan langsung kepada orang-orang ini, sehingga kita bisa menceritakan tujuan kita melanjutkan sekolah, dan hal-hal apa yang kita ekspektasikan dari mereka untuk ditulis. Pastikan bahwa penulis rekomendasi bukan menulis sesuatu yang generik (template yang dibuat untuk 20 siswa di kampus – biasanya ini terjadi pada banyak dosen), tidak spesifik, atau hanya sekedar laundry list dari prestasi yang kita peroleh di CV. Saya tidak akan membahas terlalu banyak mengenai ini, karena di tempat lain juga sudah sering dibahas.
Komponen lain yang tidak kalah penting adalah required test – seperti IBT & GRE. Wah saya sebenarnya nggak bisa kasih masukan banyak soal ini, karena saya juga nggak jago. Lol. Tapi sebisa mungkin persiapan jauh-jauh hari deh, latihan soal yang cukup. Saya awalnya berencana menyiapkan November untuk les GRE, dan awal Desember untuk tes. Sehingga pada bulan-bulan sebelumnya saya hanya baca-baca sekilas saja, atau latihan soal di kala waktu senggang. Karena ekspektasinya nanti akan belajar lagi pas les. Ternyata, saat sudah mau masuk November, saya baru diberitahu kalau les yang akan saya ambil, dibatalkan kelasnya. Karena jumlah murid yang mendaftar hanya 3 orang (nggak heran sih, les GRE memang mahal, sedangkan kalo mau les privat nggak punya duit. Mahal BANGET!). Kacaulah pikiran saya. Akhirnya saya coba belajar sendiri, dan rasanya susah. Haha. Apalagi dalam kasus dimana saya nggak pernah menyentuh matematika dalam 4 tahun terakhir, soal-soal yang sebenarnya mirip soal tes UAN itu juga susah banget rasanya. Tapi kalau saya bilang, sebagai anak Indonesia, biasanya kita dianugerahi dengan kemampuan matematika yang lumayan (bahkan untuk anak yang nggak suka math & nggak ngerti apa-apa aja), I did quite well di GRE math. Tapi untuk kemampuan verbalnya, ini nggak bisa dilatih dalam 1 bulan, but you need to prepare jauh-jauh hari. Tes verbal nya cukup membuat saya merasa bahwa saya tidak mengerti Bahasa Inggris sama sekali, kosa katanya benar-benar seperti dari planet asing. Untuk analytical writing nya, coba baca-baca contoh tulisan yang bagus, yang berhasil dapat nilai bagus di GRE (biasanya banyak contohnya di internet/ buku-buku GRE). Karena tipe tulisannya agak sedikit berbeda dibandingkan IBT/ IELTS.
Sebisa mungkin jangan ngambil required test (apakah IBT ataupun GRE) dekat dekat dengan waktu deadline aplikasi deh, kecuali benar-benar yakin dengan kemampuan sendiri. Karena jadinya nggak punya waktu untuk retake kalau hasilnya tidak terlalu memuaskan, dan itulah yang terjadi pada saya. Pada saat ketika saya menerima hasil tes GRE saya, saya sudah tahu bahwa sepertinya saya akan sulit diterima di Harvard (yang memang lumayan academic oriented). Tapi akhirnya saya tetap apply ke Harvard, karena tanggung rasanya. Semua prosesnya sudah dilalui, masa hanya karena hasil tes nggak sesuai harapan saya membuang kesempatan “mencoba”. Saya akan lebih menyesal lagi, jika nanti “tidak pernah mencoba”.
Ternyata semua tidak berjalan sesuai rencana, karena dosen pembimbing Tugas Akhir saya lagi di Jepang selama beberapa minggu, dan baru kembali sekitar 2 minggu jelang batas pengumpulan Tugas Akhir. Akibatnya waktu yang saya prediksi awalnya untuk mengerjakan berbagai tuntutan persyaratan Stanford, terpaksa harus saya tunda demi prioritas yang lebih besar lagi – yaitu LULUS KULIAH. :p Saya banyak menghabiskan waktu untuk bertemu dengan pembimbing guna menyelesaikan Tugas Akhir. Sementara itu, raihan IBT score saya belum cukup memuaskan saya, dan karena takut tidak cukup lagi waktunya, saya pun mengambil ulang tes IBT & mendaftarkan IELTS (in case IBT nya masih kurang memuaskan). Ternyata mendaftar di saat-saat puncak pendaftaran juga kurang tepat, karena sulit sekari mencari tempat yang masih kosong. Hingga saya harus tes IELTS di Bali, untungnya waktu itu saya juga lagi ada di acara di Bali, jadi sekalian
Proses mengirimkan aplikasi final kepada sekolah juga jadi tantangan bagi saya, khususnya ketika submit untuk Harvard. Karena, deadline nya berdekatan dengan jadwal pengumpulan Tugas Akhir & juga Sidang TA saya. Sehingga saya tidak bisa banyak melakukan final editing dalam berkas saya. Berbeda dengan Columbia yang deadline nya sekitar seminggu setelah Sidang TA saya, dan saat itu posisi saya sudah jauh lebih tenang. Terbukti, beberapa minggu tidak menyentuh aplikasi (karena sibuk persiapan sidang), seusai sidang saya justru mendapatkan ilham banyak & ingin merombak “banyak bagian” dalam essai saya saat saya mendaftar ke Columbia. Special thanks & credits harus saya sampaikan kepada mereka yang benar-benar saya buat repot dengan diskusi & proofreading di saat-saat akhir ini: Marsha, Maudy, dan Meilina (baru sadar kalau ini namanya 3M). Serta teman-teman lainnya yang mungkin tidak dapat disebutkan satu persatu.
Pasca masa pendaftaran usai, bukannya lebih tenang tapi jauh lebih deg-degan. Haha. Untungnya saya punya banyak distractions, saya sempat cerita di postingan “Life After Graduation”. Hingga akhirnya pengumuman pun tiba
Pengumuman
Pengumuman hasil sekolah datang lebih cepat dari jadwal yang seharusnya. Dimulai dari Harvard, dan keputusannya saya DITOLAK. Kecewa? Pasti. Meskipun saya sudah menduga, namun pasti kecewa. This is my first experience to be rejected by any school. Dan yang namanya ditolak tetap aja nyebelin – lol. Tapi untungnya saya punya banyak teman yang baik, yang selalu mengingatkan saya bahwa mungkin bukan profil seperti saya yang diinginkan Harvard. Mungkin juga Tuhan punya rencana lain untuk saya. Pengalaman ditolak ini juga jadi pelajaran penting bagi saya, untuk tidak meremehkan setiap proses yang ada, dan bagaimana supaya bisa benar-benar perform di seluruh komponen yang ada. Salah satu mentor saya berkata kepada saya setelah saya bercerita tentang kegagalan saya dan dia berkata bahwa
“When things keep coming your way too easily, we tend to let our guard down and take things for granted. In this case, I think you forgot that the playing field over there is at a far higher level than the one you are used to playing on in Indonesia. LEARN, and move on !!!:”
Saya tidak terlalu kecewa, karena saya tidak menyesal telah mencoba. Saya setidaknya sudah mengalahkan ketakutan saya sendiri akan nama besar sekolah dan mitos mitos yang ada di belakangnya. Selain itu saya juga masih menunggu pengumuman Columbia, yang memang sedari awal sudah menjadi pilihan pertama saya. Dalam hati saya berpikir bahwa kalau saya juga tidak diterima di Columbia, mungkin saya memang harus bekerja dulu, dan lebih matang lagi dalam mempersiapkan diri.
Beberapa hari kemudian, saya iseng ngecek akun pendaftaran saya di Columbia (padahal email resminya belum masuk), dan saya langsung kaget, melongo, dan bersyukur ketika baca:
Seketika saya langsung menelpon kedua orang tua & teman-teman terdekat. Rasanya luar biasa! Saya senang bukan hanya karena diterima di sekolah pilihan pertama saya. Namun lebih dari itu saya bisa mengalahkan ketakutan . This is just the beginning! Hal-hal menarik & yang lebih menantang lainnya siap menanti. Ini kalau kata orang juga belum “kehidupan yang sebenarnya”, masih jauh banget. Tapi proses ini mengajarkan saya banyak hal, utamanya tentang betapa pentingnya menjaga mimpi kita untuk tetap hidup, meskipun ada banyak hal yang menjadi hambatan atau membuat kita menjadi ragu. Saya belajar dari proses ini tidak ada yang instan, apalagi pekerjaan semalam. Apa yang diperoleh adalah hasil dari perjuangan panjang, yang mungkin tidak dilihat atau diketahui oleh orang. Jangan takut untuk menjadi takut, karena ketakutan kita lah yang sejatinya membuat kita menjadi kuat. Jangan cepat percaya dengan mitos-mitos ada stereotype yang ada. Saya buktikan bahwa saya mungkin bukan lulusan terbaik di kampus saya, saya juga obviously bukan yang terbaik di kelas saya. Saya baru saja lulus, dan hanya sekedar mengejar mimpi. Definisi sukses bagi setiap orang itu berbeda-beda, dan setiap orang punya jalannya masing-masing untuk mencapaik kesuksesannya. Ini hanya salah satu dari banyak cara yang ingin saya ambil untuk membuat saya bahagia. Karena saya bahagia ketika mimpi saya tetap hidup.
Ada kalanya dalam proses tersebut kita menemui kegagalan dan terjatuh, namun jangan biarkan itu membuat kita terpersok lebih ke lubang jauh lebih dalam lagi. Tapi bangkit, belajar, dan berdiri tegak seperti seorang pemenang. Hard works paid off!
Pesan:
Memang sulit sekali untuk menjadi sempurna di semua komponen (meskipun bukan berarti tidak mungkin). Kita harus tahu apa yang menjadi kekuatan kita, dan apa yang perlu ditonjolkan dari diri kita. Maksimalkan semua komponen untuk bisa mengupas diri kita dengan maksimal. Aplikasi kita adalah satu-satunya medium yang digunakan oleh sekolah untuk menilai apakah kita cocok dengan kriteria yang mereka mau (jika tidak diterima, bukan berarti kita bodoh, tapi berarti kita belum sosok yang mereka cari). Sehingga pastikan bahwa setiap komponen dapat berbicara & melengkapi satu sama lainnya, jangan semuanya bicara mengenai hal yang sama. Pastikan bahwa essay bukan jadi laundry list prestasi kita yang sebenarnya bisa dibaca orang dari CV kita, namun harus menggali hal baru/ yang perlu dijelaskan, yang tidak tertera di CV. Pastikan bahwa rekomendasi bisa memperkuat kita, memverifikasi apa yang kita sampaikan di CV/ essay, dan komponen lainnya. Sedangkan nilai-nilai tes & GPA bisa jadi gambaran tentang kualitas/ performa akademik kita. Semakin bagus GPA nya, semakin besar kesempatannya. Namun, bukan berarti jika GPA nya kecil, tidak bisa kuliah di tempat yang bagus juga. Ada banyak cerita dari orang-orang yang GPA nya tidak terlalu bagus (untuk ukuran top schools), namun tetap dapat diterima. Kuncinya apa? Mereka tahu dimana harus melengkapi diri mereka, dari komponen penilaian lainnya.
“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” - H. Jackson Brown Jr.
p.s. Terima kasih buat semuanya yang sudah membantu saya selama ini ya. Maaf jika belum sempat menyampaikan secara personal. I am nothing without you.
Semua orang punya caranya masing-masing ketika mengambil keputusan penting dalam hidup, seperti urusan pendidikan, sehingga apa yang akan saya sampaikan ini bukanlah template baku – terlebih lagi mungkin saja sebagian orang melihat saya agak berlebihan – untuk sebuah keputusan seperti menentukan sekolah. Tapi biarlah, setiap orang punya pandangan berbeda akan apa yang dianggap penting dalam hidupnya, dan bagi saya pendidikan adalah salah satunya, yang harus saya pikirkan matang-matang. Bahkan kalo misalnya teman-teman membaca cerita di Bagian Pertama, keputusan kuliah s1 saja yang sudah saya pikirkan kurang lebih 6 tahun sebelumnya, bisa saja berubah ketika saya menjalaninya, apalagi jika keputusan tersebut saya ambil tanpa pemikiran yang matang?
Dalam menentukan keputusan biasanya saya punya 3 cara: 1) mengumpulkan informasi; 2) mempertimbangkan pilihan yang ada; dan 3) memutuskan. Untuk itu pada bagian ini, saya akan bercerita dengan 3 babakan tersebut.
Awal Juli 2012, saya mantapkan bahwa saya ingin melanjutkan sekolah master pada tahun 2013, dan sejumlah persiapan pun mulai dilakukan. Apa saja yang saya lakukan?
Jika saya perhatikan, kebanyakan teman-teman saya biasanya menentukan sekolahnya dulu ketika ingin melanjutkan kuliah. Tidak salah juga, namun saya melihat kecendrungannya mereka menjadi impulsif. Yang penting ada beasiswa dimana, maka saya akan mendaftar. Atau yang penting ke sekolah top (ivy league schools - misalnya), terserah jurusannya apa. Saya nggak tahu benar atau salah, karena sifatnya preferensi, namun saya melihat sayang sekali jika program master yang akan diambil tidak dapat mendukung tujuan hidup kita secara maksimal. Karena jika saya berbincang-bincang dengan rekan-rekan yang sudah menjalani master, mereka pada umumnya menyebutkan bahwa keputusan melanjutkan kuliah itu adalah keputusan besar dalam hidup. Mungkin terlihatnya sebentar jika diukur dari waktu (1-2 tahun), namun ada banyak hal lain yang harus ditinggalkan dan dikorbankan. Sayang jika pengorbanannya tidak sesuai dengan apa yang akan diperoleh, meskipun yang namanya “belajar” akan bermanfaat juga pada akhirnya.
Mengumpulkan Informasi
Untuk itu, hal yang pertama kali saya lakukan bukanlah menentukan saya mau belajar apa, dan sekolah dimana, namun berkaca pada diri sendiri. Saya mulai mengumpulkan informasi tentang diri saya sendiri terlebih dahulu. Saya mulai melakukan pemetaan terhadap diri saya sendiri. Saya mencoba memvisualisasikan jawaban dari: siapa saya? apa yang membuat saya senang dan passionate? apa yang membuat saya sedih? apa yang saya ingin rubah dari status quo sekarang? apa saja yang sudah saya lalui selama ini? apa yang membuat saya berada di titik kehidupan saat ini? situasi seperti yang bisa membuat saya jadi kreatif? seperti apa sosok role model yang ingin saya ikuti jejaknya? apa kekuatan dan kelemahan saya? bagaimana saya melihat diri saya di masa depan? karir seperti apa yang saya bayangkan? bagaimana cara/ langkah strategis yang harus saya lakukan untuk sampai ke cita-cita yang saya bayangkan? dan pertanyaan lainnya.
Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan dalam yang tentu saja bukan saya pikirkan di bulan Juli 2012, namun sebenarnya saya sudah bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan ini sejak lama, dan baru saya coba petakan saat itu. Setelah saya menemukan jawabannya, lalu saya membuat semacam vision statement tentang diri saya, yang akan jadi pijakan bagi saya untuk menentukan saya mau belajar apa setelah ini. Banyak orang sebenarnya memikirkan ini, namun tidak banyak yang benar-benar memvisualisasikan atau paling tidak menuliskannya. Karena saya orangnya visual banget, jadi visualisasi jadi bagian yang penting.
Langkah selanjutnya adalah saya mengumpulkan informasi tentang sekolah yang saya inginkan. Salah satu yang dapat dipertimbangkan adalah dengan melihat dari ranking sekolah (meskipun ini tidak dapat dijadijakan sebagai referensi satu-satunya). Karena saya menginginkan sekolah ke Amerika, maka saya mencoba mengecek beberapa versi ranking yang ada, salah satunya ini. Yang saya lihat bukan hanya ranking sekolah secara keseluruhan, namun lebih spesifik lagi ke bidang yang ingin saya tekuni.
Setelah itu, misalnya saya mengambil 15 yang terbaik, lalu dari daftar 15 sekolah ini, saya mengalokasikan waktu sekitar 1 bulan untuk riset mengenai sekolah ini. Saya tidak mau hanya terbuai dengan nama besar sekolah, ataupun peluang-peluang yang ada. Namun pertanyaan utama yang harus terjawab adalah: “Apakah sekolah ini sesuai dengan saya? dan bagaimana sekolah ini bisa membantu saya mencapai impian saya?”
Untuk menjawab itu, website sekolah biasanya adalah salah satu sumber penting yang dapat dijadikan acuan. Pastikan bahwa kita sudah “mengubek-ubek” isi website itu, mulai dari program nya seperti apa, kurikulum yang digunakan, pelajaran yang diajarkan, guru-guru yang mengajar (faculty members) serta publikasi-publikasi yang dihasilkan, persyaratan pendaftaran yang dibutuhkan, biaya sekolah, perkiraan biaya hidup, riset yang dilakukan oleh sekolah, organisasi/ institusi yang terafiliasi dengan sekolah, acceptance rate, profil siswa yang dicari setiap tahunnya, dan lainnya. Website sekolah biasanya menampilkan informasi ini, ataupun kita juga dapat menanyakannya kepada admission office.
Sumber lain yang bisa dijadikan referensi sebenarnya adalah langsung bertanya kepada alumni yang ada. Kalau kenal, atau minta dikenalkan dengan mutual friends kita lebih bagus. Atau kalaupun nggak bisa, saya sempat mencari dari linkedin profile, dan mengajak diskusi secara random. Hehe. Linkedin sebenernya juga bisa dijadikan sebagai salah satu wadah untuk melihat profil/ latar belakang siswa yang biasanya diterima di sekolah ini. Sehingga pada tahap ini kita juga bisa mengukur apakah kiranya kita bisa diterima di sekolah ini – dengan kapasitas yang kita miliki saat ini. Selain itu, dari linkedin kita juga bisa melihat kemana saja para alumni setelah lulus? Karir seperti apa yang mereka jalani? Hal ini bisa dilakukan untuk mengimbangi data yang ada dari sekolah (ini bisa ditemukan di website sekolah/ dengan bertanya kepada admission office)
Sumber referensi lainnya adalah forum-forum grad school, salah satu yang paling saya senangi adalah The Grad Cafe. Di sini kita bisa berkenalan ataupun mengetahui persiapan-persiapan peserta lainnya. Ada yang akan mendaftar ke sekolah yang sama juga kadang dengan kita. Kita bisa bertanya kepada yang lain, dan juga mengklarifikasi berbagai hal.
Mempertimbangkan Pilihan
Saat mengumpulkan informasi di atas, ada baiknya jika kita memindahkan informasi-informasi yang didapat kedalam matrix yang lebih sederhana dan mudah dibaca (misalnya dengan menggunakan ms. excel, sehingga memudahkan kita membandingkannya. Saya sendiri merasakan betapa mudahnya kemudian mempertimbangkan pilihan dengan menggunakan matrix ini, karena saya jadinya tidak harus bolak balik melihat website nya satu persatu.
Pada tahap ini, saya tidak terlalu memusingkan masalah biaya. Karena dari pengalaman saya berdiskusi dengan teman-teman yang lain, yang penting kita KETERIMA dulu di sekolahnya. Biaya urusan belakangan. Jangan sampai gara-gara biaya kita jadi mengecilkan minat kita untuk bersekolah di sekolah yang baik. Kalau mau tahu kenapa? Teman saya Donny Eryastha (MPA Harvard) sudah menuliskan dengan sangat baik sekali di sini.
Dari matrix ini kemudian saya mengerucutkan lagi pilihan-pilihan yang ada, melihat plus dan minusnya, serta mengukur dengan kapasitas yang saya miliki, dan kemudian memberi grading dari setiap indikator yang saya gunakan (dari angka 1-5). Sekali lagi yang saya perhatikan adalah apakah sekolah ini sesuai dengan saya & bagaimana sekolah ini bisa membantu saya mencapai impian saya? Misalnya saya melihat apakah apa yang saya pelajari akan diajarkan di sekolahnya? Apakah metode yang digunakan (misalnya case method, discussion heavy, paper heavy, dll) sesuai dengan saya? apakah ada faculty member yang sudah mengkaji atau menekuni apa yang ingin saya pelajari? dll. Selain sekolah, saya juga melihat faktor-faktor seperti lokasi & kesempatan di luar akademis yang mungkin bisa saya peroleh jika bersekolah di situ. Misalnya, sebagai individu, saya lebih nyaman tinggal di kota-kota besar yang dinamis, dan juga penuh dengan land of opportunities. Dengan mempertimbangkan unsur seperti ini, maka sekolah bagus semacam Vanderbilt pun harus saya coret dari daftar, karena mungkin saja secara akademis bagus, tapi I look more than academics ketika bersekolah. Dari daftar yang ada, kemudian saya mengerucutkan pilihan saya menjadi 5 berdasarkan grading mechanism yang saya lakukan (sebagian bilang – ini lebay! lol).
Membuat Keputusan
Dalam banyak kasus, biasanya teman-teman saya ketika memutuskan sekolah apa yang akan dilamar, membaginya atas 3 kelompok: Dream School (sekolah yang benar-benar diimpikan), Medium (kira-kira sesuai dengan kapasitas kita untuk diterima), dan Safe Schools (sekolah yang hampir pasti akan menerima kita). Berapa jumlahnya? Terserah. Biasanya kalau punya uang lebih, bisa saja apply sampe 10 sekolah totalnya (karena biaya pendaftaran 1 sekolah bisa berkisar dari 50 uSD – 250 USD – tergantung sekolahnya). Tapi ingat, setiap sekolah biasanya memiliki persyaratan yang berbeda-beda, khususnya perihal essai, dan kita tidak dapat membuat satu essai - “one fits all” – untuk semua sekolah yang kita akan ambil. Tiap sekolah punya karakternya masing-masing, dan ini akan menentukan kriteria siswa ideal seperti apa yang mereka cari. Begitu juga dengan surat rekomendasi. Satu surat tidak dapat dikirimkan ke setiap sekolah. Pihak yang merekomendasikan kita harus membuat secara spesifik 1 surat untuk 1 sekolah.
Sehingga bisa dibilang jika kita mendaftar ke lebih banyak sekolah, mungkin memperbesar kesempatan, namun juga membutuhkan persiapan yang jauh lebih menguras energi dan waktu. Kalau tidak lihai mengelola, bisa-bisa justru tidak ada yang dapat, karena dalam mempersiapkan masing-masing aplikasi tidak maksimal. Dalam kasus saya, saya menyadari bahwa waktu saya singkat hanya sekitar 4 bulanan sebelum batas pengumpulan berkas. Sementara saat itu saya belum belajar apalagi mengikuti sejumlah tes yang disyaratkan (IBT, IELTS, GRE), saya belum menghubungi mereka yang akan saya minta untuk menuliskan rekomendasi, mempersiapkan essai, dll. Di saat yang sama, itu adalah semester 7, dan saya berencana menyelesaikan kuliah 3,5 tahun – sehingga saya harus menyelesaikan Tugas Akhir, mengambil beberapa kelas – dan saat itu saya juga mengerjakan semuanya sembari bekerja. Rasanya saya tidak mau muluk-muluk untuk mendaftar sekolah banyak-banyak, takutnya tidak optimal.
Tidak muluk-muluk bukan berarti saya mengecilkan impian saya untuk bersekolah di sekolah yang baik, dengan mendaftarkan semua pilihan ke safe schools. Tapi saya selalu percaya, saya ingin sebisa mungkin mengerjakan yang terbaik, dan kalau bisa kenapa tidak? Saya tetapkan hanya akan mendaftar ke Dream Schools, dengan bayangan bahwa kalaupun saya tidak terima, saya masih bisa mencoba lagi tahun depan. Toh, usia saya juga masih muda, dan saat itu saya juga belum lulus s1.
Saya tetapkan bahwa saya ingin mendaftar ke Teachers College of Columbia University (pil. 1 ), Stanford Graduate School of Education (pil. 2), dan Harvard Graduate School of Education (pil. 3).
Bersambung ke Bagian 3
Pada bagian 3 saya akan membahas mengenai proses pengerjaan aplikasi dan pendaftaran hingga pengumuman.
Dari judulnya, mungkin sebagian sudah bisa membayangkan apa isi tulisan ini, dan mungkin juga menjawab pertanyaan sebagian teman-teman yang dari kemarin nanya “Sekolah S2 dimana jadinya Man?”. Iya, Alhamdulillah saya diterima untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjana di Columbia University, New York. Sebagian yang sudah mendengar kabar ini di jejaring sosial, banyak yang meminta saya untuk berbagi cerita “bagaimana ceritanya sampai bisa masuk Columbia? bagaimana caranya? apa yang harus disiapkan?”. Mungkin saya bisa menjawabnya langsung, namun bagi saya mungkin akan lebih baik jika menjawab ini dalam beberapa bagian, sehingga teman-teman bisa memahami konteksnya, mengapa saya memilih jalan ini, dan bisa sampai ke tahap ini. Sebelum langsung menjawab pertanyaan yang lebih pragmatis seperti tips, dan lainnya.
–:–
Bagian Pertama
Waktu pertama kali masuk ke UI, dan membayangkan rencana hidup, saya seolah yakin dengan apa yang saya rencanakan saat itu. Saya ingin kuliah dengan baik, tetap aktif mengerjakan apapun yang saya cintai dan saya rasa penting, lulus tepat waktu, kemudian bekerja sebagai diplomat beberapa tahun, lalu mengejar S2 ke sekolah yang saya impikan, berkeluarga, dan kemudian memainkan peranan dalam kebijakan luar negeri di Indonesia.
Tapi ternyata hidup memang berputar, dan segala sesuatunya bisa berubah. Saya sering bilang “we may plan, but we never know”. Kita tidak tahu apa kejutan-kejutan yang akan terjadi dalam hidup, sebaik apapun kita sebagai seorang perencana kehidupan ini, karena ada yang lebih berkuasa. That’s what I believe. Terbukti, saya memendam impian untuk menjadi seorang diplomat semenjak saya kelas 5 SD, dan telah merencanakan dengan matang segala sesuatunya sejak saat itu. Hingga masuk ke program studi dan universitas yang saya inginkan, semua masih berjalan dengan semestinya. Tapi perjalanan selama masa kuliah, waktu-waktu berkontemplasi yang tak terbayang jumlahnya, pertemuan dengan berbagai orang dari beragam latar belakang, dan benturan dengan realitas sosial, membawa saya belajar akan banyak hal, khususnya tentang pertanyaan-pertanyaan esensial yang selalu membayangi hari-hari saya.
Empat tahun terakhir menjadi waktu yang amat berharga bagi saya untuk memahami pertanyaan semacam – siapa saya, mengapa saya ada di sini, untuk apa, perbedaan macam apa yang bisa saya berikan pada sekitar, dan apa yang bisa saya tinggalkan. Pertanyaan-pertanyaan ini menuntut saya untuk jujur kepada diri saya sendiri dan lebih terbuka untuk menyelami dan mengeksplorasi kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan ini membawa saya lebih kritis terhadap diri saya sendiri, sembari tetap menikmati menjalani kehidupan yang hanya sekali ini.
Saya percaya bahwa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini bukan pekerjaan semalam, tapi bisa sepanjang hidup. Lewat pendidikan bernama kehidupan yang saya enyam di dalam dan luar sekolah, saya mencoba untuk memahaminya.
Hingga akhirnya di tahun kedua kuliah, saya sudah mulai diliputi kegalauan. “Apakah benar saya sepenuhnya salah mengambil program studi ini? Apakah saya benar ingin menjadi seorang diplomat? Apakah benar apa yang saya rencanakan sejak kecil akan membuat saya benar-benar bahagia?”. Dan seperti sempat saya bagi juga dalam satu tulisan di blog ini, ternyata tak ada yang lebih membuat saya bergetar, bersemangat, sedih, dan senang selain ketika saya membicarakan apapun yang berkaitan dengan pendidikan, pembangunan, dan pemuda. Tiga hal yang sebenarnya jika saya tengok kebelakang, sudah saya selami sejak 11 tahun yang lalu, namun tak pernah saya pikirkan sebelumnya untuk jadi bagian dari hidup saya, khususnya jika bicara mengenai karir ataupun profesi. Yang saya tahu selama ini, saya hanya mengerjakan apa yang saya sukai, tanpa mengotak-ngotakkannya pada jenis pekerjaan tertentu – meskipun orang melabelinya dengan nama tertentu.
Hampir semua orang yang saya temui bilang bahwa pendidikan adalah satu pondasi paling penting bagi bangsa. Semua orang menyadari itu. Namun ketika saya tanya “mau nggak terlibat lebih lanjut di bidang pendidikan?” – tak banyak yang mengatakan ya. Pada umumnya lebih memilih sektor lain. Tak salah juga, pilihan orang namanya. Namun, saya berpikir kalau tak ada yang ngurusin pendidikan, lalu siapa yang mau ngurusin? Saya nggak punya bekal banyak saat itu – apalagi kalau dibandingin sama orang-orang yang sudah terjun lama di bidang ini – namun yang paling penting saya punya tekad kuat untuk belajar, dan mengerjakan ini.
Sejak tahun kedua, saya mulai berpikir untuk menyelami dan memahami ilmu-ilmu ini, meskipun secara tak langsung saya juga banyak terekspos dari apa yang saja pelajari di kuliah. Saya makin greget mengunjungi sekolah, kampus, rumah belajar, atau apapun namanya – tempat orang berkumpul untuk belajar. Saya melihat berbagai metode dan teknik yang dikembangkan, kemudian mencoba mengadaptasi ataupun menciptakannya dalam program-program yang saya kembangkan bersama IFL ataupun yang lainnya. Pada tahun kedua akhir saya kuliah, saya sempat bilang sama teman saya, Afu, “Fu, kayaknya gue mau kuliah di bidang pendidikan deh habis ini”. Saya masih ingat waktu itu Afu nanya “Kenapa? Mau kuliah dimana? Kuliah apa persisnya?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Meski bertanya banyak, saya yakin saat itu Afu tidak meragukan sedikitpun keinginan saya. Karena dia tahu kalau saya sudah berkeinginan, saya akan berjuang bagaimanapun caranya untuk bisa mencapainya. Afu tidak meragukan, namun mungkin saat itu saya masih ragu.
Ketika saya sampaikan kepada orang tua saya, mereka kaget meskipun tidak melarang. Namun mereka bertanya lagi “kenapa? memangnya kamu mau jadi guru? nanti habis itu bisa kerja apa?”. Pertanyaan wajar yang ditanyakan orangtua ketika anaknya bilang sesuatu yang “belum lumrah”, apalagi bagi anaknya. Selama ini mungkin orangtua saya membayangkan bahwa saya akan jadi diplomat, atau entahlah berkarir di perusahaan besar, dan lainnya. Saya saat itu bilang, “entahlah belum tahu mau jadi guru, atau kerja di mana, namun kayaknya pengen berkecimpung banyak di pendidikan”. Saya sendiri tidak tahu saat itu, sekolah pendidikan mana yang bagus, mau belajar apa nanti kalau di sana, dan lainnya. Benar-benar buram, jomplang dengan rencana kehidupan yang saya buat waktu kecil.
Alhasil, di tahun ketiga saya mulai banyak berdiskusi dengan orang-orang yang bergerak di bidang ini, banyak membaca, banyak menonton, dan banyak melihat apapun yang terkait dengan topik ini. Salah satu yang paling membekas adalah ketika saya mengajak bertemu dengan senior saya (yang terpaut jauh) waktu SMA, Pak Iwan Syahril. Saya masih ingat pertama kali bertemu beliau ketika saya kelas 2 SMA, beliau berkunjung ke sekolah, dan guru Bahasa Inggris saya entah kenapa bersemengat mengenalkan saya dengan beliau. Guru saya waktu itu bilang: “Iman, kenalan ini sama Alumni SMA 1! Kamu ngobrol aja”. Waktu itu saya cuma sebatas tahu bahwa Pak Iwan setelah lulus dari SMA 1 melanjutkan kuliah ke Hubungan Internasional Unpad, lalu sempat mengajar di berbagai tempat, hingga akhirnya melanjutkan s2 di bidang pendidikan di Columbia University, dan setelah itu mengajar di salah satu sekolah unggulan di New York. Lama tak bercakap, akhirnya saya mengetahui bahwa pak Iwan saat itu sedang di Jakarta, dan saya pun mengajak Pak Iwan untuk bertemu.
Singkat cerita, waktu itu saya bilang sama Pak Iwan, “Pak, I think I am gonna take a further step in Education world”. Saat mendengar itu, saya masih ingat reaksi Pak Iwan “are you sure?” – karena beliau sendiri tidak pernah menyangka kalau saya punya ketertarikan begitu dalam pada dunia pendidikan – meskipun beliau tahu apa yang saja kerjakan di luar sekolah. Pertemuan singkat itu makin membulatkan tekad saya, dan sedikit memberikan titik terang bagi rencana hidup saya.
Lepas pertemuan itu, saya mulai berpikir untuk mencari informasi tentang sekolah-sekolah di bidang pendidikan yang terbaik yang ada di dunia. Namun saya masih belum terpikir apakah akan melanjutkan s2 langsung atau bekerja dulu. Utamanya, ketika banyak orang yang bilang “yakin bisa keterima s2 langsung di sekolah top? apalagi kalau baru lulus dari s1 belum punya pengalaman kerja formal? Orang aja bertahun-tahun kerja di posisi penting, mau lanjutin ke s2 di sekolah top susah? Apalagi kamu apply di tahun terakhir? Gimana tugas akhirnya”. Sempat galau, tapi akhirnya saya berpikir, ya nggak ada salahnya mencoba.
Saat itu saya berpikir bahwa, nggak ada salahnya mencoba. Toh, kalo saya gagal, saya masih cukup muda, dan masih bisa bekerja lagi. Meskipun saya paham bahwa pengalaman kerja formal akan memberikan insight lebih dalam terhadap riset-riset saya di jenjang master, namun saya berpikir bahwa apa yang saya lakukan, khususnya dalam 5 tahun terakhir sudah cenderung fokus dan beragam, yang harapannya bisa menutupi kebutuhan pengalaman kerja. Saya yakin di saat itu bahwa apa yang saya lakukan mungkin sudah lebih dari cukup jika dibandingkan misalnya dengan orang yang sudah berada 2 tahun di “industri” ini. Jadi tidak ada salahnya mencoba.
Awal Juli 2012, saya mantapkan bahwa saya ingin melanjutkan sekolah, dan sejumlah persiapan pun mulai dilakukan …
Kurang lebih udah 2 bulan pasca wisuda, namun kalo ketemu orang masih suka ditanyain “gimana kuliahnya Man?”. Sepertinya tampang saya kurang meyakinkan untuk jadi sarjana, atau mungkin karena kerjaan saya yang keluyuran mulu (nggak ada bedanya kayak pas kuliah). Jadi orang ngiranya “ini anak kok nggak kelar-kelar ya kuliahnya..”. Yah, jadi bapak dan ibu, alhamdulillah saya sekarang sudah merengkuh gelar Sarjana Sosial bidang Ilmu Hubungan Internasional! Yuhu!
Apa bedanya? Entahlah, bingung juga sih. Karena kalo ditanya kesibukannya sekarang, ya nggak beda-beda jauh juga sama pas masih kuliah. Tapi mungkin yang paling kerasa, saya jadi semakin jarang ke kampus. Sejak dua bulan ini, baru beberapa hari yang lalu ke kampus, itupun juga buat ngurus ijazah sama transkrip. Karena jarang ke kampus, bisa dibilang udah makin ketinggalan sama kabar dan info-info terkait anak kuliahan dan kampus. Lebih kerasa lagi karena diantara teman-teman terdekat di kampus, baru saya yang lulus. Jadinya teralienasi sendiri. Kalo mereka ngumpul-ngumpul makan, atau nongkrong, saya hectic sendiri di Jakarta. Hehe. Yah, namanya hidup, harus move on lah ya… #nyarialasan.
Jadi sebenarnya, sehabis wisuda ini saya sibuk jadi freelancer (pekerja lepas). Ada yang bilang freelancer itu cuma akal-akalan supaya nggak dibilang pengangguran. Haha. Terserah sih, nggak peduli amat juga sama judul profesinya, yang penting bisa buat hidup sama bayar pajak ke negara. Lol. Dan kalo dibilang nganggur nggak juga sih, malah kayaknya lebih padat dari orang yang kerja 9 to 5. Cuma mungkin lebih fleksibel aja. Dalam artian, bangun tidur bisa aja jam 10 atau jam 11. Tapi abis itu kerjanya sampe malam. Apalagi kalo client nya dari Eropa/ US – bisa nggak tidur (makanya jangan heran kalo belakangan jam 2 atau jam 3 masih bangun – bukannya dari dulu gitu ya ).
Anyway, ternyata jadi freelancer itu kalo gue bandingin sama kerja di dalam perusahaan/ organisasi klasik (pas intern dulu), menuntut dan mengajarkan banyak hal banget. Diajarin tentang courage, dedikasi, komitmen, kerja keras, disiplin, dll. Nggak ada yang akan ngingetin atau marah-marahin kalau kerjaan belum beres atau diundur-undur, semuanya tergantung kita, gimana mengelola diri, waktu, dan kerjaan yang ada.
Kenapa freelancer?
Ternyata susah cari kerja itu. Haha. Nggak juga sih. Jadi sejak tahun lalu, sudah mulai menimbang-nimbang, mau ngapain ya abis sekolah nanti? Setelah menimbang-nimbang berbagai opsi yang ada, akhirnya memutuskan untuk sekolah lagi (s2 – kayaknya saya doyan sekolah ya. haha). Nah sambil nunggu pengumuman diterima/ nggak diterimanya di sekolah yang dimau (akhirnya keterima – kapan2 cerita soal ini), kepikiran sih mau kerja. Kerja dimana? Ada beberapa opsi yang dipertimbangkan waktu itu. Karena S2 nya mau ngambil tentang Education Development, jadi maunya sih kerjaan-kerjaan yang terkait sama ini. Alhasil mulai muncullah beberapa pilihan: ngajar jadi guru honor, kerja sosial di organisasi non profit/ LSM, jadi konsultan buat organisasi/ social enterprise buat pendidikan, dll. Semuanya dicoba dari jaman belum lulus (sekitar Nov/ Dec 2012).
Percaya atau nggak, untuk opsi pertama dan kedua, udah apply ternyata nggak dikabar-kabarin hasilnya (mungkin ditolak sih). Ternyata susah juga mau jadi guru di Indonesia. Hehe. Padahal udah nggak mikirin tuh soal gaji, dll. Yang penting mau ngajar niat awalnya. Tapi karena background nya HI, dan belum punya pengalaman ngajar di pendidikan formal (meskipun selama ini udah menggeluti bertahun-tahun di non-formal education), tetap aja susah. Lol. Hasil yang sama juga didapat pas nyoba daftar ke organisasi non profit di Indonesia. Kayaknya pengalaman sama pendidikannya belum mumpuni, jadi belum dapat juga. Akhirnya nyoba ke opsi yang ketiga, ini nyoba di beberapa organisasi di luar negeri. Ada beberapa yang nyangkut (malah dapet – padahal logikanya lebih susah dan kompetitif), udah dipanggil interview atau masuk ke tahap lanjutan. Tapi saudara-saudara, ternyata terkendala sama work permit, dan juga karena saya mintanya cuma beberapa bulan (sedangkan mereka maunya full time contract). Ya sudah niat go-international nya ditunda dulu. Haha. Mungkin supaya makin fokus ngurusin IFL dan projects yang ada di Indonesia.
Akhirnya di bulan Januari, pasca sidang gitu, terpikirlah untuk jadi konsultan freelance aja, independent dan sendirian. Pas pula peluangnya ada. Konsultan apa? Kebetulan saat ini saya menangani beberapa program bersama korporat, pemerintah, dan juga United Nations. Yah projects nya apa, belum bisa share banyak. Intinya bergerak di macam-macam, mulai dari pemetaan sosial, riset, CSR, project management, dll. Nggak sendiri juga sih akhirnya, karena sempat ngerekrut beberapa junior research assistants juga. Eh, lumayanlah, malah jadinya bisa jadi bagi rezeki ke yang lain.
Jadinya ya tiap hari keliling-keliling dengan motor kesayangan, menyapa dan berbincang dengan masyarakat, atau berlama-lama duduk di depan laptop. Serunya juga jadi punya banyak waktu buat ketemu sama orang-orang baru, ngobrol sama teman lama, dll. Untungnya udah ada Comma, yang memfasilitasi freelancer kayak saya untuk bekerja dan berjejaring di tempat yang nyaman, dan super menyenangkan.
Ya, kurang lebih itulah sekarang yang sedang dikerjakan
Sampai kapan jadi freelancer? Alhamdulillah pengumuman sekolahnya sudah keluar, dan alhamdulillah diterima. Jadi kalo nggak ada halangan berarti, insya Allah Agustus ini akan mulai hidup yang baru (sekolah lagi!). Kemana dan bagaimana ceritanya? Tunggu saja! *sok dibikin penasaran gitu*
Belakangan, banyak yang nanya baik melalui media jejaring sosial ataupun email kepada saya tentang Kompetisi Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Mapres). Pertanyaan yang paling sering muncul adalah “apa sih tips nya kak?” dan “kompetisinya itu nanti kayak gimana sih?”. Untuk itu, tulisan ini saya buat untuk memberikan sedikit pencerahan untuk bisa menjawab kedua pertanyaan tersebut. Tulisan ini sebaiknya tidak dijadikan sebagai referensi utama, namun sifatnya hanya pelengkap saja (penambah informasi), karena kompetisi ini bersifat dinamis, dan amat sangat mungkin mekanismenya berubah.
Disclaimer: tulisannya panjang banget, harapannya udah mencakup semua yang ditanyain oleh teman-teman. Hehe
Tapi sebelum masuk ke penjelasan lebih lanjut, pertanyaan utama yang harus dijawab (paling fundamental – kalo kata @afutami) adalah “Kenapa kamu mau jadi mapres?”
Apapun tujuan kamu, kenapa kamu perlu ikutan Mapres untuk mencapai tujuan itu? You need to find an ultimate reason why you want to join this. Saya nggak bisa ngatur-ngatur kamu sih, tapi kalo saya ngasih saran, jangan sekedar ikutan sesuatu tanpa tahu tujuannya. Jangan ikutan hanya karena dosen kamu nyuruh kamu ikut, atau karena teman kamu ikut dan terus kamu mau nemenin dia, atau sejenisnya. Kenapa? Karena ikut kompetisi mapres itu butuh banyak pengorbanan, bakal makan banyak waktu, energi dan pikiran. Sehingga kalo alasan nya nggak begitu kuat, kasian kamu nantinya. Karena prioritas kamu yang lain akan terganggu (kalau bukan terkalahkan).
Tentang Mapres
Ketika ditanya tentang apa itu Mahasiswa Berprestasi? Setiap orang pasti punya definis berbeda-beda. Saya sendiri tidak sepakat dengan definisi yang diterapkan oleh Dikti dalam kompetisi ini, karena cenderung membatasi mahasiswa sendiri. Dalam suatu bincang publik, saya sempat menyebutkan bahwa mendefinisikan Mapres terkait pada bagaimana cara kita mendefinisikan prestasi itu sendiri. Dalam satu kali bincang publik saya menyebutkan bahwa prestasi itu…
Dan masing-masing elemennya saya coba kaitkan dengan pengalaman pribadi saya (dari hal yang obviously dilihat penting oleh orang, sampe hal yang sama sekali dianggap gak penting – tapi menurut saya itu prestasi). Mungkin kalo yang udah sering baca blog saya bisa menangkap dengan jelas maksud dari gambar-gambar di atas. Intinya bahwa ‘prestasi’ itu lebih dari sekedar piala, medali, ataupun sertifikat yang kita peroleh. Ia bisa tampak sangat jelas, atau bahkan sangat abstrak. Ukurannya bukan pada bagaimana orang menilai kita, tapi bagaimana kita melihat apa yang kita lakukan. Bukan juga sekedar membandingkannya dengan pencapaian orang lain, namun lebih utama lagi membandingkannya dengan pencapaian kita pada masa lampau. Apakah kita mengurangi kesalahan kita di masa lampau? Apakah kita melakukannya lebih baik dibandingkan yang sebelumnya? Apakah ada pertumbuhan?
Namun, dalam kompetisi Mapres ini kita mengacu pada definisi yang ditetapkan oleh Dikti (namun tetap yang paling utama, kita harus sadar dengan pemaknaan kita sendiri terlebih dahulu):
Mahasiswa Berprestasi adalah mahasiswa yang berhasil mencapai prestasi tinggi, baik kurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler sesuai dengan kriteria yang ditentukan
Namun jika menggunakan bahasa yang lebih sederhana lagi, dan mungkin dari pengalaman berbincang dengan para dewan juri, Mapres ibarat Mahasiswa paket komplit (makanya dulu namanya Mahasiswa Teladan – namun diganti seiring dengan proses). Ia dituntut bukan hanya unggul di satu bidang spesifik saja, namun jika memungkinkan unggul dalam pengabdian masyarakatnya, penelitiannya, prestasi akademis dan non akademisnya, pengalaman organisasinya, dll. Ini yang sering kali bikin orang salah kaprah tentang Mapres, menganggap mapres hanya bisa dimenangkan oleh seorang generalist, yang bisa segala hal, dan harus ikut banyak hal.
Soal kuantitas itu adalah perkara lain, namun kamu tidak harus menjadi seorang generalist (dalam artian bahwa: misalnya kamu paham dan terlibat di area ekonomi, politik, kesehatan, lingkungan, dll). Tapi kamu tetap bisa fokus pada salah satunya (menjadi spesialis), dan kalau ditanya tentang saya pribadi, maka saya selama kuliah mungkin cenderung berada di koridor yang ini. Terlepas dari banyak/ tidaknya kegiatan yang diikuti, kalau dilihat dari rekam jejak saya, sebenarnya cenderung fokus pada bidang-bidang: pemberdayaan masyarakat, khususnya pemuda. Penelitian yang dilakukan, pengabdian masyarakat, organisasi yang diikuti, prestasi yang diterima, hampir semuanya terkait dengan bidang ini. Cuma memang dalam implementasinya ia menyentuh banyak aspek, misalnya: ekonomi, politik, diplomasi internasional, kesejahteraan sosial, dll. Relasinya dengan isu-isu lain yang kemudian membuat saya tidak menjadi katak dalam tempurung, terperangkap di sektor sendiri.
Apakah menjadi seorang spesialis atau generalis, mapres diharapkan merupakan mahasiswa unggulan dalam bidang yang ditekuninya. Mapres bukan tiba-tiba muncul jelang kompetisi berlangsung, tapi sebenarnya rekam jejaknya sudah bisa diikuti sejak ia berada di tahun pertama (terlepas apakah dia ingin mengikuti kompetisi Mapres atau tidak).
Apa yang dinilai dan bagaimana prosesnya?
Seiring dengan perubahan yang terjadi dalam Panduan Pemilihan Mapres 2013, saya nggak tahu persis ya sejauh apa berubahnya. Dan apakah hal-hal yang akan saya sampaikan ini akan persis terjadi juga tahun ini. Selain itu, biasanya tiap kampus punya gaya berbeda dalam menjalankan kompetisinya.
Pada saat saya mengikuti Pemilihan Mapres tahun lalu, saya melalui sejumlah tahapan mulai dari tingkat fakultas (sejumlah fakultas ada yang menerapkan pemilihan dari tingkat departemen), lalu universitas, hingga seleksi nasional.
Pada tahap fakultas di FISIP UI, ada beberapa tahapan: mulai dari seleksi berkas (cv, ipk, dan kelengkapan administratif lainnya), penelitian lapangan dan kegiatan pengabdian masyarakat (pada zaman saya di Desa Cisolok, Sukabumi), karya tulis ilmiah, dan debat B. Inggris. Hal yang unik yang mungkin akan sulit ditemukan di fakultas lain adalah bagian penelitian lapangan. Di FISIP UI, 15 besar Mapres fakultas akan dibawa camp selama 3 hari biasanya. Disitu nggak cuma berkompetisi saja, tapi lebih penting lagi agar para mapres ini saling menganl. I like the idea personally, karena memang nggak dipungkiri bahwa meskipun satu fakultas, namun dengan jumlah mahasiswa FISIP yang bisa lebih 4000 kalo dihitung seluruh angkatan, sulit banget untuk mengenal dekat satu persatu. Apalagi kalo jurusannya beda-beda, dan nggak pernah juga satu organisasi/ kepanitiaan. Dengan adanya ini, we are fighting as friends. Siapapun yang kepilih kita bakalan dukung satu sama lainnya. Pada tahapan ini juga kita diperkenalkan dengan talent scouts (junior angkatan kedua, yang diproyeksikan menjadi Mapres di tahun berikutnya). Mereka dilibatkan pada tahap ini untuk mendapatkan pengetahuan langsung dari seniornya, khususnya tentang kapasitas riset, serta juga membantu seniornya dalam melakukan penelitian lapangan. Diharapkan mereka mulai familiar dengan mekanisme yang ada di FISIP, sehingga ketika tahun depan ikut kompetisi benerannya, udah nggak kagok lagi. Kalo di FISIP, talent scouts juga biasanya dibantu untuk pengembangan kapasitasnya, mulai dari dana hibah buat riset, beasiswa, kesempatan untuk mengikuti berbagai program kemahasiswaan, dll. Saya pribadi nggak pernah ikutan talent scouts, lebih nggak mau sebenarnya. Karena pada tahun kedua juga belum kepikiran mau maju mapres atau nggak, jadi mendingan dikasih kesempatannya ke yang lebih niat aja. hehe.
Catatan juga untuk tahapan ini, penelitiannya memang nggak diharapkan untuk advanced. Karena sifatnya lebih ke action research, dan waktu yang dikasih cuma sekitar setengah hari bersihnya. Jadi super terbatas banget, jadi lebih ke pemaparan temuan di lapangan dan kemudian memberikan rekomendasi sederhana dari temuan tersebut. Tujuannya lebih ke melihat bagaimana kemampuan mahasiswa dalam melakukan riset saja. Sedangkan untuk yang ditulis dalam karya tulis final, bisa berbeda dengan riset lapangan yang dilakukan disini. Misalnya di tahap penelitian lapangan, saya membahas mengenai Implementasi Peminjaman Uang oleh Pemerintah bagi Ibu-Ibu di Desa Cisolok. Sementara ketika menulis karya tulis, saya menjelaskan tentang Kurikulum Kewirausahaan Sosial bagi Pelajar SMA. Beda banget kan? Sekali lagi, tiap fakultas dan universitas punya kekhasan berbeda-beda dalam menyelenggarakannya. Misalnya aja FIB UI, mereka selain punya penelitian lapangan, juga punya aksi unjuk bakat (nggak kebayang kalo ada beginian juga di FISIP, saya mau ngapain ya?), atau di FE ada tahap wawancara, dan sebagainya.
Tahapan selanjutnya adalah tahapan universitas. Kalo di UI, yang bisa mengikuti ini hanyalah Juara 1 Mapres tingkat Fakultas. Tapi sepengatahuan saya, universitas lain ada juga yang beda cara menyelenggarakannya. Misalnya UGM, seleksinya terpadu di tingkat universitas. Jadi mungkin banget 1 fakultas diwakili oleh lebih dari 1 orang.
Pada tahap universitas di UI, ada beberapa tahapan: seleksi berkas (mirip dengan yang sebelumnya, namun mengabaikan IPK), karya tulis ilmiah dan presentasi, diskusi kelompok (FGD), tes psikologi, dan kemampuan B. Inggris (lisan dan tulisan). Catatan khusus untuk di tingkat UI apa ya? Bawa supporter yang banyak pas presentasi karya tulis dan pengumuman pemenang, lumayan buat bakar percaya diri soalnya. Hehe. Saya masih ingat tahun lalu, dari FISIP setia banget buat dukung dan nonton langsung. Tips nya? Kalo punya banyak teman, insya Allah juga banyak yang dukung. Hehe. Atau berkomplotlah dengan Mahalumnya – Yang unik dari penyelenggaraan di UI adalah malam penganugerahannya yang digelar luar biasa spesialnya, terutama kalo dibandingin sama universitas lain. Dari obrolan sama Mapres-mapres di universitas lain, bisa dibilang UI yang paling niat deh bikin malam penganugerahannya, dan serunya lagi penganugerahan nya juga bukan cuma buat yang ikutan kompetisi Mapres, tapi juga mahasiswa/i berprestasi lainnya dari berbagai kategori.
Kalo teman-teman berhasil menjadi Juara 1 di tingkat Universitas, selanjutnya berkas teman-teman (CV, Berkas Penilaian sepanjang seleksi di universitas, Karya Tulis, Abstraksi B. Inggris, dan formulir) akan dikirimkan ke tingkat nasional. Menjadi juara di tingkat universitas belum berarti jaminan bahwa teman-teman akan langsung menjadi finalis di putaran nasional. Utamanya bagi teman-teman yang berasal dari PTS, karena yang berkasnya dapat dimajukan ke seleksi nasional hanya jika teman-teman berada di 3 besar tingkat Kopertis. Sementara bagi yang dari PTN, berkasnya akan langsung diajukan ke tingkat Nasional. Dari seluruh berkas tersebut (pada tahun saya ada 83 – jadi bohong banget kalo dibilang dari beratus-ratus universitas di Indonesia – agak lebay sih), hanya akan ada 15 besar (jumlahnya bisa bervariasi tiap tahunnya) yang terpilih.
Finalis nasional akan mengikuti kompetisi yang bisa dibilang lebih melelahkan dibandingkan tahap-tahap sebelumnya (tapi belum tentu lebih menyulitkan – khususnya kalau teman-teman sudah melalui proses yang benar-benar serupa pada tahap-tahap sebelumnya). Rasanya lebih kepada repetisi saja, namun tantangannya tetap berbeda-beda, dan nggak boleh dipandang sebelah mata. Putaran final biasanya digelar di Jakarta, namun pada tahun lalu, saya mengikuti Putaran Final di Jogja.
Pada tahap nasional, komponen yang dinilai akan serupa dengan yang di universitas (tapi tanpa penilaian IPK), yaitu: berkas, karya tulisa dan presentasi, abstraksi B. Inggris dan kemampuan lisan B. Inggris, serta wawancara. Untuk penilaian kepribadian dilakukan dengan tes psikologi dan juga FGD. Biasanya juga akan ada sejumlah rangkaian kunjungan ke beberapa tempat.
Sekarang masuk ke komponen penilaiannya. Komponennya sekali lagi bisa bervariasi banget, tergantung kampusnya menggunakan mazhab yang mana Tapi secara umum, berikut indikator-indikator yang digunakan, berikut tips saya untuk setiap indikator:
Pertama, Berkas. Ini sebenarnya persentase nya bukan yang paling besar, tapi biasanya yang paling menyulitkan dan bikin banyak orang nyerah duluan. Padahal ini bukan komponen satu-satunya, apalagi kalo di tingkat nasional, banyak banget teman-teman yang CV nya mungkin nggak sekomprehensif teman-teman yang berkompetisi di tingkat universitas, namun tetap cemerlang di komponen penilaian lainnya. Oleh karena itu jangan takut duluan. Meskipun begitu, I have to admit, ini adalah komponen yang paling fleksibel, dan disini kita bisa curi poin sebenarnya. Tapi karena panduan Mapres 2013 udah berubah, saya nggak tahu persisnya ya. Bisa di cek sendiri. Tapi secara umum, semakin besar jarak poin kita di komponen ini dengan lawan, maka akan semakin jauh kita menjaga jarak dengan mereka. Bagi mereka yang lemah banget di berkas, harus benar-benar outstanding di komponen yang lain kalau ingin memenangkan kompetisi ini. Kenapa? Ya itu tadi, karena poinnya sudah dicuri oleh lawan.
Misalnya: kalau berkas saya nilainya 700 (misalnya saya adalah nilai tertinggi di populasi), sedangkan berkas si Ani nilainya 200. Maka nilai saya adalah 700/700 x 25% = 25 (nilai maksimal/ sempurna). Sedangkan nilai yang diperoleh Ani adalah 200/700 x 25% = 7,14. Dengan ini aja kita udah mencuri nilai banyak banget kan dari si Ani (nilai total sempurna = 100). Makanya, di komponen ini kita harus serius banget. Banyak teman-teman yang sebenarnya berpotensi bagus di sini, tapi nilainya kecil. Kenapa? Karena kurang persiapan. Misalnya menyiapkan surat keterangan/ bukti prestasi (ini emang lumayan ribet – apalagi dalam kasus saya yang nggak terlalu rapih dan peduli sama sertifikat. Ikut asal ikut aja). Untuk surat keterangan, tips saja: pastikan bahwa yang menandatangani surat/ sertifikat adalah pihak/ pejabat tertinggi dalam institusi tersebut, selain tentu saja ketua nya. Maksudnya, kalau misalnya kepanitiaannya di BEM Fakultas, tanda tangan ketua BEM saja nggak cukup, tapi juga perlu tanda tangan Dekan. Hal-hal semacam ini tiap kampus juga punya interpretasi yang berbeda. Misalnya kalo di UI, nggak terlalu masalah Ketua BEM aja yang tanda tangan. Tapi kalo di tingkat nasional, harga mati Dekan harus tanda tangan.
Kalau memang sudah tahu akan ikutan Mapres, berkas silahkan dipersiapkan jauh-jauh hari. Dicek berkali-kali, lihat komponen serta poin penilaiannya, apakah kita sudah meletakkannya sesuai tempat seharusnya, dan apakah kita sudah cukup strategis dalam memilih yang dimasukkan. Kenapa strategis? Misalnya, dalam kasus saya, pengalaman menjadi pembicara yang boleh dimasukkan itu hanya 5. Meskipun saya punya 200 (misalnya – lebay), tapi saya harus memilih 5 yang nilainya akan paling menguntungkan saya. Misalnya bisa dilihat dari skala/ cakupan nya, posisi yang diperankan, dll. Tips: lakukan ini bersama pemenang/ finalis mapres tahun sebelumnya (kalau bisa) – biasanya mereka sudah lebih familiar dengan formulir yang ada. Untuk komponen penilaian, kolomnya agak multi interpretasi (dan memicu perpecahan. haha) – jadi silahkan diskusikan dengan Mahalum, apakah interpretasi kita sudah sesuai dengan interpretasi yang akan menilai. Kalo sampe tingkat UI biasanya masih bisa diomongin, nah kalo udah nasional, kalo niat silahkan tanya ke Dikti
Kedua, karya tulis. Untuk bagian karya tulis, saya sudah sempat cerita panjang lebar sebenarnya di blog post sebelum-sebelumnya. Namun, singkatnya, tulislah sesuatu yang benar-benar menjadi minat kamu (nggak usah terlalu peduli sama bidang studi yang ditekuni). Tapi yang paling penting: kamu passionate! Baru setelah itu sesuaikan dengan tema, topik yang dipilih relevan dengan situasi kekinian, serta ada gagasan yang muncul (solusi). Hindari menulisnya hanya berfokus pada pemaparan masalah, tanpa solusi kreatif. Perlakukan ini seperti PKM GT, kurang lebih. Karya tulis biasanya mengakomodir bobot nilai yang paling besar, jadi jangan sia-siakan. Pastikan apa yang ditulis sudah sesuai dengan panduan yang ada (khususnya di persoalan teknis, macam: margin, spasi, font, penulisan daftar pustaka, catatan kaki, dll – jangan sampe poin dipotong karena bagian yang ini salah). Kalo nggak terlalu jago menulis, pastikan ada teman atau dosen pembimbing yang membaca, dan bisa memberikan input pada tulisan kita. Selain itu, maksimalkan juga di presentasi dan tanya jawab (bobotnya 60%). Mulai dari seleksi fakultas sampai nasional, biasanya presentasi adalah komponen yang jadi aji pamungkas buat saya. Sehingga kekurangan yang ada dalam tulisan, bisa dilengkapi disini. Ketika presentasi, pastikan sajian visualnya menarik (tapi tetap elegan- dalam artian nggak perlu terlalu banyak gimmick macam video, nyanyian, puisi, dll – karena akan menghabiskan waktu), dan paling penting TERBACA (jangan pake font aneh-aneh, maksimal dalam 1 presentasi utuh, font saya nggak lebih dari 3 jenis – dan itupun serumpun). Patuhi aturan waktu, dan berlatih lah dalam menjawab pertanyaan. Dalam kasus saya, saya latihan berkali-kali untuk sekedar mencocokkan durasi presentasi saya dengan materi saya, dan karena latihan ini juga hampir seluruh pertanyaan dari tingkat fakultas sampai nasional sebenarnya sudah bisa ditebak. Kalau memungkinkan untuk mengetahui profil juri juga akan lebih bagus, kalau sempat baca juga karya-karyanya untuk tahu bagaimana pola pikirnya. Tapi kalopun nggak sempat, ini biasanya bisa dilihat dari tipe-tipe pertanyaan yang dilontarkan juri kepada peserta sebelumnya. Misalnya pada tahap nasional, sambil menunggu giliran saya bisa memetakan mana juri yang berpikirnya strukturalis, konstruktifis, realis, dll. Bisa juga memetakan interestnya, dll. Nggak perlu overdressed, just be your self! Dan satu lagi ingat, bahwa presentasi itu bukan untuk menyampaikan seluruh isi karya tulis kita (waktunya nggak cukup), tapi menyampaikan gagasan kita. Gaya bercerita dengan alur dan pembabakan yang rapi dan terstruktur, serta gimmick di tengah dan di awal untuk ngasih kejutan saat presentasi, sejauh ini masih jadi pilihan yang menarik
Ketiga, kemampuan B. Inggris – yang dinilai tertulis dan lisan. Kalau tertulis pada umumnya mengacu pada abstraksi yang kita buat (ini bisa dipersiapkan). Namun kalo di tingkat UI, ada tantangan menulis di tempat, dikasih masalah sederhana, lalu kita diminta untuk menuliskan opini. Sedangkan untuk kemampuan lisan, bisa beda-beda metode yang digunakan. Kalo di FISIP UI, metodenya adalah Debat B. Inggris (3 putaran – super capek). Kalo di tingkat UI, metodenya adalah presentasi lisan dengan topik acak, waktunya 2 menit (super sebentar – jadi pastikan langsung ke poin, dan padat). Selanjutnya peserta lain akan memberikan pertanyaan kepada kita, dan kita tinggal jawab. Kalo di tingkat nasional, mirip kayak yang di tingkat UI, namun waktunya 7 menit (bagi yang udah biasa debat ini nggak masalah – bahkan cenderung kurang. Tapi kalo nggak biasa berpidato dalam B. Inggris, biasanya lumayan jadi kendala). Akan ada waktu mempersiapkan dulu, biasanya 1 menit. Silahkan digunakan sebaik-baiknya, biasanya ini digunakan untuk mempersiapka AREL (assertion, reasoning, elaboration, and linkage – dalam pidatonya). Biasanya banyak yang nyaranin buat baca-baca koran/ nonton berita, tapi menurut saya nggak perlu segitunya sih. Soalnya yang bakal diuji lumayan basic, dan bisa diolah pake common sense aja sebenarnya. Sama, kalau kita memang udah terbiasa mengikuti informasi, suka baca, nonton, dan sejenisnya, memang akan memudahkan prosesnya.
Keempat, wawancara, FGD dan tes psikologi. Biasanya digunakan untuk mengklarifikasi bukti-bukti dari berkas kita, maupun untuk menilai kepribadian kita. Kalau bicara soal karakter – nggak perlu dibuat-buat, just be your self. Namun mungkin kalo dlihat dari polanya, yang dilihat bukan apakah dia baik/ jahat, rajin/ malam, tapi lebih kepada visi dia buat masa depannya. Apakah dia tahu dengan path yang dijalaninya, dan bagaimana ia mampu menunjukkan bahwa (ini biasanya akan lebih digali lagi pada tahap wawancara di kompetisi tingkat nasional) ia punya potensi menjanjikan untuk masa depan. Dalam FGD juga akan dilihat bagaimana cara pikirnya, khususnya dalam menganalisa masalah. Bagaimana ia memimpin dan dipimpin dalam diskusi, mengelola konflik, menengahi keadaan, dan menjadi solusi dari masalah
Tips
Kalau ditanya tips, sebenarnya saya juga bingung ya, karena saya sendiri juga ga ada trick rahasia atau semacamnya yang digunakan untuk memenangkan mapres. Hehe. Just tream them as if you join other competitions. Tapi cara nge-treat nya emang agak lebih menguras energi, air mata, pikiran, hingga uang saku (beneran loh). Hehe. Jadi tips klasik yang mungkin mau saya kasih untuk sekedar mengingatkan saja:
Jangan Takut – pede aja, you never know until you really try.
Stay true to your self. Terkait dengan ini, sempat gue tulis di sini, dan lebih lengkap lagi di buku Young on Top :p
How to win it? If you ask me the easiest way to win, I’ll say: “be the best of all” – artinya tinggal ikutin aja apa yang disuruh, dan usaha jadi yang terbaik. But if you ask me, what’s the best way to win? I’ll say: “don’t do something because you want to win it, but do it because you love it, and do it with your ultimate best” – Get the difference, rite?
Kalau masih ada waktu untuk mempersiapkan diri, saya sempat bikin peta jalan ini, tapi jangan dijadikan patokan satu-satunya. Tapi bisa dijadikan referensi:
Kalau katanya N. Qubein, “Winners compare their achievements with their goals, While the losers compare their achievements with those of other people”.
Be prepared, practice! Even when you think you’re already good.
Itu dia sekilas mengenai kompetisinya. Nggak usah terlalu dibawa beban, nikmati saja prosesnya. Insya Allah dalam prosesnya itu kita akan mendapatkan kenikmatan yang jauh lebih berharga dari kemenangan itu sendiri. Have fun, dan semoga tulisannya mebantu ya! All the best, semoga yang baca bisa nyusul dan jauh lebih baik lagi! Amin!
Peter Parker: Whatever life holds in store for me, I will never forget these words
“With great power comes great responsibility. This is my gift, my curse. Who am I?”